My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Yoshi POV - Pergi Untuk Kembali



Aku sangat puas akhirnya Ana bersedia untuk tinggal di mansion bersamaku. Meskipun awalnya dia pikir kami akan tinggal di rumahnya bersama kedua orang tuanya.


Tentu itu tidak mungkin, bagaimana aku bisa tinggal satu rumah dengan musuh bebuyutanku yaitu Pramuja.


Aku membawanya masuk ke dalam mansion dengan diikuti para pelayan yang sudah aku siapkan sebelumnya. Aku tak ingin Ana merasa kesusahan sedikitpun. Maka dari itu aku memperkerjakan puluhan pelayan perempuan untuk memenuhi kebutuhan Ana.


Ada satu pelayan wanita, bernama Niluh. Dia yang akan menjadi mata-mataku untuk mengawasi Ana selama diriku tidak berada di dekatnya, atau selama aku sedang sibuk dengan pekerjaanku. Aku sangat takut dengan aksi Ana yang suka kabur-kaburan itu.


Sangat menyebalkan, seharusnya ini menjadi hari-hari yang indah untuk pengantin baru. Namun beberapa kali harus gagal, sebab Ana terus saja merusak moodku dengan ribuan pertanyaan-pertanyaan konyol yang keluar dari mulutnya.


Beberapa kali dia menanyakan tentang apa yang sedang kusembunyikan darinya, lalu dia juga menanyakan siapa gadis yang kusuka pada saat aku masih SMA dulu. Beberapa kali kujelaskan bahwa gadis itu adalah dirinya, dan tentu saja dia tidak percaya. Sebab aku belum menceritakan kisah yang sesungguhnya padanya.


Tapi satu yang pasti, Ana terlihat sangat ingin tau dengan hal itu. Aku bahagia, setidaknya dia mulai memiliki rasa kepadaku meskipun dia harus cemburu pada gadis itu. Ya, dia sedang mencemburui dirinya sendiri.


Mungkin malam pertama memamg belum terjadi, tetapi aku yakin tanpa paksaan pun sebentar lagi Ana akan memberikannya padaku. Hanya masalah waktu saja, setidaknya aku sudah pernah menghujani kulit mulus itu dengan ribuan kissmarks. Yang pasti akan membuatnya sangat terkejut bila melihatnya.


***


Hingga pada suatu pagi, tepatnya pukul 04.00. Sebuah panggilan datang dari Mama, yang membangunkanku dari tidur nyamanku di pangkuan Ana.


"Halo Yosh .. Mama tau ini mungkin masih dini hari di sana.. " Ucap mama dengan nada panik.


"Iya Ma, ada apa? " Jawabku lirih. Aku pun segera terbangun dan keluar kamar. Aku tak ingin Ana terbangun karena suaraku.


"Opa.. Detak jantung Opa melemah. Mama takut... " Kata mama sambil terisak.


"APA?!! " Jawabku, aku sangat terkejut. Bukankah terakhir kali keadaan opa masih stabil tetapi mengapa tiba-tiba seperti ini.


"Cepatlah datang Nak, mama takut.. Mama takut Opa akan pergi seperti Papa... " Jawab mama dengan tangisan menjadi-jadi.


Aku yang saat itu ingin menceritakan perihal pernikahanku dengan Ana kepada mama, seketika hilang akal. Pikiranku hanya tertuju pada opa saja. Tanpa menunggu lama aku pun segera bersiap ke bandara untuk terbang ke London.


"Niluh, saya titip Nyonya ya, awasi jangan sampai keluar mansion sampai saya kembali." Kataku kepada Niluh yang saat itu sedang menyiapkan sarapan.


"Baik Tuan," jawabnya patuh.


"Bagus, masuklah ke kamar tunggu sampai Nyonya bangun. Ingat ya pastikan semua kebutuhan Nyonya terpenuhi. Saya ingin kamu melaporkan semua kegiatannya dari pagi sampai malam sampai ke pagi lagi." Pesanku padanya.


"Baik Tuan." Jawabnya. Sebelum akhirnya aku pergi meninggalkan mansion bersama David.


****


"David, kau yang akan memimpin perusahaan selama saya berada di London. Pastikan semuanya aman dan tak ada masalah." Ucapku pada David yang saat itu mengntarku ke Airport.


"Baik Tuan, saya akan melakukan yang terbaik." Ucapnya patuh.


"Semua berkas yang kau butuhkan ada di ruang kerjaku. Ambilah besok." Pesanku padanya sebelum boarding.


Perjalanan panjang pun dimulai, aku sama sekali belum melihat ponselku sebab pikiranmu hanya tertuju pada opa. Ingatan tentang masa remajaku dan Ana, pada hari di mana saat itu aku akan bertemu dengan Ana di jembatan untuk mengungkapkan rasa, kembali hadir.


Bertahun-tahun yang lalu aku meninggalkannya sebelum dia tau perasaanku padanya dan sebelum aku tau perasaannya padaku. Hatiku terasa sakit saat malam kemarin Ana mengatakan bahwa dia sudah melupakan Mas Ikaunya.


Secara tidak langsung dia sudah melupakanku, atau mungkin dia memang tidak pernah mempunyai rasa sama sekali padaku sejak dulu. Itulah sebabnya dia tak datang saat itu.


Aku berusaha menepis segala rasa. Persetan dengan semua ini, aku tak perduli lagi entah Ana mencintai diriku sebagai Ikau atau tidak yang jelas sekarang dia sudah menjadi milikku. Menjadi milik Yoshi Aricko Luby.


****


Tiba di Heathrow, London.


Kulihat mama sedang menunggu di ruang ICU, dengan mata sembab dan wajah lesu. Aku langsung menghampirinya dan memeluknya.


"Mama... Bagaimana keadaan Opa?" tanyaku dengan gugup.


"Dokter Philip bilang, detak jantung opa melemah sejak kemarin." Ucap mama terbata karena tangisan.


"Mama tenang ya, biar Yoshi bicara dengan Dokter Phil." Jawabku menenangkan mama.


Aku pun masuk ke ruangan Dokter Philip yaitu dokter yang sudah bertahun-tahun merawat opa, dia berkata jika sampai minggu depan tidak ada peningkatan pada kondisi kesehatan opa maka tidak ada yang bisa kita lakukan selain melepaskan semua alat bantu yang masih terpasang di tubuh opa.


Pernyataan itu membuatku sangat terpukul. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskan opa yang telah bertahun-tahun berjuang melawan koma. Bagaimana mungkin?


Aku terus meyakinkan Dokter itu untuk tetap berusaha menyelamatkan nyawa opa. Meskipun hanya tanggapan dingin yang kudapati. Setidaknya mereka tidak akan gegabah dalam mengambil langkah.


***


Aku membawa mama untuk pulang ke apartemen yang letaknya tak jauh dari rumah sakit, aku sangat tidak tega melihat kondisinya saat ini. Apa yang harus aku lakukan untuk memberinya semangat hidup lagi.


***


"Yosh, kau terlihat lebih bercahaya dari terakhir kali mama meneleponmu melalui video call. " Ucap Mama dengan tersenyum. Setidaknya aku bisa melihat senyuman itu meskipun hanya sedikit.


"Iya Ma, Yoshi sedang bahagia saat ini." Ucapku sambil meneguk secangkir kopi.


"Benarkah? Apa kau sudah menemukan tuan putri itu? Katakan apa dia menerimamu?" Kata mama dengan sangat antusias. Pasti dia sedang menanyakan tentang Ana saat ini.


Seandainya saja mama tau aku bahkan sudah menikah dengan tuan putri itu. Haruskah aku menceritakan semuanya pada mama saat ini. Apa yang akan terjadi jika mama tau bahwa Ana adalah anak dari Pramuja.


"Benar Ma. Yoshi sudah menemukannya." Jawabku lirih. Aku sedang memikirkan jawaban selanjutnya yang pasti akan mama tanyakan.


"Katakan apa dia menerima lamaranmu?" Kata mama. Kulihat raut wajah dan sorot mata itu begitu berbinar. Hingga aku tak tega untuk membohonginya.


"Yo-Yoshi sudah menikah dengannya Ma." Ucapku pelan sambil memejamkan mata. Aku takut mendengar keterkejutan mama.


"APA?!" teriak mama,


"Benar Ma, maafkan Yoshi tidak memberitahu semuanya pada mama. Semuanya sangat tergesa-gesa saat itu." Kataku sambil menunduk aku takut melihat ekspresi mama.


Hiksss...


Hiksss....


Terdengar isak tangis mama.


"Mama tau, kau pasti sangat tidak ingin memberikan kabar baik ini karena tidak ingin membebani mama kan sayang?" kata mama sambil memelukku.


Aku sungguh tidak mengerti dengan maksud dari ucapannya.


"Maafkan Yoshi, Ma.... " kataku dan membalas pelukannya.


"Tak perlu minta maaf, mama hanya sedang terharu saja saat ini. Mama bahagia akhirnya kau menemukan tambatan hatimu juga." Kata mama masih dengan mata berair.


"Mama tidak marah?" tanyaku sambil menatap matanya.


"Marah untuk apa sayang? Mama tau kau tidak ingin membuat mama kerepotan kan, sebab mama tidak akan bisa hadir di pernikahanmu karena harus menjaga opa." Ucap mama dengan tulus. Aku sangat bersyukur karena mama tau salah satu alasanku melakukan semua itu.


"Terima kasih ma. Tetapi ada satu masalah penting... " Kataku pelan.


Aku pun menceritakan tentang siapa sebenarnya Ana. Tentang penyebab aku menikahinya, tentang siapa ayah Ana, tentang kejadian-kejadian bertahun-tahun lalu yang melibatkan Pramuja dengan papa.


Mama terlihat sangat terkejut dengan pernyataanku. Dia marah, mama sangat marah. Bisa-bisanya aku melakukannya hal bodoh seperti itu. Bagaimana bisa aku membalaskan dendamku pada Ana yang sama sekali tidak bersalah.


Setelah kujelaskan semuanya, bahwa aku sangat mencintai Ana, dengan terpaksa akhirnya mama mau memaafkanku.


"Mama tidak mau tau, kau harus menyelidiki kasus itu dengan benar!" Ucap mama sarkas. Aku tak menyangka mamaku yang selama ini lembut bisa berubah 180 derajat.


"Ba-baik ma." Ucapku lirih, menurutinya.


"Awas Yoshi, jika sampai bukan Pramuja yang bersalah pada kasus itu, mama tidak akan bertanggung jawab jika kau akan kehilangan Ana selama-lamanya." Jawab mama sambil meninggalkanku.


Bagaikan tertusuk ribuan duri. Perkataan mama sangat benar. Bagaimana jika bukan Pramuja yang bersalah selama ini.


Bagaimana jika Ana tau tentang hal ini, dan tau tentang rencana busuk yang kususun sejak bertahun-tahun lamanya untuk membuatnya menderita.


***


Kuraih ponselku yang beberapa hari ini tidak aktif, aku begitu stres memikirkan semuanya, tentang Ana dan entang opa. Sangat membuatku frustasi.


Hingga baru kusadari jika ponselku mati sejak lima hari yang lalu. Segera kutelepon mansion dan menanyakan pada Niluh tentang keadaan Ana dan apa saja yang ia lakukan selama aku tak ada.


Aku puas, Ana tak banyak bertingkah, sepertinya dia melakukan perannya sebagai istri dengan baik. Hingga dokter mengatakan bahwa kondisi opa tengah membaik.


Aku sangat bersyukur dan hari itu juga kuputuskan untuk segera pulang ke Indonesia. Aku berpamitan pada mama. Dan mama memintaku untuk menjaga Ana dengan baik. Beliau tak sabar ingin bertemu dengan menantu impiannya itu.


"Bawa dia ke mari Yosh, mama ingin segera bertemu dengannya." Ucap mama dengan senyum mengembang.


"Pasti Ma" jawabku dengan mantap sebelum akhirnya aku betangkat ke bandara.


****


Tiba di Jakarta pukul 07.00


Aku segera mengaktifkan ponselku, dan menelepon Ana. Entah mengapa lama sekali dia mengangkatnya. Padahal aku sudah sangat merindukannya.


Hingga aku tiba di mansion dan aku masih saja mencoba meneleponnya. Tak kusangka Ana sedang berada di kamar dengan kondisi yang sangat menaikkan insting liarku.


"Sayaanggg... " Ucapku sambil memeluk tubuh ramping yang menggoda itu.