My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Berbohong



"Tepikan mobilnya di sini!" Perintah Barra saat melewati jalan yang cukup lengang.


Tanpa menjawab Arumi segera menepikan mobil yang ia kendarai.


"Turun!" Perintah Barra pada Arumi dan Arumi bagaikan sebuah robot yang langsung mematuhi perintah Barra, tanpa bertanya atau pun menjawab ia segera turun dari mobil Barra. Begitu pun dengan Barra. Barra turun menghampiri Arumi yang hanya berdiri di dekat pintu pengemudi. Ia seakan menunggu perintah selanjutnya dari Barra.


"Jangan diam di situ, masuklah! Duduk di samping ku." Perintah Barra pada Arumi yang hanya diam dan menunduk.


Tanpa menjawab lagi Arumi berjalan ke arah pintu mobil yang berada di sisi kiri. Barra memperhatikan sepatu yang Arumi kenakan sekarang, flat shoes. Ya, itulah model sepatu yang kini Arumi kenakan.


Saat Arumi sudah berada di dalam mobil, Barra segera menanyakan mengapa ia tak memakai sepatu model high heels seperti biasanya.


"Kenapa pakai sepatu itu. Kemana sepatu yang biasa kamu pakai?" Tanya Barra yang menatap wajah Arumi penuh tanya. Semenjak kejadian kemarin Barra merasa Arumi banyak berubah dan terlihat misterius.


"Saya sedang nyeri haid, perut saya keram jadi saya tidak pakai sepatu model itu dulu, Pak. Apa tidak boleh?" Jawab Arumi berusaha untuk tetap tenang dan santai. Kaca mata hitam yang ia kenakan ternyata sangat membantu menghilangkan ke gugupannya dari tatapan Barra yang seakan menguliti dirinya.


"Kamu sedang haid?" Tanya Barra yang seakan tak percaya. Pasalnya ia tak melihat ada pembalut di dalam kamar Arumi atau pun kamarnya.


"Iya, kenapa Pak? Bukankah wajar jika seorang wanita datang bulan setiap bulannya?" Arumi malah balik bertanya pada suaminya itu.


"Ya sangat wajar, saya sebenarnya ingin membawa kamu ke dokter obgyn, karena kamu sudah tidak datang bulan, saat kamu dalam kondisi tak sadarkan diri selama satu bulan itu. Tapi sekarang kamu sudah datang bulan, baguslah. Saya tidak perlu repot-repot membawa mu ke dokter dan tak perlu takut kamu akan hamil nantinya." Jawab Barra yang mulai menjalankan mobilnya.


"Ya, Bapak memang tak perlu repot-repot mengurusi saya lagi. Maaf jika selama satu bulan ini saya merepotkan Bapak. Bapak tak perlu khawatir, wanita busuk dan hina seperti saya tidak akan mungkin hamil anak keturunan Bapak. Tuhan pun tahu saya tidak pantas untuk mengandung anak dari Bapak Barra yang terhormat." Balas Arumi sembari merundukkan tubuhnya ke arah Barra, seakan memberi hormat pada suaminya.


Saat Arumi bicara dan merundukkan tubuhnya seperti itu, hati Barra kembali tercubit. Dia sadar telah menyinggung perasaan Arumi. Barra lihat dengan jelas Arumi sedikit meremas perut datarnya. Istrinya ini benar-benar tersinggung dengan ucapannya. Apalagi Arumi terus saja membuang pandangannya ke arah luar jendela.


"Maaf, telah membuat mu tersinggung," ucap Barra yang dibalas senyuman oleh Arumi.


"Bapak tak perlu minta maaf, saya tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan Bapak." Jawab Arumi berbohong, ia memberikan senyum keterpaksaannya pada Barra yang sibuk mengendarai mobilnya.


Sesampainya di perusahaan, Barra menghentikan mobilnya tepat di depan pintu lobby. Ia turun dan meninggalkan mobil itu begitu saja. Arumi pun ikut turun, bukannya mengikuti langkah kaki Barra, Arumi malah masuk kembali ke dalam mobil, ia masuk melalui pintu kanan mobil, dimana ia kembali membawa mobil itu ke dalam basement gedung perusahaan milik Barra.


Sadar, jika langkah kakinya tak diikuti oleh Arumi, Barra akhirnya menghentikan langkah dan membalikkan tubuhnya ke belakang. Barra menghela nafas kasarnya ketika ia tak mendapati sosok Arumi di belakangnya.


Barra menghubungi nomor ponsel Arumi yang ia berikan. Namun nomor itu tak tersambung. Barra mulai kesal, ia berpikir Arumi memblokir nomor ponselnya atau mematikan ponsel miliknya.


Barra kembali mencoba menghubungi Arumi berkali-kali dengan nomor baru yang Barra berikan pada Arumi, namun kembali ia dapati nomor tersebut tak tersambung. Sekali lagi ia mencoba menghubungi Arumi, namun dengan nomor milik Arumi yang lama.


Tut...tut...tut [Suara panggilan yang tersambung]. Barra mengepalkan tangannya dan satu tangannya lagi meremas ponsel yang ada di genggamannya.


"Kurang ajar, dasar wanita keras kepala, dia pasti mengurus kembali nomor itu," ucap Barra geram.


Setelah mendengar suara Arumi. Barra segera menutup panggilan teleponnya. Ia segera naik ke dalam lift dan berjalan tergesa-gesa ke ruang kerjanya.


Brak!! [Suara pintu ruang kerja Barra yang di banting oleh sang empunya.]


"Baru masuk udah mode singa ngamuk, bahaya nih, harus hati-hati," ucap staff khusus Barra yang mendengar suara pintu yanh dibanting oleh Barra.


Berbeda dengan Barra yang emosi, Arumi malah terlihat santai berjalan menuju meja kerjanya.


"Pagi, Kak Indri, maaf telat, jalanan macet." Sapa Arumi pada Indri yang tengah fokus menatap layar monito komputernya.


"Memangnya perutmu sudah mendingan, sudah masuk kerja saja?" Tanya Indri tanpa menatap wajah Arumi.


"Sedikit membaik, aku butuh uang untuk adikku sekolah, semakin banyak izin, semakin berkurang gajiku." Ucap Arumi yang benar adanya, namun malah membuat Indri terkikik geli.


"Mungkin orang lain bisa kamu bohongi, tapi tidak dengan diri ku, Arumi." Ucap Indri yang kini menatap Arumi.


Indri terdiam sejenak saat melihat penampilan Arumi yang tak melepas kaca mata hitamnya, meski sedang berada di dalam ruangan.


"Arumi, kamu---"


"Aku lagi sakit mata Kak Indri," cetus Arumi yang mengetahui Indri akan menanyakan mengapa ia tak melepaskan kaca mata hitamnya.


"Owhh... jangan tatap mata aku ya, aku paling tidak suka sakit mata, karena beleknya itu bikin mata aku gak bisa melek setiap pagi." Balas Indri yang kemudian kembali bekerja. Begitu pula dengan Arumi. Ia kembali mempelajari berkas-berkas yang diberikan Indri padanya.


Di dalam ruangan Barra. Barra terus saja memainkan remote tirai jendela. Ia terus saja memperhatikan penampilan Arumi yang tak melepas kaca mata hitam yang ia kenakan, dan ia merasa aneh karena Indri sekan tak menegurnya. Untuk menghilangkan rasa penasarannya. Barra menghubungin intercom yang ada di meja mereka. Indri mengangkatnya dan bicara sesaat dengan Barra.


"Panggil suami mu sebelum masuk keruangan saya, Indri." Perintah Barra pada Indri.


"Baik Tuan," jawab Indri patuh. Indri menutup panggilan teleponnya kemudian pergi keruang kerja suaminya yang tak jauh dari ruamgan kerja Barra.


Tak lama kemudian keduanya masuk ke ruangan Barra. Sepasang suami istri yang telah bekerja dengan setia pada Barra ini, kini duduk dikursi yang berada di depan meja kerja Barra.


"Saya turut berduka dengan musibah yang kalian hadapi, semoga Tuhan segera memberikan kepercayaan kembali pada kalian," ucap Barra sebelum mengutarakan maksud dan tujuannya sebenarnya memanggil sepasang suami istri ini.


"Terima kasih atas doa yang Tuan berikan pada kami, semoga kami segera di beri kepercayaan kembali oleh Tuahan Yang Maha Esa." Balas Kevin sembari menunduk hormat pada Barra.


"Jadi begini,langsung saja pada inti permasalahan, saya memanggil kalian berdua ke sini, ingin menanyakan bagaimana kelanjutan dari pengajuan pengunduran diri Indri. Indri masih tetap ingin resign atau masih ingin bergabung di perusahaan ini? Karena alasan Indri saat mengundurkan diri waktu itu pada saya karena faktor kehamilannya, bukan?" Tanya Barra menatap keduanya dengan intens.