
"David bagaimana kondisimu?" tanyaku memasukki ruangan tempat David dirawat.
"Saya, tidak apa-apa tuan, hanya luka ringan terkena pecahan kaca." Balas David, kulihat lukanya tidak begitu parah.
"Bagaimana itu bisa terjadi? Dan siapa mereka? " tanyaku, aku ingat perkataan Niluh tadi pagi.
"Saya diikuti oleh beberapa mobil saat sedang menuju ke kantor, apakah anda tau wilayah seruni?"
"Ya, jalan pintas menuju kantor maksudmu?"
"Benar tuan, di sana terdapat banyak jurang bukan?" kata David.
"Benar, ada apa?"
"Saat itu mobil saya didorong ke arah jurang oleh mereka?"
"Apa?! Tapi bagaimana kau bisa selamat?" tanyaku, sungguh aku sangat penasaran siapa mereka itu.
"Beberapa mobil lain datang menyelamatkan saya tuan."
"Oh iya? Apakah itu polisi?" kukira polisi tidak akan bertindak sebelum kami membuat laporan.
"Bukan, entah siapa mereka. Siapa penjahat dan siapa penyelamatku, saya sungguh tidak tau tuan. Tetapi mungkin mereka sedang mengincar tuan dengan menyingkirkan saya dulu." Kata David sambil berfikir.
"Apa maksudmu David?"
"Berhati-hatilah tuan, saya yakin sang penolong itu juga bukanlah orang biasa."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Sungguh aku tak akan mengampuni siapapun yang telah berani menggangguku dan keluargaku. Begitu juga dengan David, aku sudah menganggapnya sebagai keluargaku.
"Tiba-tiba saja saya teringat Pramuja, tuan."
"Pram? Ada apa dengannya?" tanyaku, mengapa tiba-tiba David menyebut ayah mertuaku.
"Sekilas saya seperti melihatnya di mobil penolong itu, apakah tuan yakin Pram masih berada di rumah sakit?"
"Tidak mungkin David, aku yakin Pram masih berada di rumah sakit meskipun aku selalu gagal untuk menemuinya di ruang ICU, tetapi aku yakin jika benar Pram sudah kembali, ia pasti tidak akan membiarkanku hidup bersama putrinya." Jawabku, kembali mengingat kesalahanku.
"Jika memang begitu, mungkin saya hanya salah lihat hari ini."
"David, apa menurutmu Pram akan memaafkanku? Setelah semua yang kulakukan padanya dan juga Ana?" lihatlah, sekarang aku mulai ketakutan. Bukan takut kepada penjahat itu tetapi lebih takut pada Ayah mertuaku.
"Humm, sepertinya itu mustahil tuan."
"Apa maksudmu? Jadi dia benar-benar akan memisahkanku dengan Ana setelah ini?" tanyaku. Sial, David membuatku takut saja.
"Tenang tuan, jodoh tidak akan kemana. Lagipula bukankah Yoshi Junior akan segera terbit?" ucapnya sambil tertawa.
"Haha, kau benar David. Pramuja tidak akan punya alasan untuk memisahkanku dan Ana setelah ini."
"Tapi tuan, jika saya menjadi Pram, maka saya akan membawa putri dan cucuku pergi dari anda. Haha." Kata David, sungguh apa kepalanya terbentur sesuatu hari ini hingga membuatnya sebercanda ini padaku.
"Kau ini! Sudah istirahatlah, aku akan menyelidiki kasus ini." Kataku sambil keluar dari ruangan David.
Aku bersyukur asisten pribadiku itu selamat, David adalah asisten terbaik almarhum papa. Bahkan, dia juga menjadi saksi kebucinanku pada Ana saat masih SMA dulu hingga segala hal bodoh yang telah kulakukan pada Ana, David pun tau.
Sungguh aku ingin tertawa saat mengingat masa lalu, saat aku meminta David untuk terbang ke Bali hari itu juga hanya untuk membelikan gelang Bali untuk Ana.
Aku sangat beruntung memiliki asisten seperti David, aku berterima kasih pada Ayahku atas peninggalannya ini. Sungguh robot penjaga terbaik yang kumiliki adalah David.
***
Tiba-tiba saja aku ingin membelikan bunga untuk bumilku di rumah, meskipun Ana tidak begitu menyukai bunga, biarlah aku hanya senang saja memberinya.
Ponselku berdering, sebuah panggilan dari Ana.
"Yoshi, ada dimana?" tanyanya dari seberang sana.
"Di hatimu sayang." Jawabku menggodanya.
"Aku serius Yosh, apa David baik-baik saja?"
"Ya, sayang. Tidak cukup parah kondisinya, tumben sekali meneponku? kangen?" tanyaku.
"Tidak, aku hanya ingin tau dimana dirimu sekarang!"
"Jadi tidak kangen nih?" aku suka sekali membuatnya kesal.
"Dimana dirimu sekarang?"
"Sudah kubilang, aku di hatimu!"
"Yoshi!! cepatlah pulang." Kata Ana, aku bisa merasakan kekesalannya.
"Sebentar sayang, aku sedang berada di toko bunga." Jawabku jujur.
"Untuk apa? coba tunjukkan fotomu."
"Ya, baiklah.."
"Yosh, kau benar-benar berada di toko bunga?"
"Tentu, ini buktinya." Kataku sambil menunjukkan sebucket bunga mawar bertuliskan Florida Florist.
"Ah, aku tidak suka bunga Yoshi, pulanglah jangan membuang waktu."
"Berjemur." Jawabnya singkat.
"Tunjukkan fotomu!"
"Tidak, pulanglah Yosh!" ucap Ana tidak ingin mengirimkan fotonya.
"Kau curang An!" ucapku. Namun, tiba-tiba Ana mengirimkan fotonya kepadaku.
Aku pun terpaku melihatnya, sungguh Ana ini bodoh atau apa mengapa memakai baju seperti itu, apa dia sengaja ingin menggodaku.
"Siapa yang mengambil gambar ini?" tanyaku penasaran.
"Niluh, siapa lagi memangnya?"tanyanya.
"Cepat masuk ke kamar!" perintahku, aku tak ingin para penjaga melihat keindahan istriku ini.
"Tidak ada siapa-siapa Yoshi, aku sedang berada di balkon kamar kita." Ucapnya tetapi dia tidak tau jika aku juga menaruh penjaga di sisi kiri balkon.
"Dengarkan aku An."
"Aku masih ingin berjemur aku bosan berada di kamar terus." Ucapnya memelas.
"Dengarkan aku, ayo masuklah ke kamar !" kataku sedikit membentaknya
"Tidak mau, hikkss" dia mulai menangis lagi.
"Sayangg, dengarkan suamimu ini, masuklah ke kamar dan istirahat, baby butuh istirahat." Aku mencoba membujuknya.
"Tidak, kau jahat! kau lebay!" katanya, astaga dia pun malah semakin ngambek sekarang.
"An, dengarkan aku.. "Ucapku, tetapi Ana telah menutup teleponnya. Dia benar-benar sangat sensitif sekarang.
***
Aku pun melajukan mobilku menuju mansion, samar-samar kulihat ada dua mobil sedang mengikutiku dari belakang.
Mobil itu semakin kencang dan hampir menabrak bagian belakang mobilku. Namun, secara tiba-tiba ada mobil lain tanpa plat nomor juga mengikutiku.
Sungguh, apakah ini yang dimaksud oleh David, aku tidak akan takut. Mereka semakin kencang mengerjarku tetapi mobil tak berplat nomor itu lagi-lagi berhasil menghalanginya.
Sekarang aku sadar di depan sana ada satu mobil yang juga tanpa plat nomor. Lalu di belakangku pun ada satu mobil berjenis demikian. Mungkin ini yang dimaksud David dengan penyelamat dan mobil yang berusaha mengejarku itu adalah penjahatnya.
Aku ingin sekali menghentikan mobil ini agar aku tau siapa mereka sebenarnya tetapi wajah Ana kembali muncul di otakku. Seakan memperingatkan diriku untuk cepat pulang.
Aku pun memutuskan untuk mengambil jalan pintas, sementara empat mobil itu sedang kebut-kebutan mengejar satu sama lain. Sungguh ini sangat keren seperti sedang menonton fast furious.
Jika saja waktunya tidak seperti ini, sudah pasti aku akan ikut dalam adegan kebut-kebutan itu, sayangnya si penyelamat itu sepertinya sangat memanjakanku dan membuatku terlihat bodoh dalam kisah ini.
***
Tiba di mansion.
"Sayang, aku pulang." Ucapku di depan pintu kamar kami.
"Sayaang ..." Tidak ada sahutan. Ana benar-benar marah padaku.
"Niluh, apa nyonya baik-baik saja?" tanyaku pada Niluh yang sedang membawakan makan siang untuk Ana.
"Nyonya sering menangis tuan, bahkan saat saya tidak mengijinkannya untuk keluar ke balkon beliaupun juga menangis." Ucap Niluh dengan jujur.
"Benarkah Niluh?" tanyaku.
"Ya tuan, untuk makan saja kadang harus berdrama dulu, nyonya sangat sensitif akhir-akhir ini mungkin karena pengaruh hormon kehamilan."
"Baik Niluh, berikan makanannya padaku dan bukakan pintu ini dengan kunci cadangan."
***
"Sayang.." Ucapku sambil mengampirinya yang sedang membenamkan wajahnya ke bantal.
"Hey, jangan marah, aku tak bermaksud seperti itu."
"Yoshi, kau sangat berlebihan."
"Astaga, aku hanya tidak ingin kau berada di luar ruangan terlalu lama dengan pakaian seperti itu," Ucapku, sepertinya akan butuh waktu lama untuk menghentikan aksi ngambeknya ini.
"Sayang, kemarilah.. " aku mencoba membalikkan tubuh tengkurap itu.
"Tidak mau!" ucapnya ketus.
"Apa kau mau aku membuat kissmark di punggungmu seperti saat itu!! " kataku mencoba memancingnya.
"Dasar mesum!!" Kata Ana seketika membalikkan tubuhnya dan memelukku.
Wanita memang sulit dimengerti, katanya marah tetapi main peluk-peluk. wkwk
Dasar lebay ! tunggu aja sampai Ayahku datang Yoshi! 🤣🤣