
Waktu pun berlalu dengan begitu cepat Arumi tetap melakukan kegiatannya seperti biasa menghubungi ke perusahaan milik Barra di antara pukul 02.00 siang sampai pukul 04.00 sore hari
Setelah bicara dengan Indri, Arumi terbiasa berbicara panjang lebar bersama dengan Adnan sang kakak mereka biasa bertukar cerita membahas tentang kabar kedua orang tua mereka, Barra dan juga perkembangan pendidikan adik mereka Anaya. Arumi tidak menceritakan dengan gamblang tentang pendidikan Anaya yang kini mengalami hambatan karena hadirnya Alex di kampus tempat Anaya melanjutkan pendidikannya.
Anaya dan Steve sudah sepakat akan kembali ke Indonesia, niat mereka untuk meninggalkan negara ini telah disampaikan kepada Tuan Brandon. Tak hanya karena kehadiran Alex yang kerap kali mengganggu Anaya dan membuat kegaduhan, hingga membuat Steve sering kali berurusan dengan pihak kepolisian setempat. Tapi juga karena Anaya dan Steve sudah mengetahui perubahan besar dan segala usaha yang telah dilakukan Barra untuk membuat Arumi kembali padanya. Anaya rasa hukuman ini sudah lebih dari pada cukup dan jangan di teruskan lagi. Tuan Brandon pun dapat menerima pendapat dari Anaya mengenai hukuman Barra yang dirasa cukup dan kini telahmembuatnya berubah.
"Ya, baiklah kita akan kembali ke Indonesia pekan depan. Tapi Daddy berharap tak ada satu pun orang yang mengetahui kembalinya kita ke sana. Daddy mau dia menemukan Arumi dengan sendirinya." Pungkas Tuan Brandon ya g disetujui kesemua lawan bicaranya.
Namun dibalik jawaban setujunya, Anaya masih menyimpan ganjalan di hatinya, yang langsung saja ia utarakan tanpa rasa malu atau pun tidak enak.
"Daddy, apa kedua orang tuaku juga tidak boleh tahu, jika kita kembali? Mereka pasti merindukan kami bukan? Lantas setelah kembali ke Indonesia, aku pastikan akan pulang ke rumah kedua orang tuaku dan mereka akan menanyakan penyebab aku kembali dan juga menanyakan bagaimana kabar Kak Arumi." Tanya Anaya yang membuat Tuan Brandon tersenyum.
"Kamu tidak akan pulang ke rumah orang tua mu, Nak. Kamu akan tinggal bersama kami di mansion utama, hingga kakak iparmu menemukan kakak mu dan kamu dipersunting oleh Steve. Sepertinya kamu tidak perlu repot-repot memikirkan semuanya. Masalah perkuliahanmu, akan di urus oleh calon suamimu sendiri. Duduklah yang tenang dan manis menemani kakak mu yang sebentar lagi akan melahirkan keponakan untuk mu. Humm. Dan masalah mengabari kedua orang tua mu adalah tugas Daddy." Terang Tuan Brandon yang tak melepaskan senyumannya pada Anaya.
Meskipun seringnya Arumi menghubungi Adnan, Arumi tetap menyembunyikan keberadaannya, bahkan tetap merahasiakan rencana kepulangannya ke Indonesia pekan depan.
Pernah Adnan berkali-kali menanyakan dimana posisi Arumi dan Anaya. Ia berkata akan menyusul keberadaan kedua adiknya itu, ia sangat ingin menjaga mereka di sana, namun Arumi menolaknya dan berkata mereka baik-baik saja dan tidak perlu dijaga oleh Adnan karena sudah ada kedua orang tua Barra dan juga Steve calon suami Anaya yang sudah menjaga mereka dengan baik.
Jujur saja jawaban Arumi yang membawa-bawa nama Steve yang telah menjaga mereka denfan baik membuat Adnan makin kesal dan cemburu pada Steve. Jelas ia cemburu, karena tugasnya sebagai kakak laki-laki di ambil alih oleh Steve yang notabennya hanya calon.
Sementara itu dikala Adnan berusaha mengorek informasi tentang keberadaan Arumi dari Arumi sendiri Barra malah asik dengan kehidupannya bersama dengan kedua mertuanya. Ia seakan lupa dan tak lagi bersemangat melakukan pencarian istrinya sendiri, di mata Adnan.
Bahkan semenjak Adnan masuk kerja di perusahaannya Barra hampir tidak pernah datang lagi ke perusahaan. Hal ini sering membuat Adnan menjadi kesal karena ia mulai cemburu dengan kedekatan kedua orang tuanya dengan adik iparnya ini, padahal rasa malas kekantor adalah bawaan dari kehamilan istrinya, sedangkan untuk kemalasan mencari Arumi hanya sebuah trik yang dilakukan dirinya.
Bukankah jika ingin bermain layang tak harus terus menarik benangnya. Karena bukannya terbang tinggi, layangan tersebut malah akan putus dan pergi entah kemana.
"Kau ini kenapa asyik-asyikan di rumah bersama ibu, bukannya berangkat ke kantor dan bekerja hah?" Tegur Adnan saat melihat Barra sedang asyik tertawa sembari menangkap ikan untuk mereka makan malam.
"Haitss... Arumi terus menghubungiku dan menangis menanyakan kabar mu, ia tak percaya kau baik-baik saja. Karena sudah lama sekali kau tidak masuk kerja." Jawab Adnan yang membuat Barra dan Arabella tersenyum.
"Bu, lihatlah rencanaku berhasil. Sekarang putri mu mulai mengkhawatirkan ku. Dia masih peduli pada ku, ku kira dia sudah tak memikirkan ku." Ucap Barra dengan ekpresi wajah bahagia pada Arabella.
"Kamu memang pintar Nak, semoga Arumi cepat kembali pada mu dan kalian akan hidup bahagia setelah ini." Balas Arabella sembari menepuk bahu Barra.
"Semoga ia kembali sebelum anakku lahir bu. Aku tak ingin ucapan Makci Sari menjadi kenyataan, dimana aku baru bisa menemui istriku saat anak kami sudah bisa bicara dan memanggilku Ayah, Daddy atau Papa. Besar harapan ku bisa menemani Arumi saat proses melahirkan nanti, bu." Kali ini Barra berkata dengan ekpresi wajah sedihnya.
"Makci Sari mungkin hanya bisa membaca kemungkinan yang akan terjadi ke depannya nanti. Tapi semua kemungkinan itu belum tentu pasti dan dapat berubah tergantung dari bagaimana manusianya itu berusaha. Ibu yakin, Daddy mu pun sudah mengetahui perubahan dan segala usaha mu, Nak."
"Tapi Aki-aki tua bangka itu masih kejam pada ku Bu, dia masih saja menutup komunikasinya pada ku. Aku terus berusaha menghubungi nomor ponselnya. Tapi nomor ponselku sudah di blokir sampai saat ini."
"Sabar nak, kamu harus lebih banyak bersabar. Kamu tidak boleh ikut keras kepala seperti Daddy mu."
"Haistt... kalian ini bicara berdua, seakan tidak ada diriku diantara kalian. Menyebalkan sekali." Protes Adnan sembari duduk di salah satu kursi bambu yang biasa di sebut balai oleh mereka.
Tanpa mereka sadari, Abimanyu yang hari ini tak masuk bekerja karena tidak enak badan tengah melakukan video call dengan besannya dan juga Arumi. Abimanyu mengarahkan kamera ke arak ketiganya yang membuat Arumi menangis bahagia melihat suaminya bisa dekat dengan keluarganya. Tak pernah terpikir oleh Arumi, jika Barra akan sudi untuk berhubungan sedekat ini dengan anggota keluarganya yang lain, mengingat bagaimana perlakuan buruk yang selama ini Barra berikan pada Arumi.
"Jadi kalian benar-benar akan kembali ke negara ini pekan depan?" Tanya Abimanyu pada Tuan Brandon dan Arumi.
"Ya, kami akan pulang pekan depab, datanglah ke mansion ku, Abi. Sambutlah kedatangan kami bersama istrimu." Jawab Tuan Brandon yang langsung mendapatkan penolakan dari Abimanyu.
"Tidak. Aku akan datang sendiri menyambut kalian. Arabella terlalu menyayangi Barra. Dia bisa saja langsung memberitahu putramu itu, jika kamu sudah kembali. Sedang aku belum puas untuk menghukumnya." Ucap Abimanyu yang membuat Tuan Brandon tertawa terbahak-bahak. Rupanya besannya sendiri belum puas menghukum putranya atas tindakan buruknya terhadap menantunya selama ini.