My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Terjadi Sesuatu



Hari itu juga Yoshi membawaku pergi ke Inggris untuk mempertemukanku dengan ibunya. Tak kusangka dia benar-benar melakukannya, sepanjang perjalanan ada rasa lega di hatiku. Hal yang kutakutkan selama ini sepertinya hanya ada di pikiranku saja.


Setelah menempuh perjalanan panjang. Sampailah kami di sebuah apartemen di kota London. Awalnya aku ragu, mungkinkah selama ini orang tua Yoshi tinggal di sebuah apartemen seperti ini. Ini tidak cukup mewah menurutku.


Seorang wanita paruh baya membukakan pintu. Dan menyapa kami berdua.


"Yoshi.. Kau belum pulang ....?" Ucapnya yang terpotong karena melihatku yang berdiri tepat di samping Yoshi.


Seketika wajah cantik yang tadinya muram itu berubah menjadi tersenyum sumringah. Ibu itu menatapku dari atas hingga bawah seperti sangat terkejut dengan kehadiranku.


"Apakah ini benar Ana... ?" tanyanya pada Yoshi, sambil mendekat kepadaku. Mata itu seakan berkaca-kaca ketika memperhatikan diriku.


"Iya Ma, sebenarnya sejak kemarin Yoshi sudah tiba di Indonesia, tetapi menantu mama ini seakan tidak sabar untuk bertemu dengan mama. Jadi terpakasa, akhirnya Yoshi membawanya terbang ke mari hari itu juga." Kata Yoshi, sambil menunjukkan wajah lelahnya karena menuruti permintaanku.


"Sayang, kau sangat cantik. Pantas saja Yoshi menyukaimu sejak lama." Ucap wanita yang ternyata adalah ibu mertuaku itu.


Dia pun membawaku masuk ke dalam apartemen. Aku sangat gugup berada di dekatnya pasalnya ini adalah pertemuan pertama kami tetapi seolah Ibu ini sudah sangat mengenal diriku. Aku bersorak dalam hati jadi selama ini Yoshi tidak pernah menyembunyikan hubungan kami pada ibunya.


"Sebelumnya mama minta maaf ya, karena tidak bisa hadir dalam acara pernikahan kalian. Mama harus menjaga opa di rumah sakit, itu lah sebabnya kami tinggal di apartemen ini." Ucapnya sambil memberikan minuman untukku.


"Tidak apa Ma. Jadi opa sedang sakit?" Tanyaku sambil meraih segelas minuman berwarna kehijauan itu.


"Iya sayang, sudah enam tahun lebih opa mengalami koma. Awalnya mama tinggal di Greenwich tetapi karena jaraknya yang cukup jauh dari rumah sakit akhirnya mama memutuskan untuk tinggal di sini." Kata mama, jujur saja aku masih sangat kaku untuk bisa membaur dengannya.


"Ma, Yoshi ke kamar dulu ya." Kata Yoshi sambil melangkahkan kaki menaikki tangga.


"Sayang, aku menunggumu... " Ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Mama yang melihat itu hanya tersenyum tanpa berkata apa pun.


"Sayang, ayo minumlah. Ini hanya jus herbal untuk daya tahan tubuhmu. Kau pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh." Kata mama sambil melirik ke arah minuman di tanganku ini.


"Baik Ma, terima kasih." Ucapku, tak ingin membuatnya kecewa aku pun langsung meminum jus hijau itu.


"Bagaimana rasanya apa kau suka dengan minuman buatan mama?" tanya mama dengan antusias.


"Ana suka Ma, ini segar seperti ada rasa madu, gingseng dan kurma juga di dalamnya." Jawabku jujur entah minuman apa ini sebenarnya, tapi rasanya tidak begitu buruk untukku.


"Bagus, habiskan sayang. Setelah ini kau harus istirahat ya, mama harus ke rumah sakit untuk melihat keadaan opa." Kata mama, memastikan aku harus meminum habis jus ini.


"Ma, Ana akan menemani mama ke rumah sakit ya." Ucapku, sebenarnya aku juga ingin sekali melihat keadaan opa Yoshi yang telah lama sakit itu.


"Jangan sayang.. Kau temani Yoshi saja. Lagipula kalian juga baru sampai. Beristirahatlah dulu." Kata mama sambil mengelus rambutku.


****


Aku pun menaikki anak tangga, dan masuk ke dalam kamar Yoshi. Kulihat dia sedang terbaring di ranjang. Wajah itu terlihat sangat letih. Ada rasa bersalah dalam hati ini, aku telah banyak salah sangka padanya.


Jam menunjukkan pukul 7 malam dan entah mengapa tubuhku terasa sangat panas. Padahal AC di ruangan ini cukup dingin. Lagi pula di luar juga sedang turun salju.


Aku pun keluar dari ruang shower. Kuraih dress pendek tanpa lengan. Aku sengaja memilih mini dress berbahan tipis karena serangan hawa panas ini sangat meresahkan.


"An, matikan pendinginnya. Aku sangat kedinginan." Ucap Yoshi masih dengan mata terpejam.


Aku sengaja menurunkan temperatur AC agar rasa panas di tubuhku cepat menghilang, namun hal itu ternyata membuat Yoshi sangat kedinginan dalam tidurnya. Hingga membuatnya terbangun.


"Yosh, maaf. Tetapi aku sangat kepanasan saat ini. Biarkan ACnya tetap dingin ya." Kataku sambil menambahkan selimut pada tubuhnya.


"An, wajahmu memerah. Sangat merah." Ucap Yoshi sambil menatap wajahku dengan intens.


"Iya, sejak tadi sore aku merasa sangat panas. Hingga guyuran air pun tak dapat meredakannya." Kataku jujur, masih tetap mengipas-ngipaskan tanganku untuk menghasilkan angin.


"Apa yang terjadi padamu? Apa kau memakan atau meminum sesuatu hari ini?" Tanya Yoshi dengan wajah yang serius.


Entah mengapa dia terlihat lebih tampan dari biasanya. Hingga mataku ingin terus menatapnya. Seperti mendapat dorongan dari dalam. Aku terus mendekatkan tubuhku padanya.


Tanpa sadar aku memeluknya dengan sangat erat. Aku benar-benar di luar kendali. Tangan ini terus saja memainkan punggungnya, berputar-putar di sana. Hingga membuatnya kebingungan.


"An, apa kau sedang mabuk?" tanyanya. Tentu saja dia juga membalas pelukanku.


Aku tak dapat berkata-kata, dorongan hawa panas itu semakin menyiksaku dan rasanya mereda saat aku mendekatkan diriku pada tubuh Yoshi.


"An... " ucap Yoshi mencoba menyadarkanku.


"Sayang.. Apa kau merasa ada sesuatu yang begitu ingin dikeluarkan?" ucapnya lirih dan suara itu mulai parau. Sementara aku, aku tidak dapat menjawab setiap pertanyaannya sedikit pun.


"An.. sepertinya aku tau apa yang sedang terjadi padamu." Ucapnya lirih sambil merebahkan tubuhku dengan pelan. Dia pun menutup pintu kamar kami dan menguncinya dari dalam.


*****


Aku terbangun dari tidurku. Rasanya tubuhku ini sangat remuk redam. Apa yang kulakukan semalam sebenarnya. Dan Yoshi mengapa dia tidak terlihat di kamar.


Aku mencoba membuka selimutku. Astaga aku baru sadar, tak ada sehelaipun kain yang melekat pada tubuhku. Dan yang lebih menegangkan lagi. Ada rasa perih dan nyeri yang begitu hebat di area sensitifku.


"Sayang, sudah bangun?" Ucap Yoshi memasukki kamar dengan membawa baskom berisi air.


Aku masih terdiam tidak bergeming menatap wajah Yoshi yang sangat segar berbeda jauh dengan keadaanku yang acak-acakan ini.


"Aku akan membersihkan tubuhmu." Kata Yoshi, sambil mencium puncak kepalaku.


"Yosh, tubuhku sangat sakit. Tetapi aku akan membersihkan diri di kamar mandi saja." Kataku, aku lupa menanyakan bagaimana bisa tubuhku tanpa sehelai benang sedikitpun seperti ini.


"Apa kau yakin? Menurutku untuk berjalan saja kau akan merasa kesulitan sayang." Katanya, aku masih tak mengerti apa maksud dari perkataannya itu.