My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Antoni berubah



Kini Tuan Antoni tengah berada di ruang kerja menantunya. Ia terus menatap wajah menantunya dari atas sampai ke bawah, hingga membuat Adnan yang terus di tatap jadi salah tingkah.


Penjelasan yang diberikan putrinya hanya membuatnya manggut-manggut saja. Zeline yang jarang bicara padanya, jadi banyak mengeluarkan kata-kata, sekedar ingin menjelaskan dan membela dirinya.


Memang semua ini adalah salah Adnan. Zeline hanya sebagai korban. Korban dari keinginan suaminya.


Tuan Antoni banyak diam dan hanya manggut-manggut karena merasa sangat malu dengan apa yang ia lakukan tadi. Selama ini dirinya tak pernah merasa malu seperti saat ini. Mendobrak pintu ruang kerja menantunya hingga pintu itu terlepas, hanya karena mencurigai menantunya tengah berbuat mesum dengan wanita lain di perusahaannya.


Padahal suara lenguhan yang ia dengar, yang menjadi alasan kuat dirinya mendobrak pintu berasal dari putrinya sendiri.


"Daddy, kenapa lihat suami aku kaya gitu?" Tegur Zeline pada Tuan Antoni yang tak bisa lepas memandangi Adnan yang terus salah tingkah.


Zeline paham betul suami tersayangnya ini sangat takut dengan Daddy-nya. Apalagi dengan peliharaan sang Daddy yang suka dibawa kemana-mana, kecuali ke perusahaan.


Mendengar teguran putrinya. Tatapan Tuan Antoni langsung saja beralih. Ia menarik senyum kaku dengan satu ujung bibir terangkat lebih tinggi, dengan memutar bola matanya berpindah ke sembarang arah, sebelum menatap wajah putrinya yang terlihat tak nyaman dengan tatapan matanya.


Seketika ruangan hening, setelah Zeline menegur sang Daddy. Tuan Antoni terus menatap anak dan menantunya secara bergantian.


Antoni baru menyadari jika putri yang selama ini ia abaikan karena mementingkan pekerjaan, kini sudah benar-benar dewasa dan sudah menjadi milik pria lain. Pria yang mampu mengubah kepribadian Zeline yang suka membangkang menjadi sosok wanita penurut.


Saking menurutnya, ia sampai mau diajak bercinta oleh Adnan di ruang kerja suaminya sendiri. Hingga lenguhannya terdengar keluar ruangan dan dia mendengar sendiri suara lenguhan putrinya yang begitu menikmati sentuhan suaminya.


"Pulanglah kalian berdua!" Ucap Tuan Antoni dengan wajah datar dan dinginnya. Suaranya cukup keras, hingga membuat Zeline dan Adnan, menegakkan posisi duduk mereka berdua. Mereka berdua kira, Tuan Antonisedang marah pada keduanya. Hingga ekspresi wajah Zeline dan Adnan terlihat tegang.


"Kalian berdua ini sungguh menggelikan, pulanglah lanjutkan lagi diaparteman kalian atau ke hotel hahahaha..." Ucap Tuan Antoni yang kemudian tertawa terbahak-bahak untuk pertama kalinya, setelah sekian lama Zeline tak melihatnya.


Adnan dan Zeline menghempas kasar nafas mereka dari mulut. Sembari mengusap dada mereka bersama-sama. Merasa lega, karena dugaan mereka sungguh salah. Mereka berdua Tuan Antoni akan marah ternyata tidak.


Tuan Antoni yang tadinya mau membicarakan masalah pekerjaan dengan menantunya, memilih untuk menundanya. Karena ia berusaha mengerti mungkin saat ini putrinya masih ingin berduaan dengan menantunya.


Tuan Antoni bangkit dari posisi duduknya, dan pergi meninggalkan anak dan menantunya. Namun, saat ia berada di ambang pintu. Langkah Pria berusia hampir setengah abad itu berhenti dan menatap Zeline dan Adnan yang masih duduk di sofa, terduduk kaku tak bergerak, saat mengetahui dirnya kembali membalikkan badan dan menatap keduanya.


"Sepertinya kalian butuh waktu untuk berlibur. Bersiap-siaplah kalian! Besok tour guide akan datang untuk memandu liburan kalian berdua Hahahaha..." Ucap Tuan Antoni lagi yang kembali tertawa, mengingat bagaimaa ekspresi Zeline saat ketahuan bercinta di ruang kerja suaminya sendiri oleh dirinya.


Kini entah kemana wajah kaku dan dingin Tuan Antoni yang hampir tak pernah tertawa itu. Melihat kelakuan Adnan dan Zeline, benar-benar membuatnya tak bisa menghentikan keinginannya untu menertawakan keduanya. Ini sangat menggelikan baginya.


Sebelum memutuskan untuk pulang, rupanya baik Adnan maupun Barra, sama-sama ingin mengecek proses pembangunan rumah mereka. Namun di pertengahan jalan Tuan Antoni menelepon menantunya itu. Menanyakan keberadaan mereka dan langsung meminta sesuatu yang tak bisa Adnan jawab secara langsung, karena kedua orang tuanya sudah tak memilikinya lagi.


Akhirnya kedua pasang suami istri ini tak sengaja bertemu di kediaman mereka. Barra yang seperti merindukan para rakyat-rakyatnya, langsung saja melepaskan jas kerjanya dan memberikannya pada Arumi. Ia menggulung celana dan lengan kemeja putihnya. Mengambil seember makanan ikan dan menebarkan makanan ikan itu.


Melihat ikan-ikannya begitu lahap memakan pakan ikan yang Barra berikan, Barra tersenyum senang.


"Kalau kau mau, memakan mereka. Kau harus bayar mulai saat ini Kakak ipar. Karena empang Ayah sudah tidak ada. Ini empang ku dan ikan-ikan pribadi ku." Sahut Barra sembari berkacak pinggang, karena sudah melihat Adnan datang dengan sebuah saringan ikan dan ember kosong di tangannya.


"Heh, pelit sekali kau ini. Bukankah ada sebagian ikan Ayah yang ada di empang mu?" Sanggah Adnan dengan membulatkan matanya.


"Ya, memang ada ikan Ayah di sini, tapi aku sudah membelinya dari ibu." Jawab Barra yang memang benar adanya


"Oh, kau sudah membelinya rupanya. Tapi bagaimana jika ibu yang meminta ku untuk menangkap ikan itu kembali. Apa kau masih melarang diriku untuk menangkapnya?" Balas Adnan yang membuat Barra terdiam berpikir.


Ia langsung merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan segera menghubungi Arabella.


"Hallo Bu. Apa ibu meminta Kak Adnan untuk menangkap rakyat-rakyat ku?" Tanya Barra pada Arabella di sambungan telepon.


"Bagaimana kau tahu Nak? Apa kau ada di sana?" Tanya Arabella pada Barra sembari tertawa renyah.


"Iya bu aku di sini." Jawab Barra yang malah membuat Arabella tertawa geli sekarang.


"Bagaimana bisa kamu di sana? Apa kamu tiba-tiba ingin ke sana, Nak? Rupanya para rakyat mu itu memberi signal permintaan pertolongan ya pada mu hahahahaha...." Sahut Arabella dengan masih tertawa geli.


Barra makin tak mengerti mengapa ibu mertuanya itu terus menertawakannya.


"Maksud ibu apa ya? Barra gak ngerti nih bu." Tanya Barra sebari mengerutkan kedua alisnya.


Arabella yang berada di apartemen mengambil nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum mengatakan apa yang akan terjadi pada rakyat-rakyat kesayangan menantunya itu.


"Barra, menantu ibu yang berhati baik. Jadi begini. Adnan datang ke sana bermaksud ingin mengambil sedikit saja dari rakyat-rakyat mu untuk menebus kesalahanan yang ia lakukan di perusahaan tadi bersama adik sepupumu Zeline." Ucap Arabella mencoba menjelaskan namun ucapannya terhenti sejenak karena Barra, spontan merespon ucapan Arabella.


"Kesalahan? Kesalahan apa bu?" Tanya Barra makin tak mengerti.


"Mmmm.... Bagaimana ya menjelaskannya, ibu bingung nak untuk menjelaskannya, yang pasti sebentar lagi Tuan Antoni akan datang ke sana untuk mengambil rakyat-rakyat kesayangan mu itu." Jawab Arabella.


Spontan Barra membulatkan matanya dan langsung menatap tajam Zeline dan juga Adnan yang sedang cengar-cengir salah tingkah di posisi berdiri mereka saat ini.


"Ok baiklah Bu, Barra paham. Sekarang Barra akan membantu Adnan menangkap mereka untuk Om Antoni." Ucap Barra saat ia ingin menutup sambungan telepon bersama ibu mertuanya.


Dan saat ia sudah menutup panggilan teleponnya itu. Barra langsung menghampiri Zeline dan menjewer telinga adik sepupunya itu sambil melontarkan pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh ibu mertuanya tadi.


"Apa yang kalian lakukan hah? Kenapa jadi ikan-ikan ku jadi korban penebus dosa kalian? Berapa banyak ikan-ikan ku yang diinginkan Daddy mu Zeline?" Tanya Barra yang kesal dan marah.