
Di perusahaan Napoleon. Kehadiran Adnan dan Steve ternyata telah di tunggu-tunggu dan di sambut oleh Kevin dan juga seluruh jajaran karyawan perusahaan Napoleon. Acara penyambutan keduanya berjalan cukup meriah meski tanpa di hadiri oleh Barra dan juga Tuan Brandon.
Beberapa media terlihat meliput penyambutan mereka, dan sepanjang acara penyambutan Adnan tak berhenti mengumbar senyum terbaiknya. Ia sungguh tak menyangka adik ipar yang selalu ia ajak gelut telah menaikan derajatnya di hadapan seluruh dunia.
Saat ini Adnan bukanlah cinderella versi laki-laki yang diciptakan oleh Barra. Tapi Adnan adalah laki-laki yang diberi kesempatan oleh Barra untuk membuktikan pada dunia jika ia bisa meraih kesuksesannya tanpa berdiri di ketiak Septi dan juga keluarganya.
Beberapa media pun menyoroti lebih dalam kehidupan Adnan sebelum menjabat sebagai CEO terpilih, sepak terjangnya memajukan usaha minimarket keluarga Septi dapat diperhitungkan oleh publik. Pasalnya hanya dalam beberapa tahun minimarket yang awalnya hanya warung agen kelontong biasa bisa bertransformasi menjadi minimarket yang memiliki sebuah nama paten dan cabang diberbagai tempat. Meski masih berada di dalam satu kota.
Tak hanya sepak terjangnya di dunia bisnis yang dikuliti oleh para awak media, tapi juga dengan kehidupan pribadinya. Status duda yang baru disandang Adnan saat ini, menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi Adnan. Apalagi Kevin dan Barra membuat perhitungan dengan keluarga Septi yang selalu merendahkan dan menyakiti perasaan keluarga Abimanyu dengan isu tak sedap yang sengaja mereka kembangkan. Entah apa yang terjadi setelah hari ini pada keluarga mereka. Inilah konsekuensi ketika seseorang telah melukai dan menyakiti orang-orang yang dicintai oleh Barra.
Setelah acara sambutan selesai, Kevin menunjukkan ruangan kerja untuk Steve dan juga Adnan. Ruang kerja keduanya sengaja berada di satu lantai yang sama dengan ruang kerja Barra. Hal ini sesuai dengan keinginan Barra dan juga Kevin.
Tak hanya menunjukkan ruangan, Kevin juga memperkenalkan sekertaris yang akan membantu pekerjaan mereka setiap harinya. Berbeda dengan Steve yang berlaku dingin, sombong, angkuh dan membangun dinding pemisah yang tinggi pada sekertarisnya. Adnan malah terlihat ramah dan terbuka dengan sekertaris yang di siapkan Kevin untuknya.
Di sini Kevin selain menjadi asisten Barra ia juga di minta untuk memata-matai cara kerja kedua saudara iparnya ini, tak hanya itu ia juga ditunjuk langsung oleh Barra dan Tuan Brandon untuk menjadi Pak comblang yang bertugas mencarikan jodoh yang tepat untuk Adnan, tentunya dengan kriteria yang telah disebutkan Abimanyu dan juga Arabella pada Barra dan Tuan Brandon sebelumnya.
"Apa kau suka dengan sekertaris yang telah ku siapkan? Jika kau tak suka dan tak cocok. Aku akan menggantinya." Tanya Kevin yang tengah berbincang-bincang ringan dengan Adnan di ruang kerja barunya.
"Ck. Memangnya kau punya stok sekertaris Vin?" Tanya Adnan dengan menyunggingkan sedikit senyuman penuh artinya.
"Tentu saja. Kau mau sekertaris yang model seperti apa?" Jawab Kevin.
"Apa calon adik iparku itu, jadi ganti sekertaris Vin?" Tanya Adnan yang tak sengaja mendengar pembicaraan Kevin dan Steve di sambungan teleponnya. Calon adik iparnya itu rupanya langsung meminta ganti seorang sekertaris yang berjenis kelamin pria bukan wanita hari ini juga.
"Ya, jadi mau bagaimana lagi. Dia diancam adikmu hahahaha..." jawab Kevin yang tertawa geli melihat Steve begitu tunduk dan patuh pada Anaya.
"Hahaha... dia takut kehilangan adikku atau takut masuk rumah sakit seperti Presedir kita kala itu ya. Hahahaha... aku jadi geli sendiri membayangkannya." Tambah Adnan yang juga ikut menertawakan Steve.
"Menurutku dua-duanya. Hahahaha... adikmu itu adalah wanita terlangka di dunia ini. Sulit menemukan wanita unik seperti Anaya." Timpal Kevin yang masih tak bisa menghentikan tawanya.
"Hahaha.... baiklah kalau begitu, biarkan sekertaris Steve itu bekerja denganku, kasihanilah dia, baru menjabat satu hari sudah disingkirkan begitu saja. Aku memberi kesempatannya untuk bekerja bersama ku selama tiga bulan. Waktu yang pas untuk kontrak kerja percobaannya bukan?"
"Tentu. Apa ada masalah? Aku hanya ingin memiliki dua sekertaris Vin bukan dua istri. Heh, ngomong-ngomong masalah istri. Satu istri pun kini aku tak punya." Jawab Adnan sembari menghela nafas panjangnya.
"Jangan sedih Nan! Kalau kau membuka dirimu, aku percaya secepatnya kau akan mendapatkan jodoh, apalagi publik sudah mengetahui kau adalah seorang hot duda." Seru Kevin yang menyemangati Adnan.
"Kini aku bukan tipe pria yang suka di kejar Vin, aku lebih suka mengejar. Bagiku wanita yang menyodorkan dirinya padaku pasti sudah memiliki maksud tertentu. Contohnya saja mantan istriku." Sahut Adnan yang mengingat bagaimana dulu Septi yang terlebih dahulu mendekatinya, menyodorkan dirinya pada Adnan dan tiba-tiba minta di nikahi, meski saat itu Adnan belum terlalu mencintainya.
"Hahaha, rupanya kau banyak belajar dari pengalaman ya. Sudahlah lupakan pengalaman buruk mu itu, tak semua wanita seperti mantan istri mu. Tapi memang benar apa yang kau bilang, kita seorang pria memang ditakdirkan untuk menjadi pejuang cinta. Rasanya sangat bahagia dan sempurna ketika kita dapat mempersunting wanita incaran kita menjadi teman hidup kita, Nan. Aku sudah mencoba dan merasakannya."
"Ya. Tentu saja aku belajar dari pengalaman berhargaku ini Nan. Ahh... sudahlah. Jangan bicarakan tentang jodoh dan biduk rumah tangga lagi saat ini. Aku ingin fokus bekerja dulu. Aku tak mau mengecewakan Tuan Brandon yang akan membuat adik iparku mengolok-olok diriku nantinya." Ucap Adnan yang kemudian membuka beberapa berkas yang harus ia pelajari mulai hari ini.
"Ok baiklah, kalau begitu selamat bekerja. Aku akan mengatur sekertaris Steve untuk dirimu." Ucap Kevin yang kemudian pergi meninggalkan Adnan yang mulai serius mempelajari berkas-berkas dihadapannya.
Mulai hari ini setelah para tetangga menyaksikan siaran televisi yang menyiarkan acara penyambutan pengangkatan Adnan menjadi seorang CEO di perusahaan besar dan terkemuka, membuat keluarga Septi mendapat gunjingan dan cibiran dari para tetangganya.
"Kemarin mereka dengan bangganya menyingkir Adnan, putra Bu Ara dan Pak Abi. Sekarang mereka pasti gigit jari melihat nasib baik putra Pak Abi dan Bu Ara yang diangkat menjadi seorang CEO." Celetuk seorang ibu-ibu yang tinggal tak jauh dari kediaman keluarga Septi.
Ibu itu terlihat begitu bersemangat menggunjingkan keluarga Septi yang terlihat begitu sombong dan angkuh.
"Iya-iya bu, sepertinya tak hanya keluarga mereka yang gigit jari. Tapi keluarga sebelahnya juga. Ibu-ibu ingatkan bagaimana janda tua yang sombong dan tempramental itu menolak putri Pak Abi dan Bu Ara, hanya karena mereka tidak sudi berbesan dengan keluarga Pak Abi dan Bu Ara yang hanya keluarga pas-pasan." Tambah Ibu pemilik warung yang tepat berada di depan kedua rumah mewah orang-orang yang telah menjahati keluarga Abimanyu. Dialah saksi bagaimana Arumi dipermalukan keluarga kekasihnya ditambah Adnan yang bertindak gegabah karena tak mau menanggung malu.
"Wadalah dalah iya-ya. Biar tahu rasa mereka. Sekarang jodohnya putri Pak Abi dan Bu Ara. Hummm guantengnge polll, sudah baik, ramah, gak pelit, sopan dan sayang sekali sama bu Ara lagi." Sahut Bu Marni yang suaminya satu grup ronda dengan Barra.
"Tahu darimana bu, kalau suaminya Arumi gak pelit?" Tanya ibu pemilik warung yang terlihat begitu ingin tahu.
"Suami saya satu grup ronda dengan Bojone Arumi. Jenenge bojone Arumi iku Mas Barra. yen ronda karo bojone Arumi iku dijamin kenyang. Mas Barra traktir-traktir semua bapak-bapak yang ikut ronda. Dadi ne kalau waktu giliran Ronda Mas Barra. Rame tenan kumpulan Bapak-bapak bu-ibu." Jawab Bu Marni dengan senyum sumringahnya.
"Oalah pantesan, tak kira ada pesta ulang tahun siapa, waktu itu malam-malam Bapak-bapak borong rokok warung saya." Timpal ibu pemilik warung yang mengingat stok rokoknya langsung habis dalam waktu semalam. Nama Barra benar-benar harum mewangi di temoat tinggal Arumi.