
Hari itu di kediaman Luby.
Shian berjalan tergesa-gesa, ia mengibaskan tangannya, sambil sesekali merapikan rambutnya yang acak akibat tangan jahil Janeth, gadis culun sahabat baiknya.
"Hah, dasar perempuan gila!"
"Lihat saja, lain kali aku akan benar-benar membuang kacamata pantat botol itu ke tong sampah jika ia melakukannya lagi!" Shian sangat kesal pada Janeth, gadis yang usianya dua tahun lebih muda dirinya itu selalu saja mengerjai Shian, membuatnya kesal dengan mempermainkan perilaku 'over hygiene'nya.
Shian mengidap OCD atau Obsessive Compulsive Disorder, yaitu semacam gangguan mental dimana ia sangat terobsesi pada kebersihan, sangat berbanding terbalik dengan Janeth, gadis yang cenderung acuh pada kebersihan, bukan berarti jorok, ia hanya berlaku biasa saja, menjaga kebersihan sesuai standard yang ada, tidak seperti Shian.
"Dav, ambilkan wipes, ambilkan clorine dan juga virox5, sanitasi kamar dan seluruh ruangan di mansions ini!" ucap Shian pada pria paruhbaya yang seusia dengan ayahnya itu.
"Baik baby bos!" ucap David, robot kesayangan keluarga Luby. David terus saja memanggilnya dengan baby, meskipun Shian tidak menyukai panggilan itu.
Tiba-tiba saja, seorang gadis remaja, bermata bulat, pipi gembul dan rambut yang lurus kecoklatan datang, memeluk Shian dari belakang.
"Kak baby!!" ucapnya yang kini berlayut pada pundak Shian.
"Little, hentikan jangan memelukku seperti itu!" ucap Shian pada Gwen, adiknya yang hampir seumuran dengannya itu.
"Hah! apa ini?!" teriak Shian saat melihat bajunya kotor dan dipenuhi dengan noda kecoklatan, akibat ulah adiknya, ia sempat akan mengamuk pada Gwen, namun tidak jadi saat ia melihat adiknya tengah melakukan sesuatu.
"Little apa yang kau lakukan? jangan!" Shian menutup telinga dan matanya, ia sangat panik dan ketakutan.
"Apa Kak?" Gwen kebingungan, bukan kebingungan karena melihat kakaknya yang sok bersih itu, karena hal itu sudah biasa baginya, tetapi ia justru tak tau apa yang sedang dikeluhkan oleh kakak sematawayangnya tersebut, Gwen merasa tak ada yang kotor dari dirinya.
"Jangann Little, buang benda itu! please!" Gwen masih tak mengerti saat kakaknya menunjuk mangkuk di tangan Gweneth.
"Kak, kau membuatku pusing! apa yang kotor? mana??" ucap Gwen berputar menunjukkan tubuhnya yang ia anggap bersih.
"Jangan makan tanah Gwen!" Shian semakin histeris saat melihat adiknya memasukkan satu sendok butiran berwarna kecoklatan ke mulutnya.
"Kak, ini bukan tanah! coba kakak perhatikan!" ucap gadis itu sambil mendekatkan mangkuk itu ke arah Shian, pemuda itu semakin panik hingga ia harus naik ke atas sofa.
"Itu tanah Gwen! apa kau sudah gila! bahkan ada cacing mengeliat di atasnya! lihat itu!" Shian semakin kacau saat mendapati adiknya memakan butiran tanah itu dengan sangat lahap.
"Aahh no no no!! Mama! Little makan tanah!" Shian semakin tak karuan, wajah putihnya kini memerah, urat kehijauan seperti milik ayahnya pun mulai tampak.
Pemuda itu pun pingsan, lalu datang seorang wanita yang berusia sekitar 40 tahunan, dengan perutnya yang membuncit, ia masih sangat cantik sama seperti 18 tahun yang lalu, Ana berjalan terengah sambil memegangi pinggangnya yang sakit, akibat menopang kehamilannya yang kini memasukki usia tujuh bulan.
(Anak ketiga genkk?? 😍😆)
“Baby, ada apa? Kuman mana lagi yang mengganggumu sayang?” tanya Ana, tanpa tau bahwa putranya tengah pingsan.
“Ma, kak baby pingsan,” ucap Gwen masih dengan butiran hitam itu di mulutnya, Ana pun terkejut saat melihat gadis cantiknya itu memakan sesuatu yang mirip dengan tanah, tetapi ia lebih panik lagi saat melihat apa yang terjadi pada putranya.
“Hah? Baby pingsan? Astaga!” Ana pun menghampiri putranya yang tergeletak di sofa fancy itu, memegangi keningnya, tangannya, lengannya, semuanya tak ada yang luput dari pemeriksaan ibu hami itu.
“Nyonya hati-hati,” David, khawatir saat melihat majikannya panik dan cemas. Dia tau kehamilan di usia Ana saat ini sangat mengganggu istri dari bosnya itu.
“David, lakukan sesuatu! Telepon ambulance!” teriak Ana.
“Dan, kau little? Mengapa masih diam disana?"
Apa yang terjadi pada kakakmu?” Ana menatap gadis berpipi chubby itu.
“Ya ampun Nak, memangnya apa itu? Bukankah itu memang tanah?” Ana ingin memastikan makanan itu tetapi saat itu ia sedang sibuk dengan kondisi Shian.
“Ma, ini bukan tanah!”
"Astaga, apa Niluh tidak memasak nasi hari ini, hingga kau harus memakan tanah!"
“Berikan pada mama! Kenapa kau makan tanah ha?” Ana mencoba meraih mangkuk berisi sesuatu itu, tetapi Gwen tetap mencoba mempertahankannya.
“Little, berikan!” Ana berhasil merebut mangkuk itu, hingga membuat putrinya menangis.
Keadaan semakin kacau saat tangisan Gwen semakin kencang, jangankan Ana, David saja kelabakan antara harus menolong siapa terlebih dahulu, Shian yang pinngsan, atau Gwen yang sedang menangis kencang atau Ana, yang harus benar-benar ia pantau keadaannya sesuai mandat dari Yoshi.
Menit berlalu, Ana semakin panik, sebab ambulance tak kunjung datang sementara para pengawal sedang mengambil cuti, mansions benar-benar sepi saat ini, kemudian datangalah pria dengan setelan tuxeo-nya, rambut pomade rapi, this is him, the man who never gets old, Yoshi memasukki mansions dengan setangkai bunga mawar putih untuk istrinya.
“Papa!!” teriak Gwen berlari mengahmpiri ayahnya.
“Uh princessku, apa kau menangis?” tanya Yoshi sambil memeluk putrinya yang beranjak dewasa itu, dengan penuh kasih sayang.
“Pa! Mama mengambil es krim potku!” ucap Gwen masih sangat kekanak-kanakan, dia adalah anak yang selalu dimanjakan oleh Yoshi, apapun keinginannya selalu saja dipenuhi oleh ayahnya itu, berbeda dengan Shian, Shian adalah anak yang sangat mandiri sejak kecil, hanya saja sikap sok bersihnya itu terkadang membuatnya terlihat seperti anak manja. Padahal hal itu terjadi karena Shian pernah mengalami trauma di masa kecil.
Mendengar pengaduan putrinya, Yoshi langsung melihat ke arah Ana dan David, dan juga Shian.
“Ada apa ini?” tanya Yoshi melepaskan pelukan Gwen.
“Sayang, ada apa ini?” ia menghampiri istrinya yang masih berusaha menyadarkan putranya.
“Pa, baby pingsan! Pa!” ucap Ana sambil mengolesi sekujur tubuh Shian dengan minyak kayu putih.
“Astaga, apa dia takut dengan debu lagi?” Yoshi panik dan segera mengangkat tubuh yang hmpir sama dengan besar tubuhnya itu.
“David, ayo bawa baby ke rumah sakit!” ucap Yoshi.
“Sayang, kau di rumah saja ya, aku tidak mau terjadi sesuatu pada kandunganmu,”
“Pa, aku tidak bisa, aku harus ikut!” ucap Ana pada suaminya.
“Little di rumah saja ya sayang,” kata Ana dan menitipkan putrinya itu kepada Niluh.
“Ingat jangan makan tanah lagi,” ucap Ana sebelum benar-benar pergi.
Sepanjang perjalnan, suami istri itu saling berpegangan, mereka sangat khawatir pada Shian, sebab ini bukan pertama kalinya putra mereka itu mengalami hal seperti ini.
“Ma, apa perutmu baik-baik saja?” tanya Yoshi memegangi perut Ana.
“Baik Pa, sungguh ini sangat menyiksa. Bagaimana mungkin di usia ini aku masih harus hamil dan melahirkan sementara Shian masih memiliki trauma, Gwen pun masih sangat amat manja, kau terlalu memanjakannya Pa!”
"Semua ini karenamu Pa! kau harus bertanggung jawab!" ucap Ana, tak pernah berubah, ia selalu saja merajuk dan merajuk pada Yoshi.
“Iya Sayang, tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja, papa kan suami siaga!”
Bersambung..