My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Barra bergosip



Sementara itu di unit apartemen Adnan, terjadi perbincangan serius antara Adnan dan juga kedua orang tuanya.


"Kamu tahu dari mana jika Rizki itu bukan putramu nak?" Tanya arabella yang begitu penasaran bagaimana putranya bisa mengetahui jika Riski itu ternyata bukan cucunya.


"Aku kira Ibu sudah mengetahuinya, aku baru tahu Bu itu pun dari ayah mertuaku. Apa Ibu ingat saat Ayah mertuaku datang ke rumah menemuiku?" Jawab Adnan yang berusaha mengingatkan kejadian di mana Tuan Anthony datang ke kediaman mereka.


"Ya Ibu ingat, tapi dia tidak membicarakan mengenai Rizki. Dia hanya menceritakan tentang masa kecil Zeline putrinya pada kami." Jawab Arabella yang mengingat kedatangan besarnya itu secara tiba-tiba.


"Ya mungkin saat bersama ibu mertuaku hanya menceritakan tentang masa kecil istri ku. Tapi saat bersamaku dia menceritakan dan menunjukkan bukti bahwa Rizki bukanlah putraku."


"Bukti? Bukti dari mana? Bagaimana dia bisa membuktikan jika Rizki bukanlah putramu nak."


"Barra dan Anaya, secara diam-diam sudah mengambil sampel Rizki dan diriku untuk dilakukan tes DNA oleh mertuaku, Bu. Seharusnya ibu yakin jika Rizki bukanlah putraku. Ibu lihat sendiri bagaimana Alex tak membantah satupun pernyataanku mengenai Rizki. Dia sangat mengetahui jika Rizki itu adalah putranya, Bu. Asal Ibu tahu saja niat Septi menikah denganku hanya untuk balas dendam kepada Alex, melalui diriku dan juga Arumi. Septi pikir Arumi akan menikah dengan Alex. Namun Tuhan berkata lain Bu. Alex tidak berjodoh dengan Arumi dan jodohku dengan Septi telah berakhir, karena aku sadar lebih awal jika istri yang aku nikahi selama ini sebenarnya tak pernah mencintaiku tapi hanya memanfaatkan diriku." Terang Adnan panjang lebar dan membuat Arabella duduk lemas.


Arabella merasa sedih dengan apa yang menimpa putra dan putrinya, secara tidak langsung dia harus menanggung kesalahan orang lain. Entah kesalahan apa yang pernah ia perbuat dahulu, hingga keturunannya harus menderita seperti ini.


"Sudahlah Bu. semua sudah jelas. Ibu jangan bersedih. Putra kita sudah menemukan jodohnya. Sekarang kita tidak perlu memikirkan masa lalu yang sudah berlalu. Sekarang lebih baik kita hadapi dan pikirkan bagaimana hidup kita kedepannya." Ucap Abimanyu yang berusaha menenangkan tangis pilu sang istri.


Zeline yang berada di sana sejak tadi hanya menjadi pendengar setia. Ia sungguh tak mengerti dengan apa yang terjadi. Ketiganya datang dan langsung bicara penting di hadapannya. Tak ingin memperkeruh masalah iya lebih baik diam, tak bertanya ataupun mengeluarkan sepatah kata apapun. Meski rasa ingin tahu yang ia rasakan kini sangat besar.


Sementara di unit apartemen Barra. Steve dan Barra, kembali memperbincangkan apa yang terjadi di area pemakaman.


"Ternyata hasil tes DNA yang dilakukan Om Anthony menyatakan jika Rizki bukanlah putranya, tapi bagaimana bisa Rizki itu adalah putra dari dokter tengik dan sok ganteng itu?" Tanya Barra pada Steve.


"Aku tidak tahu bagaimana Rizky bisa menjadi putra dokter Alex." Jawab Steve yang juga tidak mengetahui bagaimana bisa Rizki adalah putra dari Alex.


"Sebaiknya kau cepat cari tahu, aku sungguh penasaran dengan hal ini. Kok tahu bukan Dokter Alex itu dulunya sangat mencintai istriku dan istriku juga sangat mencintainya." Bara berkata yang membuat Steve menarik senyum di wajahnya.


"Tidak hanya istrimu yang mencintai dokter Alex. Istriku juga pernah mencintai dokter tampan itu. Aku yang merebut istriku dari dokter tampan itu. Padahal sampai sekarang, Dokter Alex itu masih terus mencoba menghubungi istriku. Makanya istriku berhenti kuliah karena ia takut dengan kegigihan Alex yang mendekatinya. Ia takut dokter itu berbuat nekat." Ucap Steve yang kali ini membuat Barra menarik senyum sinis di wajahnya.


"Kenyataan macam apa ini istri kita sama-sama pernah mencintai orang yang sama. Arghh menyebalkan sekali." Ucap bara yang kemudian pergi meninggalkan Steve yang duduk di ruang tamu.


"Bara tolong panggilkan istriku yang ada di kamarmu, aku ingin pulang." Ucap Steve pada Barra yang berjalan meninggalkannya.


"Ok." Jawab Barra singkat.


Ceklek!


Pintu kamar Barra terbuka, dilihatnya kedua wanita yang tengah hamil muda itu sedang menonton drama Korea.


"Aku ada berita yang lebih seru dari film yang sedang kalian tonton!" Ucap Barra dengan senyum menyeringai.


"Kak Barra mau mengajak kami bergosip?" Tanya Anaya yang terlihat begitu antusias sehingga ia bangkit dari ranjang tidur kakaknya itu.


"Iya ini adalah hot gosip yang aku bawa dari pemakaman kedua mantan kakak ipar kalian." Jawab Barra ya makin membuat Anaya dan Arumi penasaran.


"Papi kelakuanmu itu sudah persis seperti bapak-bapak rumpi di lingkungan rumah." Cibir Arumi pada sang suami.


"Sudah kak Arumi, jangan bahas itu dulu. Aku ingin dengar gosip hangat yang baru di bawah Kak Barra." Ucapkan Ayah sembari memukul lengan sang kakak agar tak meneruskan topik pembicaraan yang tak penting.


"Kak bara cepat ceritakan gosip apa yang kau bawa sekarang!" Minta ana ya dengan antusias.


"Hahaha ini mengenai Kak Adnan dan juga mantan terindah kalian." Ucap bara yang seketika membuat kakak beradik ini membela bersamaan. "Mantan terindah?"


"Memangnya mantan terindah kita siapa Kak Barra? Aku tidak pernah memiliki kekasih selama sekolah cuma punya gebetan." Tanya Anaya dengan pengakuannya.


"Oh ya benarkah. Jika dengan dokter tengik itu. Apakah bukan mantan kalian?"


"Tidak. Aku tidak pernah berpacaran dengannya." Jawab kedua adik kakak ini dengan serempak.


Memang Arumi dan Anaya tidak pernah berpacaran dengan Alex. Arumi hanya bersahabat dengan Alex dan memiliki rasa lebih pada Alex. Namun mereka tidak pernah bersatu ataupun menjalin hubungan lebih dari kata sahabat, meskipun mereka saling mencintai.


Sedangkan Anaya, dia yang telah terang-terangan menyatakan perasaannya saat Arumi menghilang, ditolak mentah-mentah oleh Alex yang belum menyadari perasaannya terhadap Anaya saat itu.


"Oh, benarkah? Berarti kalian sama-sama merasakan kasih tak sampai pada Alex bukan begitu?"


"Papi tutup mulutmu atau kau akan puasa selama sebulan!" Ucap Arumi yang kesal karena disudutkan dengan kata-kata Barra barusan.


"Oh Mami jangan marah seperti itu. Apa Mami tersinggung dengan ucapan Papi barusan? Jika iya Papi minta maaf." Ucap Barra sembari menghampiri Arumi yang masih duduk di tepi ranjang, sembari menyusui Nathan.


"Kak Barra lama banget sih, mau gosip kebanyakan loadingnya." Ucap Anaya yang sudah tidak sabaran.


"Sabar sedikit, kau tak lihat kakakmu sedang ngambek denganku." Balas Barra yang menunjukkan dengan matanya jika Arumi sedang merajut dengannya.


"Udahlah Kak jangan terlalu diambil hati omongan dia, bukankah Kakak sudah tahu kalau mulut suami kakak itu seperti keong racun. Cepat suruh suami kakak cerita gosip apa yang ia bawa dari tempat pemakaman kedua orang tua Kak Septi. Aku tidak mau mati penasaran karenanya!" Ucap Anaya yang malah menghina Barra pada sang kakak.


Barra membulatkan matanya, ketika mendengar sang adik ipar mengatakan mulutnya seperti keong racun.


"Sudah Papi mau cerita atau tidak? Jangan buat kami terus penasaran!" Omel Arumi yang memalingkan wajah sang suami yang tengah menatap tajam Anaya untuk kembali menatapnya.


"Tapi adikmu itu mengatakan aku..."


"Cepat Papi cerita atau Papi puasa malam ini!" Ancam Arumi lagi yang juga sudah penasaran.


"Ok baiklah. Aku bisa apa kalau terus diancam seperti ini." Ucap Barra yang mendengus kesal.


"Cepat Kak Barra!" Lagi-lagi Anaya mendesaknya.


"Iya- iya. Gosip yang aku bawa adalah mengenai Kak Adnan Septi dan juga Alex. Ternyata Rizki bukanlah anak Kak Adnan dan Septi. Tapi Rizki adalah anak Septi dan Alex."


"APA??" Pekik keduanya terkejut, hingga Nathan yang tertidur pun terbangun karena suara pekikan mereka yang cukup keras terdengar.