My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Aksi Arabella membantu Adnan



Tepat pukul empat sore kedua anak dan menantu Arabella sudah kembali ke rumah. Abimanyu dan Arabella yang sedang bermain dengan Nathan di halaman depan menyambut kedatangan mobil mereka.


Istri Akri yang membantu menyapu halaman segera membukakan pintu gerbang untuk mobil yang dikendarai oleh Adnan.


Adnan membuka salah satu jendela pintu depan mobilnya demi mengucapkan terima kasih pada Mba Lala yang sengaja ia pekerjakan untuk menggantikan tugas sang istri yang diberikan Arabella.


"Mba Lala terima kasih," ucap Adnan dengan tersenyum ramah pada istri Akri yang baru bekerja hari ini.


"Sama-sama Pak Adnan," jawab Lala tak kalah ramah.


Baik Adnan dan Barra sama-sama membukakan pintu untuk para istri mereka yang sama-sama sedang merengutkan wajahnya. Kedatangan Pinkan benar-benar merusak mood para istri mereka.


"Bu, aku bersih-bersih dulu ya, baru aku ambil Nathan nanti." Ucap Arumi saat mencium punggung tangan Arabella.


"Hari ini, Nathan mau nginap sama Kakek dan Nenek, Mami. Jadi Mami jangan jemput aku." Jawab Arabella mewakili Nathan.


Nathan malam ini memang akan menginap bersama dengan Kakek dan Neneknya. Lagi-lagi Arabella selalu menjadi dewi penyelamat untuk menantu kesayangannya, Barra.


Saat Arumi merajuk hanya karena menggertak Pinkan dengan mendekatinya, Barra langsung saja menghubungi Arabella lewat aplikasi WhatsApp. Barra paham betul betapa lamanya Arumi bila merajuk dengannya.


"Loh kok, tiba-tiba Bu? Nanti Nathan akan ganggu waktu istirahat ibu dan ayah."


"Tidak sama sekali, jangan bicara begitu. Besok pagi kan hari sabtu, jadi ibu dan ayah mau ajak Nathan olahraga pagi bersama. Kamu masaklah bersama kakak ipar dan adikmu." Balas Arabella yang selalu punya ide mengakurkan rumah tangga anaknya.


Sementara untuk rumah tangga Adnan dan Zeline, setelah Arumi dan Barra pergi ke paviliunnya melewati jalan di samping rumah Arabella dan Abimanyu yang dihiasi bunga-bunga dan kolam ikan koi. Arabella memanggil Zeline untuk duduk berdua di bangku taman. Setelah sebelumnya memberikan Nathan pada Adnan.


"Gendong keponakan mu, jangan berikan pada Ayah. Ayah sedang merokok." Ucap Arabella saat memberikan Nathan pada Adnan.


"Baik bum" jawab Adnan patuh.


Kini keduanya duduk di bangku taman yang ada di halaman rumah Arabella yang sengaja diberikan bata blok pada lantainya.


"Ada apa Bu?" Tanya Zeline pada ibu mertuanya.


"Mengobrollah bersama ibu di sini." Ucap Arabella sembari mengusap lembut tangan Zeline yang halus.


"Zeline, ibu tahu putra ibu itu banyak kekurangannya. Dia bukan berasal dari keturunan orang kaya seperti kakak sepupu mu, Barra ataupun adik iparmu Steve. Dia hanya anak orang tak punya."


"Bu, kenapa bicara demikian?" Tanya Zeline yang merasa aneh dengan arah pembicaraan ibu mertuanya.


"Tolong maafkan atas kekurangan Adnan ya, dia memang tidak sempurna seperti mereka. Sehingga kau merasa kecil hati menjadi istri Adnan." Ucap Arabella lagi dengan mata yang berkaca-kaca.


Zeline makin dibuat tak enak hati. Ada angin apa yang membuat ibu mertuanya bicara demikian.


"Bu, aku tidak pernah mempermasalahkan harta dan darimana suamiku berasal. Aku tak pernah merasa kecil hati memiliki suami seperti Mas Adnan." Sanggah Zeline sembari menggenggam tangan ibu mertuanya.


"Lantas kenapa kau sering sekali marah-marah dengan suami mu? Seharusnya sebagai istri kau tak boleh seperti itu Nak." Tanya Arabella yang menatap dalam manik mata menantunya yang sedang tak enak hati dengannya.


"Haduh bu, Ibu kan tahu sendiri bagaimana menyebalkannya Mas Adnan. Dia itu semena-mena Bu sama Zeline. Dia sering memaksakan kehendak dia sama Zeline. Zeline gak boleh ini gak boleh itu. Semuanya dia kerjakan tapi kalau dia kecapean, Zeline cape banget bu. Dia manjanya gak ketulungan, ngalahin bayi dan juga lansia." Keluh Zeline pada ibu mertuanya.


Deg! Nyesss!


Hati Zeline rasanya pedih ketika mendengar Arabella mengatakan dipernikahan terdahulu suaminya tak diperlakukan layaknya seorang suami.


Zeline terdiam, ia menatap suaminya yang sedang bermain dengan Nathan. Wajahnya memang tidak seperti dahulu pertama kali ia mengenal seorang Adnan yang dingin, datar dan tertutup.


Kini Adnan yang ia kenal adalah Adnan yang hangat, perhatian, penyayang dan romantis. Meskipun banyak hal lain yang membuat seluruh kebaikan Adnan pada dirinya tertutup karena keburukannya yang kerap kali dilakukan suaminya yang suka iseng, lemes, tukang ngadu dan nyebelin.


Melihat menanti menatap putranya, Arabella kembali memainkan perannya.


"Kamu sayang dan cinta sama putra ibu 'kan Zeline?" Tanya Arabella sembari menahan senyumnya.


Karena Zeline tak lepas memandangi putranya. Sebenarnya tanpa menantunya itu menjawab, ia pun sudah tahu jika menantunya itu sangat mencintai putranya. Namun Arabella tetaplah Arabella selalu ingin mendengar langsung dari mulut menantunya tentang perasaan menantunya terhadap anak-anaknya.


"Zeline sayang banget sama Mas Adnan, Bu. Jangan tanya lagi tentang rasa cinta Zeline untuk Mas Adnan, bu. Zeline cinta banget sama Mas Adnan, bu. Melebihi rasa cinta Zeline terhadap diri Zeline sendiri." Jawab Zeline tanpa melihat kearah ibu mertuanya.


"Kalau begitu peluk dia, jangan sampai mantan istrinya atau orang lain merebut hatinya."


"Dia milikku Bu, siapapun yang ingin merebutnya, pasti akan berhadapan denganku, bu." Ucap Zeline yang meninju telapak tangannya sendiri.


Ia kemudian beranjak dari kursinya. Berpamitan pada Arabella kemudian menghampiri Adnan.


"Memes, mandi bareng yuk! Nathannya balikin ke Ibu." Ajak Zeline yang tiba-tiba memeluknya dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di punggung Adnan


Adnan tersentak dengan ajakan yang mengiurkan itu. Adnan tersenyum senang ke arah Arabella.


Arabella mengacungkan kedua jempol tangannya, menandakan misi telah berhasil.


"Ayo sayang, jangan sia-siakan waktu!" Ucap Adnan yang segera menarik lengan Zeline.


Adnan menghampiri Arabella yang setia duduk di kursi taman. Ia mengembalikan Nathan pada Arabella, lalu segera membawa Zeline dengan menggendongnya.


"Turunin ah, aku bisa jalan sendiri." Zeline terus meronta minta di turunkan namun Adnan sama sekali tak bergeming, ia tetap menggendong Zeline hingga sampai di paviliunnya.


Saat Adnan ingin membuka pintu paviliunnya. Ia mendengar Arumi sedang memarahi Barra.


"Seneng ya kamu deket-deket sama dia, kangen rupanya kamu deket-deket sama dia?" Cecar Arumi pada Barra yang sudah meminta maaf berkali-kali, namun belum juga mendapat maaf dari Arumi.


"Papi cuma gertak dia doang Mih, gak ada maksud lain."


"Bohong! Kucing garong kaya kamu tuh Pih pandai berbohong dan bersilat lidah. Kalau gak ada Mami dan Mami gak kerja di sana. Pasti Papi udah sosor bibi Pinkan yang sekarang kelihatan tambah jeding itu."


"Gak Mih, Papi gak bohong. Papi bukan kucing garong kok. Papi ini cuma kucing rumahan yang nurut apa kata Mami. Papi sukanya cuma sama bibir Mami doang kok, bener sumpah!" Jawab Barra yang terus mengalah dan mengalah ketika Arumi sudah terbakar dengan kecemburuannya.


Hilang sudah kewibawaannya ketika istrinya sudah marah dan cemburu buta seperti ini. Untung saja ide berlian Abimanyu, ia terima saat ingin memiliki hunian dekat dengan mertuanya ini. Coba saja jika ia yang membeli rumah yang kini di tempati oleh Steve dan Anaya. Pamornya pasti akan turun karena para tetangga tahu jika Barra adalah tipe suami-suami takut istri.