
Beberapa hari setelah pertemuanku dengan Yoshi suasana di kru mess masih saja mencekam, para staf Galley seperti kelabakan ke sana dan ke mari, ketakutkan bila Mr.Orlando, Presiden utama perusahaan ini datang untuk memeriksa kondisi kru mess.
Kulihat segerombol gadis kesayanganku sedang membicarakan sesuatu di meja dekat jendela yang merupakan spot favorit kami karena hanya di sana lah kami dapat menyeduh kopi sambil menatap ke arah laut lepas.
Terlihat Evelyn, Jenny dan Dian tengah duduk menikmati cookies dan latte dari mesin kopi.
Aku pun menghampirinya, samar-samar terdengar mereka tengah membicarakan seseorang.
"Lu pada tau belom IT manager yang baru dateng kemarin itu?" kata Dian.
"Yang mukanya kek Markus itu? demi Dewa, gue ampe gak bisa napas pas papasanan sama do'i," sahut Evelyn sambil memejamkan matanya gemas.
"Kayak Mario kali, Markus Markus, jauh banget lu! " Jawab Dian.
"Haha Oh iya, Markus kan pemain basket apa pembalap F1 sih?" jawab Evelyn dengan mengulum senyumnya.
"Cyin, Eyke juga lihat do'i kemaren, tapi eyke sebel." Sahut Jenny sambil menggigit cookies di tangannya.
"Sebel kenapa emang?" tanya Evelyn pada Jenny.
"Eyke jadi harus ke dokter mata terus, meriksain mata eyke yang nggak mau kedip kalo belum lihat dia." Kata Jenny dengan menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak tahan dengan kata-katanya sendiri.
"Dasar Banci emang!" Kata Dian melemparkan sepotong roti croissants ke arah Jenny.
"Tau tuh nyesel kuping gue udah stand by dengerin cerita lu kampret!" teriak Evelyn pada Jenny.
Aku pun mengambil secangkir kopi hitam dan kue muffins yang tersaji di meja buffet sebelum akhirnya bergabung dengan mereka.
"Anaa , lama banget lu ditungguin dari tadi juga." Kata Dian sambil menarik kursi untukku.
"Tau tuh, kamu pasti belum tau kan IT manager kita yang baru kayak apa?" Tanya Evelyn dengan antusias padaku.
Aku pun hanya menggeleng tak tau, menurutku itu bukan hal yang penting karena bidang kami berbeda.
Lagi pula ini sudah menjadi kebiasaan mereka untuk selalu bergosip membicarakan segala hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.
"Lu harus ketemu An, harus!" kata Dian sambil memegang tanganku. Ini sangat berlebihan.
"Eyke jamin yey pasti akan langsung in love sama dia Cyin!" kata Jenny tak kalah berlebihan.
Dalam hatiku berkata boro-boro untuk jatuh cinta, untuk bernafas saja terkadang aku sulit karena gangguan dari lintah air itu.
Sebelumnya aku menyebutnya lintah darat tetapi karena sekarang dia sudah berada di laut. Baiklah lintah air akan menjadi namanya sekarang sesuai dengan habitatnya yang sesungguhnya.
"Lu beneran belom ketemu sama dia An?"tanya Dian lagi yang kujawab dengan anggukan.
"Dih ketinggalan banget si Ana, siapa nama Cowok hot itu Di? Yusuf apa Yudi sih?" tanya Evelyn pada Dian.
"Yoshi keles, kuping lu parah Eve," jawab Dian.
Aku yang sedang meminum kopi pahitku seketika merasa seperti tercekik mendengar nama itu. Jika di adegan film-film mungkin mulut ini akan menyemburkan isinya ke luar saat itu juga.
Nasib baik untuk Jenny karena aku masih mampu menahan diri agar tidak mengukuti adegan di film itu jika tidak pasti kepala plontos Jenny akan terhujani kopi dari mulutku.
Tapi tunggu, mereka bilang Yoshi adalah IT manager di kapal ini? Bukankah dia seorang cooperate yang hanya ditugaskan untuk memeriksa kondisi lapangan dalam beberapa hari saja dan berpindah ke kapal lain setelah usai dari sini.
Ini mustahil, bagaimanapun seorang IT manager adalah termasuk ke dalam kru. Dan seorang kru akan dikontrak selama beberapa bulan untuk berada di sini.
Tidak, tidak mungkin Yoshi menjadi kru sama sepertiku. Dan posisinya itu pun cukup bagus meskipun tidak satu departemen denganku tetapi setidaknya dia adalah seorang officer sekarang, sama seperti Reza.
Bahkan setrip di pundak Yoshi lebih banyak dari pada setrip Reza yang hanya satu bahkan kurang dari satu itu sebagai tanda tingkat jabatannya.
Aku terus berfikir bagaimana hal itu bisa terjadi, ini sulit dipercaya tetapi tak mungkin teman-temanku berbohong.
Tiba-tiba suara Dian menyadarkanku.
"An, lu ikut crew party nggak ntar malem?" tanya Dian sambil membawa selembar kertas berisi pengumuman akan diadakannya pesta khusus untuk kru.
"Ntar malem ada crew party? " tanyaku heran. Kuraih selembar kertas itu setelah kubaca memang benar bahwa nanti malam akan ada pesta untuk para kru karena rating kapal sedang melonjak tinggi.
"Tapi lu ada baju nggak An?" tanya Dian memastikan. Tentu saja aku tak punya baju untuk ke pesta. Lagi pula satu-satunya pesta yang pernah kukunjungi seumur hidupku hanyalah pesta hajatan tetangga. Tak ada yang lain.
"Pake dress aku aja An, kan postur kita gak jauh beda." Sahut Evelyn.
"Pestanya kayak apa sih memang ntar malem?" tanyaku pada mereka, khawatir jika aku tak nyaman menghadirinya nanti.
"Ntar kita bareng-bareng terus pokoknya Cyin, nggak sampai tengah malem udah balik ke kabin kok! " Ucap Jenny meyakinku.
Akhirnya aku pun setuju, lagi pula aku juga penasaran ingin tau bagaimana suasana pesta nanti malam, tak ada yang perlu dikhawatirkan jika memang terjadi sesuatu bukankah ada HRM yang selalu stand by untuk menerima segala keluh kesah kami jika terjadi masalah.
Malam pun tiba.
Dian, Evelyn dan Jenny sudah berada di kabinku untukmu bersiap-siap. Jenny dengan rambut palsu panjang berwarna pirang, Evelyn dan Dian dengan dress selutut berwarna silver dan gold sangat elegan dan berkelas.
Dan aku memilih dress panjang berwarna peach tanpa lengan dengan belahan di atas lutut. Menampakkan kaki jenjangku. Aku merasa lebih tinggi dari biasanya saat ini.
Sebenarnya aku tak nyaman dengan baju ini, tetapi ini lah dress yang menurutku paling tertutup diantara dress lain milik Evelyn. Sudah kepalang tanggung mau bagaimana lagi.
Kemudian, kugerai rambutku yang sudah tertata curly di bagian ujungnya. Bukan tanpa sebab. Ini bertujuan untuk menutupi bagian punggungku yang terbuka. Terakhir kupakai Steletto berwarna hitam untuk menghiasi kakiku.
Selasai berhias.
Kami pun naik ke Crows Nest yaitu lantai paling tinggi di kapal ini, tempat pesta itu di adakan.
Tiba di pesta.
Terdengar alunan musik yang begitu kencang, beberapa kru sudah mulai berhipnotis dengan suasana pesta yang kebarat-baratan itu. Tak dapat dipungkiri memang mayoritas kru di sini berasal dari Eropa dan Amerika.
Bahkan Evelyn dan Dian mulai terbawa suasana, mereka pun meminta izin dariku untuk bergabung dengan kru lain menikmati dentuman musik yang semakin kencang.
Sementara aku dan Jenny masih saja terduduk di meja pojok sambil menikmati softdrink dan juga camilan.
"Jen, nggak pengen gabung sama mereka? " tanyaku pada Jenny yang sepertinya sangat ingin menyusul Dian dan Evelyn.
"Ntar yey gimana cyin? " tanya Jenny mengkhawatirkanku.
"Alah nggak apa-apa, santai aja habis ini aku balik kabin aja ." Kataku pada Jenny.
"Beneran nih nggak apa? " tanyanya lagi.
"Iya udah sana gih, sayang udah dandan gitu malah cuma nongki doang di sini" ucapku meyakinkan Jenny.
"Oke deh, Eyeke sebentar aja kok Cyin cuma pengen ngelemesin badan doang, " Kata Jenny.
"Iya-iya, udah sana" kataku.
"Jangan kemana-mana ya Cyin nanti yey ilang terus Eyke bisa digorok sama duo macan itu, " ucap Jenny yang kubalas dengan anggukan.
Jenny pun tersenyum bahagia sambil meletakkan segelas minumannya di mejaku. Dari meja ini aku bisa melihat mereka bertiga sedang bergoyang, berdansa, tertawa terbahak-bahak betapa sangat menikmati pesta ini.
Aku pun mengambil minumanku yang berjajar dengan minuman Jenny. Karena pencahayaan yang gelap membuat minuman itu terlihat sama.
Tanpa pikir panjang segera kuteguk saja salah satunya, entah ini milik Jenny atau milikku tetapi rasanya cukup aneh, agak sepat dan beraroma khas.
Sepertinya aku salah mengambil, bukannya cola milikku yang kuminum tetapi malah red wine milik Jenny yang telah kuteguk.
Aku mulai pusing dan mual, padahal hanya seteguk saja yang berhasil masuk ke kerongkonganku, sepertinya wine ini sudah berusia puluhan tahun sehingga efeknya sangat dasyat. Terlebih ini adalah kali pertamaku meminum minuman beralkohol seperti ini.
Rasa pusing di kepalaku semakin menjadi-jadi. Bahkan pandanganku mulai kabur. Aku sangat ingin memejamkan mataku.
Aku berusaha untuk beranjak dari tempat duduk, berharap bisa tiba di kabin dengan cepat. Dengan terhuyung-huyung kaki ini melangkah. Beberapa kali aku menabrak sesama kru. Namun aku tetap berusaha berjalan sambil berpegangan pada hand rails.
Tubuhku mulai terasa berat dan sakit di kepala kian menjadi-jadi, akhirnya aku pun terjatuh. Dan tak tau lagi apa yang terjadi.
****
Tidurku terasa sangat nyaman, seperti berada di atas kasur yang terbuat dari bulu angsa asli. Sangat lembut dan hangat. Inginku berlama-lama tertidur seperti ini.
Rasanya kasur ini sangat berbeda dengan kasur yang biasa kutiduri dan aroma ini, seperti aroma parfum maskulin yang pernah kuhirup sebelumnya.
Aku pun mulai mengerjapkan mataku untuk terbangun.
"Sejak kapan kau suka mabuk-mabukan seperti ini?" terdengar suara dingin di hadapanku. Tentu saja aku sangat mengenali suara ini.