My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Sebuah Rasa



Di dalam mobil Zeline bersenandung untuk mengusir kesedihannya. Sebelum sampai di kantor, Zeline mampir di sebuah kedai mie ayam yang selalu menjadi langganannya sarapan. Meski sudah sarapan bersama, tapi perut Zeline masih merasa lapar.


"Bang, Mie ayamnya satu kaya biasa ya!" Seru Zeline saat memesan satu porsi mie ayam pada pedangang yang sudah mengenalnya.


"Wah, baru kelihatan Neng?" Tanya si Abang Parjo saat melihat siapa yang memesannya.


"Iya Bang. Baru sempat ke sini." Jawab Zeline ramah.


Tak lama menunggu, pesanan mie ayam Zeline pun datang. Ia melahapnya dengan cepat dan antusias.


"Mmmmmmmm.....nyuami..." gumamnya saat ia begitu menikmati mie ayam favoritnya.


Tanpa di sadari Zeline, mobil Adnan melintasi kedai mie ayam itu, dan Adnan melihat Zeline tengah menyantap makanan pinggir jalan itu dengan lahap.


"Apa belum kenyang dia sarapan tadi? Porsi makannya banyak juga." Gumam Adnan saat ia sepintas melihat sosok sang istri. Tanpa sadar Adnan tersenyum mengingat bagaimana ekpresi Zeline saat makan mie ayam tadi.


"Dia lucu juga kalau sedang makan seperti itu," gumam Adnan tanpa sadar sudah memiliki ketertarikan pada Zeline.


Di perusahaan, saat makan siang. Zeline tak ingin mengulang kesalahannya tidak menawari Adnan makan siang.


"Pak, sudah jam istirahat. Bapak mau saya pesankan makanan?" Tanya Zeline tak seperti biasannya. Suaranya terdengar datar, dan terkesan dipaksakan. Tidak seperti dahulu, saat ia masih begitu mencintai dan mengagumi sosok Adnan.


Zeline selalu berbicara dengan penuh ceria, terkesan perhatian dan menggoda Adnan. Kini tak Adnan dapati dan dengar lagi sosok Zeline yang hatinya telah terluka dan redup.


"Tidak. Aku tidak ingin makan, terima kasih." Jawab Adnan tanpa memandang wajah Zeline.


Tanpa banyak kata-kata dan berpamitan Zeline keluar dari ruangan Adnan. Siang ini setelah makan siang akan ada meeting penting bersama perusahaan Boga. Zeline dan Karin telah menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan Adnan untuk meeting. Jika biasanya Zeline selalu menyerobot kursi di samping Adnan, kali ini ia membiarkan Karin untuk duduk di samping Adnan dan kembali ia duduk di samping Rio.


"Kamu baik-baik saja Line?" Tanya Rio pada Zeline yang duduk di sampingnya.


"Baik." Jawab Zeline singkat.


"Bagaimana jika nanti kamu bertemu dengan mantan mu yang akan datang keruangan ini bersama pujaan hati mu hah. Kau akan bingung pilih yang mana?" Seloroh Rio yang memberitahukan pada Zeline jika perwakilan dari perusahaan Boga adalah mantan kekasihnya. Meski Rio adalqh sepupu Zeline juga, tapi Rio pun tidak mengetahuinya tentamg pernikahan Zeline dan Adnan.


"Hah, serius?" Tanya Zeline tak percaya.


"Serius. Gue gak bohong."


Tak lama kemudian, Danu perwakilan dari perusahaan Boga datang memasuki ruangan meeting. Zeline tersenyum manis saat ia melihat Danu yang juga tengah melihatnya. Hubungan mereka kandas bukan karena sebuah perselingkuhan atau ketidak setiaan. Namun mereka berpisah karena agama dan kenyakinan mereka berbeda. Membuat mereka sepakat untuk berpisah karena Danu tak mau meminggalkan keyakinannya begitu pula dengan Zeline.


Sepanjang perjalanan meeting, baik Danu dan Zeline saling mencuri-curi pandang. Hal ini berhasil mencuri perhatian Adnan. Diam-diam Adnan memendam rasa kesal, marah dan cemburu dengan apa yang Zeline lakukan di depan matanya.


Apalagi seusai meeting, Danu dengan beraninya menghampiri sang istri, bersalam bahkan mengusap rambut sang istri, melakukan halmyang tak pernah ia lakukan.


"Kamu tambah cantik?"


"Makasih atas pujiannya Kak, Kakak selalu pandai memuji."


"Aku tidak memuji hanya sedang mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu sempurna."


"Hahaha.. sudahlah bicara dengan mu hatiku selalu meleleh." Ucap Zeline yang kemudian ingin pergi, namun langkahnya tercekat karena Danu menari tangannya.


Panas hati Adnan mendengar perkataan Danu pada istrinya.


"Ekhmm... sadari batasan mu!" Ucap Adnan saat berjalan melewati Danu dan juga Zeline.


Mulai hari itu Zeline dan Danu mulai saling bertukar pesan melalui pesan WhatsApp. Mulai hari itu pula Adnan sering memeriksa ponsel Zeline yang sering bergetar di malam hari.


Hingga suatu hari, Adnan melihat dan membaca pesan yang berisi ucapan selamat ulang tahun yang diucapkan Danu untuk istrinya. Adnan menangkupkan mulutnya yang terbuka karena terkejut. Pantas saja di atas meja kerjanya tadi ada sepotong kue ulang tahun dan juga sebuah nasi boks. Ternyata istrinya tengah melewatkan hari bahagianya seorang diri. Dan bodohnya hari ini ia meeting diluar tanpa mengajak istrinya, ia sama sekali tak menyadari ledekan Anya dan Barra yang tertuju untuk dirinya, karena istrinya tengah berulang tahun.


"Maafkan aku, aku tidak tahu dan membiarkan mu melewatkan hari bahagiamu seorang diri." Ucap Adnan yang mengecup kepala Zeline yang terbiasa tidur membelakangi dirinya.


Malam ini entah karena rasa bersalah atau hatinya yang sudah terbuka untuk Zeline. Adnan tidak memberikan guling pembatas lagi diantara mereka. Bahkan Adnan malah tertidur dengan memeluk tubuh mungil Zeline dari belakang. Dan saat pukul 04.00 dini hari. Zeline bangun dan tersentak.


"Hah, maafkan saya. Saya tidak sengaja. Mana gulingnya?" Ucap Zeline yang panik saat sadar tertidur dengan posisi memeluk tubuh Adnan.


"Saya tidak sengaja maaf." Ucapnya terus menerus dengan rasa takut. Dengan menyalakan lampu senter di ponselnya Zeline mencari guling yang biasa dijadikan Adnan untuk pembatas tidur mereka. Setelah menemukannya, Zeline langsung memasangnya di tempat yang seharusnya.


Ia segera pergi mandi dan menyiapkan sarapan bersama ibu mertuanya.


"Bagaimana semalam apa tidur mu nyenyak Zeline?" Tanya Arabella seakan sedang menggoda menantunya.


"Ahh... ibu tentu aku bisa tidur dengan nyenyak, aku sangat kenyang sekali." Jawab Zeline sengaja dengan kalimat ambigu.


"Ahh... kenyang? Berapa ronde Nak?" Tanya Arabella sembari terkikik geli.


"Ratusan bu," jawab Zeline dengan tawa renyahnya.


Zeline sangat pandai menutupi kebobrokan rumah tangganya dengan Adnan, dia tak pernah mengadukan kekasaran fisik maupun verbal yang sering Adnan lakukan padanya. Tanpa Zeline sadari Adnan tengah memguping pembicaraan mertua dan menantu itu yang tengah sibuk di dapur.


Ia dengar jelas jika Zeline tengah membohongi sang ibu. Tak pernah ada ronde-ronde tercipta setelah kejadian malam itu dipernikahan mereka.


Saat Zeline kembali ke kamar, ia dapati Adnan baru selesai mandi. Suaminya itu masih mengenakan handuk putih yang melilit di bawah pinggangnya. Zeline terlihat kikuk.


"Maaf, biar saya keluar dulu." Ucap Zeline yang hendak membuka pintu kembali.


"Tolong siapkan aku baju kerja!" Pinta Adnan yang membuat Zeline menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Adnan yang tengah mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


Zeline sedikit terperangah dengan permintaan Adnan, namun ia tanpa menjawab langsung melaksanakan perintah suaminya. Sebelum mengambil pakaian Adnan. Zeline membuka laci meja riasnya. Ia mengenakan sarung tangan sebelum membuka dan mengambil baju dari lemari pakaian Adnan.


Ya. Zeline selalu menggunakan sarung tangan saat ingin menyentuh barang Adnan. Seperasa itu dirinya sekarang. Berusaha sadar diri jika kehadiran dirinya di hidup Adnan sangat tidak diinginkan.


Adnan yang melihat apa yang dilakukan Zeline menyernyitkan alisnya.


"Apa kau jijik pada ku?" Tanya Adnan yang sudah berkacak pinggang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Mampir juga ke Novel ini ya...