My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Aku bukanlah tujuan hidupmu



Setelah serangkaian prosesi dilakukan, akhirnya Arumi duduk bersebelahan dengan Barra di sofa. Senyum manis belum juga luntur di bibir Arumi, ketika kedua orang tua dan juga mertuanya memperhatikan dirinya.


Disaat duduk berdua itulah, ia terun mendengar Barra terus menggerutu.


"Lama sekali, kapan mereka pulang?" Gumam Barra yang tak jelas bicara dengan siapa.


Ia terlihat melonggarkan dasi yang ia kenakan dan juga jas yang telah ia kepas. Ia juga melinting lengan bajunya hingga ke siku. Tanpa aba-aba dia langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang yang ia duduki dengan Arumi, ia jadikan paha Arumi sebagai bantalan tidurnya. Barra mengambil tangan Arumi dan meletakkan di atas kepalanya.


"Usap kepala saya, saya mau tidur, capek!" Perintah Barra yang langsung dilakukan oleh Arumi.


Tak berapa lama, Barra pun masuk ke alam tidurnya. Melihat putranya tidur. Miranda datang menghampiri Arumi, menantu barunya.


"Arumi, terima kasih sudah mau menikah dengan Barra. Terima kasih sudah membuat anak Mommy bisa tidur setenang ini. Mommy berdoa, semoga pernikahan kalian langgeng, sampai maut memisahkan kalian. Tolong terus bersabar dalam menghadapi sikap dan sifat Barra yang terlalu egois pada mu nantinya, ya." Ucap Miranda sembari mengusah punggung Arumi secara perlahan.


"Iya Nyonya, saya akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Pak Barra, sesuai dengan keinginan Nyonya dan Tuan."


"Arumi, jangan panggil kami dengan panggilan itu lagi, biasakan dirimu memanggil kami Mommy dan Daddy, seperti Barra memanggil kami. Karena mulai hari ini kamu sudah menjadi anak kami juga Nak."


"Tapi Nyonya, pernikahan ini harus disembunyikan sesuai keinginan Pak Barra, jika saya---," ucap Arumi terpotong.


"Kamu boleh memanggil kami Nyonya dan Tuan jika di muka umum, tapi jika hanya ada kita, keluarga mu sendiri, biasakan panggil kami dengan panggilan Mommy dan Daddy. Paham?"


"Paham Mo-mommy." Lidah Aruminterasa kelu tak biasa memanggil Miranda dengan panggilan itu.


Baru kali ini, ia merasa diterima dan dihargai kehadirannya, setelah kejadian itu terjadi.


"Baguslah kalau kamu paham, Mommy pamit pulang ya, kapan-kapan mainlah ke mansion. Temani Mommy disana jika kamu ada waktu."


"Iya Mommy, jika ada kesempatan dan waktu, Arumi akan main ke sana." Jawab Arumi dengan senyum bahagianya. Ia mencium punggung tangan ibu mertuanya, ketika sang ibu mertua beranjak pergi. Dan Miranda membalas dengan mengecup kening menantunya dengan lembut.


Begitu pula dengan Arabella dan Abimanyu bersama Anaya, yang akhirnya pamit pulang dengan diantarkan kembali oleh Stave. Sebelum Arabella pulang, ia menasehati putrinya agar bisa melayani suaminya dengan baik dan melakukan semua yang sudah dicontohkan Arabella selama ini pada kedua putrinya.


Arumi mengangguk patuh dan berjanji akan melakukan apa yang dikatakan sang ibu padanya. Ketika keluarganya berpamitan dan membiarkan suaminya tetap beristirahat dalam pangkuannya. Arumi merasa bersedih, karena pernikahannya yang mendadak ini tak dihadiri oleh Adnan, sang kakak. Bukan karena tak di undang atau pun tak diberitahu. Tapi menurut keterangan Anaya. Kakaknya itu menolak hadir karena tak diizinkan oleh sang istri.


Matahari mulai tenggelam, sang senja pun mulai datang, dengan mata yang mengerjap-ngerjap Barra bangun dari tidurnya.


"Sudah Pak, semuanya sudah pulang, hanya tersisa Bi Ijah di sini. Kata Mommy-nya Bapak, dia akan kerja di sini, membantu saya bersih-bersih apartemen dan menyediakan makan untuk Bapak." Jawab Arumi yang menatap Barra yang masih berbaring dipangkuannya.


"Hemmm. Tapi saya tidak mau makan jika bukan masakan kamu, dia boleh membantu kamu pekerjan yang lain tapi tidak dengan memasak." Balas Barra yang juga tengah menatap dirinya.


"Iya Pak, saya akan tetap memasak untuk Bapak."


"Bagus, jadilah istri yang penurut, sekarang bersihkan diri mu dan ganti juga pakaian mu." Sahut Barra yang beranjak dari tidurnya.


Ia langsung berdiri dan pergi meninggalkan Arumi, ia pergi ke kamar pribadinya dan duduk-duduk di balkon kamarnya. Ia melihat sang senja yang mulai pergi menghilang, berganti dengan sang malan yang datang.


"Pinkan, kini aku sudah menikah. Aku menikahi wanita yang tak aku cintai. Saat ini ia memiliki raga ku, tapi tidak memiliki hati ku. Karena hatiku ini, sangat sulit berpaling dari mu, meski kamu telah mengkhianati ku." Ucap Barra pada gelapnya malam.


Berjam-jam ia berada di balkon, bicara seorang diri pada sang malam, mencurahkan isi hatinya tentang sang pemilik hati yang telah berpaling darinya. Hingga ia tak menyadari Arumi berada di belakangnya. Mendengar semua curahan hati suaminya dari hati yang paling terdalam.


"Pak Barra," panggil Arumi pada Barra yang masih senantiasa berdiri menatap sang malam.


Barra menoleh sejenak ke arah Arumi, kemudian kembali lagi menatap sang malam yang gelap, segelap hatinya saat ini. Meski ini adalah hari pernikahannya, namun ia tak merasakan sebuah kebahagiaan.


Arumi berjalan menghampiri Barra yang berdiri dengan menopangkan kedua tangannya pada pagar pembatas balkon. Ia berdiri tepat di samping tubuh suaminya yang terlihat tinggi tegak dan proporsional, mungkin jika ia melepas kemeja baju yang ia kenakan saat ini, pastinya roti sobek yang selalu mengganggu keimanan kaum hawa akan terpampang nyata.


Arumi mengikuti jejak Barra yang menatap langit yang terlihat hitam pekat, seperti pula hatinya saat ini. Memulai pernikahan dengan keterpaksaan bukanlah cita-citanya sebagai seorang wanita. Tentunya setiap wanita selalu mendambakan pernikahan yang meriah dan suka cita dengan pria yang amat dia cintai. Tapi suratan takdir berkata lain. Ia menikah penuh dengan kesederhanaan dan harus disembunyikan, karena atas permintaan sang suami yang belum bisa menerima dengan ikhlas pernikahan ini.


"Pak, kita nggak akan tahu, nasib kita kedepannya seperti apa, dan akan jadi apa kita nantinya. Tapi yang jelas, selagi kita masih bernafas, kita masih memiliki pilihan untuk menentukan jalan hidup kita. Meskipun nantinya hanya takdir yang akan menentukan semuanya." Tutur Arumi yang tetap menatap pada pekatnya langit.


"Apa maksud dari kata-kata mu, Arumi?" Tanya Barra yang menatap Arumi yang masih saja menatap pekatnya langit malam ini.


"Pernikahan ini bukanlah cita-cita Bapak, dan saya bukanlah tujuan hidup Bapak. Saya tak mungkin merantai kaki seseorang yang memang bukan tercipta untuk saya. Teruslah berusaha menggapai cintanya, dan saya berjanji tak akan menghalangi segala usaha dan upaya yang akan Bapak lakukan untuk membawanya kembali. Meski suatu saat nanti saya harus pergi dari kehidupan Bapak dengan hati yang terluka. Percayalah saya akan ikhlas dan terus mendoakan setiap langkah Bapak untuk mendapatkan kebahagiaan bersama dia." Tutur Arumi dengan nafas yang berat dan terasa tercekat.


Ya. Seorang istri mana yang rela dan terima suaminya masih mencintai wanita di masa lalunya. Meski hubungan mereka belum hadir sebuah rasa cinta, namun ketika ijab kabul telah terucap rasa ingin memiliki Barra seutuhnya telah tumbuh di hati Arumi.


Sejenak Barra terdiam, meresapi setiap kata yang di ucapkan Arumi padanya. Ada rasa sakit dan tak terima Arumi bicara seperti itu, namun rasa cinta matinya terhadap Pinkan membuatnya mengabaikan rasa sakit dan rasa tak terimanya akan perkataan Arumi padanya.