My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Bertemu Anaya



Steve yang duduk santai berdua dengan Anaya di dalam cafe, dimana ia duduk di dekat dinding kaca yang menampikan jelas keberadaan Barra pun memberi kode pada anak buahnya, untuk tetap pasang badan, apapun yang terjadi. Hingga akhir perkelahian tak terhindari.


Bugh...bugh...[Aksi saling pukul]


Brakk... [Suara Meja yang patah]


Brak...[Anak buah Steve yang berjatuhan satu persatu]


Perkelahian Barra dan anak buah Steve menjadi pusat perhatian pengunjung Cafe, karyawan Cafe segera ingin menghubungi pihak kepolisian, namun Steve menghalangi dan akan membayar biaya ganti rugi, berapa pun nominalnya. Membuat Anaya yang sedang mengerjakan tugas sembari menyeruput es cappucino menarik kedua alisnya, kemudian bersikap cuek kembali mengerjakan tugas dengan tenang.


"Bantu aku nomor enam, Om. Aku tidak paham!" Pinta Anaya pada Steve.


Ia menyodorkan bukunya tanpa menatap wajah Steve. Steve segera membaca soal dan menulis di buku coret-coretan Anaya. Saat Steve selesai mengerjakan soal, saat itu pula Barra masuk ke dalam Cafe.


"Anaya!!" Pekik Barra memanggil adik iparnya.


Namun Anaya tak menoleh, ia malah asyik menyalin jawaban yang diberikan Steve padanya di buku tugasnya. Berbeda dengan Anaya, Steve langsung menoleh dan ingin berdiri menghalangi Barra mendekati Anaya.


"Duduklah dengan manis Om, dia bukan lawan mu!" Ucap Anaya tanpa menatap Steve ataupun Barra, tatapannya masih fokus pada tugasnya, tangannya juga masih sibuk menyalin jawaban yang diberikan Steve padanya.


"Aku tidak mau punya calon suami yang ompong karena perbuatan kakak ipar si4lan ku ini." Ucap Anaya lagi yang seketika membuat hati Steve berbunga-bunga dan Barra tersenyum sinis mendengarnya.


"Apa katanya? Calon suami? Apa artinya dia menerima cintaku?" Steve bermonolog pada dirinya sendiri.


"Adik ipar kurang ajar, berani-beraninya mengataiku si4lan. Kalau saja aku tidak mencintai kakaknya dan sedang mencari keberadaan Arumi, sudah ku robek-robek mulut lancangnya ini." Umpat Barra di dalam hatinya.


"Tolong bantu aku kerjakan empat soal terakhirku, Om. Aku akan mengurus bedebah ini." Pinta Anaya yang kembali menyodorkan buku pada Steve dengan wajah datarnya.


Barra tersenyum sinis kembali dan membuang pandangannya ketika kembali mendengar adik iparnya mengumpati dirinya.


"Bedebah dia bilang? Arumi-Arumi, inikah adik kesayangan mu, sayang. Mulutnya benar-benar minta diberi pelajaran." Gumam Barra di dalam hatinya.


Anaya yah masih duduk di kursinya, sedikit mendongakkan pandangannya untuk melihat Barra yang berdiri tak jauh dari meja mereka. Anaya menatap tajam wajah Barra yang berpeluh keringat setelah menyelesaikan perkelahian dengan anak buah Steve.


"Mau apa menemuiku? Mencari kakak ku? Istri yang kau sia-sia kan hem?" Tanya Anaya sembari melipat kedua tangannya di dadanya.


"Bicara yang sopan, aku ini kakak ipar mu! Lebih tua dari usia mu." Cetus Barra yag berharap Arumi mau bicara sopan padanya.


"Hallo kakak iparku yang tua," Anaya meledek dengan menyapa Barra sembari melambaikam tangan dan menampilkan senyum ramah penuh keterpaksaan dalam beberapa detik saja, lalu kembali memasag wajah kaku, dingin dan datarnya.


Barra tersenyum sinis mendapati ledekan Anaya, adik iparnya itu padanya. "Sepertinya kamu memang tak bisa bicara sopan, jadi terserahlah. Kedatangan ku ke sini hanya ingin menanyakan keberadaan Arumi, istri ku. Dimana kakak mu?"


"Terus, apa pertanyaan mu ini harus ku jawab kakak ipar?"


"Sayangnya aku tidak mau dan tidak punya waktu untuk itu." Balas Anaya yang kemudian membuang pandangannya dari Barra. Ia menatap Steve yang masih mengerjakan tugasnya yang diberikan guru fisika padanya.


"Kerjakan yang benar Om, kalau sampai salah, aku tak mau kau menjemput ku lagi." Ancam Anaya pada Steve yang ia lihat tak konsentrasi mengerjakan tugasnya karena mendengar perdebatan antara Anaya dan Barra.


Barra yang memang bukanlah tipe orang penyabar pun akhirnya berada di titik kehabisan kesabaran. Ia menarik lengan Anaya hingga membuat Anaya berdiri di hadapannya. Anaya melirik tangan Barra yang mencengkram kuat lengan tangannya.


"Singkirkan tangan menjijikan mu dari lenganku!" Pinta Anaya yag tak suka di sentuh oleh Barra.


"Tidak. Aku tak akan melepaskan mu, sebelum kau jawab pertanyaan dariku. Jangan buat kesabaran ku habis! Katakan DIMANA ISTRIKU??" Pekik Barra di depan muka Anaya.


"Kau punya kaki dan tangan yang sempurna, cari sendirilah dan jangan bertanya padaku. Sampai mati pun aku tak akan mengatakannya." Jawab Anaya dengan santainya.


"Sepertinya kau terus menguji kesabaran ku Anaya. Jangan buat aku memukul mulut lancangmu ini! Karena aku belum pernah memukul wanita."


"Pernah. Kau pernah memukul wanita. Wanita yang kau pukul adalah kakak ku, istri mu sendiri." Sanggah Anaya yang menghempas kasar tangan Barra dari lengannya.


Barra tersenyum sinis, ketika mendengar jawaban Anaya yang mengingatkan dirinya akan kebodohan sikap kasarnya pada Arumi.


"Sudah ingat? Jika sudah silahkan pergi!" Usir Anaya secara blak-blakan.


Ia kembali ingin duduk di kursinya namun Barra kembali menahannya dengan menarik bahu Anaya, hingga tubuh Anaya kembali berbalik menghadapnya dengan bogem mentahnya yang tepat mengenai rahang Barra.Jangan tanya sakitnya. Rasanya benar-benar bukan main, hadiah pukulan dari Anaya ini.


"Sakit? Kalau tak tahan dengan rasa sakitnya, pergilah! Karena aku ini bukan wanita yang lembut seperti kakak ku."


Bukannya pergi Barra malah kembali mendekati Anaya dan hendak menyerang Anaya. Sebagai laki-laki Steve berusaha melindungi Anaya, namun Anaya menolaknya.


"Duduklah Om, kerjaka saja tugas ku. Dia bukan lawan mu. Dia lawan ku. Bukankah sudah ku bilang, aku tak mau punya calon suami yang ompong karena calon ipar mu ini. Ingat pesan dokter salah satu gigi mu sudah ada yang goyang karena dia." Perintah Anaya yang membuat Steve melepaskan kerah baju Barra.


Ia kembali duduk manis dan mengerjakan tugas Anaya. Barra tersenyum dan sinis melihat betapa nurutnya Steve pada Anaya. Seperti kucing peliharaan yang sedang disuruh majikannya.


Belum sempat senyum sinis Barr memudar. Ia sudah kembali mendapatkan bogem mentah dari Anaya yang kali ini tepat mengenai matanya. Anaya terus menyerang Barra dengan pukulan yang tak main-main.


Barra jatuh tersungkur dengan wajah yang babak belur, tak berbentuk lagi. Barra kalah bukan karena dia mengalah. Tidak, dia sudah berusaha melawan tapi serangan Anaya yang membabi buta dan kepandaian dia dalam ilmu bela diri, membuatnya kalah telak. Sudah jatuh tersungkur pun Anaya masih memukuli Barra, hingga akhirnya Steve mengangkat tubuh gadis belianya itu dari atas tubuh Barra.


"Sudah cukup sayang, dia susah terkapar." Ucap Steve yang berbisik di telinga Anaya.


Perkelahian Anaya dan Barra menjadi tontonan gratis para pengunjung cafe, banyak orang yang mengabadikannya, diantara pengunjung Cafe yang menonton perkelahian Barra dan Anaya, ternyata ada sepasang mata yang menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan Anaya pada kakak iparnya sendiri.


Ya, sepasang mata itu adalah sepasang mata milik Alex, yang sengaja datang ingin membeli es cappucino. Ia ketagihan meminum es cappucino di cafe ini. Setelah pertemuannya dengan Anaya yang berujung perselisihan diantara mereka berdua.