
Adnan menatap serius wajah Barra, sang adik ipar yang menyebalkan. Namun hanya dia saat ini yang menjadi teman satu-satunya yang ia miliki, teman dikala dirinya di dalam keterpurukan seperti saat ini. Teman untuk meluapkan segala kekesalan dan kegundahananya meninggalkan seorang istri durjana yang begitu tega pada dirinya.
"Kau mau aku lakukan apa?" Tanya Adnan yang hanya melihat Barra tersenyum terus seperti orang waras.
"Bukankah hubungan mu tidak baik dengan istriku, karena istri durjana mu itu bukan? Tapi biar kau jahat seperti apapun terhadap istriku tapi dia sangat menyayangi mu. Aku yakin dia jauh merindukan dirimu ketimbang diriku, suami yang dipandang kejam olehnya."
"Cih, memang kau merasa baik dengan istrimu? Sudah seharusnya kau mengakui dirimu itu kejam pada adikku dulu, sekarang apa maksud dari ucapan mu ini Boss tengil? Cepat jelaskan jangan bertele-tele!" Cerocos Adnan dengan celat menanggapi ucapan Barra.
"Haishhh... tunggu dulu! Kau ini tidak sabaran sekali. Aku ini belum selesai bicara. Kau seharusnya, jadilah pendengar yang setia dan baik dulu kakak ipar. Mulut mu ini tak jauh beda seperti ibu-ibu di warung pengkolan sana." Cela Barra sembari menepuk pahanya sendiri dan membuang pandangannya sebentar lalu kembali menatap wajah Adnan yang tidak sabaran dengan tatapan sebal.
"Dasar adik ipar kurang ajar, mulutku kau samakan dengan mulut Mbok Merci, pemilik warung itu," umpat Adnan di dalam hatinya. Saat ini ia tak bisa mengumpati adik iparnya secara langsung, bisa-bisa ia diturunkan di tengah jalan dengan tidak hormat.
"Ya-ya, aku akan diam sekarang. Cepat katakan langsung pada inti pembicaraannya saja. Aku ini lebih suka pada orang yang bicara to the poin." Tukas Adnan yang bertingkah seakan mengunci rapat mulutnya dengan gerakan tangan kanannya.
"Istriku masih sering berkomunikasi dengan sekertaris ku yang merupakan teman kerjanya. Tapi mereka berkomunikasi secara sembunyi-sembunyi dariku, entah apa yang mereka bahas selama ini dibelakangku. Sungguh aku penasaran apa yang mereka bicarakan dan tugas mu adalah menjadi detektif untuk diriku diruang pengawasan komunikasi yang ada di perusahaanku. Saat kau tahu jika itu adalah suara Arumi yang bicara dengan sekertariskan. Putuskan komunikasi antara dia dan sekertarisku, tanpa membuat sekertarisku itu curiga. Berusahalah untuk memulai membangun komunikasi antara dirimu dan istriku. Tuntaskan permasalahan pribadimu pada istriku terlebih dahulu. Minta maaflah padanya. Selama ini dia sangat menunggu diri mu mau bicara padanya. Bicaralah dari hati ke hati dengannya. Mungkin bicara dengan adikmu, bisa membuat hidupmu sedikit tenang dan lebih baik lagi." Terang Barra dengan strategi barunya.
Seketika Adnan terdiam, ia memandang serius wajah Barra yang malah memikirkan permasalahan dirinya dengan sang adik, Arumi. Bukannya memikirkan untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangga yang dia hadapi sendiri dengan sang adik.
Memang benar apa yang dikatakan Barra. Mungkin bicara dengan Arumi dan meminta maaf pada adiknya itu, merupakan salah satu cara yang mungkin membuat hidupnya sedikit lebih tenang. Adnan sadar betul jika dirinya sangat menyakiti hati adiknya selama ini dwngan perlakuan dan sikapnya.
Adnan yang sejak awal menatap dalam mata Barra. Ia dapat melihat ketulusan yang terpancar di sorot mata Barra. Menurut Adnan saat ini, apa yang dilakukan Barra untuknya sungguh sangat mulia, namun bagi Barra ini adalah strategi barunya meluluhkan hati Arumi.
Butuh waktu berbulan-bulan bagi Barra untuk memahami apa yang ada di dalam isi hati Arumi selama ini. Seharusnya jika ia adalah suami yang baik, ia akan memahami sang istri saat istrinya masih ada bersamanya, bukan seperti saat ini, ia memahami dan mempelajari semua yang ada di diri Arumi setelah Arumi pergi meninggalkannya. Meski semua terlihat terlambat tapi Barra mencoba memperbaikinya, untuk menggapai cinta sang istri yang telah pergi agar mau kembali ke dalam hidupnya.
"Hei. Kenapa kau diam Kak? Kau bersedia tidak?" Tanya Barra yang hanya melihat Adnan hanya menatap dalam matanya tanpa berkata-kata.
"Aku terima. Aku mau diberikan tugas ini dari mu. Apa hari ini dia akan menelepon seperti apa kata mu?" Jawab Adnan antusias.
"Dia pasti menelepon. Kita akan masuk ke perusahaanku dari pintu lain, kita langsung menuju ruang kerja mu nanti. Jika kita lewat lobby, pasti ada yang membocorkan kedatanganku pada Sekertaris sundelku itu. Dan ingat jangan anggap aku adik ipar mu, saat berada di kantor sampai Arumi kembali pada ku. Aku takut misi kita bisa hancur berantakan. Kau tak mendapat maaf dari adikmu dan aku, tak mendapat istri ku kembali. Karena yang aku lawan saat ini adalah Aki-aki tua bangka, alias Daddy ku."
"Ya-ya, kau atur saja bagaimana baiknya menurutmu. Aku paham dan mengerti maksud mu. Biar nanti aku pulang naik taksi sekalian membeli mobil untuk besok aku berangkat bekerja."
"Baguslah kalau kau paham. Deal kita bekerja sama ya Kakak ipar?" Keduanya kembali berjabat tangan sembari tersenyum senang.
Sesampainya di perusahaan Barra dan Adnan turun di baseman, ia naik lift karyawan sampai di ruangan pengawasan komunikasi dan CCTV. Kedatangan Barra secara tiba-tiba membuat karyawan di sana yang sedang bekerja dengan santainya terkejut dan gelagapan.
"Owh... jadi sesantai ini kerja kalian selama ini ya!" Barra bicara sembari bertolak pinggang dengan tatapan marahnya. Ia menampilkan wajah garang yang nampak lucu di mata Adnan.
"Marahnya tak semenyeramkan yang ku kira," gumam Adnan di dalam hatinya.
"Ti-tidak begitu Tu-tuan muda. Kami hanya sedang mengusir kejenuhan." Jawab keenam karyawan itu dengan gugup dan dipenuhi rasa takut.
"Ja-jangan Tuan! Tolong jangan pecat kami." Jawab keenam karyawan itu lagi masih dengan gugup dan rasa takut dipecat oleh Barra.
"Owhh kalian tidak mau di pecat rupanya. Baiklah jika kalian tidak mau dipecat, sekarang kalian harus melakukan sesuatu hal untukku dan menurut segala perintah ku." Balas Barra dengan senyum menyeringai.
"Lakukan apa Tuan? Apanyang bisa kami lakukan untuk Anda? Kami siap asal kami tidak dipecat." Sahut kepala divisi pengawasan mewakili seluruh anak buahnya.
"Cih. Penjilat. Sekarang kena kalian hahahaha, aku mengurangi sekutu mu, Dad. Aki-aki tua bangka hahaha... bersiaplah aku akan menemukan dimana kau menyembunyikan istriku." Barra tersenyum senang di dalam hatinya, ia merasa sedikit lebih maju selangkah untuk mendekatkan dirinya pada Arumi yang telah pergi jauh darinya.
"Bagus. Jawaban yang bagus untukku dengar. Sekarang kalian lihat baik-baik, orang yang berdiri di samping ku!" Ucap Barra menunjuk Andan yang sejak tadi setia berdiri di sampingnya seperti seorang bodyguard.
Mata keenam karyawan Barra seketika menatap kearah Adnan dengan tatapan penuh tanya. Tatapan mereka seakan bertanya, siapa dirinya dan untuk apa datang ke sini bersama dengan Tuan muda mereka, Barra. Barra yang melihat mata keenam karyawannya sedang menatap Adnan, segara ia memperkenalkan diri Adnan pada keenam karyawannya yang kini diharuskan menurut akan perintahnya.
"Perkenalkan ini adalah orang kepercayaanku, Adnan. Dia akan bekerja di sini sebagai rekan kerja kalian dan sekaligus menjadi mata-mata ku, jika kalian sedikit saja berkhianat, aku tak akan segan-segan memecat kalian dari perusahaan ku, meskipun Daddy ku sudah menjamin hidup kalian, aku tak perduli. Tak ada yang boleh melarang apapun aktifitasnya di ruangan ini, apapun yang kalian dengar saat dia bicara di panggilan telepon atau bicara dengan ku di ruangan ini, kalian harus pura-pura tuli, tak mendengar dan tak berusaha menjadi pengkhianat dengan membocorkan semua pembicaraan Adnan ataupun aku pada Daddy ku ataupun antek-anteknya. Jika ada yang berani berkhianat dengan diriku dan orang kepercayaan ku ini, kalian tahu sendiri akibatnya." Ucap Barra yang memperkenalkan Adnan dan juga memberikan ancaman pada keenam karyawannya.
Glek [Suara dari keenam karyawan Barra yang menelan salivanya dengan susah payah, ternyata Barra sudah tahu jika selama ini mereka mengawasi gerak-gerik Barra dan melaporkan pada Tuan Brandon.]
"Ba-baik Tuan muda, akan kami laksanakan perintah Anda." Jawab kepala divisi pengawas masih dengan gelagapan. Saat ini ia berada di dalam kebimbangan. Ayah dan anak sama-sama mengancam dirinya. Entah harus setia dengan yang mana. Yang pasti saat ini dia harus menuruti perintah Barra terlebih dahulu.
Tepat pukul tiga sore, Arumi menghubungi Indri. Kebetulan Indri tak melihat Barra sudah datang di ruangannya, kareja waktu Barra mau masuk keruangannya, Indri swdang herada di ruag kerja suaminya. Guna memberikan laporan kerja yang harus di tanda tangani Barra esok hari.
Di ruang pengawas, Adnan terus saja menguping pembicaraan adiknya dan sekertaris Barra. Mereka tengah membicarakan Barra, dapat ditebak dengan mudah oleh Adnan, jika sekertaris Barra memiliki dendam terpendam pada Barra. Karena dia begitu senang menceritakan penderitaan Barra saat ini. Dan anehnya mengapa sekertarisnya ini, mengetahui kejadian-kejadian di kediamannya. Mengenai pertengkaran dirinya dan Barra yang sering terjadi dan membuat Ibunya mengomel tiada henti.
"Hahahaha, benarkah? Berarti ibuku sekarang sibuk mengerusi mereka ya? Tapi kenapa Kak Adnan tinggal kembali bersama kedua orang tuaku? Apa kau tahu masalah ini Kak Indri?" Sahut Arumi dengan tawa renyahnya.
"Tentu benar Arumi, semua yang aku ceritakan pada mu adalah berita yang sangat falid. Untuk masalah mengenai Kak Adnan, aku akan segera mencari tahu untuk mu. Kamu tenang saja ok? Buy the way, terima kasih untuk kiriman cream kecantikan kelas dunia yang kamu kirim, barangnya sudah sampai dan sudah aku pakai. Baru sekali aku gunakan. Kulit wajahku sekarang jadi seperti kulit bayi. Halus dan lembut." Balas Indri meyakinkan.
"Sama-sama-----,"
Tut...tut...[Suara panggilan terputus].
"Arumi...Arumi...," panggil Indri yang merasa panggilannya dengan Arumi terputus begitu saja."
"Hemmm... apa di sana signalnya buruk? Sampai terputus, biasanya tak seperti ini." Gumam Indri sembari meletakan gagang teleponnya.
"Arumi, adikku," ucap Adnan dengan suara yang bergetar di sambungan telepon yang kini terhubung dengannya.
"Kak Adnan," jawab Arumi yang mengenal suara sang kakak.