
Sinar mentari memasukki kamar kami melalui celah korden yang tersingkap. Entah mengapa pagi ini sangat berbeda dari biasanya. Sangat tenang dan damai. Seperti tidak ada lagi beban di dada.
Kupandangi wajah tampan suamiku yang masih terlelap. Alis tebal, hidung mancung dan bibir merah itu tak pernah berubah. Tetap saja mempesona.
"Yoshi, maaf ya aku terlambat menyadari jika dirimulah Mas Ikauku," ucapku lirih sambil membelai alis hitamnya lalu turun ke hidungnya dan bermuara di bibir merahnya. Kuperhatikan wajah itu dalam-dalam.
Tiba-tiba saja mata itu terbuka dan membuatku terkejut.
"Sampai kapan kau akan memandangiku seperti ini hmm?" ucapnya sambil menggigit jariku yang sejak tadi berputar di bibirnya dan ternyata Yoshi sudah banngun sejak tadi.
"Akhh.. Sakit, sejak kapan bangun Mas?" tanyaku.
"Sejak kau membangunkanku," ucapnya.
"Tetapi aku tidak membangunkanmu Mas," jawabku.
"Tapi kau membangunkan sesuatu di bawah sana dengan menggerayangi wajahku seperti itu," ucapnya sambil tertawa.
"Dasar mesum!"
"Mas, maafkan aku. Aku terlambat menyadari siapa dirimu sebenarnya dan aku minta maaf juga atas nama ayahku," ucapku sambil menggenggam tangannya.
"Sayang, lupakan semuanya. Sekarang yang terpenting kita harus menemui bapak, aku ingin meminta maaf padanya."
"Apa kau tidak takut mas?" tanyaku.
"Untuk apa aku takut? Dia juga sudah membohongiku dan dirimu. Enak saja, sudah bagus aku mau meminta maaf padanya."
"Benar tidak takut? Haha," jawabku. Aku tau terbersit rasa khawatir pada wajah Yoshi saat ini.
"Tidak, aku sudah banyak mempersiapkan diri selama ini."
"Ah benarkah? bahkan aku tidak tau jika dirimu adalah seorang penembak jitu. Sejak kapan kau belajar mas?" tanyaku penasaran.
"Tentu saja sejak aku mengira bahwa ayahmu adalah penyebab kematian papa. Saat itu aku tau bahwa lawanku bukan orang biasa melainkan seorang BIN."
"Aku banyak berlatih An, bahkan belajar menjadi seorang sniper bukanlah hal yang mudah," ucap Yoshi serius.
"Ya mas, lalu apa lagi?"
"Taekwondo, pemanah jitu dan banyak latihan fisik lainnya, namun semua sia-sia, ternyata bukanlah Pramuja lawanku sesungguhnya."
"Mas, sudahlah. Semua tidak sia-sia bahkan usahamu selama bertahun-tahun ini telah berhasil. Kau mampu melumpuhkan Nathan Lee dengan tembakan jarak jauh," kataku sambil mengelus pundak Yoshi.
"Ya, dan sekarang aku harus menghadapi ayah mertuaku yang tentu saja lebih hebat dari pada Nathan," ucap Yoshi menghela nafas panjang.
"Katanya tidak takut."
"Kenapa sekarang jadi ragu? Bukankah kalian berdua sama-sama telah membohongiku. Aku yang paling dirugikan di sini," ucapku berpura-pura kesal.
"Ah sayang, maafkan aku. Jadi apa yang kau inginkan sekarang hm?"
"Jadi kapan kita akan pulang ke Surabaya?" tanyaku.
"Bukankah kita harus konsultasi dulu ke dokter dulu, apakah mungkin untukmu naik pesawat saat sedang hamil besar seperti ini," ucap Yoshi nampak berfikir.
"Mas, kita naik kereta saja ya," jawabku, aku memang sudah rindu untuk naik kereta.
"Ha? apa kau yakin sayang? Akan butuh berjam-jam untuk sampai ke rumah jika kita menggunakan kereta api," tungkas Yoshi.
"Yakin sayang, please!" ucapku merengek.
"Ya, ya. Baiklah aku akan ke kantor dulu hari ini untuk memastikan semuanya aman saat kita sedang berada di luar kota."
"Baik Mas," ucapku.
"Lalu sekarang mau apa?" tanya Yoshi sambil mendekatkan wajahnya padaku.
"Mau apa?" tanyaku, aku sungguh tak mengerti.
"Mau apa maunya?" ucap Yoshi sambil menempelkan hidungnya pada pipiku. Dan aku pun mengerti sekarang.
"Dih mulai lagi deh kamu Mas!"
"Ayolah yang.. " Yoshi mulai merengek.
"Bukannya mau berangkat ke kantor sekarang?"
"Iya nanti habis itu!" ucapnya sambil memulai aksinya.
"Itu apa?"
"Masih mau dijelaskan?" ucapnya mulai menciumiku.
"Ah Mas, cepatlah ke kantor biar bisa langsung pesan tiket kereta habis ini!" aku pun beranjak tempat tidur lalu menyiapkan baju untuk Yoshi.
"Ya, baiklah mama cantikku." Dia pun bergegas ke kamar mandi sambil mencubit pinggangku.
"Ih dasar!" pekikku namun dia hanya tersenyum.
****
"Sayang, aku ke kantor dulu ya. Habis ini kita langsung memesan tiket kereta ke Surabaya," ucap Yoshi sebelum akhirnya pergi meninggalkan mansions.
"Hati-hati ya mas sayang," pesanku sambil melambaikan tanganku. Ah sungguh lebay, padahal bukankah dia hanya pergi sebentar.
Aku pun berniat untuk kembali ke kamar. Namun, tiba-tiba mama menghampiri.
"Sayang, memangnya mau pulang ke kampung?" tanya mama.
"Umm iya ma, apa mama mau ikut?" tanyaku.
"Boleh, mama juga ingin bertemu dengan besan." Kata mama begitu bersemangat.
Kamipun merapikan barang-barang yang akan dibawa nanti. Namun tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan Niluh pun membukanya.
Aku dan mama pun melihat ke arah pintu utama. Seorang pria bertubuh besar dan wanita paruh baya memasukki ruangan.
"Bapak!! Ibuk!!" teriakku dan berlari menuju pasutri itu.
Mama pun langsung memberi salam kepada kedua orang tuaku.
***
Author POV
Di kantor Lubyware Group.
CEO tampan sedang berbicara pada asistennya David.
"David, aku akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari," ucap Yoshi.
"Tuan mau kemana?" tanya David merasa ingin tau. Dan Yoshi pun berdiri dari tempat duduknya sambil menatap ke arah jendela.
"Aku akan pergi ke rumah orang tua Ana. Untuk menemui dan meminta maaf pada Pram," ucap Yoshi terlihat seperti sedang betfikir.
"Apa tuan yakin?" jawab David sambil tersenyum.
"Apa kau sedang menertawakanku David?"
"Ujian apa maksudmu?" tanya Yoshi tidak mengerti.
"Ujian untuk mendapatkan restu Pram atas hubungan anda dan Nyonya dengan benar. Hehe,"
"Hey, kau benar David. Bahkan itu tak terfikirkan olehku." Kata Yoshi.
"Sudah tuan, jangan khawatir. Pasti tidak akan menjadi masalah," ucap David mencoba menenangkan Yoshi.
"Kau membuatku pusing saja. Apa kau tidak ingin berlibur juga?" tanya Yoshi.
"Berlibur tuan?"
"Ya, berlibur. Aku memberimu cuti panjang. terserah akan kau gunakan untuk pergi kemana."
"Dan terima kasih David, selama ini kau sangat banyak membantuku," ucap Yoshi kepada pria yang usianya tidak jauh darinya itu.
"Tuan, itu sudah menjadi tugas saya sesuai dengan wasiat almarhum ayah anda,"
Merekapun terus mengobrol sambil mempersiapkan segala sesuatu di kantor sebelum libur panjang. Hingga tak terasa waktu sudah hampir sore.
"David, aku harus pulang. Ana sedang menungguku di rumah," ucap Yoshi sambil mengemasi berkas-berkas.
"Baik tuan, biar saya yang akan melanjutkan," jawab David.
"Kau akan pergi kemana selama liburan nanti David?"
"Ke Bali tuan," jawab David mantap.
"Ah aku tau siapa yang ingin kau temui di sana. Haha." Yoshi pun berlalu menuju pintu ke luar.
***
Sesampainya di mansions. Yoshi langsung menaikki anak tangga menuju kamar.
"An, ayo kita berangkat aku sudah memesan tiketnya sayang," ucap Yoshi tetapi tidak ada sahutan dari istrinya.
Dia pun pergi ke kamar ibunya, namun ibunya juga tidak berada di kamarnya.
"Ma.. Mama dimana?" teriaknya saat mengetahui jika Ibu dan istrinya juga tidak ada di kamar itu.
"Tuan, nyonya besar dan nyonya Ana pergi," ucap Niluh menghampiri Yoshi.
"Kemana?"
"Tadi sepertinya mau ke stasiun untuk pergi ke Surabaya." Kata Niluh.
"APA?!" teriak Yoshi terkejut.
"Bagaimana mungkin mereka berdua pergi sendiri tanpa diriku Niluh?" Yoshi masih kebingungan dan khawatir.
"Tidak sendiri tuan, tetapi berempat."
"Maksudmu Niluh?" tanya Yoshi semakin terkejut.
"Mertua anda tadi ke sini dan membawa nyonya Ana dan ibu anda ke Surabaya," ucap Niluh yang tentu saja langsung membuat Yoshi tersentak.
"Apa kau sedang mengerjaiku?"
"Tidak tuan, saya jujur. Pak Pramuja dan ibu Larissa tadi pagi ke sini,"
"Astaga, drama apa lagi ini?" ucap Yoshi mengacak rambutnya kasar.
Yoshi pun segera memesan tiket dan berangkat menyusul istri dan ibunya yang telah dibawa kabur oleh mertuanya itu.
***
Tiba di kota tujuan.
Dia langsung memesan taksi dan menuju ke rumah Ana, sekilas terlintas di benaknya saat melihat jalanan, bangunan dan sekolah tempat ia dan Ana bertemu dulu. Semuanya manis dan getaran itu masih sangat terasa hingga kini.
Setelah menempuh perjalanan yang tak cukup jauh, kini Yoshi tiba di rumah Ana. Dengan dada yang berdegup kencang ia pun mengetuk pintu itu.
Tok
Tok
Tok
Seseorang membuka pintu dan Yoshi pun menyapanya.
"Bapak mertua, selamat malam," ucap Yoshi.
"Malam, cari siapa?" jawab Pramuja datar.
"Pak, saya ingin menjemput Ana, istriku." Yoshi bahkan tak mampu untuk menjawabnya dengan benar.
"Apa? Istrimu? Kau bahkan belum melamarnya dengan benar kepadaku," ucap Pram sambil menahan tawanya agar terlihat galak.
"Apa pak?" Yoshi terkejut.
"Ya, datanglah besok lagi dan malam ini berlatihlah dulu untuk melamar Ana dengan benar," tanpa mendengar jawaban Yoshi, Pramuja pun menutup pintu rumahnya.
Sementara di dalam rumah, semua anggota keluarga sedang tertawa menyaksikan Pram mengerjai Yoshi.
Pria malang itu masih berdiri di depan rumah mertuanya sebelum akhirnya mencari penginapan untuk bermalam. Tentu saja sambil memikirkan kata-kata apa yang akan ia ungkapan untuk meminta Ana dari ayahnya besok.
Di kamar hotel Yoshi berbaring sambil memikirkan bagaimana caranya agar dapat meluluhkan hati Pram besok pagi, padahal tanpa sepengetahuannya, Pramuja hanya ingin mengerjainya saja.
Dia pun mencoba menelepon Ana.
"Halo sayang," ucap Ana di seberang sana.
"An, kenapa kau meninggalkanku?" tanya Yoshi.
"Aku dipaksa sama bapak, Mas. Maaf ya." Balas Ana.
"Sayang, kau tau aku sudah berada di Surabaya sekarang. Dan tadi aku ke rumahmh tetapi bapak malah mengusirku dan menyuruhku untuk meminang dirimu dengan benar besok pagi," ucap Yoshi.
"Ohh benarkah?" ucap Ana sambil menahan tawanya berpura-pura tidak tau.
"Ya sayang, aku serius. Apa yang harus kulakukan?" tanya Yoshi.
"Bawakan saja bapak rujak petis besok ya. Belinya di depan sekolah kita dulu. Bye sayang!" ucap Ana langsung menutup teleponnya.
"Apa? Rujak petis? Melamar anak gadis orang dengan rujak petis?"
"An!"
"Ana!"
Ah, sial Ana sudah menutup teleponnya. Gumam Yoshi.
Author POV End
Halo teman-teman, apa kabar? Maaf ya baru Up lagi, oiya mau aku mau rekomendasiin novel keren karya temanku. Yuk yang suka sama Kisah Dektektif, boleh mampir ke karya DETEKTIF MUDA karya Kak CovieVy ini ya 😘😘