My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Siaran langsung



Pintu kamar Adnan yang tak dikunci memudahkan Anaya yang diperintahkan sang ibu untuk menyusul keberadaan Zeline yang tak kunjung kembali.


Ceklek! [Pintu kamar Adnan terbuka]


Muncul Anaya sembari memanggil Zeline. "Kak Zel-line...." Anaya diam membeku diambang pintu, ia melihat dengan jelas Adnan tengah hot-hotnya melahap bibir Zeline.


"Hot banget nih, si Om kalah hot sama Kak Adnan." Cicit Anaya yang malah berjongkok melihat dari bawah bibir Kakaknya dan Kakak iparnya saling melilit dan meliuk-liuk satu sama lain. Saking khusunya mereka bertukar saliva sampai tak sadar jika Anaya tengah menonton aksi mereka.


Tak hanya Anaya yang akhirnya menonton aksi Adnan dan Zeline. Ternyata Barra yang hendak ke ruang makan dan melewati kamar pribadi Adnan pun melihat Anaya berjongkok, dengan kepala miring ke kiri dan ke kanan di ambang pintu kamar Adnan ini pun mencuri perhatiannya.


"Wihh... Bocil lagi belajar gaya ciuman yang hot ya? Emang gak diajarin sama Ayang Steve hah?" Ledek Barra yang ikut berjongkong dibelakang Anaya.


"Hussst berisik!! Ini yang dibilang duda lebih menawan. Karena Duda udah banyak pengalaman dan jam terbang. Zeline beruntung banget." Ucap Anaya dengan suara berbisik.


"Cih, mana ada dapat bekas beruntung. Dasar somplak." Barra menyentil kening Anaya hingga ia menjerit kesakitan.


"Aaaaa....sakit! Kak Barra hah!" Pekik Anaya pada Barra yang memilih kabur meninggalkan Anaya.


Sontak saja teriakan Anaya membuat kedua manik mata Zeline dan Adnan yang tengah terpejam menikmatinya ciuman mereka pun akhirnya terbelalak.


Adnan terkejut melihat adiknya masih berjongkok di ambag pintu kamarnya sembari melihat kearah luar kamar dimana Barra melenggang oergi meninggalkannya.


"ANAYA!!! NGAPAIN KAMU DI SITU!!!" Pekik Adnan sudah bertolak pinggang kearah sang adik.


"Nonton, siaran langsung apa lagi. Seru juga ciuman kalian. Patut ditiru dan dijadi contoh nih..." Ucap Anaya yang beranjak dari posisinya. Setelah itu ia beranjak pergi tanpa menyampaikan pesan sang ibu untuk Kakak iparnya.


Jangan tanya bagaimana wajah Zeline saat ini. Dia sangat malu dan terus bersembunyi di balik tubuh kekar suaminya.


Di meja makan. Anaya dan Barra yang biasa tak pernah bersekutu kali ini kompak senyam senyum tak jelas ke arah Adnan dan juga Zeline. Andai mereka boleh bicara saat berada di meja makan, mungkin mereka berdua akan meledek Adnan habis-habisan dengan perkataan mereka yang suka tidak pakai filter.


Usai sarapan selesai, Abimanyu membuka pembicaraan. "Paviliun mu sudah jadi Bar, kapan kalian mau menempatinya?" Tanya Abimanyu bertanya pada Barra dan juga Arumi.


"Nanti malam rencananya saya dan bapak-bapak sekitar sini mau berdoa bersama dulu di sana Ayah, baru besok pagi saya dan Arumi mau memindahkan barang-barang." Jawab Barra.


Abimanyu yang mendengar jawaban menantunya yang merakyat kini terlihat tersenyum dan manggut-manggut.


"Ayah. Adnan minta izin untuk bangun Paviliun di samping Paviliun Barra. Apa boleh Ayah?" Adnan ikut nimbrung di percakapan Barra dan Ayahnya.


"Kamu tidak ada niat beli rumah di temoat lain Adnan?" Tanya Abimanyu sebelum memberikan izin pada sang putra.


"Tidak Ayah, aku dan istriku ingin terus berkumpul dengan Ayah dan Ibu di sini. Lagi pula istriku tak keberatan dan malah tak ingin pindah kemana-mana." Jawab Adnan sembari melirik istrinya.


Zeline terus tersenyum malu karena Adnan meliriknya dengan tatapan menggoda.


"Silahkan, Ayah dan Ibu tidak pernah memaksa kalian untuk tetap tinggal di sini. Kalian bebas menentukan apapun, asal tetap akur satu sama lain." Jawab Abimanyu yag tersenyum penuh arti pada sang istri.


"Gak perlu ditanyakan lagi Ayah. Mereka akan tetap tinggal dekat dengan kita. Steve sudah beli rumah Bu Eko di samping rumah kita. Dia mau merenovasinya sebelum pindah ke sana. Ya kan Nak Steve?" Sela Arabella yang langsung di iyakan oleh Steve.


"Iya Ayah, tinggal menunggu Bu Eko keluar dari rumah itu, baru rumah itu kami renovasi." Jawab Steve dengan penjelasan singkatnya.


Jika saat ini di dalam keluarga Abimanyu tengah berbahagia, tidak dengan keluarga Septi yang sedang tak baik-baik saja. Bisnis mini market yang dulu di kelola Adnan mengalami kesulitan keuangan.


Kedua orang tua Septi merasa tak enak makan sudah beberapa hari ini. Catatan kerugian minimarket mereka selalu menghantui pikiran mereka. Di tambah lagi catatan hutang usaha dan hutang kartu kredit mereka sudah menumpuk.


Rumah cukup mewah mereka kini kerap di datangi depcolektor yang memaksa mereka untuk segera melunasi kewajiban mereka setiap bulannya. Dulu saat Adnan yang mengelola usaha mereka, tak pernah mereka merasa kepahitan keuangan seperti saat ini.


Ting tong! [Suara bell rumah mewah Septi terdengar]


"Mih, bagaimana ini? Itu pasti salah satu Depcolektor yang datang meminta kita segera membayar cicilan entah kartu credit atau cicilan mobil Mami," tanya Awpti pada sang Mami yang belum lama ini memberi sebuah mobil Alphard terbaru, ia tak mau kalah dejgan Arabella yang dibelikan mobil Alphard oleh Barra untuk pergi ke pasar bersama istri dan juga putranya.


"Haduh Septi, kenapa kamu tanya Mami? Mana Mami tahu harus apa? Coba kamu tanyakan pada Papi mu itu!" Jawab Mami Septi yang sangat tidak membantu Septi.


Pasalnya sang Papi kini menjadi orang yang sulit untuk diajak berkomunikasi dengan keluarganya. Pusing dengan semua ini. Akhirnya Septi memutuskan menggunakan putrabya sebagai akat untuk mendapatkan uluran tangan dari Adnan.


Tepat pukul 10 pagi, Septi membawa putranya ke kediaman Arabella dan Abimanyu. Sebenarnya ia malu harus kembali berurusan dengan keluarga miskin sang mantan suami.


Tok..tok..tok [ Septi terus mengetuk pintu, meski tak ada satu orangpun yang menjawab]


Riski yang tahu seluk-beluk rumah Kakek Neneknya langsung saja berlari kebelakang dimana keluarga Abimanyu tengah berkumpul di sebuah saung. Anaya, Arumi dan Zeline kompak merujak mangga yang baru di petik oleh Steve. Sementara Barra dan Adnan tengah menjaring ikan yang siap panen dengan di mandori oleh Abimanyu yang suka marah-marah kalau bicara mengenai ikan.


"Kakek!!" Pekik Riski yang langsung memeluk tubuh Abimanyu dari belakang.


"Eh, cucu kakek datang. Sama siapa datang ke sini?"


"Sama Mommy. Mommy ada di depan." Jawab Riski dengan suara yang menggemaskan.


"Ayo salim dulu sama Nenek." Ajak Abimanyu yang menggendong Riski mendekati saung dimana Arabella tengah menggendong Nathan.


"Kek, Nenek lagi gendong siapa?" Tanya Riski yang tidak tahu Nathan adalah sepupunya.


"Nenek gendong adik Nathan, anaknya Tante Arumi dan Om Barra." Jawab Abimanyu yang menurunkan Riski di saung.


Riski berjalan dan mencium punggung tangan Arabella dan mencium pipi kana kiri Arabella. Begitu pun Arabella, ia membalas memcium pipi kanan kiri cucunya.


Setelah itu Arabella mengenalkan Steve sebagai suami Tantenya pada Riski dan terakhir Arabella mengenalkan Zeline sabagai ibu sambungnya.


Bagaimana perkenalan Riski dan Zeline selanjutnya?