My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Tiga Hari Lagi



"Sudah kubilang kau yang akan memohon untuk menikah denganku An." Ucap Yoshi masih dengan posisi yang sama. Dia hanya mengenakan bathrobe untuk menutupi tubuhnya.


"Sebenarnya apa rencana barumu?" kataku, aku sungguh curiga padanya. Sejak dengan mudahnya ia memberikan surat perjanjian yang selama ini dijaganya dengan baik untuk mengekangku itu.


"Apa ibu belum memberitahumu?" tanya Yoshi.


"Memberitahu apa?" tanyaku, aku memang belum sempat berbicara dengan Ibuku beberapa hari ini.


"Tentang pernikahan kita." Ucap Yoshi dengan tenang. Dia selalu setenang ini untuk menyerangku. Benar-benar tidak bisa diprediksi.


"Jadi kau mencoba memeras ibuku lagi? Dasar lintah darat!" kataku mulai emosi.


"Tidak, ibumu sendiri yang dengan suka rela melepasmu untukku." Ucapnya dengan tanpa dosa.


"Dengar, aku tau kaulah yang membantu pengobatan Luna kemarin, jadi karena itu kau menganggapnya sebagai hutang yang harus kutebus lagi, begitu?" Ucapku mulai menerka jalan pikirannya.


"Tidak, itu adalah bantuan suka rela. Aku sama sekali tidak menganggapnya sebagai hutang. Mana mungkin seorang suami menganggap pemberian untuk istrinya sebagai hutang. Itu tidak mungkin sayang." Katanya yang entah mengapa kulihat kejujuran pada mata itu.


"Cukup Yoshi, aku bukan istrimu dan kau bukan suamiku!" Kataku, telingaku sangat panas mendengar kata itu darinya.


"Hampir sayang. Hanya tiga hari lagi dan kita akan menjadi suami istri yang sah." Ucapnya dengan penuh penekanan.


Dan aku masih mematung, kenapa dia bisa seyakin itu. Sementara tak ada landasan apapun untuk mendukung kalimatnya.


"Lihat ini. Coba perhatikan baik-baik apa yang dikatakan oleh ibumu di kertas ini." Katanya sambil meletakkan secarik kertas di atas meja.


Perasaan tidak enak pun kembali menyerangku. Lagi-lagi ini seperti dejavu, saat aku masih menjadi seorang barista di Cafe tempatku magang dulu.


Awal aku bertemu dengannya. Yoshi datang dan membawa surat laknat berisi surat kuasa kosong yang ditulis oleh ibuku yang akhirnya berhasil kurebut kembali kemarin.


Kali ini tanganku kembali gemetar membaca surat perjanjian baru itu. Di sana tertulis bahwa Ibuku telah merelakan diriku untuk menikah dengan Yoshi sebagai rasa terima kasihnya karena Yoshi telah berulang kali membantu keluarga kami. Astaga lagi-lagi Ibuku melakukan hal konyol seperti ini lagi.


Pantas saja beliau tidak ingin mengangkat telepon dariku, jadi ini alasannnya. Aku sangat terpukul dengan ini, baru saja tadi sore aku berhasil membebaskan diri dari Yoshi dan sekarang aku harus kembali tertangkap olehnya. Aku salah, ternyata Yoshi masih saja seperti itu. Dia masih saja brengsek seperti biasanya.


"Kau jahat! Kau pasti telah menghasut Ibuku, kau jahat Yoshi! " Kataku sambil melempar kertas itu ke wajahnya, aku mulaI tidak bisa menahan air mata ini untuk mengalir, rasa kecewa terhadap perbuatan ibuku begitu menusuk hatiku.


"An, kemarilah. Lihat dirimu kau terlalu temperamental akhir-akhir ini." Ucapnya sambil menarik tubuhku dan memelukku dengan erat . Anehnya aku merasa sangat nyaman dengan perlakuan ini, aku menangis sejadi-jadinya di pelukan Yoshi.


"Lepaskan aku. Tidak bisakah kau membiarkanku untuk hidup tenang sedikit saja. Hiksss." Ucapku terisak.


"Hey, apa yang salah dengan semua ini? Coba, buka matamu An. Pikirkan, kita sudah sama-sama dewasa, kau dan aku sudah saling mengenal cukup lama. Lalu harus menunggu apa lagi selain menikah?" Ucapnya sambil mengelus rambutku.


"Apa yang kau pikirkan? Kau pikir hubungan kita selama ini normal? Apa kau lupa jika dirimu adalah rentenir kejam yang telah lama memerasku? " Ucapku masih dengan air mata mengalir membasahi pipiku. Bisa-bisaya Dia berkata demikian. Dia ini bebal atau apa.


"Tentu saja, mungkin terkadang ada sdikit masalah di antara kita. Bukankah itu normal dalam sebuah hubungan?" Katanya, dengan entengnya kalimat itu keluar dari mulutnya.


"Apa? masalah? Kaulah masalah di hidupku Yosh, kau yang membuatku menderita selama ini." Kataku kembali tersulut emosi.


"Hush! Sssst. Cukup sayang anggap itu hanya masa lalu. Sekarang mari pikirkan masa depan. Ngomong-ngomong kau ingin konsep seperti apa untuk pernikahan kita besok?" katanya. Aku sudah kehabisan kesabaran saat ini. Kudorong tubuhnya hingga terpental di atas kasur.


"Cukup Yoshi! berhentilah berhalusinasi! Sudah kubilang aku tidak mencintaimu. Aku mencintai orang lain! Apa kau masih belum mengerti juga ha?! " Kataku dengan emosi yang meluap-luap.


"Cukup An, jangan sebut kata itu lagi!" Kata Yoshi terbangun dari bed nya dan menghimpit tubuhku hingga ke tembok. Astaga ini seperti Deja Vu lagi. Ini kali kedua aku melihatnya semarah ini.


"An, berhentilah mengujiku! Atau aku tidak akan mengampunimu!" ucap Yoshi dengan nada tinggi. Sementara tanganku masih berusaha menahan himpitan tubuhnya.


"Lakukan saja! Aku sudah kehilangan hidupku karenamu! Lakukan apa pun yang kau mau. Aku tidak akan peduli!" ucapku tersenyum miris meratapi hidupku.


"Tentu aku akan melakukannya. Tapi tidak sekarang, melainkan setelah pernikahan kita. Persiapkan tubuhmu. Apa yang bisa kau lakukan sekarang Lanthana?" ucapnya dengan tersenyum licik.


"Aku muak padamu Yoshi! Kau sangat memuakkan!!" hingga akhirnya aku pergi meninggalkannya.


Aku keluar dari kamar itu, dan berjalan dengan tertatih meratapi nasibku. Hari ini aku telah gagal.


***


Tiba di kabin, kulihat teman-temanku sedang menungguku.


"An, baru pulang?" Tanya Dian kepadaku.


"An,kok kayak habis nangis sih." Ini suara Evelyn yang membuatku tak dapat membendung air mata ini lagi. Aku menangis dan memeluk Evelyn.


"Cyinn, yey kenapa? Yok masuk yok, kita bicara di dalam aja." Ucap Jenny dan kami bertiga pun masuk ke dalam kamarku.


Susana kabinku masih sangat sepi karena Kak Anggie sedang lembur. Bunga-bunga mawar merah dari Yoshi beberapa hari lalu juga masih menghiasi kabin ini. Membuat mereka bertiga bertanya-tanya.


"Wah sejak kapan kabin lu jadi toko bunga begini An?" tanya Dian. Aku yang masih dalam mode menangis belum bisa menjawab kata-katanya .


"An, ini semua dari IT manager ya? " Ucap Evelyn memastikan semua ini.


"Iya," jawabku singkat. Akhirnya aku mulai bisa berkata.


"Lu serius punya hubungan sama Officer itu An?" tanya Dian.


"Iya Di," jawabku lagi. Aku benar-benar tidak bisa mengelaknya lagi.


"Gimana ceritanya Cyin?" Tanya Jenny. Ikut mengintrogasiku.


"Kami akan menikah tiga hari lagi Jen." Ucapku lemas dan tentu saja pernyataan itu sangat mengagetkan mereka. Aku sudah tak mampu lagi untuk menutupi semuanya.


"APAA?!" tanya mereka bertiga secara bersamaan.


"An, lu serius? " tanya Dian


"Kamu gak becanda kan An?" ini suara Evelyn.


"Cyinn, beneran yey mau nikah sama si Hot itu? "Kata Jenny tak kalah terkejut .


"Iya, Yoshi adalah calon suamiku sejak aku belum bekerja di sini. Dan dia kemari untuk menjemputku pulang." Ucapku dengan air mata yang mulai keluar lagi.


Menunjukkan kekalahanku. Aku sudah kalah dari Yoshi. Aku tak ingin menempatkan ibuku dalam masalah. Meskipun ini murni kesalahan ibuku.


"APAA? Jadi Kalian sudah saling mengenal sejak lama?!" Ucap mereka bertiga menunjukkan keterkejutnnya lagi.