
Zeline menggelengkan kepala, menolak mendapati suaminya lagi, yang masih belum mengenakan apapun.
"Cepat pakai pakaianmu, Pak aku ingin cepat keluar!" Untuk pertama kalinya Zeline berani memerintah suaminya, sembari memunguti pakaian suami yang berceceran di atas lantai.
Setelah itu Zeline memberikan pakaian Adnan yang ia ambil tadi pada Adnan. Adnan tersenyum senang melihat banyaknya tanda kepemilikan yang ia buat di leher jenjang sang istri.
"Kamu cantik hari ini sayang," puji Adnan pada Zeline yang wajahnya sudah ditekuk.
"Cih, dulu dia bilang tidak tertarik, sekarang dia memuji. Dasar lelaki. Jika sudah diberi yang enak-enak semuanya bisa berubah." Cicit Zeline di dalam hatinya.
Usai mengenakan pakaiannya, akan menghampiri istrinya.
"Aku pulang duluan ya? Kamu baik-baik di kantor. Ingat jangan terlalu dekat dengan lelaki manapun terutama Danu. Kamu ini istriku milikku, mengerti?" Ucapkan sembari memeluk pinggang Zeline dengan posesif.
"Ada apa pulang secepat ini? Apa ada sesuatu hal yang penting?" Tanya Zeline pada suaminya.
"Tadi Barra menghubungiku katanya ada tamu penting yang ingin bertemu denganku." Jawab Adnan yang membuat Zeline malah menjadi penasaran.
"Siapa tamu penting itu? Apa mantan istrimu?" Tanya Zeline yang takut jika Adnan menemui sang mantan istri di belakangnya.
Zeline takut kehilangan Adnan, walau bagaimanapun ada seorang anak di antara pernikahan mereka. Yang tidak dapat menutup kemungkinan keduanya akan saling bertemu dengan alasan anak. Meskipun pada kenyataannya anak dalam pernikahan Adnan dan juga Septi bukanlah anak kandung Adnan. Melainkan anak kandung Alex, pria dari masa lalu Arumi dan Anaya.
Sayangnya kenyataan mengenai Rizki belum diketahui oleh Adnan. Meski belum mengetahui jika Rizki bukanlah putranya, tapi Adnan selalu merasa tidak memiliki ikatan batin antara dirinya dan juga Rizki. Selama ini, Adnan mengira ketidak adaan ikatan batin antara dirinya dan Rizki, karena disebabkan oleh sikap Septi yang selalu menjauhi dirinya dengan Rizki.
Septi sengaja menjauhkan Adnan dari putranya, karena ia takut rahasianya akan terbongkar. Ia takut Adnan menyadari ketidak ada kemiripan Adnan sedikitpun pada diri Riski.
"Aku tidak tahu kamu penting itu siapa? Yang jelas tidak mungkin kedua orang tuaku bahkan Arumi ataupun Barra. Mengizinkan Septi dan keluarganya untuk bertemu dengan diriku. Bukankah kamu tahu jelas dari mulut ayah jika ayah sudah berusaha menolak kehadiran mantan istri ku itu. Pertemuan kemarin hanyalah kebetulan karena dia ingin mengambil rizki yang sedang bersama kita, jika saja aku tidak ada di situ mungkin aku tak akan bertemu dengannya. Kamu tenang saja sampai kapanpun aku tak akan kembali dengannya." Jawab Adnan panjang lebar.
Setelah memberikan pengertian pada Zeline, akhirnya Adnan pergi meninggalkan ruangannya terlebih dahulu. Melihat Adnan keluar dengan tergesa-gesa. Sangat mencuri perhatian Karin. Apalagi cukup lama Zeline ada di dalam ruangan kerja Adnan.
Sekepergian Adnan, Karin menyusul keberadaan Zeline yang tengah merapikan berkas-berkas yang tadi dilempar oleh suaminya. Melihat Zelin tengah memunguti berkas-berkas penting yang berceceran di lantai yang belum sempat tadi ia ambil, Karin terlihat tersenyum senang.
"Rasakan Zeline! Cepat atau lambat kau akan tersingkir dari sisi Pak Adnan." Gumam Karin di dalam hatinya.
Dengan berakting sok baik, Karin datang menghampiri Zeline, ia membantu Zeline memunguti berkas-berkas penting itu.
"Tentu saja, biar aku yang merapikan semua ini." Jawab Karin dengan senyum licik berkedok keramahan.
Setelah mendapatkan izin dari Karin, Zeline pun pergi ke toilet, iya pergi ke toilet bukan untuk buang air kecil melainkan menggunakan foundation di bagian leher jenjangnya untuk menutupi tanda kepemilikan yang dibuat oleh suami mesumnya.
Sementara Zeline pergi ke toilet, Karin lagi-lagi melancarkan aksinya untuk menyingkirkan Zeline. Ia membuat rusak bahkan menghilangkan sebagian berkas-berkas penting yang ternyata sudah di duplikat oleh Zeline atas perintah Adnan.
Iya sepasang suami istri ini, mencoba untuk membuktikan firasat buruk Zeline terhadap Karin, firasat buruk tentang Karin yang ingin menyingkirkan Zeline dari Adnan.
Bahkan Adnan bersedia berpura-pura membuka hatinya untuk Karin. Agar mengetahui dengan jelas, apakah dugaan istrinya mengenai obat perangsang yang dicampur pada saat itu adalah perbuatan Karin.
Tidak butuh waktu lama Adnan kini telah sampai di kediaman kedua orang tuanya, sebuah mobil mewah keluaran Eropa telah terparkir di halaman rumah kedua orang tuanya. Adnan tidak mengetahui siapa pemilik mobil mewah yang bertandan ke rumah kedua orang tuanya.
"Mungkinkah ini tamu penting yang ingin bertemu denganku?" Cicit Adnan yang bicara pada dirinya sendiri.
Dengan mengucapkan salam Adnan masuk ke dalam rumah yang tak pernah dikunci pada siang hari. Adnan merasa aneh karena saat ia masuk ke dalam rumah, ruang tamu kediaman orang tuanya itu terlihat kosong, tak ada satupun orang di dalamnya.
"Kemana semua orang? Apa berada di belakang ya?"Adnan bermonolog sembari terus melangkahkan kakinya menuju halaman belakang rumahnya.
Kosong itulah yang kembali ia dapati, tidak ada satu orang pun penghuni rumah yang ia lihat di halaman belakang rumah yang merupakan tempat favorit anggota keluarga Abimanyu berkumpul.
Adnan pun kembali meneruskan langkah kakinya menuju paviliun Barra dan Arumi yang baru saja ditempati oleh sang adik dan juga adik iparnya hari ini, dan benar saja saat ia membuka pintu paviliun. Ia dapati anggota keluarganya tengah berkumpul di sana tanpa terkecuali Zeline dan juga Steve suami Anaya yang kini tengah bekerja.
Tatapan mata Adnan terbelalak pada sesosok pria paruh baya yang membawa seekor Tiger Junior yang ada di pangkuannya, siapa lagi pria itu kalau bukan ayah mertuanya.
"Da-daddy," cicit Adnan memanggil ayah mertuanya dengan tergagap.
Langkah kakinya seakan terpaku ia berdiri terdiam di ambang pintu, matanya tertuju pada Tiger Junior yang ada di pangkuan sang ayah mertua.
"Hahaha... Bagaimana kesan pertama mu dengan kejutan tamu penting yang ingin menemuimu kakak ipar? Aku tahu pasti jantungmu sudah melorot kembang kempis saat ini." Gumam Barra yang terlihat senang melihat penderitaan kakak iparnya.
Satu hari setelah Zeline menikah dengan Adnan, baik Kevin ataupun Barra sudah dipanggil oleh Tuan Antoni. Betapa marah dan kecewanya Tuan Antoni karena merasa dikhianati oleh kedua orang yang ia anggap bisa dipercaya menjaga Putri semata wayangnya.
Meski Adnan telah bertanggung jawab namun tetap saja tidak seharusnya keperawanan putrinya direnggut dengan cara seperti itu. Ayah di seluruh dunia pun tidak akan rela jika keperawanan putrinya diambil paksa oleh pria yang dalam keadaan setengah sadar karena pengaruh obat perangsang.