My Stupid Boss I Love You

My Stupid Boss I Love You
Penyambutan



Setelah drama di meja makan ketiga pasang suami istri ini akhirnya berangkat juga ke kantor. Ketiga pasangan ini berjalan beriringan setelah berpamitan dengan Abimanyu dan Arabella yang tengah sibuk memomong cucu pertama mereka yang sebenarnya.


Nathan sama sekali tidak rewel ditinggalkan oleh Arumi dan juga Barra. Karena memang sehari-hari Nathan terbiasa dengan Arabella dan juga Abimanyu.


Jika Adnan dan Steve berangkat tanpa menggunakan supir, lain halnya dengan Barra. Ia kembali memperkerjakan Akri pada porsi sebenarnya, yaitu seorang supir. Karena biasanya Akri di tugaskan Barra mengurus kebun sayuran dan buah-buahan yang sengaja ia beli untuk kesibukan Ayah mertuanya dimasa pensiun seperti saat ini.


"Sudah siap Tuan," tanya Akri dari balik kemudinya.


"Hemm, berangkat Kri!" Perintah Barra pada sang supir.


"Pak Akri nanti mampir dulu di tukang bubur pengkolan depan ya!" Pinta Arumi sembari mengelus perutnya.


"Kamu laper lagi Mih, gak salah hah?" Tanya Barra yang melirik Arumi dengan tatapan tak percaya. Pasalnya istrinya ini sudah membantu menghabiskan makanan yang ada di dalam piringnya tadi, agar tidak di marahi oleh ibu mertuanya.


"Ya gak salah Pih, aku ini busui. Jadi gampang laper kaya ibu hamil aja. Lagi cuma ngemil bubur aja kok." Jawab Arumi santai, namun jawaban Arumi mampu membuat Barra menggelengkan kepalanya berulang-ulang.


Sesampainya di tukang bubur. Arumi dan Barra turun untuk membeli bubur, awalnya hanya Arumi yang berniat membeli tapi setelah Barra berpikir-pikir, ia juga jadi ingin makan bubur langganan sang istri itu.


Barra dan Arumi berjalan sembari bergandengan tangan. Mereka menjadi pasangan sempurna yang sangat romantis di pagi hari ini, yang satu cantik bak bidadari dan yang satunya tampan bak Arjuna Banyak pasang mata yang memandang iri pada keromantisan mereka pagi hari ini.


Sesampainya di gerobak bubur. Betapa terkejutnya Arumi dan Barra, melihat dia lagi dan dia lagi. Ya, Arumi dan Barra kembali bertemu anggota keluarga mereka yang juga tengah memakan bubur ayam terlebih dahulu dari mereka. Siapa lagi yang keduanya temui jika bukan kedua pasang suami istri yang kini tengah cengar-cengir melihat Arumi dan Barra.


"Hah, pantas saja jalan begitu cepat, mencuri start ternyata mau nyangkut di sini." Celoteh Barra yang mengambil dua kursi duduk. Satu untuk dirinya yang langsung ia duduki dan satu untuk istrinya yang tengah memesan bubur untuk Barra, dirinya dan juga Akri sang supir.


Ketiga pasang suami istri ini pun akhirnya kembali menikmati sarapan bersama dengan penuh ke khusuan.


"Kamu itu makan sambel dibuburin Mih, bukan bubur di sambelin. Seharusnya tadi bilang sama abang buburnya pesan sambel bukan pesan bubur! Heran aku tuh sama kamu." Tegur Barra sambil mengomel.


Tingkah laku Barra kini sudah persis seperti Arabella, hampir seperti pinang dibelah kampak. Bawel dan suka marah-marah.


"Diem Pih! Bawel banget makan di sini! Malu sama muka, ganteng-ganteng mulut kaya emak-emak." Jawab Arumi yang memilih makan bubur sambil memunggungi Barra. Tanda jika ia tak mau di ganggu.


Barra yang kesal di punggungi, akhirnya menghabiskan sate hati ayam yang harusnya dimakan berdua oleh sang istri, karena sudah tidak ada lagi. Melihat Barra yang kesal dengan adiknya. Adnan merebut mangkok Zeline dan menunjukkannya pada Barra.


"Liat nih! Sama 'kan! Gak jauh beda!" Ucap Adnan saat menunjukkan mangkok Zeline pada Barra.


Begitu pula dengan Steve, ikut-ikutan Adnan menunjukkan mangkok Anaya yang lebih parah dari Arumi dan Zeline.


"Istri ku juara sambel hahahaha...." Ucap Steve dengan bangganya.


"Kau tak marah Steve?" Tanya Barra pada Steve.


"Aku sudah lelah untuk marah. Aku serahkan saja pada Tuhan. Biar dia yang tegur istri tercintaku ini." Jawab Steve pasrah.


Mendengar jawaban Steve, Adnan langsung beracting muntah. Suasana hati Barra yang tadinya kesal jadi baik kembali. Ia malah menertawakan tingkah Adnan yang masih saja tidak bisa berdamai sedikit saja dengan Steve.


"Lemah sekali kau, Steve!" Cela Adnan sembari menengguk segelas air mineral.


"Ayo Pih." Ajak Arumi saat ia telah membayar semua bubur yang mereka makan.


"Ntar dulu, ngabisin sebatang dulu ya Mih. Gerah." Ucap Barra sembari menyesap rokok di tangannya."


"Ishhh.... Ngerokok terus. Duit dibakarin." Omel Arumi yang merebut rokok di tangan suaminya lalu membuangnya.


"Yah, sayang banget masih panjang." Barra berkata sembari menatap sedih rokok yang baru dua kali hisap itu.


Mereka pun melanjutkan kembali perjalanan ke perusahaan. Di dalam perjalanan, Arumi sempat-sempatnya tidur dalam pelukan Barra, begitu pula dengan Barra. Oerut yang kenyang dan tidak ada aktivitas seperti biasanya membuat mereka memgantuk.


Sampai mobil yang dikemudikan Akri sampai di lobby. Barra dan Arumi masih asyik memejamkan mata, padahal para karyawan dan karyawati sudah berjejer dari depan pintu lobby perusahaan demi menyambut kembali kedatangan Tuan muda mereka.


Merasa ada yang tidak beres Kevin pun datang menghampiri mobil yang ditumpangi oleh Barra. Ia mengetuk kaca jendela sisi kanan depan mobil, hingga Akri membuka kaca jendela mobil yang ia kemudikan.


"Tuan dan Nyonya Muda tidur, Pak." Akri berkata sembari menunjukkan kedua majikannya yang duduk di belakang.


Kevin pun menengok ke arah Barra dan juga Arumi. Ia menggelengkan kepala melihat keduanya yang tidur saling berpelukan seperti itu.


Ekhemm....ekhemmm [Kevin berdehem dengan suara lebih keras, agar keduanya bangun].


Dengan mata yang mengerjap-ngerjap Barra bangun dari tidurnya.


"Selamat pagi Tuan Barra." Ucap Kevin sembari memberi hormat pada Barra.


"Pagi," jawab Barra dengan suara paraunya.


"Bangun sayang, kita sudah sampai." Ucap Barra saat ia mencoba mebangunkan istrinya.


"Khemmm... Udah sampai ya, kok cepat banget sih?" Arumi berkata sambil berusaha membuka matanya yang masih terasa lengket.


"Enak banget ya Pih, tidur kita tadi. Biasanya kita lagi sibuk nih di rumah sama kerjaan rumah yang gak ada habisnya."


"Huum Mih. Masuk yuk, mereka sudah berdiri terlalu lama nungguin kita."


"Ok Pih." Jawab Arumi, yang segera bergegas keluar dari mobil sang suami.


Kevin membukakan pintu untuk Barra dan menunduk hormat pada Tuan mudanya yang telah kembali ke perusahaan. Barra berjalan dengan gagah sembari menggandeng mesra tangan Arumi.


Banyak karyawati yang iri dan baper saat melihat keromantisan mereka berdua. Arumi terus menebar senyum ramah dan bersahabat di seepanjang ia melewati karyawan dan karyawati perusahaan, yang merupakan rekan kerjanya terdahulu.


Langkah Arumi terhenti ketika ia melihat Kakak ipar sekaligus teman dekatnya saat kuliah, ikut berbaris menyambut kedatangan dirinya dan sang suami. Arumi menarik tangan Zeline yang masih membawa tas kerjanya. Ia tahu betul jika Zeline datang terlambat, karena mereka sebelumnya sudah bertukar pesan singkat di WAG yang dibuat oleh Anaya yang berisikan empat orang, dimana ada Arabella, Zeline, Arumi dan Anaya tentunya.


Semua karyawan dan karyawati memandang heran dengan kedekatan Arumi dan Zeline , terlebih Karin. Namun tidak dengan Indri dan juga Kevin yang sudah mengetahui hubungan dekat keduanya yang merupakan saudara ipar.