
"Lebaran masih jauh, kenapa kamu sudah minta maaf saja Nay?" Tanya Adnan yang terheran-heran dengan apa yang dilakukan Anaya.
"Hahahaha....bukan masih jauh Kak, tapi sudah lewat. Nay kesini malam-malam cuma mau ngasih tahu aja sama kakak-kakak ku terkasih dan tersayang, kalau Nay lagi isi sekarang." Jawab Nayla dengan seulas senyum bahagia diwajahnya, namun sayangnya berita bahagia yang ia sampaikan ini tak dimengerti oleh semua kakaknya.
"Isi? Isi apaan Nay? Apanya yang isi?" Tanya Adnan tak mengerti. Suara Adnan ini mewakili mereka yang juga tak mengerti dengan maksud perkataan Anaya dengan kata isi.
"Isi demit kali, Kak ipar," seloroh Barra menimpali dengan candaannya yang tak lucu.
Bibir Anaya mencebik, ia menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal, melihat keempat kakaknya yang tak mengerti dengan kabar bahagia yang ia sampaikan. Maksud hati datang baik-baik untuk berdamai, agar tak ada lagi saling iseng, saling meledek, saling mencaci, saling benci atau apalah itu. Demi menjaga generasinya agar tak mirip dengan kedua orang menyebalkan ini. Namun tetap saja, jika berhadapan dengan dua orang ini Anaya harus ekstra uji nyali.
"Eiihhham...masa gak ngerti sih kalian? Ngeselin banget. Sering pura-pura bodoh, nanti benaran bodoh baru tahu rasa." Omel Amel dan Steve berusaha menenangkan amarah sang istri.
"Sabar sayang, ingat misi kita kan?" Ucap Steve yang berbisik di telinga Anaya.
Ketika Anaya tersadar, ia kembali melontarkan senyuman manis yang terkesan kaku, karena kali ini ia melakukannya dengan terpaksa.
"Makanya kalau ngomong itu yang jelas, jangan pakai bahasa yang ambigu. Kita ini deretan orang yang suka gaya bicara blak-blakan gak suka yang----," ucap Adnan terpotong karena Anaya memotong kata-katanya, yang jika diteruskan bisa sepanjang perjalanan dari depok hingga ke monas.
"Maksud istriku dia sedang hamil," sela Steve dengan penjelasan singkatnya, yang berhasil membuat keempat kakaknya terkejut dan ternganga dibuatnya. Mereka saling melirik satu sama lain, kemudian melihat Anaya yang ada dihadapan mereka.
"Seriusan Kak Steve?" Tanya Arumi yang lebih dahulu sadar dari keterkejutannya.
Steve menjawab pertanyaan Arumi dengan anggukan kepala, dan tawa bahagia Arumi pun pecah seketika.
"Yes dapat dua keponakan sekaligus, Natahan ga akan kesepian karena punya saudara." ucap Arumi yang kini membuat Anaya dan Steve ikut terperangah dan Adnan langsung melirik Zeline yang tersenyum melihat Adnan.
"Tunggu! Kamu jangan senyum-senyum dulu! Kamu-Kamu jangan bilang kamu hamil juga Zel?" Tanya Adnan yang terlihat menatap serius wajah sang istri.
Sejak tadi ia menunggu jawaban yang sangat dinantikan olehnya, namun karena keributan dirinya dan Barra dan ditambah kedatangan Anaya dan Steve, membuatnya tertunda mendapatkan informasi tentang hasil tes yang baru istrinya lakukan di dalam bersama Arumi.
"Heemm, iya. Aku hamil Memes " jawab Zeline yang langsung mendapatkan pelukkan dari Adnan. Adnan senang bukan kepalang dengan jawaban singkat yang diberikan sang istri.
"Senang sekali kalian, anak bau kencur baru nikah kemarin sudah hamil saja." Cela Barra yang berhasil membuat wajah cantik Anaya ditekuk.
"Yang satu nikah by Accident juga sudah hamil saja. Cepat sekali!" Cela Barra lagi kali ini pada Zeline.
Jika Anaya hanya menanggapi dengan menekuk wajahnya berbeda dengan Zeline. Ia langsung meminta pembelaan dari suaminya.
"Tutup mulut mu, Barra!"
Plak!! Satu tabokan dilengan Barra mendarat dari tangan besar Adnan.
"Auuuu... Mami lihatlah, Kakak mu menjahatiku sayang!"
"Papi diamlah! nanti anak kita bangun." Alih-alih dibela, Arumi malah memarahinya.
"Haahh, tak seindah yang kubayangkan, pesona Nathan membuat mu melupakan ku." Gerutu Barra sebelum ia melanjutkan kebawelannya.
"Steve, katakan padaku, siapa diantara kalian yang mengetahui Anaya hamil?" Tanya Barra yang melanjutkan kebawelannya malam ini.
"Tentu saja aku Bar," jawab Steve singkat.
"Kau?? Kenapa jadi kalian yang tahu duluan jika istri kalian hamil? Kak Adnan pun demikian loh. Tapi ngomong-ngomong, kenapa kalian cepat sekali tahu istri-istri kalian ini sedang hamil sih? Apa kalian berdua memiliki ilmu supranatural ya?" Tanya Barra yang begitu penasaran.
"Tidak." Jawab Adnan dan Steve kompak kali ini.
"Lalu kenapa? Ceritakan pada ku, aku ingin mendengarnya." Tanya Barra lagi.
"Anaya, Zeline buatkan kopi untuk kami!" Perintah Barra pada kedua adiknya.
"Asyik ngopi juga kita." Seloroh Adnan yang kemudian mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya.
"Memes aku sedang hamil, jangan merokok!" Larang Zeline.
"Next warkop nongkrong di Warkop Juminten sajalah yahuud." Ajak Steve yang di angguki kedua kakak iparnya. Setelah melihat ketiga wanita telah masuk ke dalam paviliun.
"Kau sudah pernah kesana rupanya." Ucap Barra yang juga sering ke sana ketika jadwal ronda malamnya bersama bapak-bapak.
"Tentu, spot terindah bapak-bapak ronda, aku suka gorengannya yang selalu hangat. Pisang gorengnya besar-besar." Sambung Steve yang sudah ngiler ingin makan pisang goreng di warkop Juminten.
"Nanti kita ke sana, tunggu mereka tidur ya?" Ajak Adnan yang diangguki ketiganya.
Tak lama berselang ketiga istri mereka kembali datang membawa kopi dan cemilan kecil yaitu setopes kacang bawang.
Arumi datang kembali masih tetap menggendong Nathan yang tak mau di tidurkan di atas ranjangnya.
Demi tak di curigai, mereka mulai membahas obrolan yang tertunda.
"Kau dulu Steve!" Perintah Adnan pada adik iparnya yang lebih tua usianya daripada dirinya.
"Jadi tadi siang, kami makan di restoran seafood, tumben-tumbenan kami merasa mual dengan seafood yang kita makan, padahal kami ini sama-sama pencinta makanan serba seafood."
"Terus," ucap Barra dan Adnan kompak.
"Kami juga sudah dua hari ini, saat menyikat gigi dengan pasta gigi, kami pun merasa sangat mual tak tertahankan, seperti makan seafood siang ini," sambung Steve yang malah mendapatkan ledekan dari dua kakak ipar kurang ajarnya.
"Itu karena mulut kalian beraroma bangkai hahahaha...." Cibir Adnan yang memancing Barra untuk ikut tertawa lebar, hingga Nathan kembali terusik dalam tidurnya.
Arumi kembali menimang-nimang putranya yang sudah bau tangan karena seringnya di gendong oleh Arabella yang baru menikmati perannya sebagai seorang nenek.
"Terus...!" Pinta Barra kembali pada Steve yang malah membuat Steve mendapatkan larangan dari istrinya.
"Jangan diteruskan Om! Jika mereka itu selalu suka sekali mencibir kita," ucap Anaya dengan wajah di tekuknya.
"Cih, Baper sekali mental adikku ini. Kau tahu Nay di luar sana, kau akan temui orang lebih julid dari kedua kakak mu ini. Anggap saja kau ini sedang latihan mengarungi hidup yang tak mudah." Tukas Adnan dengan senyum meledek sang adik. Anaya pun terdiam dan Barra kembali meminta Steve untuk meneruskan ceritanya.
" Jadi saat di perusahaan tadi, kami mencari tahu penyebab kenapa kami bisa seperti ini. Setelah mengetahui penyebabnya, usai pulang dari perusahaan kami mampir ke bidan yang praktek di depan jalan sana. Hasilnya benar-benar sesuai ekspektasi kami. Anaya hamil. Tak sia-sia usaha Anaya minum vitamin menyubur rahim, hasilnya sangat memuaskan." Sambung Steve yang kembali mendapatkan ledekan dari kedua kakak iparnya.
"Kau bicara seperti orang sedang di endors oleh tukang obat Steve. Hahahaha...." Celetuk Adnan yang langsung mendapat cubitan dari Anaya yang tak tahan lagi menahan segala rasa kesal di dalam hatinya.
Adnan mengerang kesakitan, memohon ampun pada Anaya namun tak di perdulikan.
"Nay sudah!" Pinta Steve pada istrinya.
Steve terpaksa mengendong Anaya yang sudah menimpa tubuh Adnan dengan sengaja di atas lantai.
"Hadduhh... Anaya aku kutuk calon anakmu nanti akan mirip dengan Barra, menyebalkan!" Sumpah serapah pun Anaya dapatkan dari Adnan yang hampir terkencing-kencing dibuat adiknya.
Begitu pula dengan Anaya yang terbawa emosi. Ia pun menyumpahi anak Adnan nanti akan mirip dengan Steve, klemar-klemer di luar, namun garang di dalam. Dalam apa ya? Mungkin dalam kamar kali ya yang dimaksud Anaya.
Perkumpulan ini pun akhirnya berakhir dengan saling menyumpahi calon anak mereka mirip diantara mereka satu sama lain. Gagal sudah pergi ke warkop Juminten, karena Adnan ngambeg, meskipun ngambek. Segelas kopi yang bekum di minum pun dibawa pulang olehnya, begitu pula dengan Steve.
Arumi menatap sedih gelas-gelasnya yang kembali pergi dari paviliunnya.
"Ahh....gelasku." ucap Arumi yang meratapi gelas kopinya selalu tercerai berai. Sudah enam lusin gelas kopi yang ia beli. Selalu habis dengan cara seperti ini.
Usai mereka membubarkan diri, dan Arumi sudah memindahkan Nathan ke ranjang tidur Nathan sendiri.
Arumi menghampiri Barra yang tengah duduk merenung di sebuah sofa yang ada di depan kamarnya.
"Mih, kamu gak ikutan hamil kaya mereka?" Tanya Barra yang terlihat iri dengan kebahagiaan Adnan dan Steve yang akan memiliki seorang anak.
Pantas jika Barra iri dengan mereka, karena meski pun sudah memiliki anak dari pernikahannya dengan Arumi. Barra tidak pernah merasakan menjadi seorang suami siaga sepenuhnya. Karena saat hamil Nathan Arumi sedang dalam masa pelariannya.