
Keesokan harinya aku berhasil membuntuti Ana yang sedang bersiap untuk pergi ke kantor personalia Perusahaan Maskapai itu.
Bagaikan seorang bidadari berbalut busana formal, aku cukup terkesima melihatnya beberapa saat. Sungguh aku tak rela bila pria lain menikmati pemandangan indah yang dimilikinya itu.
Awalnya aku meminta David untuk memaksanya masuk ke dalam mobil, tetapi asisten pribadiku itu gagal hingga membuat Ana berhasil kabur darinya.
Terpaksa aku keluar dari mobil dan berhasil menangkap Ana. Begitu kuatnya tarikan tanganku hingga membuatnya terpental jatuh dalam pelukanku.
Sungguh aku tak bermaksud memeluknya tetapi kehangatan tubuh Ana bagaikan sihir yang memebuatku ingin berlama-lama mendekapnya .
Aroma parfum White Rose bercampur Strawberry sangat menyegarkan indera penciumanku. Uraian rambutnya yang berhamburan mengenai wajahku meninggalkan aroma vanilla yang manis, entah sampo apa yang ia pakai tapi ini sangat memabukkanku.
Dia berhasil melepaskan pelukanku tetapi tidak dengan tangannya. Aku masih menggenggam erat pergelangan tangan berkulit putih itu.
Hingga aku berhasil membawanya masuk ke dalam mobil. Tentu saja Ana berusaha memberontak sebelumnya, tetapi itu sama sekali bukan apa-apa bila dibandingakan dengan kekuatanku.
Di dalam mobil dia terus mengomel, memarah-marahi aku. Tapi aku tetap tak bergeming, aku menghindari kontak mata dengannya, aku takut melihat wajah polos itu. Aku takut imanku akan goyah dan pembalasan dendamku akan gagal.
Dia terus saja mengomel, dalam hatiku tertawa kecil suara omelan dari bibir tipisnya itu sangat seksi. Aku ingin terus mendengarnya, aku terus menggodanya seperti biasa dengan memaksanya untuk menikah denganku .
Namun tiba-tiba dia mengatakan hal yang cukup membuat hatiku sakit. Sejahat itukah aku di mata Ana, aku mulai bertindak kasar. Kuhimpit tubuhnya hingga ke ujung pintu hingga membuatnya menutup kedua mata cantiknya itu.
Lagi-lagi dia membuat amarahku tersulut, Ana mengatakan Dia tidak mencintaiku, aku bisa terima itu tetapi yang tak bisa kuterima adalah Dia mengatakan dirinya mencintai orang lain.
Bahkan pria itu jauh lebih baik dariku, tentu saja aku semakin penasaran dibuatnya. Sejak kapan Ana mencintai pria itu bukankah sejak SMA dia tak pernah sekalipun dekat dengan anak laki-laki manapun.
Aku merasa kecolongan, lihat saja akan kupatahkan tulang-tulang pria itu jika aku berhasil menemukannya. Pikiranku mulai kacau mengingat-ingat masa lalu. Jadi waktu itu Ana tak datang menemuiku karna ada orang lain di hatinya.
Sungguh ini melukaiku, aku berhenti menghimpit tubuh rampingnya. Dan kembali ke posisi awal.
Aku tau Ana mulai terisak bahkan air mata mulai mengalir di pipi mulusnya itu meski mataku tak melihatnya tetapi aku bisa merasakan perih di hatinya.
Kuraih tisu dan kuberikan padanya. Namun dia malah melemparkan tisu itu lagi ke wajahku sebelumnya akhirnya keluar dari mobil.
Aku mengacak rambutku kasar. Mengapa aku harus membuatnya menangis hari ini. Aku memang membencinya tetapi aku juga tidak suka membuatnya sesedih itu. " Maafkan aku Ana" kataku dalam hati.
****
Beberapa waktu berlalu setelah kejadian itu. Aku mencoba melacak keberadaannya tetapi terus saja gagal.
David mengatakan terakhir kali melihat Ana berada di rumahnya. Ingin sekali aku ke sana tetapi itu tak mungkin sebab Pramuja masih berada di rumah itu. Sial, apa yang harus kulakukan sekarang.
****
Satu bulan berlalu masih saja belum ada kabar tentang Ana. Ini membuatku frustasi. Seperti kehilangan arah hidupku. Bagiku Ana sudah seperti udara. Di mana akan membuatku sesak nafas bila tidak bertemu dengannya.
Kulalui hari-hariku dengan kacau. Tak satupun hal yang bisa mengalihkan pikiranku. Aku mulai sering melihat foto-fotonya di ponselku. Ada rasa rindu di hati tetapi entah mengapa sisi egoisku lebih tinggi.
****
Empat bulan berlalu tetapi tetap saja tak ada kabar dan informasi yang kudapat. Aku semakin tak karuan, tak ada makanan yang benar-benar bisa masuk ke perutku, Aku terus memfokuskan diriku pada pekerjaan menambah pundi-pundi rupiah di rekeningku.
Ini kesempatan yang sangat langka. Dengan sigap aku menerima tawaran tersebut. Sebuah perusahaan Belanda dengan lima belas kapal pesiar mewah dapat dibayangkan berapa income yang akan kudapatkan bila masing-masing kapal itu memakai produkku.
Setidaknya ini bisa mengalihkan perhatianku pada Ana untuk sementara waktu.
Tiba-tiba saja panggilan videocall datang dari Mama.
"Hai Yoshi, apa kabar Sayang?" sapa wanita paruh baya di seberang sana. Bagaikan mendapat secerca harapan. Mama terlihat sangat ceria berbeda dari biasanya.
"Halo Ma, tumben menelepon. Yoshi kira Mama sudah melupakan anak semata wayang Mama ini." Jawabku sambil menggodanya.
"Yosh kau terlihat sangat tidak terurus. Wajahmu di penuhui bulu dan badanmu lebih kurus, apa yang terjadi?" tanya mama memperhatikan diriku melalui layar ponselnya.
"Tak apa Ma, hanya terlalu sibuk bekerja saja." Jawabku menutupi masalahku yang sebenarnya.
"Benarkah? Bukan karena kau tak sempat merawat diri? cepatlah menikah Nak, Mama ingin kau mempunyai pendamping hidup untuk mengurusmu." Jawab Mama, sambil tetap memperhatikanku.
"Ma, jangan terlalu memikirkan Yoshi, pikirkan saja kesehatan Mama dan Opa." Jawabku, jujur saja perkataan Mama sangat mengingatkanku pada Ana.
"Nak, taukah kau ada penghuni baru di Apartment ini. Mereka memiliki balita yang sangat menggemaskan. Mama ingin cucu sepeti itu Yosh." Jawab Mama, sekarang aku tau mengapa sejak tadi wajah Mama berseri ternyata ada makhluk kecil yang mengisi hari-harinya.
"Iya Mama. Sabar ya, menikah tidak semudah itu Ma, please. " Ucapku pada Mama.
"Jika tidak, Mama akan mencarikanmu calon istri di sini. " Kata Mama, sejak kapan Mama bisa mengancam seperti ini.
"Ti-tidak usah Ma, tolong berikan Yoshi waktu " Jawabku mulai bingung, sementara calon istriku malah menghilang entah kemana.
"Apa kau sudah menemukannya? Maksud Mama apa kau sudah menemui Princess di masa remajamu itu?" Tanya mama dengan sumringah terlihat jelas harapan di matanya.
"Tentu Ma, hanya perlu meyakinkannya saja. Mama tenang ya, " kataku padanya sudah jelas aku telah memberikan harapan palsu pada Ibuku itu.
"Wah selamat berjuang kalau begitu Nak, kejarlah Dia. Mama mendukungmu. " Jawab Mama.
Aku benar-benar terjebak dengan ulahku sendiri sekarang. Aku tak ingin membuat mama kecewa.
Seandainya saja nantinya sku berhasil menikah dengan Ana, apakah mama akan setuju bila mengetahui yang sebenarnya.
Di sisi lain aku ingin sekali mengetahui tentang kebenarannya. Sementara satu-satunya orang yang mengetahui tentang bukti itu adalah Opa.
"Opa please cepatlah sadar, begitu banyak yang ingin Ricko tanyakan pada Opa." Kataku dalam hati berharap perkataan ini akan didengar oleh Opa.
Waktu terus bergulir sementara keberadaan Ana belum juga kutemukan. Bahkan ponselnya juga belum aktif. Jujur saja aku mulai mengkhawatirkannya.
Perasaan benci dan dendamku semakin terkikis oleh waktu digantikan dengan kekhawatiran yang mendalam.
Beberapa panggilan via e-mail dari perusahaan asing itu terus menggangguku, mereka memintaku utuk segera cek lapangan. Yaitu memeriksa satu persatu kapal pesiar yang akan menggunakan produkku.
Aku sangat kacau, pikiranku begitu terbagi-bagi. Di sisi kiri otakku memikirkan keberadaan Ana, sementara sisi lain otakku memikirkan pekerjaan dan keadaan keluargaku.