My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Tak sengaja bertemu



Akhirnya Septi membawa Rizki pulang, ketika mereka berada di halaman rumah kediaman Abimanyu. Septi tak sengaja bertemu dengan pria yang pernah menghabiskan one night stand bersamanya.


"Alex!" Cicit Septi yang memanggil nama pria yang pernah mengaulinya saat ia mabuk di club malam.


"Septi!" Cicit Alex yang memanggil nama wanita yang pernah ia pinta untuk menggugurkab kandungannya.


Tiba-tiba mata Alex langsung mengarah pada Rizki yang berdiri di samping kanan Septi.


"Dia bukan anakmu! Dia anak ku dengan mas Adnan." Ucap Septi yang mengerti akan arti tatapan mata Alex.


Namun Alex bukanlah pria bodoh, lagi pula dia adalah seorang dokter. Dia tidak mudah percaya begitu saja dengan ucapan Septi. Saat ini Alex hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Septi padanya.


"Ada urusan apa kau ke sini? Arumi sudah menikah. Tidak pantas pria sepertimu mendatangi rumah seorang wanita yang sudah menjadi istri orang lain." Tanya Septi yang masih ingin tahu dengan keperluan dokter tampan itu mendatangi kediaman mantan suaminya.


Jika kalian bertanya mengapa Septi sangat membenci Arumi, tentu saja karena Alex. Alex menolak tanggung jawab dengan bayi yang dikandung Septi. Karir dan cinta menjadi alasan mengapa Alex menolak untuk bertanggung jawab kala itu.


Septi mengejar cinta Adnan dalam waktu singkat, hanya demi tujuannya yang sampai saat ini tidak pernah tercapai. Ia kira Arumi akan cepat menikah dengan Alex, namun Tuhan berkata lain Arumi malah menikah dengan Barra. Selama Arumi belum menikah dengan Alex. Septi terus saja menghukum kesalahan Alex pada Arumi.


Hari ini niat Alex untuk menemui Anaya kembali gagal, setelah Alex tak sengaja bertemu dengan Septi. Tiba-tiba prioritasnya kini berubah tidak lagi marah pada anak ya tapi kini pada sosok anak kecil yang memiliki kemiripan pada dirinya Rizki bagaikan cerminan dirinya di waktu kecil.


Kembali bekerja.


Hari ini seperti biasanya meski hubungan rumah tangga mereka sudah jauh lebih baik. Adnan dan Zeline memutuskan tetap berangkat ke perusahaan dengan mobilnya masing-masing. Mereka mengingat betul akan pesan Tuan Antoni, selaku orang tua dari Zeline dan mertua dari Adnan.


Saat Zelin sedang serius bekerja tiba-tiba suara telepon di meja kerjanya berdering.


"Ke ruanganku sekarang!" Perintah Adnan yang langsung menutup panggilan telepon intercomnya.


Ya. Sambungan telepon intercom itu langsung diputus begitu saja oleh Adnan, sebelum Adnan mendengar sepatah kata pun dari Zeline.


"Oghh... Jangan bilang kalau mau marah-marah lagi!" Guman Zeline yang didengar jelas oleh Karin.


Di dalam hati Karin sangat senang jika Zeline dimarahi oleh Adnan. Semakin Adnan sering marah-marah pada Zeline, semakin senang pula Karin melihatnya. Bagi Karin kemarahan Adnan adalah benih-benih kebencian yang akan membuat posisi Zeline tersingkirkan.


Zeline menarik nafas kasar dan bangkit dari kursinya. Ia berjalan mendekati pintu ruangan Adnan dan membukanya secara perlahan. Sedangkan Adnan di dalam sana sudah melihat ke arah pintu di mana Zeline tengah berdiri menutup pintu.


"Ini berkas apa?" Tanya Adnan sembari melemparkan berkas ke arah Zeline.


Setumpukan berkas itu pun berhamburan di lantai. Zeline merapikannya kemudian membacanya.


"Apa ada pekerjaanku yang salah? Kenapa kau mulai sensi dan kasar lagi padaku?" Tanya Zeline yang kini sudah berani mendekati meja kerja Adnan dengan setumpuk lembar berkas yang berantakan di tangannya.


"Tadi saat kau menyuruhku, aku ada pergi ke toilet sebentar, sepertinya rekan kerjaku tak menyukaiku dan sengaja melakukan hal ini agar aku dimarahi olehmu." Ucap Zeline saat berada di pangkuan Adnan.


"Maksudmu Karin?"


"Hemm. Aku curiga padanya. Sepertinya dia menyukaimu dan berniat menyingkirkanku dengan sengaja. Ia membuat pekerjaan ku selalu salah di matamu." Adu Zeline pada suaminya.


"Apa sekarang kau sedang mengadu padaku?"


"Tidak. Aku sedang tidak mengadu. Aku hanya sedang menceritakan apa yang sedang aku rasakan." Jawab Zeline ya menatap dalam manik mata Adnan.


Mendengar jawaban Zeline, Adnan menyandarkan tubuhnya pada bahu kursi kebesarannya itu, sembari memainkan rambut panjang istrinya, ia memikirkan apa yang dikatakan oleh istrinya barusan. Belum sempat menanggapi satu kata pun. zeline kembali mengutarakan apa yang ia rasakan tentang Karin.


"Pada waktu lalu pun, setelah kejadian malam itu. Dia sangat membuatku curiga. Pasalnya dia terus bertanya apakah aku pulang bersamamu atau tidak. Dia juga terus memperhatikan bagian tubuhku yang ia curigai. Apa orang yang memberimu obat perangsang itu adalah dirinya? Dia berniat menjebakmu, namun tidak berhasil karena tiba-tiba dia harus pulang karena anaknya sakit." Tambah Zeline yang membuat Adnan harus memutar otaknya untuk terus berpikir, benar atau tidak tebakan istrinya itu.


Pusing memikirkan apa yang dikatakan istrinya,kini Alex malah menatap Zeline dengan mata elangnya.


"Jangan melihatku seperti itu! Tatapanmu itu seperti sedang ingin mengulitiku."


"Kenapa? Apa aku dilarang melihat istriku? Aku ini tidak ingin mengulitimu. Tapi aku ingin memakan mu. Aaarghhh...."


"Ahh...tidak. Jangan di sini!" Tolak Zeline berusaha menjauhkan dirinya dari Adnan.


Zeline memukul-mukul dada bidang Adnan dan terus berkata. "Hentikan!" Namun sayang satu kata yang hampir ratusan kali diucapkan dari bibir seksi Zeline sama sekali tak diindahkan oleh Adnan. Adnan terus menyelusuri leher jenjang sang istri dengan bibir yang terus mengabsen bagian leher jenjang sang istri yang putih bersih dan menggoda.


"Kita akan lakukan, apa yang belum pernah Barra lakukan di perusahaan miliknya ini." Ucap Adnan berbisik di telinga Zeline yang kembali mendapatkan pukulan dari Zeline.


"Bapak, jangan gila!" Tolak Zeline masih dengan memukuli punggung Adnan tiada henti.


"Berhenti memanggilku Bapak. Aku ini bukan Bapak mu, Zeline!" Seketika Adnan menghentikan aktivitasnya. Ia menatap sebal pada istrinya.


"Ini kantor bukan rumah Pak Adnan, aku harus memanggilmu dengan sebutan Bapak Adnan yang terhormat. Jika di rumah mungkin aku akan memanggilmu----" Jawab Zeline sembari mengalungkan kedua lengannya di leher Adnan. Namun sayang ucapannya terhenti karena Adnan selalu memotong perkataan istrinya itu.


"Jangan bilang kamu mau memanggil ku, Om seperti Anaya memanggil suaminya. Issshhhh... Berasa seperti pedofil saja aku ini." Tuduh Adnan dengan wajah juteknya yang kemudian memalingkan pandangannya kesembarang arah.


"Dasar tukang tikung dan tukang tuduh! Biasakanlah jadi pendengar yang baik dulu, baru komentar. Kenapa setelah menjadi istri mu, tingkahmu begitu menyebalkan!" Umpat Zeline pada Adnan yang kini membulatkan matanya. Karena untuk pertama kalinya Zeline berani mengumpatinya secara terang-terangan.


"Apa kata mu, aku ini tukang tikung dan tukang tuduh?" Tanya Adnan seraya menarik pinggang Zeline semakin mendekat padanya.