My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Berani membalas



Pukul 05.30. Barra yang semalam hanya tidur memeluk Arumi pun terpaksa bangun dan menghentikan tidur nyenyaknya. Ia sengaja bangun lebih awal agar tak ada satu orang pun mengetahui jika ia telah menyelinap masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Dalam suasana yang masih terlalu pagi Barra pergi menuju perusahaannya. Ia membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangan kerjanya.


"Jika terus seperti ini, aku tak lagi membutuhkan rumah, lebih baik tinggal di kantor saja." Gumam Barra yang sudah duduk di kursi kebesarannya, sembari menatap layar ponselnya yang berlatar belakang foto dirinya bersama Pinkan saat masih bersama.


Tiba-tiba Barra kembali merasa rindu pada Pinkan, rasa rindu yang begitu besar namun tak pernah bisa terobati. Pinkan seolah menutup segalanya dari dirinya. Barra tak diizinkan untuk masuk ke unit apartemen Pinkan, padahal apartemen itu Barra-lah yang memberikannya pada Pinkan, dan hingga saat ini nomor ponsel Barra pun masih di blokir oleh Pinkan.


"Kamu dimana Pin? Apa kamu tidak merindukan aku? Sampai kapan kamu mau meninggalkan aku dan membuatku terus-menerus bergantung pada wanita yang tak aku cintai?" Tanya Barra pada foto Pinkan. Sebuah foto yang tak akan mampu menjawab segala pertanyaan yang ia lontarkan.


Pukul 07.30, Barra mendengar suara Arumi sedang bercengkrama dengan Indri. Segera Barra keluar dan menarik tangan Arumi masuk ke dalam ruangannya.


"Ada apa Pak?" Tanya Arumi saat sudah ada di dalam ruangan Barra.


"Kamu boleh masuk kerja sama Aki-aki tua bangka itu?" Sahut Barra yang malah balik bertanya pada Arumi. Saat ini mereka masih berdiri di muka pintu yang baru saja Barra tutup dengam kasarnya.


"Boleh." Jawab Arumi singkat.


"Terus kemarin kenapa kamu gak kerja? Kalau kamu kerja, saya kan bisa bawa kamu pulang ke apartemen kita." Tanya Barra lagi. Ia menatap serius wajah Aruminyang terlihat biasa saja.


"Kemarin saya kelelahan, jadi saya memutuskan untuk istirahat." Jawab Arumi berbohong.


"Aishh... kamu enak-enakan istirahat di kamar saya, sedang saya kalang kabut memikirkan bagaimana cara membawa kamu kembali pulang ke apartemen kita." Ucap Barra yang membuat Arumi tersenyum sinis padanya.


"Atas dasar apa Bapak harus memikirkan bagaimana cara membawa saya kembali? Kita tidak memiliki hubungan lebih dari keterpaksaan bukan? Saya hanya tinggal menunggu waktu dimana kedua orang tua Bapak mengurus perceraian kita." Pungkas Arumi yang membuat Barra membulatkan matanya.


Barra mencengkram kedua lengan Arumi, ia menatap tajam istrinya yang sudah berani bicara menohok dirinya.


"Atas dasar apa kamu bilang? Kamu itu istri saya, Arumi. Sudah sepantasnya saya membawa kamu pulang, kamu harus tinggal bersama saya, bukan tinggal bersama kedua orang tua saya." Ucap Barra yang kembali mendapat senyuman sinis dari Barra.


"Saya hanya sebatas istri di atas ranjang, tidak lebih dan tidak boleh berharap lebih. Jika Bapak ingin menikmati tubuh hina ini, nikmatilah selagi kedua orang tua Bapak belum mengurus perceraian kita." Balas Arumi yang makin memompa emosional Barra.


"Sampai mati pun saya tidak akan menceraikan kamu." Geram Barra karena mendengar kembali kata cerai dari mulut Arumi.


"Jika Bapak tidak menceraikan saya, lalu bagaimana dengan Pinkan? Apa Bapak akan melupakan dan meninggalkan dia demi saya, saya rasa itu tidak mungkin. Owhh... saya tahu, mungkin Bapak mau menjadikan saya sebagai wanita cadangan. Dimana saat Pinkan pergi, Bapak bisa bersama saya dan jika Pinkan kembali Bapak yang akan meninggalkan saya, bukan begitu."


"Ya, akan seperti itu. Jadi jangan pernah berpikir untuk bercerai dari saya." Balas Barra yang kemudian menarik Arumi untuk duduk di sofa panjang yang berada di tengah ruangan kerja Barra.


"Egois!!" Umpat Arumi yang sama sekali tak dipedulikan oleh Barra.


"Ya, saya memang egois, kamu baru tahu?" Sahut Barra yang kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa itu dan kembali menjadikan paha Arumi sebagai bantalan tidurnya.


"Elus-elus kepala saya! Kepala saya pusing mikirin kamu sejak kemarin, sedangkan kamu enak-enakan tidur." Perintah Barra dengan omelannya.


Saat Barra tertidur, ponsel Arumi berdering, ternyata Alex menghubungi dirinya. Segera Arumi akan panggilan telepon dari Alex itu. Ia khawatir ada sesuatu yang penting, yang ingin Alex sampaikan padanya mengenai kuliah Anaya di New York nanti.


"Hallo Lex," sapa Arumi.


"Hallo Rumi," balas Alex.


"Ada apa hubungi aku? Apa ada sesuatu yang penting?" Tanya Arumi pada Alex. Ia berharap Alex menghubunginya karena sesuatu yang penting, bukan karena urusan lainnya.


"Ya, tentu saja. Aku menghubungi mu karena ada sesuatu yang penting ingin ku sampaikan dan tanyakan pada mu."


"Apa Lex, katakan saja. Sesuatu yang penting apa yang ingin kamu sampaikan dan tanyakan pada ku." Arumi nampak penasaran dengan apa yang ingin Alex sampaikan dan tanyakan.


"Aku sudah mencari informasi tentang universitas tempatku menimba ilmu di sana untuk Anaya. Dan aku membutuhkan alamat email Anaya untuk memgirimkan format data yang harus ia isi dari sekarang. Jika boleh, aku mau meminta nomor ponsel Anaya pada nu Arumi." Jawab Alex yang terkesan malu-malu untuk meminta nomor ponsel Anaya.


"Tentu saja Alex, aku akan memberikannya, setelah panggilan ini di tutup. Aku akan segera mengirimkan nomornya untuk mu. Alex terima kasih banyak sudah membantu diriku dan Anaya. Entah bagaimana cara ku menbalas kebaikan mu ini Alex." Ucap Arumi pada Alex yang samar-samar didengar oleh Barra.


Suara Arumi yang menyebut nama Alex, seketika membuat telinga Barra menjadi panas, tak hanya telinga hatinya pun panas. Bisa-bisanya istrinya ini melakukan panggilan telepon dengan pria lain, saat ia sedang bersama dengan suaminya.


Belum sempat Arumi mendengar balasan dari ucapan terima kasihnya pada Alex. Ponsel Arumi sudah direbut oleh Barra. Barra mematikan panggilan ponselnya dan melempar ponsel Arumi begitu saja. Sontak saja apa yang dilakukan Barra membuat Arumi terkejut sekaligus kesal.


Hormon kehamilannya yang kini Arumi rasakan, membuatnya memiliki keberanian untuk melawan Barra. Setelah melempar ponsel Barra yang kembali memeluk erat perut Arumi pun tiba-tiba terjatuh ke lantai. Karena Arumi mengumpulkan tenaganya untuk bangun dari posisi duduknya.


Brukk! [Suara tubuh Barra terjatuh].


"Aduh... Arumi!" Rintih Barra yang kemudian memekik memanggil nama istrinya.


Arumi diam tak bergeming, bahkan tak mau melihat kondisi Barra yang terjatuh karena ulahnya. Ia malah berjalan untuk mengambil ponselnya yang di lempar oleh Barra.


Retak dan pecah itulah kondisi ponsel Arumi yang dilempar oleh Barra saat ini. Mengetahui ponselnya retak dan pecah, Arumi kembali berjalan mendekati Barra yang masih terduduk di atas lantai.


"Pak, berikan ponsel mu! Saya mau pinjam," Pinta Arumi pada Barra, dan bodohnya Barra memberikan begitu saja ponsel itu pada Arumi.


Arumi menekan tombol power ponsel Barra, muncullah foto antara Barra dan Pinkan yang selalu membuat hati Arumi panas dan sakit seperti ditusuk oleh ribuan duri. Arumi menunjukkan layar ponsel Barra yang menampilkan foto Barra dan Pinkan pada Barra yang masih duduk di lantai. Arumi menjatuhkan ponsel Barra dengan melepas tangan Arumi pada ponsel Barra begitu saja.


Prrakkk! [Suara ponsel Barra yang terjatuh]


Krekkk! [Suara sepatu high heels baru Arumi pemberian dari Indri pagi ini menginjak layar ponsel Barra hingga heelsnya menusuk sampai ke dalam layar ponsel Barra]


"ARUMI!!" Pekik Barra yang membulatkan matanya melihat kelakuan istrinya.


"Kita impas," sahut Arumi sembari melepas ponsel Barra yang tertancap di heelsnya, kemudian mengembalikan ponsel Barra pada Barra yang masih tercengang dengan apa yang dilakukan istrinya.