My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Anaya pergi



"Sudah ku katakan hati-hati dengan adik iparmu, kau tak percaya." Ucap Kevin saat menjenguk Barra di rumah sakit.


"Diam kau! Ah... badan ku terasa remuk sekali. Dia memukuli ku tak henti-hentinya. Seperti melampiaskan semua amarahnya pada ku." Omel Barra dengan segala keluhannya.


Ya. Memang benar jika Anaya melampiaskan segala amarah dan kekesalannya pada Barra. Patah hati karena cinta pertama yang ditolak mentah-mentah rasanya begitu sakit. Apalagi selama ini dia berjuang keras untuk giat belajar hanya untuk menjadi seseorang yang akan dilihat sempurna dimata orang yang sangat dicintainya. Ditambah lagi kakaknya yang baik hati malah melakukan tindakan kriminal dengan menguras uang suaminya karena ingin membantu cita-citanya agar setara dengan pria yang sangat ia cintai.


"Ku dengar dari Steve, adik ipar mu itu memang sedang patah hati. Cintanya di tolak oleh Dokter tampan itu, yang katanya juga sedang mencari keberadaan istri mu dan ingin mengejar cinta istri mu kembali. Meskipun semula ia sudah ingin merelakan istri mu untuk mu."


"Apa? Jadi lagi-lagi karena Dokter busuk itu. Aishh... Ini benar-benar tak bisa dibiarkan. Tapi ngomong-ngomong tolong belikan aku mie ayam gerobakan yang ada di dekat warteg tempat Anaya makan. Perut ku cocok jika makan mie ayam itu." Sahut Barra yang malah membuat Kevin tersenyum.


"Kau sudah boleh pulang hari ini, pulang dulu sajalah, baru ku antar membeli mie ayam itu langsung." Balas Kevin yang menyodorkan baju ganti pada Barra.


Sudah tiga hari Bara di rawat di rumah sakit setelah habis-habisan dipukuli adik iparnya sendiri, dan saat Barra sedang berganti pakaian tiba-tiba Pinkan datang dengan membawakan buah untuk Barra.


"Sayang, apa kamu sudah boleh pulang?" Tanya Pinkan yang sok perhatian dengan Barra.


"Memangnya kamu berharap, aku terus berada di dalam rumah sakit ini terus hum?" Sahut Barra dengan nada bicaranya yang ketus.


"Ihh... Ya gak gitu sayang, aku kan hanya sekedar nanya, kenapa kamu jadi bicara seketus itu sama aku?" Balas Pinkan dengan suara manjanya.


Suara manja Pinkan yang dulu Barra sukai, kini ia merasa sangat muak mendengarnya. "Pinkan, dengar! Aku tak berniat lagi untuk menjalin hubungan dengan mu. Hubungan kita berakhir cukup sampai di sini. Aku sudah hilang rasa sama kamu. Mungkin karena terlalu lama menunggu kamu kembali." Tukas Barra dengan tegas. Membuat Pinkan terkejut.


Pasalnya ia kembali mendekati Barra karena ingin mendapatkan uang Barra kembali, untuk modal mendekati seorang pria blasteran Jerman bernama Ingo. Seorang pengusaha sukses yang bergerak di bidang otomotif.


"Jika kamu mau uangku, aku akan transfer sejumlah uang untuk mu! Tapi tolong menyingkirlah dari hidupku!" Ucap Barra dengan segela tebakannya yang tepat.


"Ya. Kau benar, aku mendekati mu hanya untuk uang mu. Baguslah kalau kau paham, itu artinya aku tidak perlu susah-susah beracting mencintai mu." Gumam Pinkan di dalam hatinya setelah Barra pergi meninggalkan dirinya begitu saja.


Kevin yang masih ada di ruangan itu, merasa tak percaya dengan apa yang dia lihat. "Secepat itukah Barra berubah? Hem... Memang seseorang harus merasa kehilangan terlebih dahulu, baru akan menyadari bahwa seseorang yang telah hilang itu begitu berharga." Gumam Kevin di dalam hatinya.


Ia berjalan mendekati Pinkan dan memberikan cek yang dititipkan Tuan Brandon untuk Pinkan.


"Tolong jauhi Tuan Muda, ini adalah Cek terakhir yang Tuan besar berikan padamu, jika kamu terus berusaha masuk ke dalam hidup putranya, dia tak akan lagi menunda-nunda untuk menghancurkan hidupmu." Ucap Kevin saat memberikan cek itu pada Pinkan.


"Berapa nominalnya?" Tanya Pinkan tanpa rasa malu pada Kevin.


"Satu Milyar, itu nilai yang cukup untuk membiayai hidupmu selamanya, jika kamu mau hidup sederhana Pinkan." Jawab Kevin yang sama sekali tak dipedulikan oleh Pinkan. Setelah mendapat cek dan mengetahui nominalnya Pinkan segera pergi meninggalkan Kevin sensiri di ruang rawat.


Membicarakan mengenai kuliah Anaya, Anaya sepakat dengan Steve untuk membohongi kedua orang tua Anaya. Ia sangat yakin Barra akan bertanya dimana dia akan meneruskan pendidikannya pada orang tuanya dan berpikir Anaya akan tinggal bersama dengan istrinya.


Maka dari itu keduanya sudah menyiapkan tipuan dimana Anaya akan mengaku mendapatkan beasiswa di Singapura bukan di New York seperti yang direncanakan oleh Arumi sebelumnya, dan kebetulan Anaya memang mendapatkan beasiswa itu, karena kemarahan dia atas kekecewaan dirinya pada Alex membuatnya mendaftar beasiswa untuk kuliah kedokteran di negara tetangga itu.


Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Hari dimana Anaya dan Steve berangkat ke Singapura sebelum mereka bertolak ke negara New York. Just information, Steve sudah melamar Anaya pada kedua orang tuanya dan mereka sudah bertunangan. Steve akan menikahi Anaya setelah gadis belia ini sudah menjadi seorang Dokter. Butuh waktu enam tahun untuk bersabar menunggu Anaya menjadi seorang Dokter. Penantian cinta yang tak biasa, cukup panjang dan membutuhkan kesabaran karena sikap Anaya masih terkesan dingin padanya.


"Nak Steve, titip Anaya ya, tolong antarkan dia sampai asrama dengan selamat, tolong kabari kami jika kalian berdua telah sampai." Ucap Arabella yang menangis sedih ditinggal putri bungsunya dengan waktu yang cukup lama enam tahun.


"Iya bu, saya akan mengantarkan Anaya sampai asramanya." Jawab Steve berbohong.


Dia tak akan pernah mengantar Anaya sampai asramanya sampai kapan pun, karena dirinya akan mengantarkan calon istrinya untuk tinggal bersama dengan Arumi dan juga Tuan Brandon di New York.


"Anaya jaga dirimu baik-baik, ingat pesan ibu, kamu jangan macam-macam tinggal di sana. Meski kalian sudah bertunangan kalian tidak boleh---," nasehat Arabella terpotong karena Anaya sudah lebih dahulu menyerobot bicara.


"Sudahlah Bu, sudah aku bilang, jika aku sudah tidak tahan, aku akan menikah dengan dia di sana." Serobot Anaya yang membuat Steve tersenyum tersipu seorang diri.


Plakk! [Adnan menjitak kepala adiknya saat mendengar ucapan frontal dari adiknya itu.]


"Aduh sakit, dasar kakak gak punya akhlak!" Umpat Anaya pada Adnan.


"Kau mau menikah dengannya tanpa kedua orang tuamu? Yang benar saja." Ucap Adnan yang ikut mengantarkan Anaya ke bandara. Ia pergi mengantarkan Anaya tanpa istri dan juga anaknya. Ia hanya seorang diri.


"Daripada aku berbuat zina, dan pulang bawa bayi, kalian pilih mana, lagi pula Ayah sudah setuju. Ya kan Yah?"


"Iya, Ayah merestui kalian jika kalian ingin menikah." Jawab Abimanyu sembari menepuk bahu Steve.


Pasalnya pria tua ini sudah mengetahui kemana anaknya akan pergi, meskipun keduanya telah berbohong padanya. Abimanyu sangat paham, mereka berdua berbohong karena sedang menyembunyikan keberadaan Arumi. Tanpa keduanya ketahui, Tuan Brandon secara langsung sudah menghubungi dirinya dan mengatakan kejadian sebenarnya tanpa ada yang ditutup-tutupi dan memberitahu rencana kedepannya untuk Arumi dan juga Anaya.


"Tidak aku tidak setuju," sanggah Adnan yang tidak didukung oleh Abimanyu.


"Cepatlah kalian berangkat! Jangan perdulikan perkataan kakakmu!" Ucap Abimanyu yang malah mendorong Anaya dan Steve segera pergi.


"Ayah!!" Pekik Adnan yang tak terima dengan sikap Ayahnya.


"Tidak perlu ikut campur dengan hidup adik-adikmu, urusi saja keluarga kecilmu itu Adnan." Ucap Abimanyu yang menjadi pukulan telak di hati Adnan.