My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Season 2 Obat perangsang



"Rio, aku boleh pulang dengan mu?" Tanya Zeline saat mereka sedang berjalan keluar dari restoran. Rio menyernyitkan kedua matanya, tak menyangka jika Zeline ingin pulang bersamanya, biasanya gadis ceria ini selalu ingin pulang bersama dengan Adnan.


Adnan yang mendengar pertanyaan Zeline yang menanyakan kesediaan Rio untuk mengantar Zeline merasa bertambah kesal. Sebenarnya saat ini Adnan sudah merasa kepanasan, ia merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya saat ini. Hatinya bertambah panas dengan sikap Zeline yang langsung berubah menghindarinya.


"Kau pulang bersama ku." Ucap Adnan yang sudah membalikkan tubuhnya menghadap keduanya yang berjalan di belakangnya.


"Tidak usah repot-repot Pak, saya akan pulang bersama Rio saja malam ini." Tolak Zeline yang makin membuat Adnan marah dan kesal.


Tiba-tiba saja Adnan merasa tidak rela jika Zeline akan diantar Rio pulang, apalagi saat sesi makan malam. Zeline terlihat begitu bahagia bercengkrama dengan Rio.


"Apa kau sudah berubah haluan Zeline? Kau ingin menggaet Rio, setelah perasaan mu,aku tolak hari ini?" Tanya Adnan yang menusuk kembali hati Zeline. Zeline terdiam sementara Rio tertawa. Melihat Zeli


"Hahaha... Pak Adnan jangan bercanda. Mana mungkin Zeline mau menggaet kakak sepupunya sendiri." Jawab Rio dengan tawanya yang pecah.


Bagi Rio ini adalah hal yang lucu namun bagi Zeline ini adalah sesuatu yang sangat menyakitkan hatinya. Hari ini Adnan tak henti-hentinya menyakiti hati Zeline dengan ucapannya yang setajam pisau.


"Hah," Adnan becih mendengar jawaban Rio untuknya, ia mematap wajah Zeline yang berkaca-kaca karena ucapannya yang ia sadari betul telah menyakiti hati sekertarisnya itu.


"Ya walaupun dia adik sepupu mu, dia akan pulang bersama ku, lagi pula kami satu arah." Kilah Adnan yang masih ingin tetap pulang dengan Zeline.


Usai petugas valet parking mengantar mobilnya hingga ke lobby hotel. Adnan segera memasuki mobilnya dan Zeline pun demikian. Ia duduk di kursi belakang kembali seperti tadi. Namun hal itu membuat Adnan yang sedang merasa kepanasan karena pengaruh obat perangsang itu pun marah.


"Kau pikir aku ini supir mu Zeline?" Pekik Adnan pada Zeline.yang sudah duduk manis di kursi belakang.


"Bukannya Pak Adnan tak ingin ada di dekat saya?" Sahut Zeline yang merasa serba salah saat ini.


"Cepat pindah! Jangan banyak tanya!" Perintah Adnan sembari membuka dasi dan juga jas yang ia kenakan, ia benar-benar merasa panas disekujur tubuhnya dan keringat pun saat ini sudah mengucur deras diseluruh bagian tubuhnya.


Tanpa banyak bicara Zeline pun turun dan pindah ke kursi depan. Namun siapa sangka saat ia baru masuk ke dalam, Adnan tengah bernafas dengan terengah-engah, seperti orang yang habis lari maraton.


"Bapak kenapa?" Tanya Zeline yang terlihat begitu khawatir.


"Panas, gerah sekali Lin, saya rasanya ingin berendam di air dingin sekarang," jawab Adnan dengan susah payah.


"Terus Bapak mau saya pesankan kamar hotel sekarang?" Tanya Zeline yang langsung di anggukan kepala oleh Adnan.


Zeline segera turun kembali dan meminta petugas Valet Parking untuk kembali memarkirkan mobil Adnan ketika Adnan sudah turun dari mobil nanti.


Zeline memesan kamar dengan tipe kamar presiden suite seperti yang biasa ia pesankan untuk Adnan saat mereka pergi ke luar kota. Setelah selesai memesan kamar, Zeline kembali ke mobil. Ia memberikan kunci kamar yang ia pesan pada Adnan yang makin terlihat kacau balau.


"Ini Pak, saya sudah pesankan." Ucap Zeline sembari memberikan cardlock pada Adnan. Adnan pun menerima cardlock itu dengan tatapan yang cukup aneh dan menakutkan.


"Terima kasih," jawab Adnan dengan suara yang parau namun terdengar begitu seksi.


"Jangan pergi dulu! Tolong antar saya ke kamar." Pinta Adnan pada Zeline.


Zeline pun mendengus keberatan, namun ia tak tega dengan penampilan Adnan yang sudah terlihat berantakan.


"Ok baiklah. Tapi rapikan penampilan Bapak. Bapak sungguh kacau sekali sekarang. Bapak habis makan apa sih?" Ujar Zeline yang kembali mengambil jas Adnan yang Adnan lempar ke kursi belakang.


Saat tubuh Zeline berusaha mengambil jas miliknya dan satu tangan kiri Zeline yang taknia sadari bertumpu pada lengan tangan Adnan. Membuat Adnan seketika merasakan aliran darahnya terpacu. Kini ia seakan menginginkan tubuh Zeline yang selalu ia katakan tak menarik itu.


Zeline segera membantu Adnan mengenakan jasnya dan juga mengancingkan kemeja putih yang terbuka lebar, menampilkan perut kotak-kotaknya yang terlihat atletis dan begitu seksi. Saat Zeline mengancingkan kancing kedua kemeja Adnan. Adnan menggapai salah satu tangan Zeline dan menatap dalam wajah wanita yang dengan sabar membantunya, meski hatinya hari ini sudah cukup sangat di sakiti oleh Adnan.


"Zeline, apa kau benar-benar mencintai ku?" Tanya Adnan yang langsung dijawab cepat oleh Zeline.


"Iya, saya mencinta Bapak. Tapi itu beberapa jam yang lalu. Sekarang sudah tidak lagi."


"Kenapa tidak lagi?" Tanya Adnan yang masih menatap dalam wajah Zeline di hadapannya.


"Karena ternyata Bapak adalah pria yang tak pantas untuk saya cintai. Wanita murahan seperti saya cuma pantas mencintai pria hidung belang di luar sana, bukan begitu Pak." Jawab Zeline yang segera melepaskan tangannya dari gengaman tangan Adnan.


"Ayo Pak, kita keluar. Saya akan mengantarkan Bapak ke kamar dan segera pulang." Ajak Zeline dengan suara datarnya, ia keluar terlebih dahulu dari mobil Adnan.


Zeline berdiri di anak tangga lobby sembari menunggu Adnan yang terdiam mendengar jawaban Zeline yang sedikit mengusik relung hatinya. Tak lama ia pun turun kembali dari mobilnya. Berjalan menghampiri Zeline dan menggandeng tangan Zeline untuk berjalan bersamanya.


Zeline menatapi tangannya yang untuk pertama kalianya di gandeng mesra oleh Adnan.


"Sebenarnya dia ini kenapa? Kenapa dia berubah sebaik ini pada ku? Apa dia salah makan?" Gumam Zeline di dalam hatinya.


Adnan terus menggandeng tangan Zeline hingga memasuki kamarnya. Meski Zeline sudah berusaha melepas gengaman tangan Adnan saat berada di muka pintu kamar. Adnan tak juga melepaskan gengaman tangannya. Saat di dalam kamar hotel Adnan malah melempar tubuh Zeline ke atas ranjang.


"Pak Adnan!" Pekik Zeline yang jatuh tertekungkup di atas ranjang.


"Layani aku malam ini, malam ini aku benar-benar menginginkan mu." Ucap Adnan yang sudah memgunci pergerakan Zeline.


"Lepas! Jangan kurang ajar Pak!" Pekik Zeline yang terus meronta memukuli tubuh kekar Adnan yang berada di atasnya.


Seolah tak merasa kesakitan dan menganggap biasa saja, Adnan malah sibuk melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya. Mata Zeline terbelalak dengan apa yang Adnan lakukan dihadapannya.


"Jangan Pak tolong! Tolong jangan lakukan ini!" Pekik Zeline yang meminta Adnan tidak melanjutkan tindakkan diluar batasannya.


Meski Zeline sering berpakaian seksi di depan Adnan, tapi bukan ini yang Zeline harapkan. Ia mau melakukannya jika mereka memiliki status hubungan tapi tidak dengan cara seperti ini. Tidak ada kejelasan hubungan bahkan hari ini Adnan sudah mengatakan dengan jelas jika ia tak tertarik sama sekali dengan Zeline.