
Sejak lulus sekolah kehidupanku terasa sangat hampa tak ada lagi ayah, adik dan sahabatku di sampingku. Hanya Ibu lah satu-satunya seseorang yang tetap bersamaku, menemaniku dan berjuang bersama dalam pelunasan hutang itu.
Entah kapan aku bisa bertemu dengan bapak lagi, Luna pun juga sangat sibuk dengan kegiatannya di pondok pesantren, apa lagi Devi, entah bagaimana kabarnya aku benar-benar hilang kontak dengannya.
Selain berjaga di warnet, aku juga membantu di warteg dekat rumah, semua kulakukan demi untuk mendapatkan uang tambahan sebab tekanan dari rentenir itu benar-benar membuat kami kewalahan.
***
Suatu hari ketika aku sedang berjaga di Toko Kelontong kami, seseorang meneleponku, suaranya seperti tidak asing tetapi aku juga tidak tau, aku pernah mendengar suara ini tetapi kapan dan dimana, aku sama sekali tidak ingat
"Lanthana Aditama," kata seseorang di seberang sana, terdengar suara itu begitu familiar di telingaku. Suara seorang laki-laki tapi entah siapa.
"Maaf, ini siapa ya?" aku pun menanyakan siapa dirinya.
"Apa kau masih mengingatku? " tanya pria asing itu.
"Maaf, anda siapa?" tanyaku, tentu saja aku tak ingat siapa dirinya, kenal saja tidak.
"Apa kau masih mampu untuk membayar hutang orang tuamu?" tanyanya lagi, sekarang aku tau jadi si rentenir itu yang sedang meneleponku.
"Saya sedang berusaha Pak, jangan khawatir pasti akan saya lunasi semuanya," entah keberanian apa yang kumiliki hingga aku berani berkata demikian padanya.
Hening sejenak
.
.
"Waktumu tidak banyak lagi, bersiaplah kehilangan semuanya jika kau tak mampu melunasinya," kata pria itu dengan tegas seperti sedang mengancamku sebelum kemudian dia menutup teleponnya.
Siapa sebenarnya orang ini, bukankah kami masih punya waktu 4 tahun lebih untuk melunasi pinjaman itu, lalu mengapa dia harus repot-repot meneleponku seperti itu.
Sebenarnya aku ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi namun dengan kondisi keuangan keluarga yang seperti ini apakah itu mungkin
Hingga akhirnya aku mencari informasi tentang Universitas yang biayanya tidak terlalu mahal, setelah beberapa hari mencari akhirnya aku berhasil menemukannya, sebuah Universitas pariwisata di Jogja. Biaya pendaftarannya tidak terlalu mahal, sepertinya uang tabunganku cukup untuk itu.
Aku berdiskusi dengan Ibuku tentang ini. Dan beliaupun menyetujuinya, aku berjanji sebisa mungkin akan belajar sambil bekerja agar dapat membantu Ibuku.
***
Di sinilah aku sekarang, Yogyakarta. Kota klasik yang sangat aku idam-idamkan untuk tinggal.
Setelah melakukan pendaftaran dan beberapa tes akademik, akhirnya aku diterima di kampus ini, aku mengambil D-4 Perhotelan dan Pariwisata, yang mana nantinya akan membawaku untuk bekerja di hotel ataupun maskapai penerbangan ataupun segala hal tentang Hospitality Industry lainnya.
Sejak masuk kuliah aku sangat jarang sekali berkomiunikasi dengan Ibuku, aku juga bekerja part time di sebuah kedai kopi sebagai Barista, aku cukup bisa meracik kopi karena memang aku juga mempelajarinya di kampusku.
Suatu sore, kedai kopi tempatku bekerja itu sangat ramai. Hingga membuatku kewalahan dibuatnya, kemudian sesorang datang ke arah Coffee Maker ku.
"Buatkan aku cappuccino dengan art " kata pria itu, suaranya sangat dingin dan terdengar angkuh.
"Baik Pak, atas nama siapa?" tanyaku kepada pria bertubuh sixpact dan berkulit putih itu, aku tak dapat melihat wajahnya sebab dia menggunakan masker, dilihat dari cara berpakaiannya sepertinya pria ini adalah executive muda.
"Yoshi" katanya singkat,sambil membetulkan kacamata hitamnya.
"Baik, Pak Yoshi mohon menunggu," kataku sambil tersenyum padanya. Benar-benar pria yang angkuh. Aku sudah berusaha tersenyum padanya namun tak ada tanggapan yang berarti darinya.
Astaga, aku membayangakan bagaimana jika aku menjadi istrinya apakah dia juga akan seangkuh itu padaku.
Ya ampun, apa yang kupikirkan ini. Sepertinya tekanan hidup lagi-lagi membuatku sedikit oleng.
****
Kulihat ada sedikit keributan di meja yang ditempati Pria tadi.
"Apa kau tidak dengar? Aku ingin Barista itu yang mengantarkan kopiku ke sini." Kata pria angkuh itu. Apa yang terjadi sebenarnya apakah Nila membuat kesalahan atau aku yang sudah membuat kesalahan, kudengar pria itu menyebut-nyebut namaku.
Aku masih berada di standku untuk meracik beberapa pesanan. Namun, tiba-tiba Supervisor kami, Pak Alex mendatangi stand ku.
"Ana, cepatlah ke meja nomor 7. Tuan Yoshi ingin bertemu denganmu." Kata Pak Alex terlihat begitu ketakutan.
"Tapi Pak, bagaimana dengan pesanan pelanggan yang lain? " tanyaku mengingat list orderan sangat menumpuk.
"Tenang saja, biar saya yang handle." Kata Pak Alex dengan santainya.
Aku heran siapa sebenarnya pia itu hingga membuat Pak Alex kelabakan, sesaat setelahnya datanglah Owner Kedai ini, Ibu Lia dengan wajah gugup menghampiri kami.
"Alex, apa yang terjadi, hingga Tuan Yoshi menelepon dan memarahiku?" tanya Bu Lia sambil memarahi Pak Alex.
Aku sungguh bingung bagaimana bisa dua bosku ini begitu tunduk pada pria yang bernama Yoshi itu, siapakah dia sebenarnya.
"Tuan Yoshi meminta Ana, Barista kita untuk mengantarkan pesanannya ke mejanya Bu" kaya Pak Alex
"Lalu tunggu apa lagi? cepatlah suruh Barista itu mengantarnya mengapa kau membuatnya harus menunggu lama seperti itu." Kata Bu Lia dengan intonasi tinggi.
"Ba-baik Bu, saya akan pergi ke mejanya sekarang juga." Kataku, jujur aku sangat takut melihat Bu Lia yang seperti ini.
"Cepatlah tunggu apa lagi, ingat Ana jangan membuat Tuan Yoshi marah lagi, beliau adalah investor tertinggi kafe ini, dan juga investor dari cabang-cabang kafe ini yang tersebar di seluruh Indonesia." Jawab Bu Lia dengan serius.
Aku cukup kaget mendengarnya, pria sombong ini ternyata cukup berkuasa di sini, namun yang tidak aku mengerti adalah mengapa harus aku yang mengantar pesanannya, bukankah itu bukan masalah jika Nila yang melakukannya toh sama saja.
Entah apa yang dipikirkannya, dia melakukan komplain untuk hal tak penting seperti ini.
Tanpa pikir panjang aku pun melepas apron ku dan segera bergegas ke mejanya .
Kuraih kopi yang tak jadi diantar oleh Nila tadi, dan kubawa ke mejanya.
"Maaf Tuan, ini kopi pesanan anda, apakah ada hal lain yang bisa saya lakukan untuk anda?" kataku sambil menyodorkan secangkir cappuccino ke mejanya.
"Duduk, temani aku! " katanya sambil membuka masker dan kacamata hitamnya, sekilas alis itu sangat mirip dengan alis mas Ikau, tetapi postur tubuh dan wajahnya tidak begitu mirip bahkan aku juga tidak ingat dengan wajah Mas Ikau, tentu saja karena aku tak pernah menatap wajahnya dengan benar dulu.
Postur tubuhnya juga sangat berbeda dengan Mas Ikau, lagi pula mana mungkin Mas Ikau ada di sini. Dan kalaupun dia itu Mas Ikau tak mungkin dia lupa padaku.
Tetapi, satu kata yang pasti tentu saja Mas Ikauku tak akan sesombong dan seangkuh ini.
Lagi-lagi tekanan hidup berhasil membuatku berhalusinasi. Ah apa katanya? Dia memintaku untuk duduk satu meja dengannya.
"A-apa Tuan?" Aku spontan menanyakan lagi apa yang dia katakan.
Namun, tiba-tiba Bu Lia datang dan langsung menarik tubuhku dan mendudukanku di kursi yang berhadapan dengan kursinya. Entah ada apa dengan Bu Lia ,setakut inikah Dia padanya.
Hening..
Kami berpandangan, dia menatapku dan aku juga menatapnya, matanya seperti sedang menelanjangiku, membuatku sangat gugup. Aku *******-***** jemariku di bawah meja.
Wajahnya tampan, tetapi matanya sangat tajam, seperti ada aura kebencian di mata itu untukku, sesekali aku membetulkan rambutku yang jatuh dan menyelipkannya ke daun telingaku.
Cukup lama kami berpandangan, tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut kami, entah mengapa hatiku mengatakan bahwa sepertinya aku pernah melihat orang ini tetapi dimana dan kapan? Aku benar-benar tidak mengingat apa pun .