
Usai memompa ASI dan juga memberi jatah pada Barra. Arumi keluar dari ruang kerja suaminya. Ia menghampiri meja kerjanya, di mana sudah ada Karin dan juga Zeline di sana. Namun ia tak melihat keberadaan Indri.
"Mbak Indri kemana Lin?" Tanya Arumi pada Zeline.
"Nggak tahu Rum, dari tadi dia ngilang gitu aja."jawab Zeline yang meneliti penampilan Arumi dengan rambut basahnya.
"Heh, lo habis ngapain?" Tanya Zeline dengan suara berbisik.
"Ah, pake nanya. Kaya nggak pernah aja." jawab Arumi dengan suara berbisik pula.
"Pasti dia maksakan? Soalnya si Memes itu selalu maksa kalau mau main di kantor." Tanya Zeline yang menyamakan tingkah Barra dengan suaminya.
Memes adalah nama kesayangan Zeline untuk Adnan. Awalnya Zeline memanggil Adnan dengan panggilan Mamas, namun karena mulut Adnan yang kerap kali lemes pada hampir semua orang, jadilah huruf vokal itu di ganti oleh Zeline. Menjadi Memes.
"Nggak dia nggak maksa, nggak ngerayu juga, tapi lebih pakai modus cap kampak, dan gue terlalu bodoh selalu kena perangkap modusnya dia, hehehehe..." Jawab Arumi yang membuat keduanya cekikikan tanpa memperdulikan Karin, yang kini bertanya-tanya dengan apa yang sebenarnya mereka sedang bicarakan.
Arumi pun akhirnya berkenalan dengan Karin. Meski Arumi sudah menjadi istri Barra, ia tetap menjadi wanita yang rendah hati dan tidak sombong, meski demikian Arumi tetap berhati-hati dengan sosok Karin yag menurutnya diam-diam menghanyutkan.
Zeline dan Karin pun kembali mempelajarinya berkas-berkas yang di berikan Indri pada mereka. Sesekali Zeline yang tak mengerti pun bertanya pada Arumi. Yang masih ingat dengan pekerjanya yang terdahulu. Begitu pula dengan Karin yang tak sungkan bertanya pada Arumi, jika ia tak paham dengan apa yang ia pelajari saat ini.
Akhirnya jam makan siang pun tiba, seperti biasa Karin sangat jarang untuk makan siang bersama dengan karyawan lainnya. Ia terkesan menarik diri dan lebih suka menyendiri. Ia lebih suka memesan makanan via online dan memakannya di meja kerjanya seorang diri. Kini tinggallah dirinya seorang diri di lantai paling tinggi di gedung ini.
Rekan satu meja kerja dengannya, Arumi sudah langsung mengikuti langkah Barra yang mengajak istrinya ini pergi untuk makan siang. Begitu pula dengan Zeline yang lebih dahulu ngacir turun ke lantai dasar, karena suaminya sudah menunggunya di lobby untuk mengajaknya makan siang bersama. Sedangkan Indri, sampai saat ini belum juga kembali ke meja kerjanya
Saat jam makan siang telah usai, Karin dibuat heran karena tidak ada satupun di antara mereka yang kembali. Jangan tanya ke mana Arumi dan Barra. Tentunya Barra mengajak Arumi untuk pulang.
Rindu dengan Nathan menjadi alasan Barra ingin segera pulang ke rumah mertuanya, padahal ia sudah tak tahan lagi untuk menahan kantuk. Cukup lama tak bekerja di kantor, membuatnya merasa jenuh. Jujur ia lebih mencintai pekerjaannya di rumah sang mertua, mengurus rakyatnya dengan peluh keringat. Tidak dengan pekerjaannya di perusahaan dengan seabrek-abrek berkas yang membuatnya jenuh.
Sedangkan Zeline belum kembali karena sedikit terjebak macet di perjalanan menuju kembali ke perusahaan milik Barra. Sedangkan Indri, ibu hamil ini rupanya tengah tertidur pulas di ruangan kerja suaminya, seperti biasanya.
"Ih...Memes, lagi ngapain sih makannya pakai di saung Paul segala, jadi kejebak macetkan. Mau sampai jam berapa nih nyampenya? Aku takut diomelin sama Mbak Indri tau gak sih, ah!" Omel Zeline pada suaminya.
"Aku lagi pengen makan di sana, dari tadi di kantor aku sampai nelen ludah aku sendiri, cuma karena ngebayangin rasanya ikan pepes bakar yang ada di sana, sayang." Jawab Adnan yang terlihat sedih di balik kemudinya, saat dirinya dimarahi oleh sang istri.
"Kamu tuh gak bosen makan ikan terus. Kelakuan udah kayak ibu hamil aja pengen ini pengen itu. Kalau gak diikutin ngambek." Tambah Zeline yang masih saja setia memarahi Adnan.
Seperti biasa jika dimarahi oleh Zeline, jurus ampuh Adnan adalah diam dan mendengarkan tanpa menjawabnya. Ia takut akan bertambah runyam jika ia menimpali ucapan sang istri.
Namun kali ini. Tiba-tiba saja Adnan menghentikan laju mobilnya, ia menatap serius wajah Zeline kemudian tatapannya turun menuju perut datar Zeline. Setelah mendengar kata-kata Zeline yang membuatnya ingat sesuatu.
"Kamu sudah datang bulan belum?" Tanya Adnan pada Zeline sembari menggenggam kedua tangan Zeline.
"Apa sih kamu Mas? Udahlah bulan kemarin." Jawab Zeline yang kembali mengusap wajah Adnan yang menatap dirinya dengan tatapan yang aneh menurut Zeline.
"Bulan ini, bukan bulan kemarin yang aku tanya, Zel."
"Owh... Belum. Kan belum waktunya." Jawab Adnan yang kemudian tersenyum senang.
Tanpa menjawab Adnan kembali melajukan mobilnya. Namun Adnan melajukan mobilnya tidak menuju ke perusahaan Barra, tapi ia melajukan kendaraannya ke sebuah apotik terdekat.
"Ngapain sih dia, ke apotik segala. Apa dia sakit? Sakit apaan ya? Kayanya sehat-sehat aja dia." Gumam Zeline di dalam mobil seorang diri.
Tak berapa lama Adnan pun kembali, dengan membawa satu kantong plastik di tangannya,
"Kamu beli apa Mas? Beli obat kuat ya? Emang di jual di sini?"
"Heitss... Memangnya aku masih kurang kuat bagi kamu? Sampai aku harus beli obat kuat segala." Protes Adnan dengan matanya yang menatap tajam sang istri.
"Ya kali aja. Kamu pengen lebih strong lagi." Balas Zeline dengan senyum nakalnya
"Segini aja kamu sudah teriak ampun-ampun. Apalagi kalau aku keluarkan tenaga ekstra aku. Bisa gak bisa jalan kamu." Jawab Adnan.
Ia kemudian melanjutkan kembali perjalanannya menuju perusahaan Barra. Sesampainya di perusahaan. Adnan tak langsung pergi, ia ikut turun dan berjalan bergandengan tangan dengan Zeline.
Kehadiran Adnan kembali ke perusahaan bersama dengan Zeline, membuat dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang belum mengetahui jika mereka sudah menikah.
Kini Zeline tak perduli lagi dengan tatapan orang-orang, ia tak lagi seperti dulu yang merunduk, kini ia bisa membusungkan dadanya. Karena ia yakin suaminya akan membela dirinya jika suatu saat dia mengalami kesulitan di perusahaan ini.
"Kok Zeline bisa dekat gitu sama Pak Adnan? Jangan-jangan dia ada hubungan, makanya Pak Adnan di keluarin dari perusahaan ini. Karena yang aku dengar, dia sudah menikah lagi dengan keponakannya pemilik perusahaan ini." Ucap salah satu resepsionis yang mengajak rekan-rekannya bergosip.
"Kasihan banget dong Pak Adnan kalau itu benar adanya, tapi sekarang dia buat apa ke sin, pakai gandeng tangan Zeline segala? Lagi dia mau ngapain juga?" Tanya salah satu resepsionis bernama Vita.
"Ketemu sama Pak Barra yang pasti." Jawab resepsionis bernama Anggun.
"Tapikan Pak Barranya gak ada Gun?"seloroh Vita.
"Ya udah sih biarin aja. Toh dia gak nanya dulu, langsung naik keatas. Bukan salah kita sih." Jawab Lea