
Di unit apartemen Alex, setelah Rizky sudah tertidur di kamar Alex. Alex keluar dari kamar pribadinya itu. Alex mencari keberadaan Septi, yang pergi begitu saja setelah mendapatkan penolakan dari kedua orang tua Alex.
Ceklek!
Suara pintu kamar Septi terbuka.
"Septi kita perlu bicara," ucap Alex yang berada di ambang pintu kamar Septi.
Septi yang tengah duduk di tepi ranjang dalam kamar yang gelap, tak menjawab ajakan Alex untuk bicara. Septi hanya terdiam sembari menatap sedih sosok Alex yang berdiri di ambang pintu kamarnya.
Alex melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Septi. Ia mencari saklar lampu, untuk menyalakan lampu kamar Septi yang masih padam.
Alex dapati Septi sedang duduk merenung seorang diri di tepi ranjang tidurnya.
"Kenapa kau pergi meninggalkan kami? Tidakkah seharusnya kau menunggu Aku bicara untuk memohon restu kedua orang tuaku. Sikap tidak sopan dan aroganmu sungguh menyulitkan hidupku Septi." Tanya Alex pada Septi yang hanya menitikkan air mata tanpa ingin menjawab pertanyaan Alex.
"Tangisanmu, air matamu, tak akan mengubah segalanya dan tak membuat hidup putra kita lebih baik. Jika kamu tidak mau berjuang bersamaku dan merubah dirimu." Ucap Alex lagi yang hanya menatapi kesedihan Septi, tanpa mau menghapus air mata yang sudah membanjiri pipi Septi.
Septi tersenyum kecut, mendengar perkataan Alex yang mengajak dirinya untuk berjuang, namun sikap Alex kepada dirinya begitu dingin.
"Apakah sebagai wanita aku tidak boleh menangis Alex? Apakah sebagai wanita aku tidak boleh bersedih? Air mataku memang tidak akan mengubah apapun, termasuk perasaanmu padaku. Kau mengajakku berjuang, tapi perduli dengan perasaanku pun kau tidak." Ucap Septi yang akhirnya buka suara.
"Kau boleh menangis kau juga boleh bersedih itu adalah hakmu. Tapi aku tidak menyukai perempuan lemah yang hanya bisa menangis dan membuatku pusing. Ingatlah satu hal Septi, aku menikahimu bukan karena aku mencintaimu, tapi aku menikahimu demi masa depan putraku." Balas Alex tegas.
"Kau itu pria yang sangat kejam dan egois Alex. Kok sama sekali tidak mau memikirkan perasaanku sedikit saja, aku ini Ibu dari putra kandungmu." Sahut Septi yang masih berharap Alex memikirkan perasaannya ataupun membalas perasaan cintanya yang begitu mendalam pada diri Alex.
"Sudah kukatakan dari awal aku masih butuh waktu. Mencintai sangatlah mudah Septi, tapi untuk melupakan itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Aku harap kau mau bersabar dan tidak melakukan tindakan bodoh seperti tadi. Jangan Kau pikir aku tidak tahu keributan apa yang sudah kau buat dengan Arumi dan juga suaminya." Ucapan Alex sontak membuat Septi terkejut.
Bagaimana bisa Alex mengetahui pertengkaran antara dirinya dan Arumi, padahal saat itu Septi sangat tahu betul, jika Alex masih berada di kediaman kedua orang tuanya.
"Kenapa diam? Kau tidak menyangka aku mengetahuinya bukan?" Tanya Alex yang kini menatap tajam Septi yang terdiam.
"Kamu minta aku memperhatikan dan mengerti perasaanmu. Bagaimana bisa aku memperhatikan dan mengerti perasaan wanita sekejam dirimu? Arumi tidak pernah bersalah padamu, begitu juga dengan keluarganya. Di sini akulah yang bersalah padamu Septi. Kenapa kau libatkan mereka dalam permasalahan kita?" Tambah Alex.
Septi tersenyum kecut mendengar pertanyaan Alex yang menyudutkan dirinya.
"Aku bisa seperti ini karena dirimu Alex. Ya kaulah yang memang bersalah dalam hal ini. Tapi dia, Arumi adalah wanita pertama yang paling aku benci di dunia ini. Karena dia adalah wanita yang sangat kau cintai. Karena dia yang membuatmu tak mau bertanggung jawab atas perbuatanmu padaku." Jawab Septi dengan penuh penekanan.
"Bicara dengan wanita yang keras kepala sepertimu hanya akan membuang waktuku saja. Jika kau ingin aku mencintaimu, berubahlah. Aku tidak ingin memiliki seorang istri yang sangat kejam dan berhati busuk seperti diri mu saat ini." Ucap Alex yang akhirnya menyerah dan tidak ingin meneruskan pembicaraannya dengan Septi yang bekeras hati.
Sementara itu dikediaman Tuan Antoni. Adnan dan keluarga Zeline tengah berpesta ikan bakar. Di sana juga ada Tuan Brandon dan istrinya yang diundang datang oleh Tuan Antoni.
Mulutnya seakan tak ingin berhenti untuk terus menikmati ikan bakar yang terasa begitu lezat dan sangat memanjakan lidahnya.
"Hahahahaha... besanmu juga besan ku Kak. Aku tidak mendatangkan koki darimana pun. Kokinya hanya asisten rumah tangga ku sendiri Kak, dan peracik bumbunya adalah menantuku dibantu putriku, yang ternyata pandai memasak, sedangkan ikannya adalah milik keponakanku, yang tak lain adalah putra mu. Hahaha...." Jawab Tuan Antoni dengan tawanya yang terus saja mengelegar bagaikan petir.
"Hahaha... Jadi kau baru saja merampok ikan milik putra ku ya? Hahaha..."
"Ya kau benar, kak. Aku bersama menantuku sore tadi sudah mengambil satu kolam ikan milik Barra. Kau tahu bagaimana tampang marahnya, saat ia melihat aku membawa tiga tong besar ke sana. Hahaha... Aku selalu ingin tertawa geli, jika terus mengingatnya." Jawab Tuan Antoni yang mengiyakan dugaan Tuan Brandon.
"Hahahaha... Kasian sekali bocah tengikku. Kau yang merawatnya, tapi Om mu yang menikmatinya. Tenang saja Barra. Daddy akan membalas kekesalan mu pada Om mu ini." Gumam Tuan Brandon di dalam hatinya, sembari ikut tertawa bersama dengan Tuan Antoni.
Saat Tuan Brandon dan Tuan Antoni menyantap ikan sembari berbincang-bincang hangat di halaman belakang. Zeline dikamarnya tengah disibukkan dengan Adnan yang sedang mabuk.
Bukan mabuk minuman, ataupun mabuk janda. Tapi mabuk bau amis ikan. Tiba-tiba saja baru memakan secuil ikan, perutnya terasa di aduk-aduk apalagi mencium bau ikan bakar yang selama ini menjadi menu favoritnya.
Uekk....uekkkk...
"Zeline! Tolong aku Zeline!" Pekik Adanan yang terduduk lemas di dalam kamar mandi.
"Iya Memes tunggu. Aku lagi ambil minyak kayu putih dulu." Sahut Zeline, yang berlari kecil sembari membawa minyak kayu putih di tangannya.
Melihat Zeline yang datang dengan berlari kecil. Adnan sedikit membulatkan kedua matanya.
"Jangan lari sayang nanti kamu jatuh!" Tegur Adnan pada istrinya sebagai bentuk perhatiannya pada Zeline.
"Aduh, bagaimana aku nggak lari kamu-nya bawel manggil aku terus." Balas Zeline.
Tangannya bergerak dengan cepat benua minyak kayu putih ke dalam tangannya kemudian menggosoknya ke indra penciuman Adnan.
"Panas sayang," keluh Adnan manja.
"Gak apa-apa deh panas dikit, daripada kamu muntah-muntah dan lemas kaya gini." Imbuh Zeline yanh segera membantu Adnan untuk bangkit dan keluar dari kamar mandi.
"Kok aku bisa mabuk ya sama ikan bakar, padahal aku suka banget sama ikan bakar?" Tanya Adnan saat Zeline memapah dirinya keluar dari kamar mandi.
"Mungkin karena Kak Barra gak ikhlas, rakyatnya di ambil sama kamu dan Daddy." Jawab Zeline asal, yang sedikit ada benarnya.
Barra memang tidak terlalu mengikhlaskan ikan-ikannya di ambil oleh Adnan dan Tuan Antoni. Jika saja tak memandang Tuan Antoni dan Arabella. Pasti dia tak akan mengizinkan Adnan mengangambil ikan-ikannya.