
"Mami sayang, mulai Senin depan Papi akan masuk kerja ke perusahaan lagi. Kakakmu Adnan, mulai besok sudah pindah bekerja menjadi presiden direktur perusahaan Om Antoni. Kevin menolak aku akan menjadi CEO, jadi mau tak mau aku harus meninggalkan rakyat-rakyatku demi masa depan perusahaan dan juga keluarga kita." Terang Barra saat mereka duduk di teras Paviliun.
Niatnya hanya sekedar memberitahukan pada sang istri, namun karena curhatan Zeline mengenai sekretaris macam karir, Arumi sudah berpikir yang tidak-tidak dengan Barra.
"Jika Papi kembali bekerja mami pun akan kembali bekerja."
Tuing! [Barra seketika melirik istri yang tengah duduk di sampingnya, dengan tatapan heran tentunya].
Saking terkejutnya dan terheran-heran dengan tanggapan sang istri Barra sampai merubah posisi duduknya. Ia yang tadinya duduk ke arah kolam para rakyat-rakyatnya, kini beralih duduk mengarah pada sang istri.
"Kalau mami bekerja bagaimana dengan Nathan?" Tanya Barra dengan tatapan yang serius.
"Nathan ada ibu," jawab Arumi singkat yang membuat Barra tepuk jidat.
"Kalau dia mau minum ASI kamu gimana Mih?" Tanya Barra lagi yang ingin memastikan.
"Asinya akan aku pompa seperti biasanya dan saat di kantor pun, aku akan memompa asiku, lagi pula ada ojek online yang bisa mengantarkan asiku ke rumah." Jawab Arumi lagi yang kali ini membuat Barra menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri berulang-ulang.
Ia tak habis pikir dengan pola pikir istrinya yang bisa berubah dengan waktu yang cukup singkat, dulu Arumi sendiri yang berkata Dia tak ingin bekerja kembali karena ingin mengurus rumah tangganya dan juga merawat anaknya.
Saat itu Barra yang masih ingin melepas rindu dengan Arumi karena ditinggal terlalu lama. Memilih untuk tidak bekerja demi menghabiskan waktu bersama dengan istri tercinta. Namun sekarang semuanya terbalik Arumi seakan tak mau jauh dari Barra.
"Oke sayang masalah ASI selesai, kamu bisa memompanya tapi apa ibu sanggup dan mau menjaga anak kita?" Tanya Barra lagi. Ia benar-benar menanyakan dan memastikan kesiapan Arumi untuk ikut bersamanya bekerja kembali.
"Sebenarnya bukan hanya keinginanku kembali bekerja tapi juga ibu yang mendukungku. Ibu takut kalau Papi ditikung oleh sekretaris yang gatal. Apalagi dulu papi selalu menyakiti mami dan lebih memilih mencintai wanita di masa lalu Papi, hingga akhirnya mami meninggalkan Papi." Jawab Arumi yang malah mengingatkan Barra pada masa lalunya.
"Hustt! Sudah jangan diteruskan. Masa lalu itu jangan diingat dan diungkit-ungkit lagi. Oke baiklah mulai Senin besok kita akan kembali bekerja. Besok kita beli pakaian baru untukku dan juga untukmu. Seperti yang kamu tahu, pakaianku semua sudah tidak muat lagi. Otot-otot ku sudah bertambah besar dan kekar bukan?"
"Hemmm. Belilah pakaian yang sedikit longgar, mami tidak mau melihat Papi tebar pesona di perusahaan. Papi dilarang senyum dengan lawan jenis. Bersikaplah seperti Papi yang dulu dingin dan datar dengan lawan jenis. Jika sampai Papi main gila di belakang mami. Tapi akan tahu sendiri akibatnya," ujar Arumi dengan sedikit mengancam Barra.
Sementara itu di kamar Adnan dan juga Zeline. Zeline terus saja menceritakan masalah tentang Karin di kantor, hingga Adnan merasa bosan dan seperti orang yang sedang dibacakan dongeng oleh sang istri. Hari ini Adnan begitu lelah. Karena sang ayah mertua saat ingin pulang dari kediaman kedua orang tuanya. Minta di bawakan oleh-oleh para rakyat-rakyat Barra yang terlihat besar dan segar-segar.
Jujur saja Tuan Antoni sangat jatuh cinta dengan masakan ikan bakar buatan Arabella. Arabella mengatakan bumbunya sama saja seperti masakan pada umumnya, yang membedakan adalah kualitas ikannya. Hal inilah yang menjadi alasan Tuan antonim minta dibawakan oleh-oleh ikan segar dari kolam ikan Barra. Tak tanggung-tanggung Tuan Antoni meminta 20 kg ikan segar berukuran besar seperti yang ia makan saat jamuan di rumah besannya, Abimanyu.
Saat menangkap ikan untuk ayah mertuanya, Barra sang adik ipar tidak mau membantunya dengan alasan sudah mandi dan takut dimarahi oleh Arumi jika ia turun lagi ke kolam. Apalagi alasan terkuatnya saat itu, ia sedang menggendong sang anak Nathan.
Menangkap ikan 20 kg dengan jaring sangatlah mudah, yang tidak mudah adalah memilih ikan di dalam kolam yang ukurannya harus sama persis seperti yang dimakan oleh sang ayah mertua.
"Ishhh... Pak Adnan kenapa tidur sih? Ya Tuhan aku lagi nyeritain Karin, dianggap lagi bacain dongeng kali ya?" Ucapkan terus menggoyangkan tubuh sang suami.
Bukannya bangun Adnan malah memeluk tubuh Zeline.
"Ayo tidur, hari ini aku lelah sekali, Daddy mu hari ini datang dan habis-habisan mengerjai ku." Ucap Adnan dengan mata yang terpejam suaranya persis seperti orang yang sedang berkumur-kumur.
Sementara di kamar tidur Anaya dan Steve tak jauh berbeda dengan Zeline. Anaya tengah menceritakan apa yang terjadi di rumahnya hari ini pada sang suami. Berbeda dengan Adnan yang terlihat lelah mendengar cerita Zeline, Steve malam merasa senang dan begitu semangat mendengar cerita sang istri, yang menurutnya sangat seru. Beberapa kali Steve dibuat tertawa, ketika Anaya menceritakan kejahilannya dan juga Barra pada kakak iparnya Adnan.
Anak Tuan besarnya yang kini menjadi kakak iparnya rupanya sekarang sudah bisa bersekutu dengan istrinya, padahal pada awalnya Anaya selalu menjadi bulan-bulanan Adnan dan juga Barra.
Setelah Anaya selesai bercerita, Anaya memberi kesempatan pada Steve untuk menceritakan masalah pekerjaannya di perusahaan hari ini pada sang istri. Sejak awal pernikahan mereka, mereka sudah sepakat untuk saling terbuka apapun masalah yang mereka hadapi baik di rumah di perusahaan ataupun di manapun.
Kali ini Steve menceritakan penawaran Kevin dan Barra untuk menjadi CEO dari perusahaan Napoleon, sama halnya dengan Kevin Steve pun menolak penawaran tersebut. Bagi Steve ia belum memiliki kapasitas kemampuan untuk memimpin sebuah perusahaan besar, dan lagi pula ia tidak mau menghabiskan banyak waktunya, hanya untuk terus bekerja, sehingga ia akan mengabaikan keberadaan istri tercintanya yang sangat sulit untuk didapatkan kala itu.
"Jadi Om menolak tawaran besar itu?" Tanya Anaya dengan menatap serius wajah sang suami yang tengah merangkulnya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu kecewa aku menolaknya?" Steve malah balik bertanya pada sang istri.
"Untuk apa aku kecewa Om? Jika Om menerima tawaran itu, aku akan pastikan. Aku akan masuk ke perusahaan kak Barra dan melamar menjadi sekretaris pribadi mu Om." Jawab Anaya yang ternyata sudah terpengaruh juga dengan cerita Zeline.