My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Meminta Izin



Sejenak hanya ada keheningan yang terjadi di dalam ruangan keluarga di apartemen Adnan. Steve tidak langsung menjawab pertanyaan mertuanya, mengenai penyebab apa yang membuat mereka ingin pindah dari Apartemen ini, padahal mereka baru saja menempati apartemen tersebut.


"Kenapa diam Steve? Apa kalian tidak betah tinggal di apartemen ini?" Cecar Abimanyu.


Steve manarik nafasnya lebih dalam, kemudian menghembuskannya dengan berat.


"Ayah maafkan aku, bukan maksudku menjauhkan Anaya dari kalian. Tapi ini adalah keinginan anaknya sendiri yang ingin pindah dari Apartemen ini. Alasannya karena dia tidak nyaman tinggal di apartemen ini." Jawab Steve yang memicu Adnan mengajukan pertanyaan padanya tanpa jeda.


"Apa alasannya adikku tidak nyaman tinggal di apartemen ini, Steve? Jangan bilang kalau ia ingin hidup mandiri! Aku rasa itu tidak mungkin."


"Tidak Kak Adnan alasan kami pindah, memang bukan karena kami ingin hidup mandiri. Aku sangat paham jika istriku tidak pernah hidup jauh dari kalian, sekalipun ia pernah pergi jauh dari kalian, itu pun dia masih bersama dengan Arumi. Tidak seorang diri."


"Lantas apa alasannya Steve? Tolong jangan berbelit-belit! Adikku itu sedang hamil muda dan usianya belum genap 20 tahun. Meskipun dia istrimu, tapi dia adikku. Aku sangat mengkhawatirkannya. Maaf jika aku terkesan seperti tidak mempercayaimu. Karena kejadian Arumi dan Barra pada masa itu adalah pembelajaran untuk kami. Agar tidak melepas Anaya begitu saja padamu." Adnan mencecar Steve untuk segera memberikan alasan yang sebenarnya.


"Ayah, ibu, dan Kak Adnan. Sebelumnya aku minta maaf. Jika niatku membawa Anaya pergi dari Apartemen ini membuat kalian keberatan. Tolong percayalah padaku, aku akan berusaha untuk tidak menyakiti hati istriku. Sesungguhnya istriku merasa tertekan saat ini. Aku tak mau istriku berpura-pura baik-baik saja di depan kalian, ketika aku memaksakan dirinya, untuk tetap tinggal di sini demi kalian yang sangat mengkhawatirkan dirinya." Ujar Adnan panjang lebar.


Abimanyu yang mengerti kepedulian Adnan pada putrinya pun kembali angkat bicara.


"Ayah paham dan percaya padamu, Nak! Hanya saja Ayah ingin mengetahui jelas alasan mengapa dia berkeinginan untuk pindah, itu saja."


"Ternyata seseorang yang menjadi sumber luka di hati Anaya tinggal di apartemen ini, bersama anak dan ibu dari anak tersebut. Luka hati Anaya yang belum kering ayah. Meski Anaya sudah menikah denganku, tapi ia masih memiliki sedikit rasa cinta pada Alex." Steve akhirnya berterus terang, ia sedikit menundukkan kepalanya. Menutupi rasa sedih dan kecewa yang ada di hatinya.


Bagaimana tidak merasa sedih dan kecewa, ia menikahi seorang wanita yang sangat ia cintai, namun wanita itu belum sepenuhnya mencintai dirinya. Masih ada secuil rasa untuk pria lain dimasa lalunya.


Meski terluka hatinya, Steve mencoba terus bersabar, karena ia tahu istrinya tengah berusaha menghapus semua rasa cinta yang tersisa pada pria itu, dan Steve yakin pada waktunya nanti, Anaya akan sepenuhnya mencintai dirinya seorang.


"Si4lan Alex lagi Alex lagi!" Umpat Adnan ketika Steve menyebut nama pria yang juga menjadi sumber penderitaan hidupnya selama ini.


"Steve maafkan Putri Ibu, Ibu tahu hatimu terluka. Tapi Ibu sangat mengenal bagaimana karakter Anaya. Dia wanita yang jika mencintai pria di akan amat sangat mencintai pria itu, bahkan dia akan memberikan seluruh hidupnya untuk pria itu, dan jika dia membenci seseorang, dia akan sangat membencinya sampai seumur hidupnya, tanpa mau memaafkannya ataupun melihatnya wajahnya lagi." Ujar Arabella yang coba menguatkan hati Steve ya sedikit terluka.


"Jika alasannya seperti ini, Ayah restui kalian untuk pindah dari Apartemen ini. Tolong jaga Putri ayah dan jangan sakiti hatinya. Jika terjadi apa-apa berkabarlah pada kami jangan sampai kita putus komunikasi karena sebuah kesibukan." Ucap Abimanyu yang akhirnya merestui keinginan Steve dan Anaya untuk pindah dari Apartemen ini.


Sekepulangan Steve, Adnan meminta Arabella dan juga Abimanyu untuk tinggal bersama Anaya dan Steve. Karena Anaya lebih membutuhkan kedua orang tuanya dibandingkan dirinya dan juga Arumi. Namun Abimanyu menolak untuk tinggal bersama dengan Anaya dan Steve.


"Biarkan mereka mencoba hidup mandiri tanpa Ayah dan juga Ibu. Lagi pula kita hanya berpisah selama tiga bulan. Steve dan Anaya akan kembali tinggal bersama kita meskipun nantinya akan beda atap." Ucap Abimanyu yang menjadi akhir pembicaraan tentang topik pindahnya Anaya dan Steve dari Apartemen ini.


"Emmmmmhhhh...." Anaya sedikit melenguh, rupanya pergerakan tangan Steve di wajah cantik istrinya ini, sedikit mengusik waktu tidur istrinya.


Dengan mata yang mengerjap-ngerjap, Anaya melihat sosok suaminya duduk di tepi ranjang, tengah menatap wajahnya dengan lekat.


"Kamu sudah pulang Om?" Tanya Anaya sembari merentangkan tangannya, iya bukan sedang meregangkan ototnya tapi meminta Steve untuk memeluknya.


Steve dengan cepat memeluk tubuh mungil istrinya itu, sembari menjawab pertanyaan sang istri. "Aku sudah pulang baby, karena aku tidak kuat jauh darimu."


"Heumm benarkah? Kalau kau merindukanku berikanlah aku ciuman terbaikmu, Om." Balas Anaya dengan suara seraknya.


"Apakah hanya ciuman yang kau inginkan, Baby? Jika hanya ciuman lebih baik jangan. Karena aku jika sudah menciummu tak bisa untuk berhenti melakukan yang lebih dari sekedar ciuman." Tolak Steve dengan senyum menyeringai.


"Om kau tak ingat pesan dokter untuk tidak terlalu sering." Ucapan Ayah yang mencoba mengingatkan Steve akan pesan dokter untuk tidak terlalu sering bercinta di usia kandungannya dan dirinya yang masih terlalu muda.


"Arghh... Pesan dokter itu sangat menyebalkan. Aku jadi harus sering puasa karena pesan menyebalkan itu. Oh menderitanya diriku sekarang." Ucap Steve dengan ekspresi wajah pura-pura sedihnya.


Melihat Steve yang tidak pandai berakting Anaya pun tertawa riang dan menghujani wajah Steve dengan ciuman.


"Kenapa kau begitu lucu Om, aku sangat menyayangimu." Ucapkan Anaya yang saling menempelkan hidung dan keningnya dengan sang suami.


"Apa aku nampak seperti badut hingga kamu berkata lucu baby?"


"Hahahaha... Apakah harus menjadi seorang badut baru dikatakan lucu? Tidak juga seperti itu om." Sahut Anaya yang kembali menempelkan bibirnya pada bibir Steve sekilas.


"Kamu terus memancing ku Baby." Ucap Steve, saat ia ingin menyesat bibir istrinya Anaya malah menjauhkan bibirnya dari Steve.


"Aku akan menciummu nanti Om, sekarang katakan padaku apakah kedua orang tuaku menyetujui kita pindah dari apartemen ini?" Tanya Anaya yang kini mengalungkan kedua lengannya di leher Steve sembari menatap wajah suaminya dengan tatapan serius.


"Semuanya beres mereka menyetujui kita untuk pindah dari Apartemen ini. Jadi kapan kamu mau pindah dari Apartemen ini Baby?" Jawab Steve yang berhasil membuat Anaya tersenyum begitu bahagia.


"Aku bagaimana kamu saja, Om. Yang pasti kita membutuhkan waktu untuk membereskan barang-barang milik kita ini bukan?" Jawab Anaya yang selalu menyerahkan semuanya pada Steve.


Benar kata Arabella, jika Anaya sudah mencintai seseorang Pria, ia akan menyerahkan hidupnya pada pria tersebut, dan Steve merasa Anaya sudah benar-benar menyerahkan hidupnya pada dirinya. Terbukti dengan Anaya yang selalu menyerahkan semuanya keputusan pada Steve.