
Selama perjalanan pulang aku terus saja memikirkan perkataan Yoshi, sebenarnya rahasia apa yg selama ini dia sembunyikan dariku. Aku ingin menanyakannya lagi tetapi melihat ekspresi Yoshi yang datar itu aku memutuskan untuk tidak membahasnya terlebih dulu.
"An, apa kau sudah menyimpan kartu debit tadi?" tanya Yoshi mengingatkanku.
"Mmm iya. Tapi kenapa ada dua kartu?" tanyaku sambil membuka dompetku dan ternyata terselip dua kartu debit gold di sana.
"Dua-duanya milikmu. Satu hasil jerih payahmu selama ini. Dan yang lain adalah nafkah dariku." Ucap Yoshi dengan serius.
"Tidak Yosh, satu saja sudah cukup untukku." Jawabku.
"Itu tidak benar An, aku yang bertanggung jawab untuk menafkahimu sekarang. Lagipula bukankah kau juga sudah menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri dengan baik." Kata Yoshi sambil mengelus rambutku.
"Jadi kau membayar kejadian semalam dengan ini ha?" dengusku kesal. Aku tak tau kenapa tiba-tiba emosiku tersulut mendengar perkataan Yoshi.
"Bu-bukan begitu An," Jawab Yoshi sambil menatap wajahku tetapi aku segera memalingkan mukaku darinya.
"Bilang saja iya. Bilang saja tidak akan ada nafkah untukku jika belum ada malam pertama untukmu!" ucapku ketus. Aku mulai emosi seperti biasanya.
"Bukan seperti itu. Kurasa dirimulah yang ingin membahas malam penuh desah*n itu sekarang?" ucap Yoshi sambil mencubit pinggangku. Astaga benar apa yang dikatakannya akulah yang saat ini terus membahas kejadian malam itu.
"Sudahlah Yosh, pokoknya aku tak mau menyimpan kartu ini." Ucapku sambil meletakkan kartu itu pada dashboard .
"An, ambil kartunya.. " Kata Yoshi lembut.
Tetapi aku masih tak bergeming, aku tak habis pikir jika memang dia berniat memberiku nafkah kenapa baru sekarang dia melakukannya padahal ini sudah lebih dari dua minggu usia pernikahan kami.
"An, ambil kartunya kataku!" ucap Yoshi menaikkan intonasi.
"Tidak.. " Ucapku singkat dan Yoshi pun menghentikan laju mobilnya.
"An, jangan kekanak-kanakan, ambil kartu itu dan simpan, itu sangat amat membantumu jika kau membutuhkan sesuatu ketika aku tak berada di dekatmu." Ucap Yoshi lirih, perkataannya membuat hatiku sedikit tersentuh ternyata dia sangat perduli padaku bahkan begitu memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi.
"Iya iya!" jawabku singkat. Sejujurnya hatiku sedang berbunga-bunga saat ini.
"Masih marah?" tanyanya masih tetap belum melajukan mobilnya lagi.
"Tidak, kartunya sudah kusimpan kok." Jawabku sambil menunjukkan dompetku.
"An, aku tau kau mungkin masih kesal hanya karena perkara sepele seperti ini. Tetapi bukankah setelah pernikahan kita di hari itu, kita sudah sangat sibuk, belum lagi dirimu yang masuk rumah sakit karena pingsan, dan juga aku yang harus ke London untuk menemui mama selama seminggu penuh. Aku tak punya waktu untuk menyerahkan kartu ini padamu sayang." Kata Yoshi menjelaskan semuanya dengan sangat sabar.
Sementara aku, aku merasa malu akan tingkahku sendiri. Aku tak biasanya seperti ini. Biasanya aku begitu malas mendengarnya menjelaskan sesuatu tetapi sekarang, lihatlah aku mulai suka jika dia mencoba merayuku ketika aku sedang kesal.
Oh Ana.. Ada apa denganmu? Kataku dalam hati.
"Yosh, kau benar. Maafkan aku ya." Kataku tak berani menatap matanya. Aku mengakui kesalahanku.
"Yang benar dong manggilnya." Katanya sambil tersenyum mengejek.
"Iya iya ah.. " kataku menahan malu.
"Iya apa?" ucapnya, seperti biasa dia sedang mengerjaiku.
"Iya Yoshi sayang!" kataku sambil memukul lengannya.
"Nah gitu dong An, kan romantis." Katanya sambil melajukan mobilnya kembali.
****
Setibanya di apartemen, mama sudah menunggu di meja makan.
"Sayang sudah pulang? Bagaimana tadi pergi ke mana?" tanya mama sambil menata makan malam.
"Ke café teman mama itu." Jawab Yoshi sambil mengambil tempat duduk.
"Oh, pasti Yoshi cuma pesan teh melati saja ya An? " tanya mama kepadaku.
"Benar ma." Jawabku.
"Ini mama udah masak banyak ya, harus dihabiskan." Ucap mama.
"Ma, bagaimana keadaan Opa, maaf Ana belum sempat menjenguk Opa." Kataku kepada mama.
"Tidak apa sayang, kondisi Opa memang belum membaik tapi setidaknya jauh lebih baik daripada sebelumnya." Jelas mama kepadaku.
"Yuk sayang dimakan, jarang-jarang loh mama masak masakan melayu seperti ini, berhubung sedang ada festival jajanan Asia, mama langsung memborong semua bahan yang ada di grocery store." Kata mama, sungguh beliau adalah ibu mertua yang sangat baik dan juga penyayang.
"Yosh, ada apa? Wajahmu seperti menahan sakit?" tanyaku pada Yoshi, entah mengapa raut wajah itu memucat padahal bukankah tadi baik-baik saja.
"Yoshi, kenapa? Apa tidak selera makan?" Tanya mama mulai khawatir.
Tanpa menjawab pertanyaan kami, Yoshi langsung naik ke lantai atas dan masuk ke kamar. Ini sungguh tak seperti biasa. Akhirnya aku pun menyusulnya ke atas.
"Biar Ana saja ma .. " Ucapku pada mama yang sedang beranjak dari tempat duduknya.
"Iya sayang, tolong urus Yoshi ya. Ketuk kamar mama jika terjadi sesuatu." Kata mama yang kubalas dengan anggukan.
****
Di kamar kulihat Yoshi sedang berada di toilet, sambil membungkukkan badannya.
"Yosh, kenapa? Apa kau sakit?" tanyaku sambil memegangi tubuh besarnya.
"An, aku mual... " Ucapnya lirih, sementara keringat dingin terus bercucuran membasahi wajah putih itu.
Beberapa kali Yoshi muntah, mengeluarkan seluruh isi perutnya. Aku pun mengambil segalas air hangat dan dia meminumnya.
"Terima kasih sayang." Ucapnya dan aku pun membantunya berjalan ke tempat tidur.
"Apakah masih mual?" tanyaku sambil menyelimuti tubuhnya.
"Sedikit.. " Ucapnya masih menahan rasa tak nyaman itu.
"Apa perlu aku panggilkan dokter?" tanyaku.
"Tak perlu sayang," jawab Yoshi sambil memelukku.
"Aku panggilkan mama ya?" tanyaku lagi.
"Jangan.. Mama sedang istirahat." Ucap Yoshi, benar apa yang dikatakan mama sudah cukup lelah hari ini.
"Ingin makan? Biar aku ambilkan ya." Kataku masih dengan memeluknya.
"Tidak An, aku tidak ingin makan." Jawabnya lesu.
"Kau harus makan Yoshi" ucapku sambil melepas pelukannya.
"Bolehkah aku memakanmu?" tanyanya sambil memejamkan matanya.
"Astaga, sedang sakit masih saja bercanda!" kataku akhirnya aku pun beranjak dari tempat tidur.
"An, aku ingin memakanmu." Ucap Yoshi, sambil memegang tanganku tetapi tidak membuka matanya.
"Iya-iya kau boleh memakanku setelah makan nasi ya." Kataku sambil melepaskan genggamannya. Akhirnya dia pun mengangguk pertanda setuju untuk mengisi perutnya.
"An, jangan lama-lama." Ucapnya, benar-benar si mesum ini, batinku.
Aku pun turun ke bawah, untuk mengambil makanan dan air jahe hangat untuknya.
"Yosh, ayo makan dulu." Kataku sambil bersiap menyuapinya.
Dengan malasnya dia terbangun dan meminum air jahe itu. Kemudian mulai menerima suapan dariku.
Satu suapan...
Dua suapan...
Tiga suapan dan....
"An, aku ingin muntah lagi!" Kata Yoshi sambil berlari ke arah toilet dan memuntahkan nasi yang baru saja masuk ke perutnya.
Aku pun panik. Astaga haruskah aku menelepon dokter, Yoshi tak pernah seperti ini sebelumnya.
"Yosh, aku akan menelepon dokter." Kataku sambil membantunya berdiri.
"Jangan An, besok pagi saja. Aku hanya perlu istirahat saat ini." Kata Yoshi sambil berbaring di tempat tidur lagi.
"Kalau begitu habiskan air jahenya agar perutmu tidak benar-benar kosong." Kataku dan Yoshi pun menurut.
"An,aku tak pernah seperti ini sebelumnya." Ucap Yoshi sambil memegangi perutnya. Dia sedang kebingungan dan bagiku itu sangatlah menggemaskan.
"Makanya, jangan suka mengerjaiku. Rasakan Ini akibatnya!" Kataku sambil tersenyum puas.
"Apa maksudmu?" tanyanya dengan wajah heran.
"Kau terlalu sering mengatakan bahwa aku sedang hamil saat mengalami muntah sepertimu. Dan lihatlah kau pun juga mengalami hal sama sekarang. Mungkin saja kau sedang hamil Yosh?" kataku sambil tertawa, aku puas bisa membalasnya sekarang.
"Tunggu An, coba katakan lagi.. " Ucapnya sambil terbangun dari tidurnya.
"Ya, kau hamil Yoshi. Besok kita akan membeli tespack. wkwk." Ucapku sambil tertawa.
"Ya, kau benar An. Mungkin saja ini yang dinamakan kehamilan simpatik. Aku pernah membacanya sebelumnya." Kata Yoshi sambil berfikir dan kemudian tiba-tiba tersenyum.
"Apa?!!" Kataku terkejut. Ah dasar si bodoh ini.
"Ya, benar An. Jika aku sedang mengalami kehamilan simpatik berarti kaulah yang sedang hamil !!" kata Yoshi dengan bersemangat seakan lupa dengan rasa sakit yang sedang dia rasakan.
"Jangan gila!! Kita baru kemarin melakukannya tidak mungkin secepat itu!" ucapku sambil menulis kepalanya dengan bantal.
"Siapa tau saja An, kita tak pernah tau. Mungkin saja kualitas sprm*ku sedang sangat bagus hingga efeknya akan secepat itu." Ucap Yoshi dengan menggebu-gebu. Ingin rasanya aku membangunkannya dari lamunan gila itu.
"Kau gila Yoshi ! Kau sungguh gila!" Kataku sambil meninggalkannya.
"An, besok kita akan menemui Obgyn! Aku tak perduli pokoknya kita harus pergi ke Obgyn!!" teriaknya dari dalam kamar. Aku masih bisa mendengarnya dari balik pintu.
"Sungguh si bodoh Yoshi !" ucapku dari luar pintu.
Visual deh, Ana Yoshi First kiss.
Ini yang pas mereka mau janjian ketemuan di jembatan pas masih SMA dulu ya, Seandainya benar-benar bertemu, maka akan seperti ini gambarnya. Dan masalah tidak akan menjadi sepelik saat ini. Sayangnya mereka tidak bertemu saat itu. Hikss
Maaf jika visualnya tidak sesuai ekspetasi ya. Author hanya terlalu suka sama Mario-Baifern. Hehe❤