My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Bertemu Septi



Zeline tersenyum bahagia saat Adnan, bisa memasukkan makanan ke dalam mulutnya sendiri tanpa drama mual muntah lagi.


Berkat kesabaran Barra, kini Adnan terlihat lebih segar setelah ada sesuatu makanan yang masuk ke dalam perutnya.


Setelah menyelesaikan menyantap makan siang mereka di restoran tersebut. Steve dan Anaya kembali ke perusahaan tuan Anthony, sedangkan Barra, Adnan dan istri-istri mereka memutuskan untuk kembali ke apartemen.


Sesampainya di apartemen lagi-lagi Arumi bertemu dengan Septi. Arumi sedikit mereemas tangan Zeline yang ia genggam, karena saat ini ia tidak berjalan di samping sang suami tapi berjalan bersama sahabat sekaligus kakak iparnya.


"Kenapa?" Tanya Zeline saat Arumi mereemas tangannya.


Arumi tidak menjawab pertanyaan Zeline, tapi ia memberi kode pada Zeline dengan lirikan matanya yang mengarah pada Septi yang berjalan seorang diri.


Zeline yang memahami kode yang diberikan Arumi pun akhirnya mengikuti arah pandangan mata Arumi yang tertuju pada Septi.


Bukannya tidak melihat keberadaan Arumi dan juga Zeline yang tengah memperhatikan dirinya, namun saat manik mata Septi mendapati keberadaan Adnan. Ia pun dengan segera memanfaatkan kesempatan untuk bicara pada Adnan yang sangat sulit untuk ditemui bahkan dihubungi.


Septi sedikit berlari kecil menghampiri Adnan dan juga Barra, yang berjalan di belakang cukup jauh dari Arumi dan juga Zeline.


"Eh mau ngapain tuh dia?" Cicit Zeline saat melihat Septi berlari kecil menghampiri suaminya dan juga Kakak sepupunya.


"Mas Adnan, bisa kita bicara empat mata sebentar saja? Tolong hanya lima menit saja." Ucap Septi yang berhasil menghentikan langkah kaki Adnan dan juga Barra.


"Maaf saya tidak ada waktu dan sedang tidak enak badan." tolak Adnan dengan ketus sembari melirik Zeline.


Adnan langsung saja melanjutkan lagi langkah kakinya, namun dengan cepat tangan Septi mencekal langkahnya, dan seketika itu pula Adnan kembali merasa mual hebat dan ingin kembali memuntahkan isi perutnya.


"Lepas!" Pekik Adnan.


Adnan menghentak kasar tangan Septi yang mencengkram pergelangan tangannya hingga terlepas.


Dengan cepat Adnan segera menyandarkan kepalanya di bahu Barra untuk menghilangkan rasa mual yang tiba-tiba ia rasakan ketika tangannya disentuh oleh Septi.


"Kau benar-benar sakit Mas? Maafkan aku." Ucap Septi ketika ia menyadari wajah pucat Adnan saat menyandarkan kepalanya di bahu Barra.


Adnan menjawab hanya dengan menganggukan kepalanya.


"Baiklah kalau begitu, lain kali tolong beri aku kesempatan untuk bicara padamu. Aku tidak akan mengganggu rumah tanggamu, aku hanya ingin membahas tentang bisnis keluargaku." Ucap Septi yang kembali hanya mendapat anggukan dari Adnan.


Kemudian Septi pun pergi dari hadapannya.


"Sebenarnya dia mau bicarakan tentang bisnis keluarganya yang bagaimana lagi? Bukankah bisnis keluarganya itu sudah gulung tikar?" Tanya Barra pada Adnan.


"Entahlah aku tidak peduli." Jawab Adnan yang masih berusaha mengendalikan rasa mual dan ingin muntahnya di bahu Barra.


Sementara Zeline dan Arumi saat melihat dan mengetahui Adnan menganggukkan kepala bertanda jika suatu saat nanti ia akan memberikan kesempatan pada Septi untuk bicara pun dilanda kecemburuan.


Keduanya tidak lagi menunggu langkah kaki para suami mereka yang masih berada di belakang mereka. Mereka malah melanjutkan langkah kaki mereka menuju unit apartemen mereka masing-masing.


Di dalam lift.


"Kenapa sih Kak Adnan masih aja mau ngasih kesempatan dia buat bicara, harusnya tuh Kak Adnan nggak peduli sama dia?"


Arumi merutuki sang kakak yang masih saja mau memberi kesempatan berbicara berdua dengan mantan kakak iparnya, yang selama ini menjadi sumber penderitaan Arumi, meskipun yang mereka bahas nanti hanya mengenai bisnis. Arumi nampak tidak rela. Begitu pula dengan Zeline.


Ya. Zeline selalu tidak suka dan selalu merasa cemburu jika mereka tidak sengaja bertemu di apartemen ini. Apalagi Septi sering dengan sengaja memanas-manasi dirinya kala tidak sengaja bertemu di apartemen ini.


"Rasanya pengen cepet-cepet pindah dari sini. Kapan sih rumah jadinya?" Oceh Zeline kesal.


Ting! Suara lift berbunyi, pintu lift pun terbuka.


Keduanya keluar dari dalam lift dan berjalan menuju unit apartemen mereka masing-masing.


"Assalamualaikum Mami pulang," ucap Arumi saat membuka pintu unit apartemennya.


Arumi tak mendapatkan jawaban dari salam yang ia ucapkan, sepertinya unit apartemennya kosong.


Arumi menyusuri bagian unit apartemennya. Mencari keberadaan Bi Ipah dan juga Nathan. Saat Arumi tak mendapati keberadaan Bi Ipah ataupun Nathan. Ia dengan cepat segera menghubungi Arabella.


"Bu. Apa Bi Ipah dan Nathan di unit apartemen Ibu?" Tanya Arumi di sambungan teleponnya bersama Arabella.


Bukannya menjawab Arabella malah bertanya pada Arumi.


"Kamu sudah kembali nak?"


"Iya bu. Ibu dimana?"


"Ibu ada di rumah kita, bersama Ayah, anakmu dan juga Bi Ipah. Kami sedang mengecek pembangunan rumah kita. Ayah ingin akhir bulan nanti rumah kita selesai. Ayah jenuh tinggal di apartemen, tidak ada kegiatan." Jawab Arabella dengan suara gaduh para tukang yang sedang beraktivitas membangun rumah mereka.


"Bagaimana bisa bu? Kemarin saja belum jadi apa-apa." Tanya Arumi.


"Bisa saja, Ayah sudah menambah para pekerjanya. Sudah dulu ya, di sini terlalu berisik." Jawab arabella yang kemudian menutup panggilan telepon bersama dengan putrinya.


Ceklek!


Pintu apartemen terbuka bersamaan dengan Arabella yang menutup panggilan telepon putrinya.


"Assalamualaikum, Papi pulang!" Salam Barra saat ia memasuki unit apartemennya.


"Waalaikumsalam," jawab Arumi ketus, sembari melirik tajam suaminya yang sedang membuka sepatu di muka pintu.


"Kenapa jutek gitu? Marah?" Tanya Barra pada Arumi yang masih setia melirik dirinya dengan tatapan tajam.


Alih-alih marah, Arumi malah berlari memeluk tubuh Barra, hingga Barra yang sedang meletakkan sepatu di lemari sepatu jatuh tersungkur dilantai karena tak siap mendapatkan pelukan Arumi yang menjatuhkan tubuhnya.


Brukk


"Aduh Mami," rintih Barra sembari mengelus bokong dan pinggangnya yang sakit namun sama sekali tidak dipedulikan Arumi.


Arumi malah naik ke atas tubuh Barra.


"Mau ngapain Mih?" Tanya Barra yang takut dengan tatapan istrinya yang menakutkan.


Ya. Arumi sedang menatap Barra dengan tatapan horornya. Ingin sekali Arumi tertawa melihat ekspresi ketakutan suaminya saat ini. Namun ia urungkan.


Dengan cepat Arumi menyambar bibir Barra dengan buasnya. Tak lupa tangannya terus bergerak membuka kancing kemeja yang dikenakan oleh suaminya. Hingga dada bidang suaminya yang seksi itu terlihat jelas di mata Arumi.


"Mami mmmmphh..." Lenguh Barra saat Arumi bergerak aktif menciumi bagian tubuhnya yang lain.


"Stop Mami, nanti ada Bibi, jangan di sini!" Ucap Barra yang berusaha menghentikan pergerakan tangan Arumi yang ingin membuka tali ikat pinggangnya.


"Mereka ada di rumah, sedang mengecek pembangunan rumah bersama Ayah dan Ibu," jawab Arumi.


Barra tersenyum senang mendengarkan jawaban Arumi. Barra segera bangkit dan mengunci dari dalam pintu ini apartemennya, setelah itu menggendong tubuh istrinya ke sofa ruang keluarga.