My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Insiden di Bandara



Bandara Internasional Soekarno Hatta.


Pukul 07.30 pagi.


Tepat pukul 07.00 pagi Batra, Adnan dan Arabella sudah melakukan check in di bandara Internasional Soekarno Hatta mereka melakukan penerbangan menuju New York dengan menggunakan pesawat komersial. Sebenarnya Barra bisa saja menggunkan pesawat jet pribadi milik keluarganya, namun hal ini urung ia lakukan.


Setelah melakukan Check in, ketiganya memutuskan untuk mencari sarapan pagi mereka yang tertunda. Arabella terus saja mengoceh tiada henti, karena ulah Adnan yang melarangnya untuk memasak sarapan pagi sebelum mereka pergi, hingga membuatnya kelaparan dan gemetaran seperti saat ini.


Alasan Adnan melarang ibunya masak hanya supaya Arabella tidak bau masakan saat di dalam pesawat nantinya. Ditambah lagi, hari ini tiba-tiba saja Adnan ingin sarapan bubur yang menjadi tempat langganan kedua adiknya. Namun sayangnya penjual bubur itu libur karena sedang di carter oleh orang penting katanya.


Karena Adnan seperti orang yang sedang ngidam, dan tetap menginginkan bubur Ayam. Membuat ketiganya berputar-putar mencari restauran yang menyediakan bubur Ayam.


"Adnan, sudah cukup! Ibu sudah tak tahan lagi. Ibu benar-benar kelaparan. Lama-lama kamu ibu makan sekalian ya!" Omel Arabella yang langsung masuk ke dalam sebuah restoran cepat saji.


Arabella meninggalkan kedua pria yang berdiri mematung melihat dirinya marah-marah. Barra terlihat begitu terperangah mendengar kata-kata Arabella yang tak pernah terpikirkan sama sekali oleh dirinya, ingin memakan anaknya sendiri karena saking laparnya.


"Ibu mau memakan mu, seram juga ya." Gumam Barra sembari tertawa mengejek Adnan.


"Diam kau! Jangan mengejek ku. Ahh...Ya sudahlah makan apa sajalah. Daripada ditelan hidup-hidup oleh ibu ku sendiri." Balas Adnan yang ikut masuk ke dalam restoran cepat saji itu.


Sementara itu, di dalam Arabella yang sudah duduk, dengan segera di hampiri oleh seorang pelayan yang sudah membawa buku daftar menu. Pelayan itu menatap Arabella dengan tatapan tak ramah karena melihat penampilan Arabella yang nampak biasa-biasa saja, tidak seperti tamu-tamu restauran lainnya.


"Maaf bu, ini daftar menunya, silahkan di pilih." Ucap pelayan restauran sembari memberikan buku menu pada Arabella.


"Buatkan saja tiga porsi masakan terbaik di restauran ini, minumnya tiga air putih dan dua susu putih hangat." Ucap Arabella yang menolak buku menu yang diberikan pelayan itu, karena malas membacanya. Lagi pula apapun yang ia pesan untuk kedua pria tampan yang bernasib tak baik itu akan tetap dimakan meski mereka tidak menyukainya. Karena kedua pria tampan itu tau bagaimana ganasnya kelakuan the power of emak-emak jika mendapat penolakan dari anak-anaknya.


Pelayan yang mendengar pesanan Arabella, langsung saja kembali melirik penampilan Arabella dari atas hingga ke bawah. Ia tak yakin dengan penampilan sesederhana Arabella memesan menu terbaik di restauran ini. Pasalnya makanan cepat saji di restauran ini cukup mahal dan biasa disinggahi kelas menengah ke atas, sedangkan penampilan Arabella terlihat biasa-biasa saja, seperti orang dari kelas golongan rendah.


Bukan salah Barra dengan penampilan sederhana Ibu mertuanya ini. Ibu mertuanya sendirilah yang menolak semua pemberian Barra. Namun untuk baju hangat dan kebutuhan lainnya yang ada di koper Arabella tak bisa Arabella tolak karena barang-barang itu sangat di butuhkan di New York nantinya.


"Kenapa melihat saya seperti itu Mba? Mbak takut saya tidak bisa bayar ya? Mba jangan khawatir nanti anak saya yang akan bayar, tolong buatkan saja ya." Tebak Arabella yang membuat pelayan itu tersenyum kaku padanya.


Tak lama Arabella bicara seperti itu, Adnan dan Barra masuk kedalam restauran. Keduanya duduk di samping kanan dan kiri Arabella. Ya. Arabella diapit kedua pria tampan dan gagah saat ini. Melihat kedatangan kedua pria tampan dengan penampilan berkelas. Pelayan itu malah terlihat heran. Bagaimana bisa penampilan ibunya begitu sangat sederhana sedangkan kedua anaknya terlihat sangat berkelas? Timbul dipikiran pelayan ini, jika mereka adalah seorang penipu yang ingin makan gratis di restauran tempat ia bekerja. Dimana saat ini, tanpa pelayan ini sadari, ia sedang berhadapan langsung dengan anak pemilik restauran yang terkenal dengan sikap arogan dan semena-menanya.


"Ada apa Bu? Apa ada masalah?" Tanya Barra pada Arabella.


Arabella yang mengetahui sifat tempramen Barra berusaha menutupi kejadian yang tak menyenangkan yang di alami oleh dirinya sebenarnya.


"Tidak Nak, Mbak ini hanya menanyakan Ibu mau pesan apa." Jawab Arabella berbohong.


"Sudah Nak. Ibu sudah pesan." Jawab Arabella yang memberi kedipan mata pada pelayan itu untuk segera pergi dan membuatkan sarapan untuk mereka.


Namun bodohnya pelayan itu yang tetap tidak pergi. Ia tetap berdiri di depan meja mereka. Dia masih saja menatap penampilan Barra dan Adnan yang begitu rapih dengan pakaian yang terlihat mewah, kontras dengan penampilan Arabella. Adnan dan Barra memincingkan matanya pada pelayan yang ada di hadapan mereka yang masih berdiri mematung di tempatnya, terlebih mereka menyadari tingkah Arabella yang aneh, seakan melindungi pelayan itu.


"Lantas? Kenapa dia belum pergi Bu?" Tanya Barra lagi masih melirik tajam pelayan yang berdiri di depannya.


"Ahhh...Aku tahu, mungkin dia tak percaya kita akan membayar makanan di sini, karena melihat penampilan ibu kita yang kontraks dengan lenampilan kita Barra." Sambar Adnan yang menjawab pertanyaan Barra untuk Arabella. Sontak ucapan Adnan membuat Barra bertanduk.


"Adnan! Jangan bicara seperti itu! Dia masih di sini karena mungkin melihat kalian, siapa tahu kalian mau menambah sesuatu." Tegur Arabella yang masih berusaha menyelamatkan pelayan itu. Arabella masih saja memberi kode pada pelayan itu untuk pergi, dan lagi-lagi pelayan itu masih saja tidak mau pergi dan tetap berdiri di tempatnya.


Mendengar ucapan Adnan dan tingkah aneh Arabella. Barra langsung saja berdiri dan mengeluarkan dompetnya yang cukup tebal. Ia mengambil hampir semua uang cash di dalam dompetnya dan melempar uang ke wajah pelayan itu. Sontak pelayan itu terkejut dengan apa yang dilakukan Barra.


Uang pecahan seratus ribu pun berhamburan di sekitar meja mereka. Tatapan para pengunjung restauran cepat saji itu pun segera menatap kearah mereka. Dalam sekejam mereka menjadi pusat perhatian. Begitu pula dengan pegawai lainnya. Manager restauran yang ada di sana pun segera datang menghampiri meja mereka. Belum sempat ia berkata, Barra sudah biacara terlebih dahulu. Membuatnya bungkam seribu bahasa, apalagi wajah Barra sangat familiar baginya.


"Jangan rendahkan Ibu mertuaku dengan tatapan menjijikan mu itu! Ambil uang itu. Sebelum aku marah dan membuatmu menyesal seumur hidup karena telah merendahkan ibu mertua ku." Ucap Barra dengan kesalnya.


"Tuan Barra, apa Anda Tuan Barra?" Ucap Manager itu yang sontak terkejut dan membungkukkan tubuhnya seketika itu juga.


"Ya saya." Jawab Barra singkat.


"Tuan maaf atas ketidak nyamanannya. Dia salah satu pegawai baru kami, dia belum mengenal siapa Tuan. Kami akan segera menyiapkan pesanan Tuan." Ucap Manager itu yang segera menarik tubuh pelayan itu menjauh dari meja Barra.


Saat ia mendengar managernya menyebut nama tamu restauran yang ia tatap rendah dan ia curigai dengan sebutan Tuan, pelayan itu malah tertegun tak percaya. Memangnya siapa tamu itu hingga membuat Managernya salah tingkah dan terus menunduk dan membungkuk berkali-kali.


Sementara itu pelayan lain segera merapikan uang Barra yang berserakan di lantai, memunguti satu persatu. Dan Adnan mengambil kesempatan dalam kesempitan dia menginjak uang pecahan seratus ribu yang bertumpuk dua itu dengan sepatunya.


"Lumayan buat beli es cream nanti." Gumam Adnan di dalam hatinya.


Pelayan yang telah selesai memunguti uang itu segera mengembalikan uang itu pada Barra, namun Barra menolaknya. "Ambil saja, saya tidak butuh."


"Barra!" Tegur Arabella saat menantunya yang mulai bersikap arogan seperti dulu lagi.


"Maaf bu, aku tak bisa melihat Ibu direndahkan." Ucap Barra yang merangkul tubuh tua Arabella.


"Sabar Nak, dalam hidup kita itu harus mengedepankan kesabaran. Karena dari meraka yang merendahkan kita. Kita bisa menguatkan mental kita, kita juga bisa hidup lebih maju juga karena mereka yang memandang kita rendah, tatapan rendah mereka bisa menjadi cambukan untuk hidup kita, agar lebih baik lagi dari sebelumnya. Bukan membalas mereka dengan tindakan keji yang merendahkan mereka pula. Berusahalah lebih bijak dalam menghadapi hidup ini Nak, apalagi sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ayah. Kamu akan menjadi panutan anak dan istrimu. Jangan ajarkan yang tidak baik pada anak dan istrimu! Jangan ajarkan keegoisan pada anak keturunan mu! Ibu tak menginginkan cucu ibu memiliki sikap yang egois dan arogan, tapakilah bumi yang kamu pijak nak. Kita ini makhluk sosial yang masih membutuhkan orang lain untuk kelangsungan hidup kita." Balas Arabella yang menasehati menantunya. Barra hanya diam dan berpikir saat mendengar nasehat ibu Mertuanya.