My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Sakit di dada



Yoshi POV


Aku masih saja belum bisa mendiamkan baby, padahal beberapa cara sudah kucoba, akhirnya aku pun membawanya keluar kamar. Sebelum Ana mengetahui semua ini.


Beberapa kali kuperiksa diapersnya yang mungkin saja sudah penuh. Tetapi sepertinya Ana baru saja menggantinya. Lalu, kucoba untuk menimang baby sambil mengayunkannya pelan, karena sepertinya ia mengantuk.


Kemudian, aku membawanya ke taman untuk mendapat udara segar, akhirnya tangisannya mereda. Ah, aku lega sekali.


"Uh sayang, akhirnya kau berhenti menangis juga," ucapku sambil menciumi pipi gembulnya.


"Dengar, jangan menangis lagi ya. Papa tadi hanya bercanda. Kau akan mendapatkan adik jika saatnya sudah tepat, sayang."


Sisa air mata masih membasahi bulu mata lentik bayi ini, meskipun tangisannya sudah berhenti. Kemudian Ana datang menyusul kami ke taman.


"Shian sayang, Mama datang!" serunya sambil berlari kecil.


"Mas, apa baby menangis?" tanya Ana, sambil membetulkan rambutnya yang lembab. Entah mengapa aku sangat menyukai aroma rambut istriku.


"Tidak sayang, Shian sangat tenang bersamaku," ucapku, jujur saja aku begitu gugup untuk berbohong seperti ini.


(Elehh tukang kibul pro pake gugup-gugup segala Yosh!🤧)


"Ah, anak pintar. Sini sama mama ya, papa kan mau ke kantor." Dia pun meraih dan menggendongnya.


"Eh, kenapa wajah baby memerah Mas? seperti habis menangis, hidungnya saja merah begini," ucap Ana, astaga sepertinya aku akan ketahuan.


"Ah masa sih sayang?" tanyaku. Tetap bersikap tenang.


"Iya Mas, ini lihat deh matanya aja masih basah gini, terus dia juga sesenggukan nih!" Ana semakin mengintrogasiku.


"Mmm sebenarnya tadi baby menangis cukup lama," kataku.


"Kok bisa? Kenapa?" tanya Ana menaikkan intonasi.


"Sepertinya ia mengantuk sayang."


Ana nampak berfikir dan menatapku tajam, seakan dia tau aku sedang berbohong padanya.


"Apa kau mengganggu Shian, Mas?" tanya Ana.


"Mengganggu bagaimana?"


"Tidak tau, mungkin saja di menangis karena dirimu mengerjainya,"


"Aku tidak pernah mengerjai Shian An, aku lebih suka mengerjaimu," kataku sambil tersenyum penuh makna.


"Awas kamu mas!" ucap Ana kesal.


"Sudah sayang, jangan berfikiran negatif terus dong. Shian ngantuk itu!" tuturku sambil menatap ankku yang sedang menguap.


"Ah iya, mungkin saja ia kelelahan setelah perjalanan panjang, aku akan menidurkannya dulu Mas." Akhirnya Ana membawa bayi gembul itu ke kamar. Aku pun menghela nafas panjang.


"Sayang, aku ke kantor dulu ya. Mungkin akan pulang agak sore. Jaga dirimu dan baby," ucapku sambil mencium istri dan anakku.


"Iya Mas, hati-hati. We love you!" ucap Ana menatapku keluar kamar.


"I love you both!"


Aku pun berangkat ke kantor, kulihat David sedang sibuk membuat laporan.


"David," sapaku.


"Selamat pagi, tuan."


"Apa kau ingin mengambil cuti?" tawarku.


"Cuti untuk apa tuan?"


"Bukankah kau akan pergi ke Bali?"


"Ke Bali? Untuk apa, tuan?" tanya David dengan raut wajah bingung.


"Untuk acara pernikahanmu tentu saja, apa kau lupa?" astaga, ada apa dengan David.


"Oh, tidak tuan. Saya tidak akan pergi ke Bali. karena acara pernikahan akan diselenggarakan di Jakarta."


"Benarkah?" tanyaku.


"Benar, orang tua Dianna tidak merestui hubungan kami," ucap David terlihat raut kesedihan di wajah itu.


"Jadi, pernikahan kalian besok tidak akan di hadiri keluarga Dian? bahkan tanpa restu dari orang tuanya?" tanyaku. Jujur saja aku terkejut mendengar ini.


"Benar tuan, perbedaan di antara kami yang menjadi penyebabnya. Saya tau ini tidak benar, tetapi lebih tidak benar lagi jika saya tidak bertanggung jawab atas kehamilan Dianna,"


"Kau benar David, ya sudah. Apa pun keputusanmu aku percaya bahwa kau telah memikirkannya dengan matang."


"Terima kasih, tuan," jawabnya dan aku pun kembali ke ruanganku.


***


Aku pun mengirim pesan pada Ana sebelum meeting dimulai, setelah menunggu lama ternyata tidak ada balasan, mungkin dia sedang sibuk bersama baby. Mengingat Ana masih sangat kaku dengan status barunya sebagai seorang ibu. Akhirnya kutinggalkan ponselku di ruanganku dan aku pun berangkat ke ruang meeting.


Dua meeting terlewati dan hari semakin sore. Aku pun kembali ke ruanganku, kulihat layar ponsel masih saja belum ada balasan dari istriku. Membuatku khawatir saja.


Beberapa kali kutelepon nomor Ana tetapi tetap tidak ada jawaban, nomor mansions pun juga tidak ada terjawab. Astaga, kemana Niluh dan mama sebenarnya.


Aku pun bergegas untuk pulang ke rumah saat itu juga, ingatan tentang kasus penculikan Ana dahulu begitu menghantui kepalaku. Sungguh, aku tidak ingin hal itu terulang kembali.


Tiba di mansions.


"Penjaga, dimana nyonya? Apa terjadi sesuatu?" tanyaku gugup.


"Di kamar, tuan. Sepertinya sedang bersama Niluh," balas penjaga itu. Aneh sekali, mengapa mereka tidak mengangkat teleponku.


Aku pun segera naik ke atas. Kulihat Ana sedang terduduk di bed, sedangkan Niluh sibuk menimang baby.


"Sayang, ada apa? Kenapa tidak menjawab teleponku?" tanyaku kesal.


"Mas, lihatlah ini..." Ana menunjukkan dadanya.


"Astaga, itu kenapa? Mengapa terlihat seperti membengkak?" tanyaku, aku kaget saat melihat payud*** istriku membesar.


"Ini sakit sekali Mas, sejak tadi baby tidak mau menyusu. Hingga ASI-ku terus mengalir," ucap Ana sambil memegangi dadanya dengan kain.


"Tuan, dari tadi siang bos kecil ini tidak mau menyusu. Hingga menyebabkan kondisi nyonya seperti itu," ucap Niluh sambil terus membopong anakku.


Aku masih bingung dengan apa yang terjadi, baby tidak mau menyusu, tetapi mengapa? dan bagaimana payu**** Ana bisa membengkak seperti itu, bahkan bra-nya pun hampir tak mampu menutupi seluruh bagian itu.


"Sayang, apa harus kita lakukan? Apa itu menyiksa?" tanyaku.


"Iya Mas, sangat sakit dan nyut-nyutan," ucap Ana meringis kesakitan.


Niluh meletakkan baby di boxnya sebab si gendut itu sudah terlelap. Dan meminta izin keluar kamar.


"Tuan, saya mau ke kamar nyonya besar dulu."


"Untuk apa? mama sedang apa? apa dia tau tentang ini?" tanyaku.


"Nyonya sedang sakit kepala tuan,"ucap Niluh.


"Ah, ya sudah kau jaga mama saja. Katakan padaku jika terjadi sesuatu."


Niluh pun pergi, dan aku masih tak tau harus berbuat apa, melihat istriku kesakitan memegangi asetnya.


"Sayang, apa tidak ada yang bisa kita lakukan? Lihatlah itu semakin membesar. Apa kita ke dokter saja?" tanyaku. Ah, entah apa yang kupikirkan mengapa melihat buah yang membengkak itu membuatku terangs*ng.


(Yosh, pliss itu sakit banget tau!!! 🙄🙄🙄)


"Aku sudah menelepon dokter mas, tapi belum datang juga. Aku pun sudah memompa ASI ini hingga semua botol kaca penuh," ucap Ana menunjukkan botol-botol kaca yang penuh dengan ASI.


"Apa baby sedang sakit hingga tidak mau menyusu? Tetapi, dia tidak demam sayang, dan tidurnya pun pulas," kataku sambil memeriksa kondisi baby.


"Shian sudah minum cukup banyak pagi ini. Mungkin karena terlalu kenyang, menyebabkan ia tidak mau menyuusu lagi hingga saat ini Mas,"


"Sesekali ia mau menyusu bahkan hampir tersedak karena derasnya ASI. Aku tidak mungkin memaksanya untuk terus minum, Mas."


Ana semakin kacau, hingga kini tangannya menjadi dingin karena menahan rasa sakit itu. Aku pun memeriksa benda kenyal itu. Astaga, kulitnya mulai memerah. Pantas saja Ana sangat kesakitan.


"Sayang, bagaimana ini? apa harus aku yang menggantikan Shian?"


(Hilih modus kamu Yosh 😤😤😤)


"Apa kau gila Mas! yang benar saja!" ucap Ana tetapi sambil memejamkan mata menahan sakit.


"Lalu mau bagaimana lagi? Apa aku harus membangunkan baby agar mau menyusu? Aku tidak tega, An."


"Mas, jangan bangunkan baby," ucapnya semakin mengeratkan tangannya pada ujung tempat tidur."


Aku benar-benar tidak tega melihat istriku lagi-lagi harus mengalami penderitaan seperti ini demi putra kecilku.


"Sayang, biarkan aku membebaskanmu dari rasa sakit itu!"


Sungguh kali aku benar-benar ingin membantu istriku, aku tidak sedang menjalankan modus kejahatan seperti yang kalian pikirkan !!



Maaf baru sempat Up genk gara-gara menahan rasa sakit di dada 🤣🤣.


Mampir juga ke cerita temanku ini ya genk. 😘😘



Cerita karangan fiksi Awal bab memang bertele-tele, para pembaca harus sabar dan terus membacanya agar faham okey? Kisah sepasang suami istri yang terpaksa harus berisah karena kesalah fahaman di malam kekacauan itu. Perusahaan besar sekalipun ternyata dapat lengah. Ilona, ia adalah istri sang CEO yaitu Arthur. Ilona, melarikan diri dalam keadaan hamil, dan ia belum sempat untuk memberitahukan kabar baik ini pada Arthur. 1 tahun kemudian, setelah melahirkan Ilona kembali ke rumah Arthur, namun hanya untuk memberikan anaknya pada Arthur, tujuannya agar ia tau bahwasanya dirinya sudah memiliki seorang anak. Singkatnya 9 tahun kemudian. Sang putra kecil Arthur pun telah tumbuh menjadi anak yang sangat genius terutama di bidang bisnis, yaps ia mewarisi kemampuan dari papahnya. namun rasanya di ultah kali ini ia merasa ada yang kurang yaitu kehadiran sosok seorang Ibu. Nama anak genius itu adalah Afmar. Bagaimana cara Afmar menemukan bundanya kembali? 


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Papa Merindukannya, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1398808&\_language\=id&\_app\_id\=2