My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Pindah



Suasana di meja makan pagi ini sungguh berbeda. Jika biasanya suasana begitu hening. Kini Arabella tengah memberikan kultum pada anak dan menantunya.


"Secapek apapun seorang istri, entah apapun yang habis dilakukan semalam. Kewajiban seorang istri itu bangun sebelum ayam berkokok. Menyiapkan sarapan pagi, menyiapkan kebutuhan suami menyiapkan kebutuhan anak adalah tanggung jawab seorang istri. Jadi, tidak ada alasan lelah ataupun alasan lain terkecuali, alasan jika kalian sebagai istri dalam kondisi hamil dan dalam keadaan mabuk, mungkin ibumasih bisa memaklumi. Paham kalian, Zeline, Arumi, Anaya?"


"Paham bu."


"Jangan jadikan kehamilan kalian ini senjata untuk berleha-leha dan bermanja-manja! Ibu tidak mengajarkan itu. Mengerti kalian!"


"Mengerti bu," jawab Zeline, Arumi dan Anaya kompak.


Setelah selesai menasehati anak menantu perempuannya. Kini giliran Arabella menasehati anak dan menantu lelakinya beserta suaminya.


"Dan kalian para suami. Dilarang ada asap rokok di rumah ini mulai detik ini. Ibu tidak mau asap rokok dapat mempengaruhi calon cucu ibu. Mengerti kalian!"


"Mengerti bu." Jawab keempat pria itu menunduk patuh. Tak berani mereka membantah makhluk terkuat di bumi ini.


"Ayah, tolong carikan rumah sementara untuk kita tinggali. Ibu mau sebelum cucu kita lahir, rumah ini sudah di renovasi. Bukankah Ayah sudah janji, akan merenovasi rumah ini jika cucu Ayah sudah lebih dari satu." Ucap Arabella yang menagih janjinya pasa suaminya.


"Tunggu sebulan lagi, ikan Ayah sebentar lagi panen bu." Jawab Abimanyu yang langsung merubah ekspresi wajah istrinya.


Belum sempat Aeabella mengeluarkan taringnya. Abimanyu langsung memerintah para pasukan menantunya.


"Barra, Steve kalian jangan bekerja hari ini, ganti pakaian kalian. Bantu Ayah kuras kolam. Bagi-bagikan ikan Ayah pada warga." Perintah Abimanyu pada kedua menantunya.


"Ikan Barra tidak kan Ayah?" Tanya Barra. Yang sudah ketar-ketir rakyatnya akan terdampak dengan rencana pembangunan besar-besaran yang akan dilakukan mertuanya.


"Tanya Ibu mu!" Jawab Abimanyu yang tak ingin asal menjawab.


"Bu, bagaimana dengan rakyat-rakyatku Bu?" Tanya Barra dengan wajah sedihnya.


"Tidak, itukan tanah mu, Ayahmu hanya akan membangun di atas tanahnya." Jawab Arabella yang membuat Barra merasa lega.


"Kalau Barra dan Steve tidak bekerja, aku juga tidak masuk kerja ah." Ucap Adnan yang ikut-ikutan ingin tidak bekerja. Ia tidak ingin bekerja dengan maksud ingin berehah-leha di atas penderitaan Barra dan juga Steve. Namun sayang niat buruknya itu tergagalkan oleh ibunya sendiri.


"Tentu saja kamu tidak bekerja, kata siapa kamu diperbolehkan bekerja hari ini. Jika Barra dan Steve membantu Ayah, kamu harus membantu ibu merapikan dan membereskan semua barang-barang dirumah ini. Jangan sampai ada barang ibu yang terlewat untuk di packing." Ucap Arabella dengan santainya.


Ekspresi wajah Adnan seketika berubah saat mendengar ucapan sang Ibu. Ia terlihat mencebik bibirnya dan menekuk wajahnya, jangan lupa mulutnya tak berhenti berkomat-kamit untuk mengumpat, entah mengumpati dirinya atau ibunya sendiri. Yang pasti kini Zeline tengah kesulitan menahan tawanya saat melihat ekspresi wajah suaminya yang menggelikan.


"Sudahlah Memes, kau ini seperti Mr, Been."


"Semangatlah."


Hari ini keluarga besar Abimanyu tengah bekerja bakti, mereka saling bahu-membahu satu sama lain. Tepat pukul 10.00 pagi, banyak warga yang mengantri untuk mengambil ikan gratis dari keempat empang Abimanyu. Setelah sebelumnya, Abimanyu sudah memisahkan terlebih dahulu untuk ketiga besannya, dan ikan untuk ketiga biasanya yang segar-segar itu sudah dikirim oleh Akri sopir pribadi Barra.


Banyak warga yang menanyakan mengapa ikan-ikan yang besarnya masih sedikit lagi panen sudah dibagikan kepada warga. Arabella sebagai jubir keluarga Abimanyu pun menjawab, jika mereka akan berencana merenovasi rumah. Untuk tiga bulan kedepan mereka akan pindah sementara.


Banyak warga yang sedih akan ditinggal sementara oleh keluarga Abimanyu. Pasalnya keluarga Abimanyu terkenal keluarga yang dermawan dan tidak sombong. Apalagi keluarga ini tambah dermawan semenjak hadirnya Barra di perkampungan tersebut.


Banyak juga menanyakan mengapa rumah butut mereka itu baru sekarang direnovasi. Arabella pun menjawab, mereka sudah berjanji akan merenovasi rumah, jika sudah memiliki cucu lebih dari satu orang. Lagi pula uang penjualan ikan yang selama bertahun-tahun yang mereka tabung selama ini, belum cukup untuk merenovasi rumah mereka dan untuk sekarang Arabella yakin uangnya sudah cukup, mungkin jika ada kurang-kurang ia bisa minta dengan Adnan, putranya.


Setelah acara pembagian ikan secara gratis telah selesai dilakukan, sebuah mobil truk besar datang mengangkut barang-barang keluarga Abimanyu. Rupanya mereka akan menempati beberapa unit apartemen di sebuah Apartemen yang berada di tengah kota. Tepatnya di gedung Apartemen yang sama dengan apertemen milik Barra dan Arumi.


Ya Apartemen, dimana dahulu Barra pernah tinggal bersama Arumi diawal pernikahannya. Apartemen yang menjadi saksi bisu penderitaan Arumi di awal pernikahannya dengan Barra.


Mereka memutuskan untuk tinggal di apartemen karena Barra sudah memiliki unit terlebih dahulu di sana, sehingga mereka hanya butuh menyewa dua unit apartemen lagi dan kebetulan dua unit apartemen di lantai yang sama tengah kosong dan bisa disewakan oleh pemiliknya.


Awalnya Arabella menolak untuk tinggal di apartemen, alasannya dia takut ketinggian, namun saat ditawari untuk tinggal di rumah kediaman milik Barra. Arabella menolak karena rumahnya terlalu besar. Sebenarnya tak hanya itu, Arabella tidak menyukai rumah itu karena dahulunya Barra menyiapkan rumah tersebut untuk menikah dengan Pinkan, mantan kekasihnya yang kini entah kemana.


Jika para lelaki masih berada di kediaman Abimanyu berbeda dengan para wanita yang telah sampai terlebih dahulu di unit apartemen. Para wanita tengah merapikan pakaian ke lemari pakaian, sedangkan para pria tengah bicara pada seorang kontraktor pembangunan rumah yang dipanggil oleh Barra secara khusus.


Di unit apartemennya, Arumi temu kangen dengan Bi Ipah yang masih setia penghuni apartemen miliknya itu. Bi Ipah sangat bahagia dapat melihat Arumi bisa bersatu kembali dengan Tuan mudanya. Apalagi Arumi tengah mengandung buah cintanya kembali dengan Barra.


Bicara tentang Arabella, rupanya dirinya lebih memilih tinggal satu unit bersama dengan Adnan anak laki-lakinya ketimbang tinggal bersama Arumi ataupun Anaya. Zeline sangat senang Ibu mertuanya itu tinggal bersama dengan dirinya.


Semenjak menikah dengan Adnan ia merasa mendapatkan kasih sayang seorang ibu seutuhnya, pasalnya meskipun Ia mempunyai seorang ibu. Ia seperti tak memilikinya. Mommy Zeline selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Ia jarang berada di rumah. Banyak undangan arisan sosialita yang harus ia hadiri, hingga membuat Zeline merasa kesepian dan terabaikan.


Tepat pukul 08.00 malam, seluruh anggota keluarga Abimanyu berkumpul di unit apartemen Barra. Karena mereka baru saja pindah, Arabella tidak mungkin memasak. Sehingga pada malam ini mereka makan bersama masakan Bi Ipah yang tak kalah enaknya seperti masakan Arabella.


"Besok pagi, kalian harus datang dan sarapan di unit apartemen Adnan, tidak boleh tidak datang! Jika kalian tidak mau ibu berbuat onar di sini." Ucap Arabella sebelum meninggalkan ruang makan.


"Baik bu." Jawab semuanya dengan kompak.


Sementara itu Septi yang sudah mengalami krisis keuangan berat, malam ini mendatangi kediaman Abimanyu. Ia kembali ingin mencoba bicara dengan Adnan untuk membantunya. Menyelesaikan segala kesulitan keuangan yang ia dan keluarganya alami.


Septi begitu terkejut ketika melihat kediaman Abimanyu terlihat gelap gulita tidak ada kehidupan di sana.


"Sepi sekali? Apa mereka sudah pindah?" gumamnya seorang diri.