My Husband Is My Secret Lover

My Husband Is My Secret Lover
Yoshi Aricko Luby



Aku masih saja terdiam mematung di kursi itu, tanpa bisa berkata apa-apa lagi dalam hatiku mengakui apa yang telah dia katakan memang benar adanya, aku sudah sangat lelah dengan semua ini, aku merasa kerja kerasku selama ini sia-sia, bahkan untuk membayar bunganya saja sepertinya kami tak sanggup lagi.


"Kau hanya perlu mengatakan iya atau tidak, itu saja apa susahnya." Kata Yoshi sambil kembali ke tempat duduknya lagi.


"Ya atau tidak untuk apa?" tanyaku masih tidak mengerti.


"Lihatlah Kau terlalu banyak berpura-pura, tentu saja untuk menikah denganku." Jawab Yoshi, astaga apakah dia benar-benar serius untuk menikahiku.


"Tidak, aku tak ingin menikah dengan lelaki Penghisap Darah sepertimu." Jawabku sambil berdiri, kurasa berbincangan ini sudah tak penting lagi.


"Mari kita lihat sejauh apa perjuanganmu itu," jawab Yoshi sambil melangkah pergi meninggalkan kafe ini.


***


Aku bernafas lega, akhirnya manusia salju itu pergi juga, aku harus segera menelpon Ibuku dan mengatakan apa yang telah terjadi hari ini.


Menelepon Ibu.


Tersambung


Tut


Tut


Tut


"Halo An, gimana di sana?" tanya Ibuku, menjawab telepon dariku.


"Baik Buk, Ibu gimana di rumah?" tanyaku sambil berjalan ke arah stand ku.


"Baik juga, tetapi ada kabar buruk An." Kata Ibu, suaranya mulai melemah.


"Kabar apa Buk? Apa Bapak baik-baik saja?" kataku, mendengar tentang adanya kabar buruk selalu saja mengingatkanku pada kondisi Bapak.


"Bapak baik-baik saja, bahkan bisa dibilang kondisinya semakin membaik tetapi yang jadi masalahnya sekarang adalah Toko Kelontong kita hampir saja terbakar An, " kata Ibu menjelaskan hal buruk itu.


"Bagaimana bisa Buk?" tanyaku seketika kabar dari Ibu itu membuatku tersentak kaget.


"Sebenarnya saat itu Ibu sedang berada di lokasi, tetapi tidak sengaja Ibu tertidur, hingga sewaktu Ibu terbangun, bagian teras Toko sudah terlalap api." Kata Ibuku.


"Jadi Ibu sedang berada di Toko saat kejadian? Ibu baik baik saja kan?" tanyaku. Tak kusangka Ibu sedang berada di sana saat itu, tadinya aku mengkhawatirkan kondisi Toko kami, namun sekarang aku sangat mengkhawatirkan kondisi Ibu.


"Tentu saja Ibu tidak apa-apa, jika tidak Ibu tidak akan bisa menerima telepon darimu seperti saat ini," jawab Ibu. Aku sangat lega ternyata Tuhan masih melindungi Ibuku.


Ibu banyak sekali bercerita tentang kejadian itu, menurutku ini sangat aneh bagaimana mungkin Toko yang baik-baik saja bisa tiba-tiba terbakar begitu saja.


Sejenak aku teringat dengan perkataan Manusia Es itu, jika terjadi masalah dalam proses pelunasan maka dia akan mengajukan persyaratan lain dengan semau gundulnya.


Astaga, jangan sampai dia tau masalah ini, kalau tidak masa depanku yang akan menjadi taruhannya.


***


Pada Tahun kedua kuliahku, Aku diminta untuk mengikuti on the job training di salah satu Hotel berbintang di Kota ini.


Ini adalah hal yang baik untukku, aku bisa mendapat gaji harian selama OJT. Seperti peraturan yang berlaku bahwa sebelum mengikuti training di Hotel kita harus melakukan tes interview dahulu.


Sebuah Hotel bintang empat, bertempat tidak jauh dari kampusku menjadi Hotel yang akan menampungku selama On The Job Training .


Sesuai kelasnya Hotel ini termasuk mewah, bahkah bagiku ini sudah seperti kelas bintang lima.



Aku memulai Masa trainingku di front of the house, yang mengharuskanku bertatap muka langsung dengan tamu .


Hari ini jadwalku adalah sebagai trainee dari senior yang bernama Kak Bernard seorang Roomboy dan dia pria yang baik berasal dari Jakarta.


Roomboy adalah seseorang yang bertugas dalam mengerjakan kamar tamu, termasuk membersihkan dan memastikan segala kelengkapan di area tersebut


"An, ada request make up kamar di lantai enam depan dan ini nomor kamarnya," kata Kak Bernard sambil menyodorkan kertas request tersebut.


"Baik Kak, biar aku yang kerjakan." Jawabku sambil meraih kertas tersebut.


"Make sure ya semua beres An " kata Kak Bernard mengingatkanku.


"Siap Kak" jawabku sambil melangkah meninggalkannya.


Sampai di lantai enam, sesuai request kulihat kamar dengan nomor 602 ada di sebelah kiri, aku bergegas menuju kamar itu.


Kuketuk pintu


Tok..


tok..


tok...


"Selamat Pagi, Housekeeping make up the Room " kataku setelah mengetuk tiga kali dan tak ada jawaban dari dalam.


Tok..


Tok...


Tok...


"Selamat Pagi, Housekeeping !" ini ketukan keduaku.


Akhirnya seseorang membukakan pintu dan menyapaku.


"Pagi, masuklah" Kata tamu pria itu memandangku. Astaga mulutku tercekat tak mampu mengeluarkan sepatah katapun, bagaimana bisa lintah darat ini ada di sini.


"Kau? apa yang Kau lakukan di sini? " kataku masih tercengang dengan sosoknya yang sangat tiba-tiba muncul di hadapanku.


"Siapa yang berani melarangku untuk menginap di hotelku sendiri?" katanya sambil menaikkan satu alisnya.


Sangat menyebalkan, mengapa lagi-lagi aku harus bertemu dengan manusia salju ini, kataku dalam hati.


Sebenarnya berapa kekayaan pria ini, dan jika memang dia se-begitu kaya raya mengapa masih harus memerasku dan Ibuku, apa motifnya melakukan semua ini sebenarnya.


"Apa Kau akan terus berdiri di sana tanpa melakukan tugasmu?" katanya membuyarkan lamunanku.


Aku pun memasukki kamar berjenis suite itu, kulihat set up-an pada bed tempat tidurnya masih sangat rapi, lalu mengapa dia harus memintaku mengerjakannya lagi.


"Apa maksudmu, bukankah ini masih sangat rapi?" kataku padanya yang sedang terduduk di sofa fancy yang menghadap ke jendela.


"Periksa yang betul." Katanya masih dalam posisi menghadap ke jendela, jujur saja pemandangan di luar sangat indah dan hijau bahkan Hotel ini memiliki hutan buatan yang asri lengkap dengan burung-burung langka yang datang dengan sendirinya kemari.


"Apanya yang harus diperiksa lagi? bahkan bed ini belum tersentuh sama sekali apa yang harus di make up ha?" kataku kesal, tempat tidur ini memang masih sangat rapi.


"Kalau begitu mari kita membuat ranjang ini berantakan." Katanya sambil mengelus lenganku. Ya ampun, sejak kapan es batu ini ada di sampingku.


Benar-benar tidak sopan, dengan sekuat tenaga aku mendorongnya ke arah tembok.


Bugggh


Suara benturan tubuhnya menghantam tembok.


"Dasar lintah darat mesum, berani-beraninya kau menyentuhku" kataku dengan geram.


"Tenagamu lumayan juga." Jawabnya sambil bangkit dari posisinya yang hampir terjatuh ke lantai.


"Jangan pikir aku tak tau apa yang sudah terjadi pada toko kesayanganmu itu." Katanya lagi sambil mendekat ke arahku.


"Jadi, kau sudah tau?" tanyaku sambil melangkahkan kakiku mundur darinya.


"Tentu saja, tidak ada hal yang sulit bagi seorang Yoshi Aricko Luby," jawabnya sambil mendekatkan wajahnya padaku, kulihat matanya, mata itu begitu menakutkanku tak ada kelembutan sama sekali di dalamnya.


Tanpa berfikir panjang aku langsung melangkah pergi meninggalkannya yang masih berdiri di samping tempat tidur itu.


Aku berlari menyusuri koridor menuju Front Desk, aku akan melapor bahwa kamar 607 membatalkan permintaannya untuk make up bed service, terserah apa yang akan dia lakukan padaku setelah ini.


Bahkan bila dia mengeluarkanku dari masa training ini aku akan menerimanya.


Setibanya di Front Desk kulihat simbol nama Hotel ini, terpampang jelas di belakang meja Resepsionis


...Y.A Luby Hotels and Resort...


Astaga bodohnya aku, terang saja benar ini hotel miliknya, sontak aku teringat dia menyebutkan siapa nama lengkapnya tadi .


Yoshi Aricko Luby, Ya Tuhan mengapa aku merasa benar-benar berada dalam cengkramannya sekarang.