My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Tertunda



Puas menertawakan nasibnya. Adnan segera menandatangani surat perjanjian yang isinya menekankan bahwa, dia tidak boleh mengambil keuntungan sepeser pun dari pernikahan dadakan dirinya dengan Zeline. Jika dalam dua bulan tidak ada tanda-tanda kehamilan pada diri Zeline. Adnan harus mau melepaskan dan menceraikan Zeline tanpa meminta kompensasi apapun dari Tuan Antoni.


Usai mendatangi surat perjanjian itu. Adnan segera pergi meninggalkan hotel. Dengan kecepatan tinggi Adnan melahukan kednaraannya menuju acara pernikahan Anaya dan Steve.


Kini Adnan sudah sampai di tempat acara pernikahan Anaya dan juga Steve. Kedatangannya di sambut dengan wajah di tekuk dari ketiga wanita terpenting di dalam hidupnya.


Penyebab ketiga wanita itu menekuk wajahnya, itu karena saat Steve sedang mengucapkan ijab kabul. Barra tahu-tahu datang menghentikan ucapan Steve yang kepalang tanggung.


Kejadiannya tepat di tiga puluh menit yang lalu sebelum Adnan datang.


"Saya terima nikah dan kawinnya Anaya Putri Binti Abimanyu dengan peralatan sholat dan logam mulia seratus gram dibayar------"


"Tunggu dulu! Tunda dulu!! Jangan diteruskan!" Pekik Barra yang seketika menghentikan ucapan Steve.


Semua para tamu undangan memandang menantu kesayangan Arabella yang di elu-elukan para tetangga dan dipuja barisan para ibu-ibu, apalagi para anak gadis yang selalu berhalusinasi memiliki suami seperti Barra. Mereka semua menatap Barra dengan tatapan penuh tanya.


Mengapa Barra datang-datang malah menggagalkan pernikahan adik iparnya.


Ada apa yang terjadi dibalik layar hingga Barra berbuat seperti ini. Apalagi tak ada sosok Adnan yang terlihat di tempat berlangsungnya acara akad nikah Anaya dan Steve.


"Heeeahhh... ada apa lagi si kakak ipar Barra Berre ini? Kenapa dia selalu hobby jadi pengacau." Gerutu Anaya yang menundukan wajahnya sembari melirik tajam muka sok tak berdosa dari Barra.


Barra menyadari betul jika dirinya menjadi pusat perhatian saat ini, namun ia tak perduli dengan banyaknya mata memandang dirinya. Yang ia perdulikan saat ini hanya lirikan tajam dari Anaya. Tak ingin berujung bertikaian berlanjut dengan Anaya. Dengan entengnya Barra mengacungkan dua jarinya sembari tersenyum manis, menandakan ia ingin berrdamaian dengan sang adik ipar yang tak segan-segan untuk memberikan dirinya bogem mentah.


Namun hal ini diartikan berbeda oleh Anaya, Anaya menganggap Barra tengah meledek dirinya. Malang sekali nasib Anaya dan Steve, hanya karena Steve belum sempat mengucapkan kata "Tunai" yang tertinggal, pernikahan Anaya dan Steve harus di tunda, beberapa saat.


"KAK BARRA!!! ISHHH...JANGAN ISENG DIMOMENT SAKRAL NAY BISA GAK SIH AHHHHHH...." Pekik Anaya kesal.


Hilang sudah kini keanggunan Anaya sebagai seorang menantu baru di mata keluarga Steve.


Anaya yang kepalang kesal dan memganggap Barra tak bisa membedakan acara penting dan tidak pun beranjak dari duduknya. Anaya berdiri menghadap ke belakang, dimana Barra berada kini, ia berdiri sembari bertolak pinggang dengan ekpresi wajah garangnya. Tanda perdamaian yang Barra lakukan dengan kedua jarinya tadi, sama sekali tak mempan untuk Anaya saat ini.


"Sorry Nay, ini urgent. Biarkan Kak Adnan menikah lebih dahulu." Timpal Barra dengan tampang tak merasa bersalah sama sekali, ia merasa tindakannya saat ini benar. Namun tidak dimata Anaya.


"Hah, apa Kak Adnan mau menikah? Pacar saja dia tak punya. Jangan belajar mengarang bebas Kak Barra. Kalian berdua memang selalu saja----- ughh.... Bunda, sekali saja tolong bela putri mu ini jangan bela mereka terus." Ucap Anaya pada Barra yang kemudian pandangamnya beralih menatap Arabella dengan tatapan memohon.


Barra yang melihat Anaya memohon pada ibu mertuanya segera berlari menghampiri Arabella yang duduk di samping Arumi dan Nathan. Ia segera memberitahu dan menjelaskan secara singkat pada Arabella mengenai masalah yang menimpa Adnan dengan berbisik di telinga Arabella.


"Apa? Adnan!!! Kamu tidak sesang bercanda kan Barra?" Pekik Arabella dengan keterkejutannya mengetahui penyebab anaknya tak pulang semalam dan harus menyebabkan penundaan pada pernikahan putri bungsunya.


"Tidak bu, aku sedang serius. Tidakkah, Ibu lihat wajah tegangku? Aku pun akan kena batunya Bu. Bagaimana dengan nasib istri dan anak ku?" Jawab Barra yang seketika itu juga membuat Arabella lemas.


Setelah mengatakan pada Arabella yang kini malah terduduk lemas. Barra menghampiri Abimanyu yang duduk satu meja ijab kabul dengan Anaya dan lainnya. Barra kembali berbisik pada Ayah mertuanya, Abimanyu. Ia mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.


Abimanyu tak kalah terkejutnya dengan Arabella. Namun ia tetap menampilkan wajah tenang di hadapan banyak orang, meski hati dan pikirannya mulai semerawut.


"Adnan, kenapa kamu selalu buat masalah di keluarga ini?" Gerutu Abimanyu yang tersenyum kaku pada orang-orang di hadapannya.


"Kak Barra, katakan ada apa? Kak Adnan kenapa?" Tanya Anaya dengan rasa penasarannya.


"Kak Adnan sudah menggagahi adik sepupuku, dan Om ku minta dia bertanggung jawab hari ini juga, kalau tidak nyawanya akan melayang di kandang harimau peliharaan Om ku." Jawab Barra dengan berbisik di telinga Anaya.


"Hah... kejam sekali?" Sahut Anaya dengan matanya yang membola tak percaya.


"Huumm, kalau kau tak percaya ceritakan saja pada calon suami mu, dia pasti akan memilih menunggu dan menunda pernikahan kalian." Balas Barra yang mengetahui jika Anaya adalah orang yanh tak mudah percaya. Dan benar saja, saat Barra menyingkir dari meja akad nikah. Anaya langsung menceritakan pada Steve tentang apa yang diceritakan Barra.


Sontak Steve beranjak dari kursinya, ia menghampiri sang paman dan membisikkan sesuati pada sang Paman yang bertugas sebagai saksi pernikahannya.


Paman Joseph pun segera beranjak dari kursinya, saat Steve menceritakan tentang kejadian Adnan yang berkaitan dengan Tuan Antoni, yang merupakan Tuan besarnya.


Paman Joseph berjalan menghampiri keluarganya, ia duduk diantara kedua orang tua Steve dan juga istrinya. Ia menceritakan apa yang terjadi dengan berbisik pada mereka.


"Om Steve, kenapa kita jadi duduk di sini? Kita kan mau menikah?" Tanya Anaya saat Steve menggandengnya menjauh dari meja akad nikah mereka dan duduk di sebuah kursi tamu.


"Sabar dulu sayang, kita akan tetap menikah hari ini, tapi tunggu putri Tuan Antoni menikah dengan Kakak mu terlebih dahulu, daripada kamu paksa aku menikahi mu tapi kamu langsung menjadi seorang janda." Jawab Steve yang membuat Anaya terperangah.


"Ishhh siapa sih Tuan Antoni itu? Kenapa kalian terlihat sangat takut dengannya. Dia itu masih makan nasikan seperti kita? Belum makan beling ataupun paku?" Sahut Anaya sebal.


"Dia itu orang yang sangat menakutkan dan tak terbantahkan. Jika dia di bantah dia tak segan-segan menghilangkan nyawa kita Anaya." Balas Steve, ia menatap calon istrinya dengan tatapan serius.


"Ishhh... dia bisa dipenjara jika menghilangkan nyawa orang Om,"


"Seharusnya, tapi sampai saat ini tak ada yang bisa memenjarakan dirinya termasuk Tuan Brandon."


"Apa?"


"Sudahlah sayang, kita jangan bahas dia. Lebih baik kita bersabar demi kebahagiaan kita kedepannya nanti."


"Iya, aku akan diam tapi aku akan minta ganti rugi dengannya. Enak saja mau menumpang di acara pernikahan orang secara gratis. Tidak ada gratis-gratis di kamus Anaya, Om."


"Tagihlah sendiri jika kamu berani, aku angkat tangan, jika kamu meminta aku yang menangihnya. Lebih baik aku direndam Tuan Barra dan Kak Adnan semalam di empang daripada menagih uang yang berujung nyawa ku melayang di kandang harimau." Jawab Steve bergidik ngeri.