My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Boleh Dilakukan



Memasukki empat bulan usia kehamilan, aku semakin sensitif dan mudah tersinggung, aku sering kesal pada Yoshi tetapi juga tidak bisa jauh darinya. Hari ini adalah jadwal kontrol bulananku.


"Sayang, sudah siap?" tanya Yoshi sambil memeriksa barang bawaan kami.


"Sudah," ucapku singkat.


"Eh, kok pake celana?" tanyanya sambil memperhatikan pakaian yang kukenakan.


"Memangnya kenapa? Gak boleh?" aku pun memperhatikan celana jeansku itu. Apakah ada yang salah, batinku.


"Jangan pakai jeans sayang, ganti dulu gih," perintah Yoshi, tetapi aku tidak ingin menggantinya.


"Gak mau!"


"Dih, ganti dong An. Jeans itu tidak nyaman untuk ibu hamil sayang." Ucapnya terlihat kesal.


"Kenapa sejak kemarin kau sangat rewel Yoshi, selalu saja melarangku ini itu, bahkan pakaian pun aku tidak bisa memilih sendiri."


"Sayang, bukan begitu tetapi sejak awal kehamilanmu, aku sering membaca artikel tentang ibu hamil, mulai dari asupan gizi, kegiatan yang dilarang dan dianjurkan dan juga pakaian yang nyaman untuk ibu hamil." Jelas Yoshi, ternyata dia sangat cekatan dalam menjaga baby bahkan melebihi diriku.


"Iya baiklah. Aku akan ganti pakai daster saja."


"Itu lebih baik!" ucapnya tertawa.


***


Dalam perjalanan kami terus mengobrol, dan Yoshi mengatakan jika beberapa hari ini selalu ada mobil yang mengikutinya, dari arah belakang dan juga di depan mobilnya.


Aku cukup khawatir mendengar cerita itu bahkan beberapa waktu lalu, sempat terjadi kebut-kebutan antar mobil.


"Yosh, aku takut. Apa sebaiknya kita pulang saja?" tanyaku


"Tidak An, jangan takut aku ada bersamamu."


"Tapi, ini berbahaya." aku terus memperhatikan mobil tanpa plat nomor itu di depan mobil kami.


"Kau lihat mobil itu?" tanya Yoshi menunjuk mobil berplat kosong.


"Iya, apa mereka penjahatnya?" tanyaku penasaran dan jantungku semakin berdegup kencang.


"Bukan sayang, mereka yang menolongku dan David kemarin." Ucap Yoshi membuatku penasaran.


"Sungguh? Bagaimana kau tau?"


"Lihat saja An, kali ini aku akan mengejarnya dan kita akan tau siapa mereka." Yoshi mulai menambah kecepatan.


"Yosh jangaan!!"


"Yoshi, aku takut!! Jangan mengejarnya!" aku benar-benar takut, tetapi Yoshi tetap tidak mendengarkan. Dia tetap menambah kecepatan mobilnya. Ini membuatku sangat tertekan.


"Yosh, akhh sakit!" pekikku menahan keram di perutku. Dan dia pun mengurangi kecepatan


"Sayang.. Kenapa? Apa keram lagi?" tanya Yoshi khawatir dan aku pun mengangguk.


"Astaga, maaf ya. Apa terasa kencang lagi?" tanyanya sambil ikut memegangi perutku.


"Baby, maafkan papa ya."


"Yosh, sudah jangan kejar mobil itu lagi. Biarkan saja yang penting mereka tidak menyerang kita." Ucapku.


"Baik sayang, aku tidak akan mengejarnya, tetapi lain kali aku pasti akan mengejar si penolong dan penjahat itu."


"Cukup Yoshi! Cukup! aku tidak mau tau entah itu penolong, entah penjahat. Aku tidak mau tau, berhentilah menyelidiki mereka." Kali ini Yoshi sangat meresahkan apa dia pikir aku akan tenang melihatnya seperti itu.


"Iya sayang. Iya. Sini beri aku satu ciuman!" Katanya sambil memonyongkan bibirnya.


"Tidak ah, ayo cepat jalan. Bukankah dokter sudah menunggu?" kataku, mengalihkan kemesumannya.


"Ayolah satu kecupan saja An!" Kata Yoshi mulai merengek, astaga dia membuatku gemas.


Cupp..


"Kenapa hanya di pipi?"


"Lalu?" aku pura-pura tidak tau, namun Yoshi langsung mengecup bibirku, memberikan sedikit gigitan di sana.


"Yoshi, ini bukan saat yang tepat untuk bermesraan." Kataku, kesal.


"Lalu kapan waktu yang tepat sayang?"


"Nanti setelah aku melahirkan !"


"Tidak, tetapi nanti setelah konsultasi dengan dokte, haha." Ucapnya sambil tertawa.


"Semoga dokter ada di pihakku hari ini, memberi belas kasihan pada pria yang telah lama tidak dipakai ini." Tambahnya.


"Apa katamu? Tidak dipakai? Astaga Yoshi!" aku pun tertawa terbahak.


"Berdoalah untuk selamat dariku sayang!"


"Kau ini!!" aku mulai menghujaninya pukulan.


****


Tiba di rumah sakit. Di ruang dokter itu aku terbaring di samping layar USG. Dokter mulai mengolesi perutku dengan gel khusus. Aku terus memperhatikan tampilan layar pada USG.


"Dok, apa bayi kami sehat? Apakah beratnya sudah cukup. Atau masih kurang? Apakah organ-organnya sudah terbentuk dengan normal?" Tanya Yoshi dengan semangat.


"Janinnya sehat Pak, berat badannya pun sudah memenuhi standard janin cukup gizi."


"Pada masa hamil 4 bulan, panjang janin berkisar antara 13–16,4 cm dengan berat sekitar 140–300 gram. Pada masa ini, sistem saraf janin sudah mulai berfungsi dan organ reproduksinya telah berkembang sepenuhnya."


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan pak, semua baik-baik saja. Dan apakah Ibu Ana masih sering merasakan kram perut?" tanya dokter itu.


"Saya hanya merasakan kram pada saat-saat tertentu dok."


"Apa disertai rembesan lagi Bu?" tanya dokter sambil memeriksa detak jantung janin.


"Tidak dok."


"Saya rasa tidak ada masalah Bu, cukup kelola stres dengan baik dan istirahat yang cukup."


"Detak jantung bayi juga normal."


"Dok, apa saya boleh bertanya?" ucap Yoshi ragu-ragu.


"Silahkan pak Yoshi. Jangan sungkan."


"Apakah kami boleh melakukan itu?" Yoshi melirik ke arahku seakan memberi kode.


"Melakukan apa Pak?"


"Hubungan suami istri dok." Kata Yoshi dengan yakin, benar-benar membuatku malu saja.


"Dok, tidak perlu dijawab, suami saya hanya bercanda." Ucapku, aku sungguh merasa malu saat ini.


"Saya serius dok? Saya tidak sedang bercanda." Ucap Yoshi meyakinkan dokter itu. Ah sungguh si bodoh Yoshi.


"Oh itu, tentu saja boleh Pak Yoshi, asal ingat anda harus berhati-hati dan jangan membuat ibu Ana terlalu lelah." Ucap dokter itu dengan gamblang.


***


Tiba di mansions.


"Yosh turunkan aku. Aku bisa berjalan sendiri." Yoshi telah membopongku sejak turun dari mobil.


"Biarkan saja, memangnya kenapa? bukankah ini romantis sayang?" ucapnya sambil tersenyum mesum.


"Aku bisa berjalan sendiri. Aku juga sudah diijinkan naik turun tangga sesukaku."


"Tapi kali ini bukan itu tujuanku." Ucap Yoshi mengedipkan sebelah matanya.


"Dasar mesum! aku tau alasanmu sekarang!"


"Bagus, jangan menolakku lagi An." Bisiknya sambil menggigit daun telingaku, seketika membuat bulu kuduku meremang.


Kami memasukki kamar dan Yoshi menutup pintu dengan kakinya. Lalu merebahkan tubuhku pada tempat tidur.


"Harusnya aku meminta Niluh untuk menabur bunga mawar di atas tempat tidur ini, tetapi aku lupa." Lagi-lagi dia berbisik di telingaku. Hawa panas pun mulai menyerang sekujur tubuhku.


"Yoshi, apa kau sudah menutup pintunya?"


tanyaku, tetapi ia tidak menjawabnya, ia sudah sibuk menuruti hawa nafsunya yang sejak beberapa bulan ini tertahan.


"Yosh, tutup dan kunci pintunya.. " Ucapku sambil mengangkat kepalanya yang sejak tadi begerilya di area dadaku. Menyebabkan sensasi rasa geli.


"Jangan mencoba menghentikanku sayang, kali ini aku tidak akan mendengarkanmu." Ucapnya sambil menarik baju berkancingku hingga membuat kancing itu bertebaran ke segala arah.


Begitu pun dengan bra yang sudah hilang entah kemana, ia seperti sedang menemukan mata air di padang pasir yang gersang.


Terkadang tangan itu, supuan bibir itu terasa sangat kasar. Membuatku sedikit takut. Beberapa kali aku mencoba mengingatkannya untuk berhati-hati tetapi bukannya mendengarkan, aku malah membuatnya Yoshi semakin menggila.


Hingga tiba-tiba seseorang membuka pintu.


"Sayangg mama datang !"


Hah, Mama datang? seketika kulihat ke arah pintu.


"Yosh, mama datang!"


"Apa? jangan bercanda An. Aku tidak mendengar apa-apa." Yoshi masih saja melnjutkan aktifitasnya.


"Yosh lihatlah ke arah pintu."


"Nah, kan kalian! Kenapa tidak mengunci pintunya!!" Ucap mama sambil menggelengkan kepala.



Ganggu aja Mama nih😂😂


Yeey Hari ini MHIMSL genap 100 episode. Terimakasih teman-teman. Selamat berakhir pekan. Bahagia selalu ya.



Love, sun sayang untuk teman-teman 😘


Lady Meilina


❤❤❤