My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Penolakan



Septi memilih bungkam dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh mertuanya. Ia malah pergi meninggalkan mantan mertuanya yang masih tetap berdiri di ambang pintu. Ia berjalan ke samping rumah mantan mertuanya itu, guna menghampiri sang putra yang ia yakini berada di sana.


Benar saja ketika Septi sudah berada di belakang rumah mantan mertuanya itu. Arah matanya membuat hatinya seketika memanas. Iya dapati sang putra Tengah duduk di pangkuan seorang wanita muda yang sangat cantik mempesona tubuhnya indah seperti gitar Spanyol.


"Itu kah istri baru mas Adnan? Sepertinya dia dari keluarga berada. Aku kira mas Adnan akan mendapatkan seorang gadis yang selevel dengannya, tapi ternyata tidak. Sungguh beruntung dia lepas dariku dia mendapatkan wanita yang lebih dariku. Tapi itu semua tidak masalah bagiku. Aku tidak lagi membutuhkan mas Adnan sebagai suamiku, toh aib ku ini telah berhasil aku tutupi dengan menikah dengannya dulu."Gumam Septi saat ia menghentikan langkah kakinya.


Cukup lama Septi berdiri tak jauh dari saung, di mana anggota keluarga Abimanyu tengah berkumpul bersama putranya. Ia terus memperhatikan bagaimana suasana keluarga Abimanyu setelah dirinya berpisah dengan Adnan.


Saat Adnan tengah menertawakan sikap lucu Anaya memperlakukan Steve. Tiba-tiba arah pandangannya mendapati Septi tengah memperhatikan mereka dari jauh. Seketika tawa Adnan pun luntur. Ia membuang pandangannya ke arah lain.


Septi melanjutkan langkah kakinya mendekati saung di mana mereka berada, ketika ia mendapati Adnan telah mengetahui keberadaannya.


"Assalamualaikum," Septi memberi salam dengan senyum kepalsuannya.


"Waalaikumsalam,"jawab semuanya dengan serempak tanpa terkecuali.


Namun setelah menjawab salam dari Septi. Arabella yang enggan untuk berjabat tangan dengan mantan menantunya itu pun memilih menghindar dan masuk ke dalam rumah dengan menggendong Nathan.


Sementara Anaya berakting pura-pura sakit perut karena makan rujak.


"Om, aduh... Perut Anaya kontraksi nih, tolong gendong Anaya, Om. Bawa Anaya masuk Om." Minta Anaya sembari merentangkan tangannya. Iya minta digendong oleh sang suami ya memang sangat suka menggendong dirinya.


"Dengan senang hati sayang,"jawab Steve yang membuat Barra pura-pura tersedak hingga terbatuk-batuk].


Uhukkk.... Uhukkk... [Barra pura-pura terbatuk-batuk].


"Papi ishhh... jahil deh. Suka sekali menggoda mereka." Arumi memukul pelan lengan suaminya.


Barra tersenyum ke arah Arumi, sembari menarik kedua alis matanya hingga turun naik berulang-ulang. Suaminya ini tengah memberi kode pada istrinya, namun sayang Arumi tak mengerti dengan kode yang diberikan oleh Barra.


Tak mau membuang waktu lama dengan menjelaskan, Barra pun langsung mengangkat tubuh mungil Arumi.


"Lepas ih malu Pih!" Pinta Arumi sembari memukul pelan dada bidang sang suami.


"Kamu malu sama siapa sayang? Tidak ada orang lain di sini kecuali keluargamu. Anaya saja tidak malu. Kenapa kamu malu?"


"Anaya itu tidak punya urat malu sedangkan aku memilikinya."


"Oh benarkah itu, jika istriku punya urat malu mungkin dia tak akan pernah menggodaku dengan menggunakan baju seperti saringan telur para rakyat ku." Ucap Barra dengan senyum nakalnya.


Ucapan Barra ini seakan mengingatkan Arumi yang sering menggoda Barra dengan pakaian dinas malamnya yaitu sebuah lingerie dengan berbagai model. Arumi tidak pernah membeli pakaian dinasnya itu, tapi ia selalu mendapatkan kiriman paket dari sang ibu mertua setiap minggunya.


Sudah puluhan model lingerie yang telah dikirim ibu mertuanya pada dirinya. Namun demikian baju pemberian mertuanya itu tidak menjadi salah satu model baju koleksi di dalam lemarinya, karena setiap kali ia memakai baju tersebut. Pasti Barra akan mengoyak-ngoyak pakaian tersebut hingga tak berbentuk.


"Ishhh itu berbeda." Sanggah Arumi yang malah mencium bibir Barra.


"Nakal ya, ciumnya cuma sebentar. Jadi mau lagi kan." Imbuh Barra yang kembali menyosor namun wajahnya malah di tangkup oleh Arumi.


"Masih terlalu pagi untuk kita uhuk-uhuk Pih," tolak Arumi yamg mengerti keinginan suaminya.


"Kata siapa aku mau Uhuk-uhuk Mih, cuma mau cium kok." Barra berdalih.


Namun Arumi malah mencubit pipi suaminya. Ia tahu betul jika diberikan kesempatan suaminya untuk mencium dirinya, pasti suaminya itu akan kebablasan.


Berbeda dengan Barra yang mendapatkan penolakan dari Arumi. Steve dan Anaya tengah khusu mengadon dede bayi di dalam kamar. Isengnya Barra ketika melewati kamar sepasang pengantin baru itu. Ia tak segan-segan menggedor pintu dengan keras hingga dinding rumah Abimanyu ikut bergetar.


"Kak Barra!!" Pekik Anaya dalam kungkungan Steve yang tengah memompa dirinya.


"Seharusnya kamu abaikan saja dia sayang, jika kamu marah, dia akan terus mengganggu mu, ahhh..." ucap Steve. Ia hampir sampai pada puncak kenikmatannya yang pertama. Ia sengaja bermain short time pagi ini, karena Anaya harus membantu Arabella memasak di dapur.


"Om... Ahh... pelan-pelan dong, Nay gak tahan lagi buat nahan ******* Nay nih." Ucap Anaya yang sudah meremas kain sprei dengan kuatnya.


Sementara itu di saung. Terjadi perdebatan antara Adnan dan juga Septi.


"Mau apa kau ke sini hah?" Tanya Adnan dengan nada bicara meninggi untuk pertama kali di dalam hidupnya.


"Aku ingin bicara empat mata dengan mu Mas!" jawab Septi yang kini terus berusaha menahan emosinya.


Andai ia tak butuh dengan tenaga Adnan, mungkin ia tak akan merendahkan dirinya diperlakukan seperti ini oleh keluarga mantan suaminya, termasuk mantan suaminya sendiri.


"Mau bicarakan tentang apa lagi. Bukankah permasalahan kita sudah selesai di pengadilan waktu itu. Kau menolak semua pemberian nafkah dariku untuk Rizki dan kau juga sudah menelanjangi semua hasil kerjaku selama ini. Lalu kau mau bicarakan apa lagi?" Cetus Adnan dengan wajah garangnya.


Zeline yang melihat keributan antara keduanya dan melihat ekspresi ketakutan di wajah Rizki pun memilih untuk pergi meninggalkan kedua orang yang tengah berdebat itu. Saat dia beranjak dari saung, langkah kakinya terhenti karena Adnan menghalangi langkahnya.


"Mau kemana kamu?"tanya Adnan pada Zeline.


"Masuk ke dalam, tidak baik ribut di depan anak kecil, biarkan Rizki masuk bersamaku, dan kalian bisa selesaikan masalah kalian sekarang." Jawab Zeline dengan menggendong tubuh mungil Rizki.


"Tidak Zeline. Tidak ada yang harus aku selesaikan dengannya. Semua urusanku dengannya telah selesai. Berikan Rizki padanya, agar dia segera pergi dari sini." Perintah Adnan yang malah mengambil Riski yang ada di dalam gendongan istrinya.


"Pulanglah bersama Mommy mu sekarang, nak! Kamu masih boleh datang ke sini, jika Mommy mu tidak memiliki maksud jelek dengan keluarga Kakek Nenekmu ini." Ucap Adnan pada sang Putra yang hanya bisa manggut-manggut saja menuruti perkataan Adnan.


"Sombong sekali dirimu sekarang, Mas! Jika bukan karena adik ipar mu yang kaya raya, kamu pasti hanya akan menjadi seorang sampah." Umpat Septi yang sudah tak tahan lagi menahan segela penghinaan dan penolakan yang sejak tadi ia dapatkan.


"Terserah apa katamu. Yang pasti aku sekarang tidak diperlakukan seperti sapi perah lagi." Sahut Adnan yang kemudian menarik lengan Zeline, agar ikut masuk ke dalam rumah bersamanya.


"Dah, Riski... Sampai bertemu lagi sayang," ucap Zeline sembari melambaikan tangannya. Ia terus berjalan dengan langkah kakinya yang terseok-seok.