My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Melamar



Usai memastikan keadaan Indri baik-baik saja. Arumi meninggalkan ruang kerja suaminya. Saat ia ingin berjalan ke ruangan kerja Kevin,asisten suaminya itu. Arumi bertemu dengan Wina, salah satu staf eksekutif yang bekerja di lantai yang sama dengan suaminya.


"Wina. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Kak Indri marah-marah dengan Karin seperti itu?" Tanya Arumi penasaran.


"Saya tidak tahu pasti, Nyonya. Namun kata orang-orang yang melihat kejadiannya. Karin sudah menggoda Pak Kevin di ruang kerjanya." Jawab Wina, yang berhasil membuat Arumi tercengang.


"Hah, Karin menggoda Kak Kevin? Bagaimana bisa?" Tanya Arumi yang tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Rupanya setelah Arumi pergi bersama dengan Zeline untuk memeriksakan kandungan mereka, Barra meminta Karin untuk mengambil berkas-berkas yang ia butuhkan. Rupanya berkas-berkas yang dibutuhkan oleh Barra ada di ruangan kerja Kevin.


Sebelum Barra meminta tolong pada Karin, ia terlebih dahulu meminta tolong pada Indri. Namun Indri yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, menolak mengambilkan berkas-berkas itu yang memang ada di ruangan suaminya.


Alasan Indri menolak karena ia tahu betul, jika ia masuk ke ruangan kerja suaminya, suaminya itu pasti akan menggoda dirinya dan membuat dirinya lupa diri dan pekerjaannya akan terbengkalai.


Ternyata penolakan Indri ini dimanfaatkan oleh Karin. Setelah ia tak berhasil menggaet Adnan, Karin malah membidik Kevin, sebagai target selanjutnya.


Karin terpesona dengan sosok Kevin. Bukan hanya ketampanannya, tapi juga sikap manis Kevin pada Indri yang sering ia lihat.


Karin yang diperintahkan barang untuk mengambil berkas-berkas itu, rupanya pergi ke ruang kerja Kevin dengan membawakan minuman yang telah Ia campurkan dengan obat perangsang.


Menurut Karin, dengan kondisi Indri yang tengah hamil besar, pastinya kebutuhan biologis Kevin tidak sepenuhnya terpenuhi, dan demi menjerat Kevin ia pun kembali menjebak pria dengan obat perangsang.


Kevin yang sedikit mengantuk pagi itu, karena semalam ia kurang tidur pun menerima dengan senang hati secangkir kopi yang dibawakan oleh Karin.


Kali ini Karin membubuhkan obat perangsang dengan dosis yang lebih tinggi, agar responnya lebih cepat. Hal ini ya lakukan karena belajar dari pengalaman saat menjebak Adnan yang gagal kala itu.


Dan benar saja belum sampai 5 menit Kevin meminum kopi yang diberikan oleh Karin. Tubuh Kevin langsung merespon efek obat perangsang tersebut.


Suhu tubuh Kevin meningkat, ia merasa kepanasan, meskipun ruangan kerjanya cukup dingin, ia sampai mengambil remote AC dan mengatur suhu ruangannya agar lebih dingin lagi.


Melihat Kevin sudah merespon efek obat perangsang yang ia berikan, Karin tetap berada di ruangan kerja Kevin. Ia pura-pura ingin membantu Kevin yang terus merasa kepanasan.


Dengan beraninya Karin mendekati meja kerja Kevin, dengan kesadaran yang masih ada Kevin terus meminta Karin untuk menjauh dari dirinya. Alih-alih menjauhkan dirinya, Karin malah terus mendekat dan membantu Kevin membuka kancing kemeja yang ia kenakan.


Kevin terus menolak dan karena ia terus menolak akhirnya Kevin terjatuh. Ia terjatuh karena tubuhnya mulai sempoyongan. Pandangan Kevin mulai buram, kini ia melihat sosok Karin berubah menjadi sosok Indri.


Kevin pun menyambar bibir Karin yang ia anggap adalah bibir sang istri. Kevin menyium Karin dengan brutal. Karin merasa senang karena menurutnya kali ini usaha yang ia lakukan berjalan dengan lancar.


Sementara itu Barra yang di dalam ruangan kerjanya merasa kesal karena Karin tak kunjung datang membawa berkas-berkas yang ingin butuhkan, segera menghubungi Indri melalui intercom yang ada di meja kerjanya.


Betapa terkejutnya Indri melihat suaminya tengah bertukar saliva dengan rekan kerjanya. Dengan cepat Indri langsung memukul tengkuk Kevin sekuat tenaga dengan benda tumpul yang ada di dekatnya, hingga Kevin pingsan tak sadarkan diri.


Setelah itu Indri menyeret Karin keluar dari ruang kerja suaminya, dan keributan itu pun dimulai. Kedua wanita ini saling memukul wajah mereka satu sama lain. Karin kalah telat dengan Indri yang memang notabennya adalah mantan atlet karate.


"Dasar wanita murahan! Lepas Pak Adnan yang kau goda, sekarang suami gue." Ucap Indri yang terus memukuli Karin tanpa Henti.


Mendengar ada ribut-ribut, Barra langsung keluar dari singgasananya. Didapati oleh dirinya Karin tengah bertengkar dengan Indri. Bukannya melerai dua wanita yang tengah berkelahi. Barra malah melewati keduanya dan kerumunan para karyawannya, yang sibuk menyaksikan pergulatan Karin dan Indri, sembari menunggu pihak keamanan datang.


Barra berjalan menghampiri ruang kerja asistennya. Ia sungguh terkejut, mendapati Kevin yang tidak sadarkan diri di atas lantai dengan keadaan bertelanjang dada.


Segera ia bantu asistennya itu, dengan dibantu beberapa staf lain untuk mengangkat tubuh Kevin ke atas sofa.


Barra segera memerintahkan staf lain untuk memanggilkan seorang Dokter jaga yang ada di klinik perusahaannya.


Barra cukup terkejut dengan penuturan sang Dokter yang mengatakan, jika Kevin sepertinya sudah menengguk minuman yang mengandung obat perangsang di dalam dirinya. Karena Kevin saat ini tak sadarkan diri, ia harus segera dibawa ke rumah sakit untuk di tangani lebih lanjut.


Barra segera memerintahkan karyawannya untuk segera membawa Kevin ke rumah sakit dengan mobil ambulace yang perusahaan mereka miliki.


Dan sewaktu Arumi membawa Indri keruangan kerja suaminya, tak lama berselang Barra keluar dari ruangan Kevin guna membawa Kevin ke rumah sakit.


Kali ini apa yang dilakukan Karin langsung di proses ke pihak yang berwajib, tak ada kata maaf dan kesempatan kedua pada sosok wanita singel parents ini.


Di sisi lain di apartemen Alex yang baru saja tiba, langsung menghampiri Septi. Alex langsung memeluk tubuh Septi dari belakang. Septi begitu terkejut dengan kedatangan Alex yang memeluknya. Ia hampir saja roboh dengan apa yang dilakukan Alex padanya. Beruntungnya ada sebuah meja yang menjadi tumpuan tubuhnya agar ia tidak roboh.


"Kenapa kau memelukku Alex? Apa kau sedang mabuk?" Tanya Septi yang berusaha mengurai pelukan Alex.


Septi sungguh tidak percaya dengan apa yang dilakukan Alex padanya saat ini. Pria yang sangat ia cintai ini, tiba-tiba datang memeluknya, tak hanya memeluk tapi ia juga terus menciumi bahunya berkali-kali.


"Maafkan aku, aku tahu ini semua adalah salahku. Selama ini kau menjalani hidupmu dengan tidak mudah. Hidup dengan bersandiwara mencintai seseorang sangatlah menyakitkan. Maafkan aku Septi. Aku tahu kau mencintaiku. Maafkan atas sikapku yang pengecut ini, yang membuat hidupmu menderita selama ini dan sekarang kau menjadi sosok wanita yang dibenci oleh orang lain, yang tanpa aku sadari mereka menjadi korban dari kesalahanku pada mu. Untuk menebus semua kesalahanku dan demi masa depan putra kita, jadilah istriku."


Deg! [Jantung Septi seakan ingin berhenti berdetak].


Septi tak percaya dengan apa yang ia dengar, ucapan Alex ini membuat dirinya menegang. Bagaimana tidak jika yang mengatakan hal ini adalah seorang Alex pria yang sangat ia cintai yang selama ini menolak kehadiran dirinya namun masih bersikap baik dengan menerima kehadiran putra kandungnya.


Septi terdiam ia tak tahu harus menjawab apa, saat ini ia masih tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Alex.


"Menikahlah denganku, akan aku berikan apapun yang kau mau, termasuk hidupku. Berjuanglah bersamaku mendapatkan restu kedua orang tuaku, demi putra kita Rizki." Lanjut Alex dengan cepat meyakinkan gurat keraguan yang begitu nampak terlihat dari wajah Septi.