My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
kepergok



Jika di ruangan kerja Steve, Steve hanya menjadi pendengar dan penasehat Anaya. Berbeda dengan suasana di ruang kerja Adnan. Setelah melihat hasil pemeriksaan calon anaknya yang diberikan oleh istrinya, Zeline. Imajinasi liar Adnan kembali melintas di dirinya saat ini.


Adnan langsung saja menggendong tubuh istrinya ke atas meja kerjanya, setelah sebelumnya ia mengunci ruang kerjanya itu.


"Me-memes kamu mau ngapain?" Ucap Zeline dengan wajah bingung bercampur dengan rasa takut.


"Menurut kamu, aku mau ngapain sayang?" Adnan mulai mendekatkan wajahnya semakin dekat hingga jarah wajah mereka tinggal beberapa inci saja.


Zeline menatap wajah suaminya dengan pandangan gugup dan malu. Ia malu jika suami mesumnya ini minta jatah di perusahaan Daddynya. Ia tak mau para karyawan sang Daddy dan juga suaminya ini,mendengar suara luknutnya saat mendesah memanggil nama suami mesumnya ini.


"Jangan di sini aku malu! Pulang aja yuk!" Tolak Zeline yang sudah paham betul apa yang akan terjadi dalam beberapa menit ke depan.


"Kelamaan pulang dulu, aku gak nahan, gak kuat aku nahannya Zeline." Tolak Adnan sembari mengedipkan mata genitnya.


"Alasan! Pemaksaan! Mesum!" Umpat Zeline yang terlihat kesal dengan wajah merengutnya.


"Tapi kamu cinta kan sama aku? Ingat Zeline kamu yang lebih dahulu mencintaiku. Jadi jangan pernah menolak ku sayang, atau akan aku katakan pada semua orang kalau kau hampir setiap hari menggoda ku!" Ancam Adnan yang selalu menjadi kunci untuk mendapatkan segalanya yang ia inginkan dari Zeline, yang suka menjaga imagenya dimata karyawan Sang Daddy dan suaminya ini.


Zeline tak menanggapi ancaman suaminya itu. Ia memilih diam dan mengikuti apa mau suami mesumnya ini.


Melihat Zeline berubah menjadi penurut, Adnan bersorak gembira. Adnan yang sudah tak mampu lagi menahan hasrat pada sang istri langsung saja malahap bibir mungil sang istri yang tengah cemberut.


Adnan menghisap bibir mungil Zeline bergantian atas dan bawah. Kemudian sedikit menggigit bibir Zeline agar Zeline membuka mulutnya, ia memasukkan lidahnya ke dalam mulut Zeline, lidah Adnan bergerak liar di dalam sana. Mengabsen deretan gigi putih Zeline yang terjajar rapih.


Ciuman mereka yang awalnya begitu lembut kini semakin lama, semakin dalam dan akhirnya semakin panas. Tangan Adnan bahkan sudah mengeksplore benda kenyal milik zeline yang berukuran cukup besar.


Nafas keduanya memburu dengan detak jantung yang berpacu dengan cepat. Jangan tanya bagaimana perasaan Zeline saat ini, istri Adnan ini tidak sanggup untuk mengungkapkan segala rasa yang kini ia rasakan dengan kata-kata.


Zeline hanya mampu bergerak-gerak gelisah di bawah kuasa suaminya yang kelewatan mesumnya. Zeline masih menahan gejolak yang ia rasakan kini. Mengingat mereka masih berada di perusahaan sang Daddy. Zeline takut, tiba-tiba Tuan Anthony tiba-tiba datang dan mempeegoki apa yang sedang mereka lakukan.


"Mmmmmphh .... Hhhhh," satu ******* lolos dari bibir mungil Zeline.


Ketika ciuman Adnan turun ke curug lehernya, kemudian semakin turun ke arah tulang belikatnya.


Zeline tidak sadar kapan baju kerjanya terlepas dan teronggok begitu saja di bawah meja kerja sang suami. Menyisakan penyangga benda kembar miliknya yang dalam hitungan detik sudah terlempar ke sembarang arah. Mata Zeline membulat sempurna, saat melihat kacamata berwarna hitam milik benda kembarnya itu melayang ke udara.


"A-Adnann hhhh....." Lungoh jeline sembari menjambak rambut suaminya dengan kencang.


Ketika bibir hangat dan sapuan lidah suaminya sampai di puncak benda kembar milik dirinya.


Tak sampai di situ, tangan nakal Adnan semakin turun ke bawah. Mengusap-ngusap paha Zelin lalu menerobos masuk ke dalam melewati rok mini yang ia kenakan. Adnan mulai menggoda sesuatu yang sudah basah di bawah sana.


"Mmmmmphhhh Hhhhhh A-Adnann....!" Zeline memekik hampir menjerit merasakan sengatan dahsyat pada bagian intinya akibat ulah tangan nakal suami.


"Suka sayang?" Tanya Adnan yang tersenyum puas sembari menunjukkan jarinya yang basah.


Zeline hanya mengangguk, keduanya kembali melanjutkan penyatuan mereka, karena Zeline tak lagi menolak dan perduli akan dimana sekarang ini mereka berada. Adnan sangat pandai membuat Zeline on fire.


Saat mereka sedang asyik bergoyang, tiba-tiba suara ketukan pintu menghentikan aktivitas mereka.


"Memes ada orang datang, udah dulu!" Zeline sedikit mendorong tubuh Adnan untuk mengakhir permainan mereka.


"Nanti dulu, tanggung sayang. Paling juga sekertaris aku. Abaikan saja," ucap Adnan yang kembali melanjutkan aktivitasnya tanpa perduli suara ketukan pintu makin keras berbunyi di luar pintu ruangannya.


"Adnan! Kamu sedang apa di dalam?" Pekik Tuan Antoni di depan pintu ruang kerja menantunya.


"Gawat Daddy! Udahan Mes, lanjut lagi nanti di apartemen." Ucap Zeline yang kini terlihat gugup dan berusaha melepaskan dirinya dari kungkungan Adnan.


"Tunggu sebentar lagi, biarin dulu, aku bisa pusing kalau di tunda sayang!" Tolak Adnan yang malah mempercepat gerakannya memompa tubuh sang istri, hingga akhirnya Zeline melenguh dengan suara yang cukup keras dan terdengar di telinga Tuan Antoni.


Tuan Antoni yang tidak tahu jika putrinya datang, mengira menantunya sedang berbuat mesum di perusahaannya dengan wanita lain.


"Menantu si4lan, istri sedang hamil dia main gila di kantor," umpat Tuan Antoni yang sudah naik pitam.


Tanpa berpikir panjang, Tuan Antoni langsung mendobrak pintu ruang kerja menantunya itu.


Brakkk!


Brukkk!!


"Aaaaa.... Daddy keluar!" Pekik Zeline saat sosok sang Daddy berdiri di ambang pintu. Memandang tak menyangka apa yang dilakukan putrinya dan menantunya di perusahaannya.


Zeline terus memukul dada bidang Adnan yang malah tertawa, penyatuannya di kantor dipergoki oleh mertuanya. Apalagi mertuanya sampai mendobrak pintu ruangan kerjanya.


Zeline segera memunguti pakaiannya dan langsung mengenakan pakaian, sedangkan Adnan terus tertawa geli dengan kejadian ini.


"Hahahaha...." Tawa Adnan tak ada henti-hentinya.


"Ketawa terus! Kamu tuh gak punya malu. Urat malu kamu udah putus ya hah? Cepat pakai baju. Kamu mau show off sama karyawan kamu ya? Niat kamu ya? Siap-siap aja kamu aku kulitin jadi sate." Omel Zeline sembari membantu suaminya memakaikan kembali pakaian kerjanya.


"Pasti Daddy mu mengira aku main gila dengan wanita lain, makanya dia dobrak pintu hahahaha.... Kuat juga tenaganya sayang," ucap Adnan yang kini sedang dibantu Zeline memakai dasi.


"Ya dia kuat, sangat kuat, di usianya yang tak lagi muda, dia masih mengikuti olahraga kesukaannya." Balas Zeline saat mengenakan Adnan dasi.


"Memangnya apa olahraga kesukaan Daddy, sayang?" Tanya Adnan yang belum banyak tahu tentang ayah mertuanya itu.


"Angkat beban." Jawab Zeline singkat.


"Oh pantes mukanya sering di tekuk, ternyata hobbynya olahraga angkat beban. Beban hidup juga kali ya." Sahut Adnan.


Zeline mengangkat kedua alisnya tak mengerti maksud perkataan suaminya, dan saat ia baru mengerti dia langsung memukul Adnan.


"Sembarangan ya kamu, nanti aku aduin sama Daddy." Ancam Zeline pada suaminya.


"Ya. Aduin aja, gak apa-apa. Berarti kamu udah siap menjanda berarti. Kamu kan tahu macam-macam sama Daddy kamu ataupun kamu nasib aku bisa berakhir di kandang peliharaan Daddy kamu tuh." Sahut Adnan yang selalu bisa mematahkan ancaman Zeline. Adnan tersenyum menang karena melihat Zeline kalah dan tak akan mengadukan apapun pada Ayah mertuanya yang begitu menyeramkan.