My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Bicara empat mata



Bukannya ikut sedih dan prihatin melihat kakaknya menderita Anaya malah terlihat senang bahkan menggoda Adnan secara terang-terangan.


"Kak Adnan masuk kenapa diam saja di depan pintu, jangan bilang kalau Kakak takut dengan hewan peliharaan Daddy Antoni." Ucap Anaya dengan senyum jahilnya.


Ia malah dengan santainya mengambil baby Tiger itu, lalu mendekati Adnan yang berdiri mematung di ambang pintu.


"Gorss... Lihatlah kakak mu sangat takut padamu! Hapalkan wajahnya ya Gorss, jika kau sudah besar nanti gigit dia, jika berani-beraninya menyakiti kakak iparku Zeline." Seru Anaya meledek Adnan, dengan menyodorkan Gors, nama Baby Tiger yang dibawa oleh Tuan Antoni.


"Anaya jangan kurang ajar, singkirkan dia!" Seru Adnan dengan wajah kakunya. Ia sungguh takut dengan hewan buas yang ada dalam gendongan sang adik. Wajah ketakutan Adnan sungguh memancing gelak tawa semua orang di ruangan itu, termasuk Tuan Antoni dan juga Nathan.


Untuk pertama kalinya di dalam hidup Tuan Antoni yang terkesan kelabu kini terlihat berwarna. Benar apa kata tuan Brandon, hidupnya akan berubah ketika menjadi salah satu bagian keluarga Abimanyu.


Puas menertawakan Adnan yang kini tengah menekuk wajahnya karena malu. Seluruh anggota keluarganya tiba-tiba pergi meninggalkan paviliun milik adik iparnya itu. Seakan memberi ruang dan kesempatan kepada tuan Antoni untuk bicara empat mata dengan menantunya.


Menyadari jika kakaknya takut dengan hewan buas itu, Anaya berinisiatif untuk membawa Gors bersamanya. Kini di dalam paviliun adik iparnya tinggal tersisa Adnan dan juga tuan Antoni.


"Adnan kemarilah!" Perintah Tuhan Antoni sembari menepuk sofa yang ia duduki.


Dengan langkah ragu akan menghampiri ayah mertuanya itu. Setelah Adnan duduk, Tuan Antoni mulai menyampaikan maksud dan tujuannya datang untuk menemui sang menantu.


"Kau sudah menjadi menantu Daddy walau baru beberapa hari. Daddy sudah memutuskan sesuatu yang sudah Daddy pertimbangkan baik-baik. Lupakan tentang perjanjian kita kala itu. Mulai besok kau tidak perlu bekerja lagi di perusahaan adik ipar mu. Kelola perusahaan Daddy untuk menghidupi keluargamu bersama Zeline." Ucapkan Antoni seraya menatap wajah keterkejutan Adnan.


"Dad, bolehkah aku menolak?"tanya Adnan dihantui dengan rasa takut pada mertuanya.


"Tidak. Daddy tidak menerima penolakan." Jawab Tuan Antoni tegas.


"Tapi, Dad. Aku punya trauma mengurus usaha keluarga mantan istriku yang berujung aku ditendang dan dibuang tanpa sepeser pun dispensasi kinerjaku selama ini pada mereka."


"Jangan samakan Daddy dengan mereka! Jika kau sudah menikahi Zeline. Jangan pernah harap ada perpisahan di antara kalian selain maut yang memisahkan kalian!" Tegas Tuan Antoni pada menantunya.


"Tapi Daddy, Daddy tak akan suka jika aku menafkahkan sebagian penghasilanku untuk putraku dari pernikahanku dengan mantan istriku, bukan?" Adnan menggunakan Rizki sebagai alasannya menolak penawaran memimpin perusahaan besar milik Tuan Antoni.


"Putra mu kau bilang? Hahahaha...." Sahut wan Antoni dengan gelak tawanya yang membuat Adnan menyernyitkan kedua alisnya, ia merasa heran mengapa mertuanya begitu geli menertawakan tentang putranya.


Melihat Adnan terdiam Tuan Antoni pun mulai menjelaskan siapa Rizki sebenarnya.


"Jika kau pikir Rizki adalah putramu, kau salah besar, selama ini kau sudah ditipu oleh mantan istrimu. Rizki bukanlah putramu." Tugas Tuan Antoni yang kemudian melempar sebuah map coklat berisi tes DNA antara dirinya dan juga Rizki.


Padahal Tuan Antoni bisa melakukan tes DNA dengan bantuan Barra keponakannya dan juga Anaya. Barra dengan mudah mengambil sampel rambut Adnan untuk dilakukan tes DNA dan Anaya mengambil sampel darah Adnan dengan mudah saat kakaknya itu tertidur. Sedangkan untuk mengambil sampel rambut Rizki, Barra menyerahkan semuanya dengan Anaya.


Ya. Anaya membantu Barra dan Tuan Antoni dengan bayaran yang cukup mahal, untuk mendapatkan sampel rambut Rizki. Selain meminta biaya ganti rugi diacara pernikahannya, ia juga meminta tiket bukan madu pada mertua kakaknya itu. Dengan kepolosan dan keblak-blakan sikap matre Anaya yang terkesan lucu. Tuan Antoni yang terkenal kejam dan pelit itu akhirnya memberikan apapun yang Anaya pinta tanpa syarat dan ketentuan berlaku.


Dengan diantar Barra, Anaya mendatangi sekolah Riski. Ia memberikan mainan mahal kepada keponakannya itu, lalu mencabut rambutnya dan juga mengambil sampel darah yang dibutuhkan untuk melakukan tes DNA.


Adnan terbelalak ia begitu terkejut membaca hasil tes DNA dirinya dengan rizki yang selama ini ia anggap sebagai putranya.


"Jika dia bukan putraku lalu dia putra siapa Dad?" Tanya Adnan begitu serius menatap wajah ayah mertuanya untuk pertama kalinya.


"Dia putra siapa apakah penting bagimu?"


"Tentu saja, karena pria itu membuat hidupku selama ini menderita, tak hanya aku yang menderita tapi juga keluargaku." Jawab Adnan yang terlihat kesal dan menahan amarah di dalam dirinya.


Bagaimana tidak kesal dan marah selama ini dia sudah ditipu mentah-mentah dengan Septi. Ia tak menyangka selama ini ia terlalu bodoh. Keluarga Septi benar-benar kejam selain menipu dirinya ia pun dijadikan sapi perah untuk terus bekerja memajukan usaha milik keluarganya yang semula terlihat maju tapi kini terlihat hampir gulung tikar.


"Menurut orang suruhan Daddy. Mantan istrimu pernah melewati one night stand bersama orang dimasa lalu adikmu, Arumi dan kini tengah mengerjar cinta adik ku Anaya." Jawab Tuan Antoni yang membuat Adnan seketika terbelalak.


"Alex?" Cicit Adnan yang mengetahui yang dimaksud oleh ayah mertuanya.


"Ya dialah orangnya. Alex. Dia menolak untuk bertanggung jawab dengan alasan tak mencintai mantan istrimu dan juga demi pendidikannya. Rasa bencinya pada Alex membuatnya ingin membalaskan dendam pada Alex melalui adikmu, Arumi. Maka dari itu dia menjerat dirimu dengan cinta palsunya."


"Pantas saja dia tidak menyukai adikku Arumi ternyata karena itu,"


"Iya mungkin saja begitu. Sekarang bagaimana kamu mau menjalani bisnis Daddy atau kamu memilih bercerai dengan Putri semata wayang Daddy? Daddy sangat membutuhkan penerus untuk mengurus semua usaha yang Daddy rintis dari nol." Tuan Anthony kembali menawarkan penawarannya dengan sebuah ancaman yang tidak main-main.


Baru saja Adnan merasakan indahnya bahtera berumah tangga, namun tiba-tiba ia sudah diminta untuk meninggalkan sang istri, jika ia menolak penawaran yang diberikan oleh sang ayah mertua saat ini.


Sungguh Adnan merasa hidupnya dipermainkan oleh sebuah takdir. Mau tak mau demi mempertahankan pernikahannya Adnan pun menerima penawaran dari tuan Antoni.


"Baiklah Daddy, aku terima penawaran yang Daddy berikan padaku. Tapi dengan syarat, tolong hargai aku sebagai menantu mu, bukan sebagai bawahan mu. Apapun keputusan yang ku ambil dalam menjalankan roda perusahaan mu nanti, tolong jangan hardik aku jika aku mengalami kekeliruan dan kesalahan." Jawab Adnan pada akhirnya.


"Kau tidak perlu khawatir dalam menjalankan perusahaan nanti aku akan menuntun dan mengajarimu secara langsung. Akan kubuat kau menjadi seorang pengusaha sukses dan ternama Adnan. Kau akan sejajar dengan nama adik ipar mu di kancah dunia bisnis baik di dalam maupun luar negeri." Sahut Tuan Anthony dengan senyum yang mengembang di wajahnya.