
Yoshi sangat marah padaku perihal kotak biru dari Reza itu. Untung saja aku sudah menitipkannya pada Evelyn untuk dikembalikan kepada Reza. Apapun alasannya aku tak pantas mendapatkannya, meski atas nama pertemanan sekalipun aku tetap tak akan menerimanya, aku menghormati statusku sebagai seorang istri.
Sementara itu Yoshi tak tau bagaimana dengan perasaanku? Apa dia pikir aku akan diam saja melihatnya bersama wanita lain. Dan lagi mengapa dia tidak jujur padaku bahwa dirinya sudah berada di kapal ini sejak kemarin padahal aku sempat melakukan video call dengannya.
Sangat menyebalkan sejak tadi dia terus saja memarahiku padahal aku juga berhak marah padanya. Aku terus meredam amarahku hingga kami tiba di kabin Yoshi.
Yoshi mencoba membuka koperku untuk mencari-cari kotak biru pemberian dari Reza itu, yang tentu saja tidak ada di sana. Yang aku takutkan adalah bagaimana jika dia melihat kotak merah berisi gelang pancawarna pemberian Mas Ikau dulu.
Bagaimana jika dia marah dan membuang kotak itu. Tentu saja dia akan menanyakan tentang gelang itu, dari mana asalnya dan siapa yang memberikannya padaku. Sungguh jika itu benar terjadi aku tak akan mampu untuk berbohong padanya.
"Sampai kapan kau akan mengacak-acak koperku seperti itu ha?" kataku kesal, aku mencoba mengalihkan perhatiannya. Namun tak ada jawaban sama sekali.
"Yoshi !" teriakku lagi, namun tetap tak ada jawaban darinya. Seperti sedang sibuk melihat sesuatu di koperku.
Sadar bahwa aku sedang memperhatikannya, akhirnya dia menutup kembali koper itu. Aku terus memperhatikan ekspresi wajahnya. Dia terlihat tenang, tanpa amarah seperti tadi.
"Apa kau menemukan kotak biru itu?" tanyaku mencoba mengetesnya.
Bukannya menjawab, dia malah memelukku. Dan mengatakan.
"Maafkan aku An, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu tanpa ragu sedikitpun." Ucap Yoshi, sungguh aku sangat kesal padanya.
"Apa maksudmu? simpan sandiwaramu itu. Kau bilang jika dirimu mencintaiku tanpa ragu. Lalu apa ini? Kau baru saja meragukanku Yosh." Kataku dengan melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku sayang. Aku akan jujur padamu saat ini juga." Jawab Yoshi masih mencoba memelukku lagi.
"Jadi kau mau mengakui perselingkuhanmu itu?" kataku. Bagus, lihat saja jika sampai kau berbohong Yosh, batinku.
"Perselingkuhan apa?" Katanya heran.
"Perselingkuhanmu dengan staf resepsionis itu tentu saja !" Ucapku mulai emosi.
"Aku tidak selingkuh An. Dengar, ada hal penting yang harus kita bicarakan." Kata Yoshi, aku tau dia sedang mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Lalu bagaimana tentang fotomu bersama wanita itu jika memang kau tak punya hubungan dengannya!" Kataku, menggebu-gebu.
"Astaga An, foto apa? Dengarlah, aku punya hal yang lebih penting yang harus kita bahas sekarang." Kata Yoshi, masih saja mencoba mengalihkan topik.
"Aku tidak mau.. Aku ingin kau menjelaskan padaku, apa hubunganmu dengan Celine?" tanyaku.
"Celine? Staf resepesionis itu yang kau maksud?" tanya Yoshi dengan bingung.
"Yaaa Yoshi, jangan pura-pura kebingungan." Kataku sambil memalingkan wajah darinya.
"An, aku sungguh tidak mengenalnya dan aku juga tidak berniat untuk berfoto dengannya. Sejak tadi mataku terus mencari keberadaanmu." Kata Yoshi sambil meraih tanganku.
"Lalu apa ini? Bukankah ini wajahmu?" ucapku sambil menujukkan foto dirinya dan wanita itu.
"Ya ampun dia benar-benar mempostingnya di medsos." Ucap Yoshi, sambil mengacak rambutnya.
"Masih mau membela diri?" tanyaku.
"An, aku sungguh tidak tahu tentang foto yang dia posting itu. Dia bilang hanya ingin menggunakannya sebagai kenang-kenangan saja." Ucap Yoshi lagi.
"Kau menyebalkalkan Yoshi. Aku marah padamu." Kataku sambil berbaring dan membelakanginya.
"Jangan marah sayang. Dengarkan aku dulu. Aku ingin memberitahumu sesuatu..." Ucap Yoshi, memohon.
"Kenapa kau tak memberitahuku jika dirimu sudah berada di sini sejak kemarin?"tanyaku.
"Aku tak sempat. Aku sangat mengkhawatitkanmu An, kau tak memberiku kabar sama sekali jadi kuputuskan untuk langsung menyusulmu kemari." Kata Yoshi dengan raut wajah yang mulai lelah.
"Baiklah aku memaafkanmu." Kataku sambil menarik selimut. Dalam hati, aku sangat bahagia ternyata suamiku ini sangat mengkhawatirkan diriku.
"Sayang.. Ada hal penting yang harus kita bicarakan." Katanya lagi, tetapi aku sedang tidak ingin membahas apapun untuk saat ini.
"Aku mengantuk Yosh." Ucapku lirih entah mengapa aku benar-benar ingin tidur setelah ribut dengannya.
"Ya sudah tidurlah.. " Kata Yoshi, akhirnya dia membiarkanku untuk beristirahat.
***
Keesokan paginya. Saat aku terbangun dari tidurku. Kulihat bayangan lilin meliuk-liuk di hadapanku. Aku pun mencoba untuk membuka mataku.
"Happy birthday, Sunshine.. " Ucap Yoshi sambil memegang kue dengan beberapa lilin di atasnya.
"Yoshi, apa ini?" tanyaku. Aku masih memikirkan apakah hari ini ulang tahunku.
"Kue Ulang tahun sayang. Sudah tau masih bertanya." jawab Yoshi sambil memutar mata malas.
"Aku lupa Yosh, " Ucapku singkat. Aku benar-benar lupa dengan hari ulang tahunku.
"Astaga.. Ya sudah tiup lilinnya.. " Ucapnya sambil memberikan kue tart berbase brownies itu.
"Aku tak suka meniup lilin Yosh atau bakteri dari mulutku akan berpindah ke kue itu." Jawabku.
"Ya, baiklah aku akan mengambil lilin-lilin ini kalau begitu." Kata Yoshi.
Aku pun bangun dari pembaringan, menatap wajah tampan itu sedang sibuk menata kembali kue tart tanpa lilin.
"Yosh, terima kasih banyak." Kataku sambil memegang tangannya.
"Aku tidak memberikan semua ini dengan cuma-cuma. Kau harus membayarnya setelah ini." Ucapnya sambil tersenyum genit kepadaku.
"Ah kau ini!" jawabku sambil memukulnya dengan pelan.
"An, ada sesuatu untukmu." Ucap Yoshi sambil memberikan kotak merah berpita emas. Sejenak aku terdiam melihat kotak ini. Bagaimana mungkin kotak ini sangat mirip dengan kotak pemberian Mas Ikau dulu.
"Apa ini Yoshi?" tanyaku padanya sambil memperhatikan barang darinya itu.
"Sesuatu apa?" tanyaku.
"Ayo coba ingat-ingat" Kata Yoshi.
"Ya, aku ingat belum mandi. Aku akan mandi dulu Yosh." Ucapku sambil melangkah pergi ke ruang shower .
"Ya ampun An, bukan itu maksudku." Jawab Yoshi. Tetapi aku sudah meninggalkannya.
"Sebentar saja Yosh." Jawabku, aku tak ingin momen penting ini terlewati dengan diriku yang masih bermuka bantal.
****
"Oke, jadi apa yang ingin kau tanyakan Yosh?" tanyaku setelah mandi dan berpakaian.
"An, tidakkah kau ingat dengan kotak merah seperti ini?" tanya Yoshi kepadaku. Aku pun langsung terdiam dan berfikir jadi Yoshi sudah melihat kotak merah di dalam koperku itu rupanya.
"I-iya Yosh," ucapku gugup.
"Kau menyimpan kotak merah yang sama dengan ini dikopermu, bukan?" tanya Yosh, tetapi dia terlihat sangat tenang. Tak ada kekesalan sama sekali di wajahnya berbeda dengan pada saat dia tau aku mendapat hadiah dari Reza kemarin.
"Iya, jangan marah Yoshi. Itu bukan benda penting untukku." Jawabku, aku mencoba untuk tetap tenang.
"Tidak, aku tidak marah. Jika memang tidak penting mengapa kau masih menyimpannya An?" tanya Yoshi.
"Aku akan membuangnya jika kau mau Yosh." Jawabku, sungguh mungkin ini saatnya untukku untuk membuang segala kenangan yang ada.
"Sshh.. tidak perlu An. Jangan membuangnya aku tau mungkin kau sangat menyukai atau bahkan mencintai seseorang yang telah memberikan benda itu untukmu. Benar kan?" tanya Yoshi, astaga aku semakin gugup tetapi mengapa Yoshi malah terus tersenyum.
"Tidak Yosh, aku akan mengembalikan benda itu pada orang yang telah memberikannya padaku dulu. Untuk saat ini aku belum menemukan orang itu." Kataku, jika saja aku bisa bertemu dengan Mas Ikau.
"An, mari kita selesaikan masalah ini." Kata Yoshi, sungguh aku tak ingin membuatnya marah dan terluka jika dia mengetahui semuanya.
"Yosh cukup. Sudahlah lupakan masa lalu. Aku sudah menjadi istrimu sekarang. Jangan meragukanku." Ucapku, aku tak ingin Yoshi salah paham, lagi pula aku sudah mulai menyayanginya sekarang.
"Tapi An, kau perlu tau siapa diriku sebenarnya." Ucap Yoshi.
"Sudahlah Yosh, aku tau siapa dirimu. Kau adalah suamiku dan aku sayang padamu." Kataku mencoba meyakinkannya.
"Baiklah, jika kau tak ingin membahasnya sekarang. Aku tak akan merusak hari yang indah ini. Jadi kau menyayangiku Ana?" Kata Yoshi sambil mendekatkan wajahnya padaku. Dan tangan itu mulai menahan lenganku. Aku tau apa yang akan dilakukannya selanjutnya.
"Yoshi, apa isi kotak ini?" jawabku mencoba mengalihkan si mesum yang mulai beraksi ini.
"Bukalah sayang." Kata Yoshi mengubah posisinya. Aku pun lega.
Kubuka kotak itu dan kulihat sebuah kalung dengan berlian biru sebagai liontinnya.
"Yosh, ini cantik. Aku tau ini adalah tanzanite. Berlian yang dipakai Kate Middleton istri pangeran William." kataku, aku sangat terkejut batu ini sempat booming beberapa waktu lalu.
"Ya, hanya berbeda tingkatan. Tentu ini lebih rendah tingkatannya sayang. Aku membelinya di lantai tiga. Yang jelas ini lebih mahal dari Swarovski." Ucap Yoshi, aku tau dia sedang menyindir Reza lagi.
Kucoba meletakkan kalung itu pada leherku. Hey, ini juga mirip dengan kalung yang dikenakan Rose saat Jack melukisnya. Bayangan tentang scene film romantis itu tiba-tiba melintas di benakku.
"Lalu apa kotak pink ini?" tanyaku sambil melihat sebuah kotak kado di atas meja.
"Bukalah itu dari Celine untukmu." Jawab Yoshi.
"Jadi kau masih berhubungan dengannya ha?" Jawabku kesal, katanya tidak kenal lalu apa ini. Apa Celine sedang merayuku dan berniat untuk menjadi maduku. Awas saja kau Yoshi. Kataku dalam hati.
"Sayang sudahlah jangan memicu keributan lagi. Dia tak sengaja melihatku membawa kue ulang tahun untukmu kemudian dia memberikan kado ini untukmu." Kata Yoshi.
"Baiklah, aku akan menerimanya." Jawabku dengan kesal.
"Ayolah jangan marah lagi. Ambil sisi positifnya, hargai niat baik seseorang. Kau sangat sensitive akhir-akhir ini sayang." Kata Yoshi menenangkanku.
Aku pun membuka bungkusan kado itu. Nampak dua pasang sepatu bayi lucu berwarna pink dan biru. Astaga aku bahkan belum memikirkan semua ini.
"I wish there will be little cute feet that cheer your life up soon Mr. and Mrs Luby. You guys are such a cute couple. Go go go harder making a cute baby !!!"
with love,
Celine
"Saya berharap akan segera ada kaki-kaki kecil yang lucu yang akan menyemangati hidup Anda, Tuan dan Nyonya Luby. Kalian adalah pasangan yang sangat lucu. Ayo berusahalah lebih keras lagi untuk segera mendapatkan bayi yang juga lucu!!!"
Dengan cinta,
Celine
"Yoshi, lihatlah ini sangat lucu. Kukira Celine tak akan semanis ini. Ia bahkan memberikan dua pasang sepatu bayi." Ucapku sambil terus memandangi benda menggemaskan itu.
"Lalu?" tanyanya sambil berbaring di kasur.
"Lalu berharap akan segera hadir bayi lucu di hidup kita." Kataku sambil menunjukkan sebuah kartu ucapan kepada Yoshi.
"Kalau begitu mari membuat bayi... " Ucap Yoshi, aku mengenal suara parau itu pertanda dia sudah di selimuti oleh gairah.
"Yosh, ini masih pagi." Kataku.
"Aku tidak perduli An.... " Jawab Yoshi memulai aksinya.
Pagi yang panjang pun terlewati..
Aduh masih pagi ini. Tp gimana lagi, kemaren ditinggal dua hari sama bini bikin kelimpungan dan uring-uringan. Sekarang saatnya pembalasan. 🤣