My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Karin mengetahui status Adnan dan Zeline



"Dimana Barra? Kenapa di ruangannya tidak ada?" Tanya Adnan pada Karin yang terlihat terkejut dengan kedatangan Adnan yang menggenggam tangan Zeline dengan erat.


Ya. Karin baru melihat Adnan dan Zeline keluar dari ruang kerja Barra. Sewakti Adnan dan Zeline datang, rupanya Karin tengah pergi ke pantri yang ada di lantai tersebut.


"Belum kembali Pak Adnan." Jawab Karin yang terus melihat Adnan dan Zeline penuh tanda tanya.


"Dimana Indri?" Tanya Adnan yang juga tak melihat batang hidung Indri di meja kerjanya.


"Saya tidak tahu juga Pak Adnan, sejak tadi Mbak Indri belum juga kembali." Jawab Karin yang memang tak mengetahui keberadaan Indri.


Pucuk di cinta, salah seorang yang di cari-cari Adnan pun datang. Indri berjalan sembari memegangi perutnya yang kenyang mendekati mereka.


"Heh, mau ngapain ke sini penganten bau?" Tanya Indri saat ia sudah berdiri di depan Adnan dan juga Zeline.


Seketika mata Karin terbelalak mendengar pertanyaan Indri yang dilontarkan untuk Adnan dan juga Zeline.


"Apa Mbak Indri bilang? Pengantin baru? Apa Pak Adnan dan Zeline sudah menikah?" Gumam Karin di dalam hatinya.


Kaki Karin terasa lemas, ketika mendengar jawaban Adnan yang membenarkan pertanyaan di dalam dirinya.


"Tentunya aku ke sini ada keperluan, istriku takut dimarahi oleh mu karena telat kembali ke kantor." Jawab Adnan.


"Heleh... Siapa yang mau memarahi istri mu. Aku sedang tidak berminat marah-marah." Jawab Indri yang lantas duduk di kursi singgah sananya.


"Zeline, kau mau balik bekerja atau pulang bersama suamimu? Karena kakak sepupumu dan juga adik iparmu tak akan kembali ke kantor hari ini, dia sudah pulang ke habitatnya." Tanya Indri pada Zeline, sekaligus menginformasikan keberadaan sepasang suami istri yang ia cari-cari keberadaannya.


Zeline melirik Adnan yang tanpa menjawab langsung mengambil tas Zeline yang ada di meja kerjanya.


"Dia akan ikut pulang denganku. Makasih atas informasinya Ndri." Ucap Adnan yang kemudian berlalu pergi.


"Okeh. Mereka selalu bertingkah seenaknya dan yang selalu menderita aku dan suamiku." Gerutu Indri yang mulai menyalakan kembali layar komputernya yang telah padam.


"Kenapa kau melihatku seperti itu? Kembalilah bekerja dan jangan coba-coba untuk campuri urusan orang lain!" Tanya Indri dengan tatapan mautnya pada Indri.


"Mbak Indri, apakah benar Zeline adalah istri Pak Adnan?" Tanya Karin dengan suara yang bergetar. Jujur kini ia tengah menahan tangisnya.


Hatinya benar-benar patah, harapannya ingin menjadikan Adnan pendampingnya hancur lebur. Sia-sia selama ini usahanya mendapatkan Adnan. Bersikap seperti kriteria wanita Adnan, hingga berbuat nekat mencampurkan obat perangsang pada minuman Adnan, nyatanya tak sama sekali membuahkan hasil. Ia malah menerima kenyataan bahwa pria yang ia cintai sudah menjadi pendamping hidup rivalnya.


Seketika itu tangis Karin yang ia tahan sejak tadi pun pecah, Indri yang melihat tangis memilukan Karin hanya tersenyum kecut. Alih-alih menenangkan Indri malah membuat tangis Karin makin menjadi-jadi.


"Kau pikir kami tidak tahu, apa yang kamu lakukan pada Adnan? Kau sudah menjebak pria idaman mu itu, tapi kau begitu bodoh meninggalkan pria yang tengah kau jebak Karin. Pria itu malah masuk ke dalam pelukan wanita lain yang merupakan rival mu hahaha.... Kau ini lucu." Cibir Indri yang malah meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Suara tangis Karin yang cukup kencang terdengar, memancing karyawan lain untuk datang mendekat.


"Karin kamu kenapa?" Tanya salah satu Karyawan yang berkerumun.


"Hei, kalian mau ngapain di sini? Pakai nanya-nanya kamu kenapa? Udah tahu nangis masih nanya. Udah sana bubar! Kembalilah bekerja! Jangan suka ikut campur urusan orang lain!" Pekik Indri yag berhasil mengusir kerumunan karyawan yang ada di depan meja kerjanya.


"Hentikan tangismu itu Karin! Seharusnya kamu bersyukur, Zeline dan Adnan memaafkan kesalahanmu dan tak memperpanjang kesalahan yang kamu perbuat pada mereka. Mereka masih bisa berbuat baik karena mengingat kamu adalah seorang singel parents. Yang masih membutuhkan pekerjaan untuk kamu dan anak mu bertahan hidup. Jangan kau pikir menikah dengan Adnan, hidupmu akan enak dan bergelimang harta. Kau salah besar. Saat ini Zeline tinggal dirumah tua sederhana kedua orang tua Adnan, tanpa fasilitas mewah yang kau bayangkan. Tidakkah kau perhatikan baik Arumi dan Zeline tak ada yang memelihara kuku-kuku mereka. Itu karena mereka harus megerjakan pekerjaan rumah mereka sendiri. Dari mulai mencuci, memasak, sampai merapikan rumah, bahkan menyetrika pakaian suami-suami mereka. Bisa kau bayangkan betapa lelahnya mereka. Mereka tak bisa memberontak karena ibu Adnan orang yang tak bisa menerima penolakan!" Ucap Indri dengan wajah datarnya.


Tangis Karin pun terhenti seketika itu juga. Ia mulai memikirkan dengan apa yang dikatakan oleh Indri.


"Bersyukurlah tidak menikah dengan Adnan. Kalau kau menikah dengannya, mungkin aku tak akan melihat kuku-kuku cantikmu itu lagi." Tambah Indri sembari melirik kuku -kuku Karin yang berwarna warni.


"Apakah benar yang dikatakan Mbak Indri? Jika Zeline kini hidup tanpa fasilitas mewah meskipun sudah menikah dengan Pak Adnan?" Gumam Karin di dalam hatinya.


Indri masih saja melirik wajah Karin yang tengah bermonolog dengan dirinya sendiri. Ternyata dari raut wajah Karin, Indri dapat membaca jika Karin mssih meragukan apa yang ia katakan.


"Jika kamu tidak percaya, kamu bisa melihatnya langsung. Mereka tinggal di jalan Kenanga nomor tiga puluh. Tanyakan saja dimana tepat tinggal Tuan Muda Barra, mereka akan menunjukkannya pada mu, dimana kediaman mereka." Tukas Indri.


Sepulang kerja, Karin yang masih penasaran dengan apa yang diucapkan Indri pun mendatangi kediaman mereka. Saat sudah berada di jalan Kenanga, Karin terus mengikuti nomor rumah yang terlihat sangat sederhana. Jejeran rumah sederhana inilah yang menuntunnya hingga ke sebuah rumah tua dengan halaman yang begitu luas. Nampak terparkir mobil-mobil mewah yang ia kenali.


Karin menangkupkan mulutnya yang terbuka lebar, saat melihat Zeline mengenakan pakaian sederhana tengah menyapu halaman rumah yang begitu luas itu seorang diri.


"Apa? Ya Tuhan? Apa yang ku lihat ini benar-benar nyata? Zeline mengenakan daster dan menyapu. Oh tidak. Aku tidak mau melakukan pekerjaan rendah ini. Tidak... Aku ini wanita terhormat, aku tak mau mengerjakan pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh pembantu." Ucap Karin saat matanya terus memperhatikan Zeline.


Tak lama berselang, Karin melihat Adnan yang mengenakan pakaian tak kalah sederhana keluar dari rumah tua tersebut yang terlihat usang dari luar.


Karin melihat Adnan membawa pengki dan tong sampah. Rupanya Adnan datang untuk membantu sang istri.


"Hah, saat dikantor ia terlihat tampan dan gagah mengenakan setelan jasnya, tapi sat di rumah, ia tak lebih seperti pedang asongan." Cibir Karin yang tak lagi terpikat dengan pesona Adnan.