
"Kita bisa pulang An," ucap Yoshi memasukki kamarku. Dia tampak biasa saja, tidak seperti diriku, aku masih merasakan sensasi panas di area wajahku karena ciuman kilatnya sesaat tadi.
"Benarkah?" tanyaku, aku sangat senang. Akhirnya aku bisa bertemu dengan Ibu, Luna dan Bapak lagi.
"Ya, kau senang?" tanyanya sambil merapikan barang-barangku di atas meja. Dalam hatiku berkata betapa Yoshi adalah seorang suami yang cekatan dan siaga terlepas dari segala sifat buruknya selama ini.
"Iya, akhirnya bisa kembali ke rumah juga." Ucapku, aku sangat bersyukur untuk ini. Setelah sekian bulan berjauhan dengan keluarga akhirnya kami bisa berkumpul kembali.
Aku melihat ada senyuman tipis di bibir Yoshi. Tapi aku tak peduli, entah rencana apa yang sedang ia susun. Yang jelas aku sangat bahagia untuk saat ini. Tak sabar melihat ekspresi Luna saat melihat kedatanganku nanti.
"Selesai. Sudah siap sayang?" tanya Yoshi yang telah selesai membereskan semua barang dan memasukkannya ke dalam tas.
Sungguh tak dapat dipercaya seorang CEO angkuh sepertinya bisa juga berbenah layaknya ibu rumah tangga. Aku cukup takjub dengan semua ini.
"Aku mau ganti baju dulu." Kataku sambil beranjak turun dari bed. Sejak kemarin aku masih mengenakan piyama dari rumah sakit.
"Jangan turun An, tetaplah di situ." Kata Yoshi sambil membuka tas yang dibawakan ibuku kemarin dan mengambil satu dress berwarna pink.
Dia pun berjalan ke arahku dengan membawa baju tersebut. Segera kuraih kain itu.
"Aku akan berganti baju di kamar mandi." Ucapku.
"Jangan, aku akan membantumu." Kata Yoshi sambil meraih kembali dress itu dari tanganku.
"Tidak, aku bisa sendiri." Kataku, aku tau ini adalah modus Yoshi. Aku tak akan tertipu lagi.
"Jangan keras kepala, ingat infus di tanganmu ini." Katanya dengan serius, aku baru ingat jika akan sangat sulit bila infus ini tidak dilepas dulu.
"Kalo begitu panggilkan suster untuk melepasnya." Kataku.
"Mereka sedang sibuk. Sudah ganti bajumu dulu saja, setelah itu baru lepas infusnya." Kata Yoshi, entah mengapa dia begitu memaksa.
"Baiklah aku akan berganti pakaian. Tapi kau harus keluar dulu." Ucapku, aku rasa aku bisa melakukannya, asal Yoshi tidak ikut campur saja.
"Apa maksudmu An? Aku ini suamimu sekarang, aku akan membantumu. Ini hanya urusan kecil, tolong jangan dibuat rumit." Katanya, mencoba menyadarkanku. Memangnya siapa yang membuatnya rumit, kataku dari dalam hati.
"Ya, baiklah. Aku tidak akan memintamu untuk keluar, tapi biarkan aku melakukannya sendiri." Kataku, sambil meraih dress itu lagi.
"Ya, terserah kau saja. Aku akan duduk di sana." Ucapnya sambil meraih remote TV dan menyalakannya.
Aku pun segera membuka kancing bajuku satu per satu, mungkin Yoshi bisa saja melihat ini tetapi apa yang bisa kulakukan. Haruskah aku memintanya untuk tidak mengintip.
Sedangkan statusnya saat ini adalah suamiku, mana mungkin aku melarang seorang suami untuk mengintip istrinya sendiri. Astaga, persetan dengan semua ini.
Aku bergerak cepat, sebab akan sangat memalukan jika Yoshi melihatku hanya menggunakan bra saja. Ya, aku masih sangat canggung dengan status baru kami.
Lima kancing baju berhasil kulepaskan, Sekarang aku tinggal melepaskan piyama ini saja dan aku pun berhasil. Dari kaca jendela, aku bisa melihat pantulan tubuh bagian atasku yang hanya tertutupi bra saja.
Kulirik Yoshi masih sibuk dengan acara tv itu, tak ingin berlama-lama, segera kuraih dress ku dan saat aku ingin memasukkan bagian lengannya, selang infus itu pun tersangkut.
Ya ampun, bagaimana aku bisa melupakan ini. Sementara besi penyangga infus itu sangat tinggi, mana mungkin aku bisa meraihnya. Aku cukup panik dengan ini, bagaimana pun dadaku terpampang cukup jelas meskipun masih dengan bra yang menutupi dua bukit kembarku.
"Sudah kubilang, jangan memperumit suasana Sayang." Terdengar suara Yoshi yang sedang meraih botol infus itu. Dengan pelan ia membantuku melepaskan bajuku yang tersangkut tersebut.
Aku hanya terdiam dan menurut saja, memang benar kata Yoshi, akulah yang membuat hal sepele ini menjadi rumit.
"Wajahmu memerah An. Kau sangat menggemaskan." Ucapnya lirih. Aku tau kemana kedua bola mata itu melihat, tentu bukan wajahku yang menggemaskan untuknya melainkan hal lain lah yang menggemaskan.
Aku berusaha menutup dadaku dengan kedua tanganku, sebab mata Yoshi terus saja menatap ke arah benda sensitifku ini.
"Kau menyadarinya juga ternyata." Jawabnya dengan senyuman licik.
"Matamu benar-benar minta diremas." Kataku sambil membenarkan baju yang tengah dipakaikan olehnya.
"Kalau begitu remas saja dengan buah dadamu itu. Aku rela An." Jawabnya, dia selalu saja bisa mengolah kata.
"Kau !" jawabku, sambil mencubit perutnya. Ini kali keduaku melakukannya, entah mengapa aku seberani ini. Rasanya kami semakin akrab padahal baru sehari menikah.
"Sudah, ayo pulang, sangat tidak lucu bila aku menyerangmu di sini." Ucapnya tentu saja dengan sejail itu.
"Dasar mesum!" jawabku, selalu saja itu yang kukatakan padanya.
"Apakah dosa jika membayangkan istriku sendiri sebagai objek fantasiku?" ucapnya sambil menempelkan ujung keningnya pada keningku.
"Sudah, ayo kita pulang saja." Kataku, memutus kontak mata kami yang mulai terbentuk.
*****
Di mobil, setelah beberapa menit menempuh perjalanan. Aku baru sadar ini bukan jalan ke stasiun atau bandara. Mengingat saat ini kami sedang berada di Jakarta, dan harus menggunakan kereta atau pesawat untuk ke Surabaya, tempat tinggalku.
"Yosh, bukankah kita akan pulang ke rumah?" tanyaku ambil menatap ke luar jendela.
"Ya, tentu sayang." Jawab Yoshi yang duduk di sampingku.
"Tapi, ini bukan jalan ke rumahku." Kataku masih dengan kebingungan.
"Ini jalan ke rumah kita Sayang." Jawabnya lagi.
"Apa maksudmu? Apa kita tidak akan pulang ke Surabaya?" tanyaku lagi, namun Yoshi tidak menjawabnya.
***
Tak lama kemudian mobil berlambang tiga lingkaran ini memasukki sebuah gerbang, menuju ke halaman luas bangunan mewah. Aku merasa inilah tempat tujuan Yoshi yang sebenarnya.
"Ini rumah kita sayang." Ucap Yoshi sambil membukakan pintu untukku.
"Rumahmu?" Tanyaku heran, aku baru tau jika Yoshi memiliki sebuah mansion di Jakarta.
"Ya, rumahmu juga, ayo turunlah." Katanya dengan tidak sabar.
"Tapi, aku tidak ingin tinggal di sini." Jujur saja aku takut bagaimana bila benar Yoshi sudah memiliki istri dan istrinya juga tinggal di sini. Bukankah wanita itu akan mengahabisiku hingga tak tersisa.
"An, cepatlah. Atau aku akan mengangkat tubuhmu sekarang juga." Ucap Yoshi mulai kesal denganku, bukankah seharusnya aku yang marah saat ini. Mengapa dia hanya tersenyum saat tadi aku mengatakan bahwa kami akan pulang ke rumahku.
"Aku takut Yosh, apakah istrimu yang lain juga tinggal di sini?" Tanyaku dengan polos.
"Astaga Ana, kau benar-benar menguji kesabaranku." Katanya sambil meraih tubuhku membawanya dalam dekapannya.
Dalam diam dia berjalan memasukki rumah itu, aku tentu saja sangat ketakutan. Bagaimana jika benar Yoshi memiliki istri lain di rumah ini. Apa lagi yang akan dilakukan seorang istri pertama ketika melihat suaminya pulang dengan membawa madunya seperti ini.
"Yosh turunkan aku, jika kau terus seperti ini aku tidak mau jika istrimu mencakar wajahku dan menjambak rambutku seperti di film-film." Kataku masih dengan pikiranku sendiri.
"An, kau ini bicara apa? Sudah kubilang aku masih perjaka. Dan dirimulah satu-satunya wanita yang akan mengambil keperjakaanku ini. Haha" ucap Yoshi sambil berjalan menaikki anak tangga, yang kuduga akan menuju kamar kami.
(Sumpah aku pen ketawa nulis ini.wkwk)