My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Bapakku Anggota BIN ?



Selesai makan aku pun masuk ke dalam kamarku. Aroma wangi Softener bunga Lily semerbak memenuhi seisi ruangan. Ibuku memang galak dan disiplin tetapi beliau sangat mengerti diriku.


Bahkan mengurus kebersihan kamar ini sudah menjadi rutinitasnya, mengganti sprei setiap hari yang bahkan tak pernah kusentuh selama bebarapa bulan dari terakhir aku pulang ke rumah ini.


Mengingat kata-kata ibuku tadi membuat kepalaku pusing. Sejujurnya menikah dengan Yoshi bukanlah hal yang terlalu buruk bagiku, persetan dengan bagaimana kehidupan rumah tanggaku nantinya.


Jika dipikir dari segi materi, bukankah yang terpenting saat ini adalah uang, mengingat keadaan perekonomian keluargaku yang kacau balau ini.


Tapi tidak seperti itu. Aku tak ingin seperti itu. Hati kecilku berontak mengatakan aku masih ingin berjodoh dengan Mas Ikau. Meskipun aku tak tau di mana rimbanya sekarang.


Aku harus mencari pekerjaan lain, aku yakin pasti bisa.


Kuraih ponselku dan menonaktifkannya. Aku tak ingin diganggu siapapun untuk beberapa hari ke depan .


"Mbak, lagi bobo yah?" Kata Luna memasukki kamarku.


"Belom sih, kenapa Lun?" tanyaku.


"Luna nitip laptop ini ya Mbak, soalnya mau balik ke kampus," katanya sambil meletakkan benda berbentuk persegi panjang di atas mejaku.


"Loh mau ke kampus kok laptopnya malah ditinggal?" tanyaku heran.


"Iya nggak apa Mbak. Ada satu lagi kok punya temanku, Rengganis masih ada sama Luna, " jawabnya. Wah baik sekali temannya Luna itu batinku.


"Oh ya udah. Hati-hati ya di jalan." Kataku sambil menatap Luna yang bersiap untuk pergi.


"Di pake aja Mbak laptopnya kalo butuh." Teriak Luna sambil menutup pintu.


Benar juga kata Luna, akhirnya aku meraih Laptop itu dan menyalakannya. Kucoba memasukkan modem agar dapat menangkap sinyal internet.


Beberapa menit kemudian sinyal internet tersambung.


Aku ingat, bukankah tempo hari ada dua lowongan pekerjaan yang diposting oleh kampusku di medsos.


Segera kubuka akun medsosku melalui Laptop tersebut.


Dan benar, postingan Job Vacancy itu masih tertera di sana. Sebuah lowongan pekerjaan di Kapal Pesiar yang berlayar di Eropa.


Ini cukup menarik kemudian kubaca detail persyaratannya.



Aku rasa Aku bisa mengirimkan CV dan Application Letter pada alamat e-mail yang tertera di sana. Kantor agennya ada di Jakarta. Tak masalah untukku, semoga ini pertanda baik dari Tuhan.


Tapi setelah kupikir-pikir bukankah di sini tertulis Open Recruitment Every Day .Jadi mereka membuka perekrutan setiap hari.


Akan lebih baik jika aku langsung berangkat saja. Kulihat ada beberapa Lowongan di bidang F&B, kurasa aku bisa menggunakan sertifikat F&Bku sewaktu training di Hotel dulu.


Jika Aku gagal, masuk ke bidang Housekeeping pun tak apa. Aku sudah terbiasa yang penting aku bisa mendapat pekerjaan yang layak untuk saat ini.


Demi keamanan dan kenyamanan aku tak akan menceritakan tentang hal ini kepada Ibu mengingat Ibu sudah berada di pihak Yoshi saat ini, sungguh berbahaya jika Yoshi mengetahui tentang ini.


****


Beberapa hari kemudian, setelah kusiapkan berkas lamaranku aku pun berpamitan pada Bapak.


"An, mau kemana bawa-bawa koper begitu?" ini suara bapak dari dalam kamar kondisinya masih sangat lemah.


Mungkin karismanya tak pernah pudar tetapi raganya yang melemah itu membuat badannya yang dulu kekar menjadi semakin kurus.


"Bapak, Ana mau ke Jakarta dulu ya, ada panggilan interview, " jawabku sambil menghampiri bapak.


"I**nterview apa An?" Tanya Bapak. Jika aku menjelaskan tentang detail loker yang ingin kudatangi itu pasti Bapak tidak akan setuju.


"Hotel Pak. Ada Lowongan di Hotel Hyatt Jakarta." Jawabku serampangan sebenarnya aku merasa berdosa telah berbohong pada ayahku seperti ini.


"Tentang apa Pak?" Aku mulai mendekatinya yang sedang berbaring di tempat tidur.


"Ini tentang pekerjaan Bapak, sebenarnya _____" kata Bapak tetapi terputus karena aku tahu kemana arah pembicaraan ini.


"Hussh, sudah Pak. Jangan dipikirkan. Ana yang akan mencari nafkah sekarang. Bapak cukup istirahat saja, jangan sampai penyakit jantung Bapak kambuh lagi." Kataku.


Aku tahu pasti bapak akan membahas tentang masalah pertanian yang dikelolanya dengan temannya dulu.


"Bukan begitu An, Bapak tau kau anak yang kuat tetapi bukan itu inti masalahnya." Jawab bapak. Aku pun merasa ada yang aneh dengan bapak. Mungkinkah selama ini bapak menyembunyikan sesuatu dari kami.


"Lalu apa masalahnya Pak?" tanyaku.


"Apa Kau tau apa profesi Bapak yang sebenarnya?" tanyanya lagi. Tentu saja hal ini sangat mengagetkanku.


"Bukankah Bapak memang seorang petani? "


tanyaku.


"Bu-bukan An, itu hanya profesi cadangan," katanya dengan raut wajah serius.


"Lalu apa Pak?" tanyaku. Sebenarnya sejak dulu aku memang mencurgai pekerjaan bapakku yang sebenarnya .


Ingatan tentang barang-barang branded yang sering dibawakannya dari Kota untuk kami dulu muncul kembali. Bagaimana mungkin seorang petani kecil sepertinya mampu untuk membeli barang-barang mahal seperti itu kataku dalam hati.


"Bapak takut kau tidak akan mempercayai ini, tetapi Bapak tidak ingin menutup-nutupinya lagi." Jawab bapak sambil terbangun dari pembaringannya.


"Bapak, Ana tidak mengerti apa maksud Bapak yang sebenarnya?" Tanyaku sambil duduk di sampingnya .


"Apa Kau tau tentang Badan Intelijen Negara atau BIN. Yaitu seorang agen rahasia yang ditugaskan oleh Negara untuk menyelediki kasus tertentu secara diam-diam?" tanya bapak.


"Ya Pak, tentu saja Ana tau. tu adalah profesi yang keren seperti Agen CIA kan?" Jawabku.


"Iya Betul. Sebenarnya Bapak adalah salah satu Anggota BIN Indonesia." Kata Bapak dengan mantap. Bagiku tentu saja itu adalah hal yang tak mungkin.


"Apa maksud Bapak? Sepertinya bapak mulai berhalusianasi sekarang, sudah ya. Bapak istirahat lagi ya," kataku. Entahlah masalah kesehatannya sepertinya juga mengganggu pskisnya.


"Bapak serius An, Bapak dulu ditugaskan di sini untuk menyelediki seorang Hacker ternama yang telah membobolkan data penting milik Negara, bahkan Bapakmu ini adalah lulusan Sekolah Tinggi Intelijen Negara Bogor yang merupakan perguruan tinggi kedinasan yang berada di bawah naungan Badan Intelijen Negara." Kata bapak penuh penekanan.


Tetapi aku benar-benar mengkhawatirkannya sekarang. Aku memang pernah mengatakan bahwa fisik bapak itu lebih cocok untuk menjadi seorang abdi Negara daripada hanya menjadi seorang petani .


Namun apa yang terjadi sekarang bahkan bisa dibilang bapak lebih halu dariku.


"Iya-iya Pak Ana percaya, yang penting sekarang Bapak fokus dulu dengan kesehatan Bapak ya biar bisa menyelidiki kasus Hacker itu." Jawabku sambil membantu membaringkannya di tempat tidur.


Bapak terlihat murung seakan tau jika aku hanya berpura-pura mempercayai kata-kata darinya baru saja.


Jam sudah sangat siang sepertinya aku akan terlambat untuk mendapat tiket kereta ke Jakarta.


Kulihat Ibu masih belum pulang dari Pasar. Ini kesempatan emas untuk kabur.


Segera kuraih selembar kertas dan kutuliskan memo untuk Ibu.


Sebuah memo berisikan bahwa aku harus mengikuti interview di Jakarta dan belum tau pasti kapan akan kembali, selesai kutulis lalu kuletakkan kertas itu di atas meja makan.


Ibu pasti akan marah bila mengetahui hal ini tetapi tak apa, ini lebih baik dari pada menyerah sebelum berperang untuk menikah dengan Pria Kutub itu.


Aku memilih untuk naik Angkot saja, sebab ponselku masih belum aktif jika digunakan untuk memesan ojol. Aku sengaja memutus segala komunikasi agar tidak menggangguku dalam proses interview nanti.


Dalam dua puluh menit aku pun sampai di Stasiun kereta. Segera kupesan tiket dengan tujuan Pasar Senen.


Waktu keberangkatan pukul 15.00 dan tiba di Pasar Senen besok pukul 04.30 .


Ini bagus, meskipun menempuh perjalanan panjang tetapi setibanya di Jakarta aku bisa langsung menuju ke Kantor itu, mengingat waktu masih sangat pagi jadi tak perlu khawatir untuk terlambat.