My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Bapak jatuh sakit



Sepulang dari jembatan baru kulangkahkan kakiku dengan gontai. Aku merasa tak mampu berjalan, bahkan sampai di rumah pun aku sama sekali tak ingin berbicara dengan siapa pun.


Sempat terfikir bahwa hari ini Mas Ikau hanya mengerjaiku saja, tetapi mengapa hati ini begitu mudahnya percaya, aku benar-benar berfikir Mas Ikau akan datang hari ini, entah memang ini murni kesalahanku atau kesalahannya aku tak tau.


Ada sedikit kekecewaan di hati, bukankah hari ini akan menjadi hari terakhir dia di sini. Aku dengar dari Devi bahwa Mas Ikau akan meneruskan pendidikannya di luar kota atau bahkan di luar negeri.


Aku sungguh tak mengerti mengapa waktu tak pernah berpihak kepadaku, mungkin memang Tuhan ingin mempertemukan kami di lain waktu, biarlah semua Tuhan yang mengatur aku tak akan mengeluh bukankah jodoh itu selalu dipertemukan kembali walau apa pun yang terjadi. Mas Ikau, aku putuskan untuk melupakanmu sementara waktu, aku akan fokus pada pendidikanku dulu untuk saat ini, kataku dalam hati.


"An, tolong bukakan pintunya, ada tamu tuh!" suara Ibuku dari arah dapur, memintaku untuk membukakan pintu tetapi aku sangat malas sekali, moodku benar-benar sedang tidak bagus akhir akhir ini.


"Selamat siang, ada paket Bu," terdengar suara laki laki dan ternyata itu Kurir. Aku masih bermalas malasan di kamarku.


"Biar Luna aja yang bukain pintu" kata adikku, bagus sekali, tumben adikku yang pemalas ini mau bergerak.


***


"Lun, ada paket buat siapa?" tanyaku masih dari dalam kamar.


"Nggak tau kak, aku taruh atas meja deket buku buku aku tuh " kata Luna, sejenak aku ingin melihat paket itu tetapi tertunda sebab


Ibu memintaku untuk membantunya memasak di dapur.


Selesai memasak kami pun membantu Luna untuk berbenah, mulai hari ini Luna akan belajar di pondok pesantren, entah ada angin apa yang membuatnya ingin belajar di ponpes saja.


Awalnya aku dan orang tuaku cukup kaget dengan keputusan Luna itu, tetapi akhirnya kami menyetujuinya sebab Luna memang sudah cukup umur untuk mengambil keputusan apapun di hidupnya.


Kami pikir tidak ada salahnya untuk menuruti permintaannya, bukankah ini lebih bagus karena Luna akan lebih mengerti ilmu agama nantinya, terlepas dari semakin jarangnya intensitas kami untuk saling bertemu setelah kepindahannya ke Ponpes.


Aku dan Ibu ikut membereskan semua buku buku Luna di lemarinya termasuk buku buku yang ada di atas meja, tanpa kusadari sebuah paket dari Kurir tadi ikut terbawa bersama buku buku Luna.


Setelah semua dirasa sudah siap, tidak ada yang tertinggal sama sekali kami pun pergi mengantar Luna, tanpa ditemani sosok Bapak di tengah kami.


Seperti biasa, Bapak masih saja sibuk dengan urusannya mondar mandir ke kota untuk urusan bisnis pertanian dengan temannya. Aku sangat penasaran tentang apa yang Bapak lakukan ini.


Hingga beberapa bulan kemudian sebuah berita mengejutkan datang, teman bapak yang biasa ditemuinya di kota itu datang ke Rumah kami, mengabarkan bahwa bapak jatuh sakit di sana.


Seorang pria bertubuh kekar dan berkulit gelap itu tiba-tiba mendatangi rumah kami, sekilas postur tubuhnya mirip dengan bapak, aku sangat bingung mengapa pria-pria seperti ini lebih memilih bertani padahal postur mereka cukup bagus, cocok sebagai abdi Negara atau mungkin bodyguards.


"Ibu Larissa, saya Hamdan. Temannya Bapak Pram suami Ibu, mengabarkan bahwa ada berita yang kurang bagus dari suami anda." Kata Bapak itu dengan raut wajah serius.


"Ka-kabar kurang baik apa?" tanya Ibu dengan ekspresi kagetnya.


"Bapak terkena serangan jantung?" Ucap ibuku dengan ekspresi lebih kaget lagi.


"Benar Bu, dan untuk biaya rumah sakit sementara waktu saya yang akan menanggungnya." Kata Pak Hamdan.


"Tetapi saya ingin melihat kondisi suami saya. " Kata Ibu yang sebenarnya juga sangat berterimakasih kepada pak Hamdan yang sudah membiayai pengobatan Bapak.


"Tidak usah khawatir Bu, nanti jika waktunya sudah tepat, saya akan mengantar Anda ke rumah sakit tetapi untuk sementara waktu ini, biarlah Pak Pram menjalani pengobatan dulu, beliau tidak ingin Anda sekeluarga terlalu mengkhawatirkannya," jelas Pak Hamdan sebelum berpamitan untuk pergi mrninggalkan rumah kami.


Aku dan Ibu hanya bisa saling pandang setelah kepergian Pak Hamdan itu, sebenarnya aku tau ibu sangat ingin menemui bapak tetapi mau bagaimana lagi, kami terbatas dengan biaya, mau ke sana pun juga belum tentu bisa meringankan kondisi bapak.


Benar kata Pak Hamdan, kehadiran kami di sana hanya akan memberatkan bapak, akhirnya aku putuskan untuk fokus pada pendidikanku saja. Sedangkan Ibu tetap Berkebun dan berjualan di pasar, sepulang sekolah aku lah yang berjaga di warung kelontong kami.


Sejak naik ke kelas XII aku sangat kesepian, karena Devi sahabatku harus pindah ke Bekasi ikut dengan kakaknya. Bahkan nomor whatsaapnya pun tidak bisa kuhubungi, entah mengapa Devi tidak memberitahuku tentang nomor barunya.


Seperti biasa, di waktu senggang aku juga masih berjaga di warnet, hasilnya lumayan untuk membantu keperluan keluarga kami,


Tak terasa beberapa bulan berlalu, hingga kabar baik pun datang, bapak pulang dengan selamat meskipun masih harus mengkonsumsi obat.


Kami yang hanya memiliki pemasukan yang tak banyak akhirnya harus lebih giat lagi bekerja demi mendapatkan obat untuk bapak.


Bapak yang sangat terpukul dengan keadaannya saat ini tak dapat berbuat apa-apa, bahkan beliau sangat ingin untuk bisa bekerja kembali, tetapi apa daya tubuhnya tidak seperti dulu lagi.


Aku meyakinkan bapak untuk tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi kami, aku akan berusaha keras untuk bekerja sambil sekolah, dan tak akan ada masalah serius untukku selama aku bisa membagi waktu.


"An, maafkan Bapak yang telah menyusahkanmu dan Ibumu, demi Bapak kau harus bekerja keras seperti ini, maafkan Bapak nak," kata Bapakku tak dapat menahan tangisnya.


"Sudah Pak, jangan khawatir, Ana dan Ibu gk apa-apa kok, yang penting Bapak harus segera pulih seperti dulu." Jawabku sambil mengambilkan obat untuknya.


Sebenarnya aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada bapak waktu itu, masalah apa yang beliau alami hingga membuatnya sampai terkena arranging jantung.


Namun melihat keadaan bapak yang seperti ini, aku mengurungkan niatku untuk bertanya padanya, aku tak ingin membuatnya semakin tertekan.


Hingga pada tahun berikutnya bapak terkena serangan jantung lagi, kami sangat kelabakan waktu itu akhirnya kami menghubungi Pak Hamdan sebab di sini penanganan untuk penyakit jantung tak sebagus di Kota.


Selama ini Pak Hamdan sudah sangat membantu keluargaku, akhirnya Ibu memutuskan untuk membiayai pengobatan bapak sendiri. Bukankah itu sangat tidak etis apabila kita terus terusan merepotkan orang lain untuk keperluan kita sendiri.


Selama bapak menjalani pengobatan di Kota aku dan Ibu tetap berada di tempat tinggal kami, karena aku baru lulus sekolah dan ibu harus bekerja, namun tak jarang ibu bolak-balik ke kota demi melihat keadaan bapak, sementara aku tetap di rumah