
"Jika saya tidak resign bagaimana dengan Arumi, bukankah dia datang sebagai pengganti saya Tuan?" Jawab Indri yang malah balik bertanya pada Barra.
"Dia akan kembali pada pekerjaannya yang dulu." Jawab Barra dengan tegas. Entah dia terbawa emosi atau bagimana. Ia dengan tega ingin mendepak sang istri.
"Tapi Arumi sudah tanda tangan kontrak selama tiga bulan masa percobaan menjadi sekertaris, jadi dia tidak bisa di singkirkan begitu saja. Kita akan menghadapi masalah dengan serikat kerja, jika mereka mengetahui hal ini Tuan, karena keputusan Tuan Barra sudah menyakahi aturan," timpal Kevin, ia tak ingin perusahaan ini terkena masalah dengan sikap kekanak-kanakan Barra. Ia tahu pasti dan dapat menebak, rumah tangga Tuan mudanya dengan Arumi sedang tak baik-baik saja saat ini.
"Ok, baiklah, dia akan tetap bekerja menjadi sekertaris saya selama sisa waktu kontraknya, setelah itu dia akan kembali ke posisinya dahulu. Indri segera urus kontrak kerja baru untuk Arumi di HRD." Ucap Barra yang kemudian melakukan kebiasaannya dengan menggibas tangannya. Sebuah bertanda jika ia mengusir keduanya dari ruang kerjanya.
Saat keduanya sudah berada di muka pintu, Barra kembali memanggil Indri. "Indri!" Panggil Barra, saat Kevin hendak membuka pintu ruangan Barra untuk keluar.
"Iya Tuan, ada apa?" Sahut Indri yang ingin kembali menghampiri Barra. Namun belum sempat ia melangkahkan kakinya, Barra sudah menyebutkan maksud dan tujuannya memanggil Indri.
"Tolong panggilkan Arumi!" Perintah Barra yang kemudian kembali menggibaskan tangannya ke udara.
"Cih, memanggil istrinya saja harus menyuruh orang lain. Dasar tukang perintah!" Gumam Kevin kesal saat berdiri di luar pintu ruangan Barra.
"Hustt... sudahlah sayang, kerjalah kembali dengan giat, supaya bisa pulang bersama tepat waktu lagi hari ini." Ucap Indri sembari mengusap bahu suaminya.
"Mana bisa, dia sudah masuk kerja, itu tandanya penjajahan waktu sudah dimulai," balas Kevin yang kemudian mencium kening sang istri sebelum meninggalkan sang istri untuk kembali bekerja.
Indri melihat Arumi yang tak terlihat batang hidungnya di meja kerja mereka. Ia pun segera menghubungi nomor baru Arumi yang ia miliki, guna mengetahui keberadaan patner kerjanya itu. Namun nomor baru Arumi yang Indri hubungi tidak aktif. Ia segera menghubungi nomor Arumi yang lama dan tersambung.
"Arumi sepertinya kamu dalam masalah besar, pantas saja dia ingin mendepak kamu, ternyata kamu sudah berani menentang dia," ucap Indri di dalam hatinya.
"Hallo Kak Indri ada apa?" Sapa Arumi yang berada di lobby perusahaan.
"Kamu dimana?"
"Di lobby,"
"Ngapain?"
"Lagi nungguin abang ojol, aku lagi pesan bubur ayam," jawab Arumi yang membuat Indri tersenyum sendiri.
Indri tahu betul jika Arumi akan menjadi orang yang gampang lapar, dan ingin makan makanan yang aneh-aneh, misalnya saja bubur ayam, yang seharusnya cocok di makan pagi hari bukan menjelang makan siang seperti saat ini.
"Owhh ok baiklah, segera ke atas kalau sudah selesai makan buburnya ya, karena kamu sedang di cari Pak Boss, dia meminta mu untuk ke ruangannya." ucap Indri yang menginformasikan apa yang dipesankan Barra padanya.
"Ok Kak, abang ojolnya dikit lagi nyampe kok, makan bubur Ayam cepat kok kak, gak sampai lima menit." Jawab Arumi.
"Iya, ok baiklah." Balas Indri yang kemudian menutup panggilan ponselnya.
Ia segera menghubungi Barra dan mengatakan padanya jika Arumi sedang berada di toilet. Ia sengaja berbohong demi menyelamatkan Arumi dari amukan Barra.
Tok...tok...tok [Suara ketukan pintu ruangan kerja Barra yang diketuk Arumi].
"Masuk!" Suara Barra yang mengizinkan Arumi untuk masuk ke ruangannya.
Arumi muncul dari balik pintu masih menggunakan kaca mata hitamnya. Barra melihatnya dengan rasa penuh curiga, sepertinya ada yang istrinya sembunyikan di balik kaca mata hitamnya, seperti pada wajahnya tadi pagi. Barra bersandar di kursi kebesarannya sembari melipat kedua tangannya di dadanya.
"Bapak panggil saya?" Tanya Arumi pada Barra yang tak lepas memandangi dirinya. Barra membiarkan Arumi terus berdiri tanpa mempersilahkan istrinya itu untuk duduk.
"Iya, saya panggil kamu." Jawab Barra dengan nada ketusnya.
"Ada apa Pak, ada sesuatu yang bisa saya bantu?" Tanya Arumi lagi dengan sopannya denga tubuh sedikit merunduk.
"Saya tidak butuh bantuan kamu, saya menyuruh kamu datang ke sini, hanya ingin menyampaikan bahwa Indri tidak jadi mengundurkan diri. Ia akan tetap menjadi sekertaris saya." Terang Barra yang sengaja menghentikan ucapannya, seakan menunggu respon Arumi. Ia bicara dengan nada yang begitu pedas untuk didengar.
"Baik Pak, saya paham." Jawab Arumi dengan suara datar dan terlihat tak perduli. Jelas ia tak perduli karena ia pun hanya tinggal tiga bulan saja bekerja di sini. Hanya menunggu saat dimana Anaya lulus nantinya.
"Pergunakan sisa waktu kamu dengan baik sesuai dengan kontrak percobaan kerja kamu, setelah masa kontrak itu habis, kamu akan kembali bekerja di posisi kamu sebelumnya." Tutur Barra lagi, ia masih saja memperhatikan respon datar sang istri yang terlihat biasa saja.
"Baik Pak, terima kasih sudah mengizinkan saya menjadi sekertaris Bapak selama tiga bulan ini, mungkin saya akan menjadi sekertaris Bapak kurang lebih tinggal dua bulan lagi. Mohon maaf jika selama ini saya bekerja tidak sesuai dengan ekspektasi Bapak terhadap saya. Jika sudah tidak ada lagi yang ingin di sampaikan, saya pamit undur diri." Ucap Arumi yang ingin segera pergi dari ruangan Barra.
"Arumi, kenapa kamu masih menggunakan kaca mata hitam kamu itu? Kamu pikir perusahaan ini adalah tempat panti pijat? Lepas kaca mata hitam itu, saya risih melihatnya!" Ucap Barra yang bukannya mengizinkan Arumi pergi, tapi malah mengkomplain dirinya.
"Saya sedang sakit mata Pak," jawab Arumi yang menolak melepas kaca mata hitamnya, penolakan Arumi ini malah membuat Barra tersenyum sinis dan beranggapan jika Arumi sedang membohonginya.
Barra yang sejak tadi sudah menahan emosinya pun berjalan menghampiri Arumi dengan langkah cepat dengan emosi yang membara. Dengan gerakkan cepat pula ia melepas kaca mata yang Arumi kenakan. Sontak Arumi terkejut dengan apa yang dilakukan Barra. Ia langsung memejamkan matanya, ia tak ingin memperlihatkan bola matanya yang terlihat ada gumpalan darahnya itu pada Barra.
"Buka mata mu!" Perintah Barra yang kembali mencengkram rahang Arumi.
"Sa-kit Pak, lepas!" Rintih Arumi yang memohon Barra melepaskan cengkraman tangannya di rahangnya.
Arumi memukuli bahkan mencakar dan memcubit lengan Barra agar melepaskan cengkramannya. Dapat dibayangkan luka memar dipipinya saja masih membekas, sekarang sudah di tambah dengan cekraman tangan Barra di wajahnya.
"Sa-kit, ampun lepaskan Pak!" Rintih Arumi yang menitikan air matanya.
"Buka dulu mata mu! Kamu tidak benar-benar sakit mata bukan! Saya paling tidak suka dibohongi!" Cetus Barra dengan tatapan yang berapi-api pada Arumi.
"Saya sakit mata sungguhan Pak, tolong lepaskan!" Balas Arumi yang masih merintih dan memohon pada Barra.
Entah kesetanan atau bagaimana, Barra kembali menampar pipi Arumi, saat ia melepaskan cengkraman di wajah istrinya itu, hingga Arumi jatuh tersungkur di lantai. Dua kali sudah Barra mengukir maha karyanya di wajah sang istri.