
"An, apa kau baik-baik saja?" tanya Yoshi kepadaku.
"Iya.... Yosh, jangan khawatir.. " Ucapku padahal rasanya tubuhku sudah seperti dibelah menjadi dua.
"An, tetapi kau seperti sedang menahan sakit?" tanyanya lagi, memperhatikan ekspresiku.
"Tidak .. " jawabku lirih, menahan rasa nyeri pada bagian bawah tubuhku terutama pinggang.
"Apa masih boleh dilakukan lagi?" tanyanya dengan wajah yang masih saja terlihat segar.
"Jangaan.. " Seketika aku menolaknya.
"Katanya tidak sakit?" tanyanya lagi.
"Yosh, kau ini. Sudah semalaman kita melakukannya tapi masih belum cukup juga. Pinggangku bisa lepas karena ulahmu!" Ucapku akhirnya aku mengatakan yang sebenarnya padanya.
"Akhirnya kau mengakuinya juga An!" Kata Yoshi sambil tertawa.
"Mengakui apa?" tanyaku.
"Mengakui keperkasaanku tentu saja." Jawabnya sambil menghujaniku dengan kecupan.
"Ayo bangunlah ini sudah pagi." Ucapku tak menanggapi perkataannya. Bahkan kami belum tidur sama sekali, semalaman Yoshi membuatku tetap terjaga.
"Sekali lagi An." Kata Yoshi.
"Yosh, satu jam lagi kau harus ke kantor." Ucapku mengingatkannya.
"Ayolah An, kita ini masih pengantin baru." Jawabnya masih saja tidak ingin bangkit dari tempat tidur.
"Bukankah kau akan menghadiri meeting penting hari ini?" tanyaku padanya.
"Ya, kau benar An!!" Seketika tubuh kekar itu bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Sementara aku dan tubuhku seakan enggan terbangun dari pembaringan menahan lelah yang begitu hebatnya. Hingga akhirnya aku tertidur tentu saja tanpa tubuh besar yang tadinya menindihku.
***
"I love you, sunshine! Aku ke kantor dulu ya." Samar-samar terdengar suara Yoshi berpamitan padaku dan memberiku satu kecupan di kening.
Aku tak memperdulikan itu, mataku seakan enggan terbuka meskipun telingaku mampu mendengar.
****
Aku pun terbangun dari tidurku. Kulihat jam mununjukkan pukul 9 pagi. Aku tersenyum membayangkan kejadian semalam. Ini kali kedua kami melakakukannya. Tak kusangka aku dan rentenir itu sekarang benar-benar menjadi suami istri seutuhnya.
Sejenak aku memikirkan Yoshi. Hey bukankah dia belum sarapan pagi ini karena sesampainya di kantor akan langsung menghadiri meeting itu. Mungkin saja saat ini perutnya sedang menahan lapar, tetapi bukankah mudah untuknya jika hanya untuk mendapatkan sarapan.
Atau aku antarkan saja makan pagi untuknya. Ya, benar. Aku akan membuat sarapan untuk suamiku. Mungkin tidurku masih kurang tetapi Yoshi jauh lebih kurang tidur. Ini tak baik untuknya mengingat dirinya juga memiliki gerd.
Aku pun ke dapur, kulihat seorang chef di sana. Oh jadi ini dia yang selama ini menyiapkan makanan untuk kami selama ini. Tetapi mengapa aku baru melihatnya sekarang.
"Selamat pagi Nyonya." Sapa pria itu sambil membungkuk.
"Selamat pagi chef." Jawabku, membungkukkan badan juga.
"Ada yang bisa saya bantu Nyonya?" tanyanya.
"Tidak, aku hanya baru melihatmu di sini Chef." Jawabku sambil menatap nama dadanya.
"Iya, biasanya saya dipanggil jika sedang dibutuhkan saja." Jawabnya.
"Apa chef bekerja di Serayu Chinese Restaurant ?" tanyaku sebab di nametagnya terdapat simbol SCR.
"Benar itu station sampingan saya Nyonya. Bagaimana anda bisa tau?" tanyanya heran.
"Aku pernah magang di sana beberapa tahun yang lalu, dan aku masih menyimpan nametag dengan simbol yang sama denganmu itu chef." Jawabku, sambil menunjuk ke arah nama dadanya.
"Ah benarkah Nyonya?" Jawabnya terkejut. Mungkin dia kaget mendapati ternyata istri bosnya bukan dari kalangan berada. Aku memang sempat magang ke beberapa hotel dan restoran saat itu untuk menghindar dari gangguan Yoshi.
"Chef , aku ingin menyiapkan sarapan untuk tuan. Katakan apakah tuan terbiasa dengan menu western atau makanan Indonesia?" tanyaku.
"Biasanya saya menyiapkan menu western, Nyonya." Ucap chef itu.
"American, English, continental atau ada menu lain?"tanyaku menyesuaikan.
"Lebih mengarah ke American, Nyonya. Hari ini saya sudah menyiapkannya." Ucap Chef itu.
"Ah bagus, kalau begitu aku bisa langsung membawanya." Kataku, tetapi sejenak kemudian aku berfikir. Aku ingin mencoba memasak dengan tanganku sendiri untuk Yoshi.
"Emm tapi, sepertinya saya ingin memasak sesuatu untuk tuan." Ucapku lagi pada chef itu.
"Akan saya bantu Nyonya." Jawab chef.
"Tidak perlu. Chef bisa pergi sekarang." Kataku.
Awalnya dia bersi keras untuk membantuku sebelum akhirnya mengijinkanku untuk memasak sendirian. Tanpa pikir panjang aku pun langsung mulai memasak. Makanan sejuta umat, nasi goreng adalah pilihan yang paling tepat, mengingat waktu sudah mulai siang.
*****
Aku tiba di kantor Yoshi dengan menggunakan taksi. Sebuah gedung bertingkat dengan nama Lubyware Group. Aku memasuki area lobby dan mengisi daftar tamu masuk. Tetapi sepertinya resepsionis tidak mengijinkanku menemui Yoshi karena aku belum membuat janji.
"Nyonya !" terdengar suara David memanggil namaku. Aku pun menoleh.
"David, apakah tuan masih meeting?" tanyaku.
"Sudah selesai Nyonya, mari saya antarkan." Kata David, sambil memperkenalkanku pada para staf resepsionis tersebut. Mereka pun memberi hormat kepadaku. Astaga, ini membuatku sangat canggung.
Tiba di ruangan Yoshi. David pun mengetuk pintu dan kami masuk. Kulihat Yoshi sedang sibuk dengan mata tertuju pada layar laptop. Sungguh dia terlihat tampan dalam mode seperti itu.
"Ya, David ada apa?" tanyanya, ia masih belum menyadari akan kedatanganku.
"Ada Nyonya, tuan.. " Ucap David, seketika Yoshi menatap ke arah kami.
"Sayang, kau di sini?" Ucapnya seperti tak percaya aku datang ke kantornya.
"Iya Yosh. aku membawakan sarapan untukmu. " Kataku sambil meletakkan box besar di atas meja di dekat sofa.
"Ya ampun sayang. Kau tak perlu melakukan ini." Ucap Yoshi sambil sambil menghampiriku dan ikut duduk di sofa.
"Tak apa Yosh, kau pasti lapar dan mengantuk. Aku tak ingin gerd mu kambuh." Kataku.
"Kenapa tidak istirahat saja? Aku juga tau kau masih sangat lelah An." Ucap Yoshi.
"Yosh, aku sedang belajar menjadi istri yang baik untukmu." Ucapku, tak dapat menyembunyikan rasa menggelitik di perut mendengar ucapanku sendiri.
"Aku akan menyiapkan sarapanmu." Kataku sambil ke luar menuju pantry.
Dalam perjalanan ke pantry, tanpa sengaja aku melewati beberapa karyawan, samar-samar kudengar sepertinya mereka membicarakan diriku.
"Eh udah pada liat belom bininya si Bos?" Ucap salah satu karyawan.
"Iya udah, kirain selera bos itu tinggi ternyata biasa aja. Cakepan juga gue!" jawab karyawan yang lain.
"Masih bocil kayanya. Tapi cantik sih." Celetuk karyawan pria.
"Kerjaannya apa ya?" tanya pria yang lain lagi.
"Palingan juga pengangguran. Ngapain capek-capek kerja. Lakinya tajir gitu." Ungkap karyawan lain.
Terdengar mereka masih saja sibuk bergosip tentangku. Dalam hatiku berkata ternyata aku tak cukup pantas bersanding dengan Yoshi. Apa karena penampilanku hari ini.
Aku memang hanya mengenakan baju casual . Celana pendek, sepatu sneakers dan jaket. Mengingat bahwa keperluanku hari ini hanya untuk mengantar sarapan. Seharusnya aku memakai pakaian yang layak agar tidak mempermalukan Yoshi seperti ini.
Di pantry. Aku menyusun peralatan makan sesuai susunan American Breakfast. Mungkin ini terlalu formal tetapi tak apa setidaknya ini sesuai dengan yang biasa Yoshi dapatkan di rumah.
Melihat settingan ini membuatku sangat merindukan dunia kapal. Merindukan pekerjaanku, merindukan Jenny, Evelyn, Dian, Kak Anggie dan Reza. Entah kapan aku bisa bertemu kembali dengan mereka.
"Done!! " ucapku sambil melihat sarapan yang telah siap ini.
"Sayang.... " terdengar suara Yoshi memasukki pantry .
"Iya Yosh, sarapan yuk!" ajakku.
"Hey, ini terlalu formal sayang dan terlalu banyak. Mengapa tidak membuatnya simpel saja?" ucap Yoshi sambil menatap takjub ke arah meja.
"Chef bilang kau terbiasa dengan American Breakfast. Jadi aku membuatnya sama. Sebenarnya aku juga membuatkan nasi goreng untukmu."
"Nah ya, aku ingin nasi goreng buatanmu saja." Kata Yoshi.
"Baiklah, lalu bagaimana dengan semua ini?" tanyaku.
"David akan mengurusnya atau biar David yang memakan semuanya. An, kita makan di atas saja ya, sebentar lagi pantry ini akan sangat ramai mendekati waktu coffee break."Jawab Yoshi, sungguh asisten itu benar-benar sering dibuat susah olehnya.
****
Di atas.
"Bagaimana Yosh? Kau menyukainya?" tanyaku pada Yoshi sesaat setelah melahap nasi goreng buatanku hingga habis.
"Ya sayang, ini sangat enak. Kau pandai memasak?" ucapnya.
"Hanya nasi goreng saja apanya yang hebat?" Jangan membuatku bahagia Yoshi." Jawabku. Sejujurnya aku sangat senang mendengar pujiannya.
"Sungguh An. Buatkan lagi besok." Katanya sambil tersenyum.
"Yosh, apa aku membuatmu malu hari ini? Aku merasa penampilanku sangat tidak pantas untuk datang ke kantormu." Ucapku, aku yakin Yoshi juga merasakan hal yang sama.
"Kenapa bicara seperti itu An?" Tanyanya sambil menatapku.
"Ya, aku merasa tidak sebanding denganmu." Jawabku.
"Apa yang kau katakan? Mmm tapi sepertinya benar An, dengan outfit ini kau terlihat seperti abg dan membuatku seperti om-om pedofil saat kita berjalan bersama." Ucapnya sambil tertawa.
"Maafkan aku Yosh, aku akan pulang sekarang.. " Kataku namun Yoshi menahanku.
"Sayang, jangan marah kau sangat cantik jika kau tau." Ucap Yoshi.
"Sudahlah Yosh, jangan membahasnya. Apa kau mau kubuatkan kopi?" tanyaku.
"Boleh sayang, ada mesin kopi di sebelah pantry ." Jawab Yoshi.
Akupun turun ke pantry lagi. Kulihat David sedang duduk bersama para pegawai bahkkan aku juga melihat beberapa pegawai yang tadi sempat membicarakanku.
"Pak David, terimakasih sarapan ini sangat mewah. Seperti sedang sarapan di Hotel bintang lima." Kata salah satu pegawai. Aku senang ternyata David benar-benar mengurus makanan yang terlantar tadi.
"Iya sama-sama. Nyonya yang telah menyusunnya." Jawab David, sepertinya mereka belum sadar akan kehadiranku.
"Benarkah? sepertinya Nyonya sangat paham dengan table set up" tanya seorang pegawai lain.
"Ya, Nyonya adalah staf F&B di sebuah kapal pesiar Belanda." Jawab David.
"Benarkah?! aku bahkan mengatakan jika dirinya seorang pengangguran." ucap pegawai itu. Aku pun mempercepat langkahku dan akhirnya mereka semua melihatku.
"Selamat pagi Nyonya.. " Ucap mereka bersamaan yang kubalas dengan senyuman.
****
Aku membuat secangkir cappuccino art untuk Yoshi. Dan kulihat David juga berada di sana lalu aku membuatkan secangkir juga untuknya.
"Terima kasih Nyonya. Ini terlihat spesial." Kata David menerima pemberianku.
"Jangan berlebihan David, bagaimanapun aku sempat menjadi peracik kopi sebelum ini." Ucapku sambil tertawa.
****
Sementara itu aku yang sedang melintasi pintu pantry dapat mendengar percakapan mereka.
"Pak David, kopimu terlihat sangat menggoda...."
"Ya, seperti bukan buatan Pak David..... "
"Tentu saja ini cappuccino dengan 1/3 espresso, 1/3 susu dan 1/3 foam susu racikan Nyonya." Kata David.
"Jadi Nyonya juga seorang Barista??! "
Sungguh mereka masih saja bergosip tentangku. Tetapi setidaknya mereka tau jika aku bukan 100% pengangguran. Aku masih bisa bekerja jika Yoshi mengijinkan.